
Karena keseimbangsn tubuhnya, hilang. Bara, terjatuh dan tanpa sengaja menarik tubuh Sava. Sava, yang tak menduga, ikutan jatuh dan mendarat menimpa tubuh, Bara.
Keduanya saling berpandangan sejenak. Sava seolah terhipnotis saat melihat telaga mata, Bara. Wajahnya langsung merona merah, karena malu dan grogi.
Sepersekian detik, Sava menarik tubuhnya dari atas tubuh, Bara. Jantungnya, mendadak berirama dangdut. Sava, tak ingin, Bara, mendengarnya. Sava lansung masuk ke kamarnya. Sava, sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Kalau dia tetap bertahan di kamar, Bara.
Sava, langsung mengahadap cermin. Wajahnya terbingkai di sana, dengan rona merah yang masih tersisa.
"Ais, bisa-bisanya aku langsung percaya, tadi. Tidak biasanya, Bara, menyuruh seseorang masuk kamarnya. Kok, aku gak mikir sampe kesana," ucap Sava pada bayangannya di dinding.
"Sava, buka pintunya," suara Bara terdengar di depan pintu. Sava, terlonjak kaget. Sejenak, dia ragu, apa harus dibuka atau tidak.
"Ada apa, lagi?" Sava sengaja menyetel suara jutek. "Ya, ampun! Ada apa dengan senyum yang sedikit nakal itu," monolog hati Sava.
"Marah, ya? Ih, gitu aja sensi banget," ledek Bara, membuat hati, Sava, makin heran. Bukan kebiasaan, Bara, banyak bicara. Apalagi sambil bercanda, seperti ini. Senyum nakal, yang bertengger di sudut bibirnya makin kentara.
"Ada apa sih, senyum-senyum sendiri. Lucunya, di mana?" tukas Sava bingung.
"Yah, lucunya di kamulah. Kok, lari terbirit-birit. Kayak angsa, hahaha...."
"Kamu, kesurupan ya?" Sava, menempelkan telapak tangannya ke dahi, Bara.
"Iya, aku akan kesurupan terus, bila menahannya lebih lama, lagi," ucap Bara. Seraya melangkah masuk ke kamar, Sava. Mendadak, Sava, takut. Apakah Bara, telah salah minum obat, apa? Kenapa dia mendadak aneh begini?
Sava, melangkah mundur. Tapi, sial. Kakinya, malah saling bersilangan, membuat Sava, hampir jatuh. Untunglah, Bara, berhasil menahan tubuh, Sava.
"Santai saja, Sava, kok malah panik, sih."
__ADS_1
"Kamu, membuatku takut. Tidak biasanya, kamu bersikap seperti ini," ucap Sava terbata. Dia mencoba menjauhkan wajahnya, yang hanya berjarak beberapa inci dari wajah, Bara.
"Hem, maafkan aku telah membuatmu takut. Sebenarnya, aku mau bilang sesuatu ke kamu. Aku tak menduga, akan sesusah ini untuk mengatakannya." Bara, meraih kedua telapak tangan, Sava. Matanya, menatap lekat iris mata, Sava.
Ditatap, intens seperti itu membuat wajah Sava berubah seperti kepiting rebus..
"Sava, menikahlah denganku," ucap Bara lirih. Namun seperti dentuman mercon di gendang telinga, Sava. Matanya, membulat sempurna saat mendengar permintaan, Bara.
Tiba-tiba seraut wajah berkelebat di pelupuk matanya. Wajah, Sisy! Perlahan, Sava, menarik jemarinya dari genggaman tangan,Bara. Bara, mengernyit heran.
"Ada apa, Sava? Kamu menolakku, ya?" desis Bara, berat. Sava, menggeleng beberapa kali. Siapa yang tidak ingin dicintai orang seperti, Bara. Tanpa menunggu diucap dua kali, pasti langsung mengiyakan. Tidak terkecuali dengan, Sava.
"Lalu, kenapa? Apa yang telah membebani pikiran kamu."
"Bagaimana dengan, Sisy? Dia, yang datang dari jauh, demi cintanya padamu. Apakah kamu tega.menolaknya?"
"Aku tak pernah mencintainya, Va. Bukan salahku kalau dia sampai datang ke sini. Justru, sahabatkulah yang mencintainya."
"Pada saatnya nanti, Sisy, harus bisa menerima kenyataan ini. Dia harus sadar, bahwa dia bukanlah pilihanku.
