Hati Yang Terpasung

Hati Yang Terpasung
Bab 43


__ADS_3

Bas sangat mencemaskan Bara dan Sisy. Kenapa kuda si putih, pulang tanpa penunggangnya? Apa yang terjadi dengan Bara?


Belum hilang herannya, Bas. Tiba- tiba sudah terdengar derap langkah kaki kuda menuju Bas.


Nampak oleh Bas, kalau Bara tengah bergegas memacu kudanya biar lekas sampai di rumah.


Bara menghentikan kuda yang ditungganginya tepat di hadapan, Bas. Bara melompat dari kuda, dan bergegas menurunkan tubuh Sisy yang sudah lemas.


" Bas, cepat bantu aku. Sisy pingsan nih." seru Bara, yang melihat Bas hanya diam saja.


" Sisy kenapa bisa pingsan?"


" Entah, mungkin kena asma. Tadi nafasnya tiba- tiba sesak." jelas Bara, seraya menggendong tubuh Sisy. Membawanya masuk ke rumah.


Bas menyusul langkah Bara, memasuki rumah. Menyuruh bi Arni membawakan air panas, ke kamar Sisy.


Sava yang tengah menuruni anak tangga, merasa heran melihat Bara yang membopong tubuh, Sisy.


" Sisy kenapa, Ra?" tanya Sava penuh keheranan.


" Gak tau. Mendadak saja dia pingsan. Kupikir karena hawa yang terlalu dingin. Atau bisa saja karena tubuhnya syok, karena memacu kuda yang terlalu kencang."


" Trus, bagaimana keadaanya sekarang? Apa tidak lebih baik kita bawa dia ke Rumah Sakit?"


" Tunggu dia sadar. Sementara ini diberi pertolongan pertama dulu."


" Ini air hangatnya, nak Bara." ucap bi Arni di ambang pintu. Bi Arni memegang baskom kecil berisi air hangat dan sebuah handuk kecil


" Tolong bi, bibi kompres tangan dan telapak kakinya, biar hangat." ujar Bara.


" Iya, nak Bara. Sava, bantu bibi ya, nak."


" Baiklah Bi" Sava mengambil alih baskom berisi air hangat. Sava merendam handuk kecil, lalu mengusapkannya ke telapak tangan, Sisy.

__ADS_1


Bi Arni juga menyelimuti tubuh, Sisy agar hangat. Mengoleskan minyak kayu putih ke leher dan ke bagia tubuh lainnya.


Setelah berupaya beberapa saat, Sisy akhirnya siuman. Tubuhnya yang tadi dingin. Berangsur hangat , dan mulai normal.


Sisy menatap satu persatu orang yang berada di kamarnya dengan heran. Terlebih saat ia menyadari dirinya terbaring di tempat tidur. Sisy langsung duduk. Pandangannya terasa aneh, dan sepertinya dia di pengaruhi sesuatu.


" Kamu kenapa nak Sisy? Kok malah bengong?" tanya bi Arni, seraya memegangi lengan Sisy.


" Harusnya aku yang tanya, kok aku bisa berada di sini?" tatapnya heran dan lebih tertuju pada Bara.


" Kamu tiba- tiba lemas dan pingsan. Mungkin karena terlalu capek, menunggang kuda. Kamu terlalu sih, ngajak si hitam putih menerobos hutan." jelas Bara singkat.


Sisy memegangi kepalanya, mencoba mengingat yang di katakan, Bara.


" Oh, iya. Aku ingat sekarang. Lalu kamu memelukku erat dan aku jadi menggigil kedinginan." cetus Sisy spontan. Bara terkejut, terlebih Sava.


" Memelukmu? Kapan aku meluk kamu Sisy! Jangan ngehalu, aku peluk kamu saat lemas dan pingsan di atas kuda." sentak Bara menyadarkan Sisy.


" Tapi aku gak bohong. Seperti itulah yang aku rasakan."


" Ya, sudah nak Bara! Jangan diteruskan lagi." lerai bi Arni. Bi Arni faham apa yang telah menimpa Sisy. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.


Sebuah kearifan lokal yang harus di hargai. Bi Arni langsung berlalu ke dapur. Mengambil sepotong akar- akar rempah, yang biasanya ampuh untuk mengusir gangguan roh halus dari tubuh yang di hinggapi.


Sisy adalah orang baru di tempat ini. Ulahnya yang nekad menunggang kuda tadi, menerobos hutan mungkin tanpa sengaja dia telah menabrak rambu- rambu jalan yang tidak seharusnya ia lewati.


