
Kini Dewi sudah di depan pintu sebuah Ruko yang berdiri berdiri dengan megah. Tapi sayang pintunya masih tertutup.
Daerah ini lumayan sepi juga. Terlihat dari bangunan rumah yang tidak seberapa. Sepertinya ini adalah lokasi perumahan yang baru di buka.
Dan bangunan ruko di depan Dewi sangat mencolok karena nampak megah dan luas. Di sekitar sisi ruko itu, masih banyak areal tanah kosong. Bahkan persawahan dan ladang mengelilingi ruko itu.
Dewi merasa bingung, bagaimana caranya bisa masuk ke ruko itu. Sementara masih tertutup rapat begitu, dan untuk tempat bertanya pun tak ada orang dia jumpai.
Dewi mengedarkan pandangan ke sekitar, siapa tau ada orang yang melintas untuk tempat bertanya. Menunggu sepuluh, lima belas menit tetap sepi. Dewi merasa tak enak sendiri dan gelisah. Antara mau pulang dan bertahan membuatnya ragu dan putus asa.
Setelah hampir setengah jam menunggu, Dewi melihat seorang pejalan kaki menuju ke arahnya. Sepercik harapan tersemat di dada Dewi. Tak sabar rasanya agar pejalan kaki itu segera melintas di depannya.
" Permisi pak. Boleh saya bertanya, pak?" sapa Dewi ramah begitu bapak separuh baya itu melintas di depan Dewi.
" Boleh, ada perlu apa, ya?"
" Pak, apa benar alamat ini di sekitaran sini?" ucap Dewi memberikan secarik kertas pada bapak itu.
" Iya nak, itu ruko yang persis di belakang kamu. Tapi ruko itu buka kalau malam hari saja. Ada perlu apa ke sana, nak?" selidik bapak itu menelti penampilan Dewi dari atas sampai bawah.
" Saya mencari suami saya, pak. Katanya dia bekerja di tempat ini. Nama saya Dewi, pak. Suami saya namanya Alex. Ini fotonya, siapa tau bapak pernah ketemu." bapak itu mengamati foto yang di tangan Dewi.
" Sepertinya bapak pernah melihat foto ini. Atau mungkin mirip dengan foto ini, nak Dewi."
" Benarkah pak?" kerjap mata Dewi bersinar cerah, karena ada yang tau keberadaan suaminya. Harapan untuk bertemu suaminya semakin nyata.
"Bapak bilang cuma mirip nak, Dewi. Bisa saja bapak salah."
" Dia bekerja di sini ya, pak? Bapak pernah melihat dan bertemu suami saya, begitu pak?"
" Bukan, maksud bapak dia adalah pemilik ruko ini, beserta istrinya. Tapi kok, namanya bisa sama ya? Namanya juga Alex."
" Oh, begitu ya pak. Bisa saja kebetulan sama, ya. Suami saya tidak mungkin memiliki ruko semegah ini. Tapi kalau bekerja di sini, masuk akal pak." sahut Dewi lemah. Harapannya punah sudah.
Mungkin dia sudah salah alamat. Tapi kenapa suaminya menyertakan alamat ini saat mengiriminya uang tiga bulan lalu. Ataukah suaminya telah berganti alamat karena sudah pindah kerja.
Tapi tadi bapak itu jelas mengatakan kalau pemilik ruko itu mirip dengan foto suaminya dan kebetulan sekali namanya juga Alex.
__ADS_1
" Halo nak Dewi?" sapa lelalki paruh baya itu, karena melihatnya terdiam begitu lama.
" Eh, iya pak. Maaf saya tadi melamun." aku dewi kebingungan.
" Nak Dewi yakin, kalau suaminya kerja di sini? Ini adalah tempat perjudian, nak. Makanya mereka buka malam hari. Untuk memastikannya, nak Dewi datang lagi sore nanti. Biasanya sekitaran pukul lima mereka sudah mulai buka."
" Makasih ya, pak atas keterangannya." sahut Dewi berlalu dengan langkah gontai. Dewi tidak tau lagi tujuannya kemana setelah ini. Bila gagal menemukan suaminya, dia harus kemana lagi? Saudara di kampung sudah tak ada
Dewi makin bingung mendengar penjelasan bapak itu. Apa iya suaminya mau berkeja di tempat seperti itu. Mengingat suaminya meskipun tidak alim, tapi selalu menghindari tempat seperti itu.