Temanku itu akan datang menjemputnya, ke sini. Kamu jangan, memikirkan soal itu. Hanya kamu yang ingin kujadikan teman hidupku sampai menua nanti. Karena kamulah, Sava, aku mampu terbebas dari belenggu masa lalu, yang memasungku hampir dua puluh tahun lalu. Sava, aku ulangi sekali lagi, maukah kamu menikah denganku?" Sava menatap takjub, ke arah Bara. Rasanya seperti sebuah mimpi, mendengar Bara melamarnya. Memintanya untuk jadi pasangan hidupnya.
Ah, andai saja kedua orang tuaku masih hidup, tentunya kebahagian ini akan semakin lengkap. Desis hati Sava. Selama ini, Sava tak berani berharap banyak tentang cinta, Bara. Sekalipun, Bara, telah pernah mencuri cium darinya. Bahkan, membuatnya hampir terhanyut.
Namun, Sava, menganggap itu hanya karena keinginan sesaat. Sava, tak berani berharap lebih jauh, karena dia merasa berhutang, budi. Bara, telah menyelamatkan hidupnya, dan menerimanya tinggal di rumah besar ini. Sekalipun, hatinya bergetar hebat setiap kali, Bara, menyentuhnya. Sava, tetap tau diri. Menyimpan rasa di hatinya. Terlebih setelah kehadiran Sisy, wanita cantik dari masa lalu,Bara, di rumah ini.
"Kenapa, Sa?" ucap, Bara, bingung melihat Sava yang terdiam cukup lama untuk menjawab permohonannya.
__ADS_1
Akhirnya, Sava, mengangguk. Sava, tak mampu untuk mengucap kata. Sepertinya, kata-kata tercekat ditenggorokannya. Lidahnya kelu, habya untuk mengucap sepatah kata.
Tiba-tiba saja tubuh Sava telah dalam pelukan, Bara. Bara merengkuh tubuh mungil itu, penuh rasa haru.
"Trimakasih, Sava, telah menerimaku. Percayalah, aku akan mencintaimu, selamanya," janjinya penuh haru.
Sementara, di balik pintu. Sesosok tubuh berdiri mematung. Dia sudah lama berdiri di sana. Bara dan Sava tak menyadari kehadirannya. Sosok itu adalah Sisy. Dia tadi sengaja naik ke atas, hendak menemui Bara. Mau minta maaf atas ulahnya tadi di meja makan.
Namun, siapa sangka dia akan melihat pemandangan yang menyakitkan hatinya. Seluruh tubuhnya serasa dilolosi tulangnya. Hampir saja, tubuhnya limbung dan terjatuh saat menuruni anak tangga. Sisy, buru-buru pergi sebelum kedua sejoli itu memergoki kehadirannya.
Sisy, tidak ingin tampak bodoh dihadapan mereka atau menatapnya dengan pandangan kasihan. Sisy segera keluar rumah, menuju arah belakang. Bas, yang tengah membersihkan kandang kuda, terkejut saat melihat Sisy melepas tali kekang si putih yang ia ikat di pohon.
"Hei! Mau bawa kemana si Putih?" Teriak, Bas, seraya terburu keluar dari kandang mengejar, Sisy. Terlambat! Sisy, telah berhasil melarikan si Putih. "Huh! Selalu saja bikin ulah." Hardik Bas, kesal. Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Ternyata, teriakan Bas, dan ringkik kuda menarik perhatian Bara.
"Ada apa, ya? Sepertinya ada keributan di bawah," ucap Bara, lalu buru-buru turun dan menjumpai, Bas. "Ada apa, Bas. Mana, si Putih?" teriak Bara saat melihat hanya kuda si belang yang tertambat di pohon.
"Sisy, yang bawa. Gak, ada sopannya sama sekali, ambil si Putih gitu aja."
"Sisy, lagi?" decak Bara, menahan geram. " Trus, dia pergi ke mana?"
"Tau, yang jelas bukan ke arah, irigasi."
"Huh! Kemana lagi, dia?" Bara menepuk jidatnya. Benar-benar pusing oleh ulah, Sisy. "Bas, aku susul dulu, takut dianya kenapa-napa. Si Putih pula yang jadi sasaran."
"Tunggu Bos, aku ikut. Aku takut, Bos kewalahan menangkapnya, biasalah kuda liar," kekeh Bas.
__ADS_1
"Maksudmu, Sisy?"
"Iya, siapa lagi. Si Putihkan kuda jinak, Bos." ***