Bi Arni kembali ke kamar. Mengunyah rempah itu, hingga *****. Dan meludahkannya ke ujung kaki dan jemari Sisy. Juga ke ubun- ubunnya.


Sisy yang tak menduga ulah bi Arni, kaget tak kepalang. Apa lagi saat da mencium aroma khas rempah itu. Juga melihat ujung jarinya, yang basah oleh ludah bi Arni.


" Hiih...! Apa- apaan sih?" serunya jijik. Bara dan Bas juga bersikap sama. Mereka bersamaan memandang bi Arni dengan heran.


Hanya Sava yang bersikap tenang. Karena ia juga pernah melihat ayahnya, melakukan hal itu pada adiknya. Karena adiknya tiba-tiba seperti orang penderita ayan, saat bermain di halaman belakang rumah mereka.

__ADS_1


" Tidak apa- apa, Sy. Diam sajalah, jangan banyak protes, nanti obatnya malah gak manjur."


" Emang ini obat, apaan. Kok aku tiba- tiba disembur begitu?" protes Sisy, yang masih merasa jijik.


" Kamu itu, harus menghargai kearifan lokal di daerah sini, nak Sisy. Memang sulit di terima logika. Apalagi zaman sudah canggih begini. Tapi tetap saja hal- hal seperti itu bisa terjadi. Terutama saat pikiranmu kosong. Makin gampanglah kamu kena masuki roh halus. Beruntung kamu cuma lemas, bagaimana kalau kamu sampai diculik?"


" Hiiihhh...! Bi stop bibi, jangan lanjutkan lagi. Terus sampai kapan aku begini? Kapan aku bisa membersihkannya?" tunjuk Sisy dengan dagunya ke tangan dan kakinya.


" Tunggu hingga besok. Baru boleh di bersihkan. Atau kamu ingin dia kembali, dan menculikmu!" sahut bi Arni mengancam dengan rada kesal.


Wajah Sisy memucat pias! Mendengar ucapan bi Arni. Akhirnya dia pasrah dan terdiam begitu lama. Sava tersenyum di kulum karena bi Arni telah menjatuhkan mental Sisy, yang suka bertingkah semaunya.


" Va, beneran ya? Apa yang dibilang bibi Arni?" tatap Sisy memohon jawaban pada Sava, setelah bi Arni keluar dari kamar.


" Entahlah!" Sava mengendikkan bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan Sisy. Sisy mendengkus kesal. Karena tak memperoleh jawaban atas pertanyaannya.


Dalam hatinya merasa bingung dengan perkataan bi Arni. Yah, dia memang tadi terlalu lancang memacu kuda itu tanpa arah. Padahal dia belum kenal jalan dan kondisi hutan pinus.


Dia hanya menurutkan nalurinya saja, agar Bara mengikutnya. Karena hanya dengan cara itu, Sisy merasa akan mendapatkan perhatian, Bara.


Sayangnya, tindakannya memang ceroboh. Dan sudah ciri khasnya suka bertindak bodoh, nekad, dan tak perduli peringatan orang di sekitarnya. Meski itu untuk kebaikannya sendiri.


Bahkan kedatangan ke sini, adalah tindakan terbodoh yang pernah ia lakukan dalam hidupnya. Terlalu menurutkan persaannya ketimbang logika. Hingga.meyusahkan orang- orang di sekitarnya.


Orang tuanya yang pasti sudah kalang kabut mencari tau keberadaan dirinya. Atau orang tuanya sama sekali belum menyadari, kalau anaknya sedang berada di belahan daerah lain.


Yah! Orang tuanya terlalu sibuk dengan urusan mereka sedari dulu. Selalu mengabaikan dirinya karena kesibukan pekerjaan dan bisnis lainnya.


Sisy yang hidup mandiri sejak lepas SMA, lebih memilih tinggal di apartemen ketimbang tinggal serumah dengan ke dua orang tuanya.


Mungkin karena itulah sikapnya lebih bebas, dan tak peduli dengan hal- hal sepele yang menurutnya, membuat pusing kepala saja.


Dan itu selalu berimbas ke orang yang sengaja atau tidak berinteraksi dengan dirinya. Dalam hal pekerjaannya pun, Sisy selalu begitu. Semua urusan pekerjaannya selalu di handle oleh asistennya.

__ADS_1


Beruntung Sisy memiliki asisten yang sangat setia padanya. Sehingga usaha handy craff yang di kelolanya selalu berjalan lancar.*****(


__ADS_2