Apakah karena kerasnya hidup di kota membuat suaminya berubah? Dewi jadi teringat saat suaminya pamit mau ke kota.
" Dek, besok aku mencoba peruntungan dulu di kota. Ada temanku yang ngajak.." ucap Alex malam itu saat menjelang tidur.
" Kok tiba- tiba sekali, bang? Trus bagaimana dengan adek?" sahut Dewi yang kurang setuju kalau suaminya pergi merantau ke kota.
Hidup di desa ini baginya sudah cukup. Toh ada sawah yang hendak di garap. Kalau untuk kebutuhan sehari- hari masih bisa terpenuhi. Dan masih bisa juga menabung sedikit kalau saat panen tiba.
" Yah, terpaksa abang tinggal dulu sementara. Nanti kalau abang sudah dapat pekerjaan abang jemput adek lagi."
" Tapi bang, adek lebih suka kalau kita tinggal d desa." protes Dewi pada suaminya
Berbekal uang tabungan yang tidak seberapa. Alex pergi dengan temannya yang telah sukses merantau ke kota.
Bulan pertama dan ke dua, suaminya masih lancar mengirim uang dan khabar lewat tetangga mereka. Dewi belum memiliki ponsel, jadi tidak setiap hari dia tahu khabar suaminya.
Dan di bulan ke tiga suaminya benar- benar tak mengirim apa pun. Khabarnya pun tak ada. Sekalipun dia telah minta tolong pada tetangganya, untuk mengabari suaminya kalau dia sudah hamil. Tetap tidak ada balasan. Bahkan nomor yang di hubungi juga sudah tak aktif lagi.
Takut terjadi sesuatu pada suaminya, Dewi nekad menyusul suaminya ke kota. Dengan keadaan yang hamil muda. Dewi telat mengetahui kalau dia sudah hamil. Ternyata Dewi hamil sejak tiga bulan lalu, setelah pernikahan mereka yang sudah satu tahun.
Tin...tin.... Suara klakson sepeda motor menyadarkan Dewi dari lamuannya. Dewi tersentak kaget. Lalu ia menyeberangi jalan, lalu duduk istirahat di sebuah warung. Dewi masih bisa mengamati dari jauh kalau -kalau ruko itu buka.
Dewi memutuskan menunggu saja, hingga ruko itu buka.
" Selamat siang bu, boleh numpang duduk bu?" sapa Dewi ke pemilik warung.
" Selamat siang juga, nak. Silahkan." sahut pemilik warung itu tak kalah ramah. Lalu mereka terlibat percakapan, sial dari mana dam mau kemana tujuan Dewi.
__ADS_1
" Oh, begitu ya nak. Tunggu saja hingga sore, untuk memastikannya, nak."
" Iya, bu. Makasih telah mengijinkan Dewi menunggu di sini."
" Gak apa- apa, kok."
Tak berapa lama Dewi melihat seseorang keluar dari ruko itu.
" Bu, aku pamit sebentar ya. Sepertinya ada yang barusan keluar dari ruko." pamit Dewi bergegas pada pemilik warung. Pemilik warung hanya mengiyakan saja.
" Pak. Permisi pak!" sapa Dewi buru- buru ketika laki- laki yang barusan keluar hendak masuk lagi.
Pria bertubuh kekar itu, menahan pintu yang hendak di tutupnya.
" Ada apa?" selidik pria itu memandang seluruh tubuh Dewi, denga mata terpincing.
" Maaf pak, apa bapak kenal dengan foto ini?" Dewi menunjukkan foto suaminya. Pria itu kembali menatap Dewi. Kali ini lebih tajam, membuat Dewi kecut.
" Tunggu sebentar di sini!" perintah pria kekar itu dengan suara beratnya. Lalu ia masuk dan menemui rekannya.
" Ini ada wanita muda di depan, mengaku sebagai istri si bos. Bagaimana ini?"
" Wah! Bisa gawat, kalalu si nyonya sampai tau!" seru rekannya. Karena dia tau betul bosnya memang punya istri di kampung. Tapi sudah ia abaikan beberapa bulan. ***
Hai pembaca setiaku. Intip juga ya kisah novelku yang lain.
Ada : Cinta Airin
Suamiku kekasih sahabatku
Ketika cinta menyapa
Dustanya Suamiku.
__ADS_1
Mohon like n komen di karya recehku ya.