Hati Yang Terpasung

Hati Yang Terpasung
Bab 40


__ADS_3

Sisy merasakan kepalanya berdenyut pusing. Mungkin itu efek dari minuman yang ia minum sepanjang malam.


Sisy terkejut saat mendapati dirinya terbaring di sofa. Sisy mencoba mengingat kejadian semalam. Saat dalam perjalanan keluar dari bandara ia memesan taxi. Untuk mengantarnya ke alamat Bara. Alamat itu ia dapatkan tanpa sengaja dari Richard. Juga tanpa sepengetahuan Richard.


Sisy memang nekad untuk berkunjung ke negara Bara. Karena Bara tiba- tiba menghilang tanpa kabar berita, setelah paman dan bibinya meninggal dalam suatu insiden di rumah sakit.


Berbekal alamat itulah Sisy datang berkunjung. Meskipun dia tidak tau sama sekali di mana letak kampung, Bara.


Setela tanya- tanya dan melihat informasi lewat geogle. Akhirnya Sisy tiba juga di tempat domisili Bara.


Saking senang dan bahagianya, karena akan bertemu Bara. Sisy sempat muter- muter menikmati indahnya beberapa panorama yang pariwisata yang sudah mendunia.


Lake Toba.!


Sungguh perjalanan yang panjang dan sangat melelahkan.


Supir taxi yang yang ia sewa, mengajaknya mampir di sebuah warung. Katanya dia mau ngambil pesanan temannya. Berupa minuman yang di kemas dalam botol mineral.


Aromanya begitu menyengat. Sempat membuat Sisy mual saat mencium aroma itu.


" Minuman apa itu pak? "


" Ini minuman khas kota ini, non. Tuak!"


" Kok aromanya tajam begitu. Boleh aku cicipin, pak?" seru Sisy penasaran.


" Eh, jangan non. Nanti nona mabuk!"


" Mengandung alkohol ya, pak"


" Bukan, minuman ini hasil permentasi dari pohon kelapa atau enau yang di sadap.Diminum sekedar saja. Bisa menyegarkan badan, kalau berlebihan bisa mabuk, non."


" Boleh saya cicipin sedikit, pak. Saya penasaran rasanya."


" Eh, anu non. Sebaiknya jangan. Nanti non mabuk. Karena belum biasa."


" Sedikit saja pak. Badan saya terasa capek sekali. Mana cuaca di sini dingin pula. Siapa tau bisa menghangatkan badan saya."


" Sedikit saja ya non. Jangan sampai non mabuk?" ucap sopir separuh baya itu. Dia memang melihat tubuh penumpangnya mengigil menahan hawa dingin.


" Baru pertama ke sini, ya non."


" Panggil nama saya , Sisy pak!" ujar Sisy memperkenalkan diri.


" Nama bapak, Maruli Pasaribu.Sebut saja amang Poltak. Karena anak saya yang paling besar namaya, Poltak. Nak Sisy asalnya dari mana? "


" Saya dari negara K, pak. Orang tua saya merantau ke sana. Saya hanya berlibur ke sini, pak."

__ADS_1


" Tujuannya ke mana, nak Sisy?" Sisy mengeluarkan secarik kertas berisi alamat.


"Wah jauh ini dari sini,"


" Masih jauh ya pak? "


" Iya, bisa tengah malam nanti kita sampe ke sana. Ini sudah beda kabupaten."


" Bapak bisa antar saya ke sanakan pak?"


" Bisa. Bisa nak. Eh, nak sudah minumnya. Nanti kamu mabuk." seru pak Maruli saat melihat Sisy, hampir menghabiskan tuak di botol meneral itu.


" He..he.., Rasanya aneh pak! Tapi saya suka." kekeh Sisy. Wajahnya sudah nampak memerah.


" Wah! Gawat ini. Bisa mabuk ini penumpangku," pak Maruli geleng- geleng kepala melihat tingkah penumpangnya.


" Kamu ceroboh sekali, nak"


Pak Maruli terus mengendarai taxinya. Menuju alamat yang tertulis di kertas itu.


" Kamu sudah bangun? Baguslah! Kamu berhutang penjelasan. Bagaimana kamu busa sampai di sini dalam keadaan mabuk. Dan apa tujuan kamu ke sini!" ucapan tajam dan dingin, menerobos pendengaran, Sisy.


Sisy, memutar kepalanya ke arah sumber suara.


Di seberangnya duduk Bara, tengah memandang nya dengan sorot mata tajam!


" Bara?" Sisy menyipitkan matanya. Memperjelas pandangannya. Juga menghalau rasa pusing di kepalanya.


Sisy merasa kepalanya di lecut!


Sungguh, sambutan tuan rumah yang teramat kasar. Karena dia memang tamu yang tidak di undang.


Sisy merasakaan wajahnya memerah. Sikap Bara padanya, tetap tak berubah. Dingin dan acuh.


" Kamu nekad sekali datang ke sini." sambung Bara karena Sisy masih saja bungkam


"Tidak bisakah kamu menunda amarahmu padaku? Setidaknya beri aku kesempatan memakai kamar mandimu. Untuk membersihkan tubuhku yang terasa lepek ini.


Juga sepiring sarapan, karena perutku juga tak mampu lagi menahan lapar. Jangan khawatir aku akan bayar semua itu." ucap Sisy tak kalah dingin.


" Boleh. Setelah itu, kamu harus jelaskan apa tujuan kamu ke sini. Sedikit saja tidak masuk


akal, aku deportasi kamu hari ini, juga. Jadi. pastikan keteranganmu nanti tidak merusak suasana hatiku."


Sisy langsung berdiri.


" Tolong beritahu, di mana letak kamar mandinya?"

__ADS_1


Bara menunjuk ke belakang Sisy. Sisy membuka kopernya, di depan Bara.


" Lakukan di sana saja. Itu kamarmu selama di sini." Sisy menyeret kopernya dengan perasaan dongkol.


Sekarang dia baru merasa menyesal, karena begitu nekad datang ke tempat ini. Tempat dimana dia tidak di terima. Sikap Bara terlalu terus terang.


Tak bisakah dia menyembunyikan ketak sukaan nya walau hanya sebentar. Atau hanya sekedar menghargai tamunya.


Bara memang bukan orang yang suka berbasa basi. Suka di bilang suka. Jika marah, pasti ditunjukkan juga dengan jelas.!


Kebahagiaanya karena bisa menemukan alamat Bara. Kini hanya sebatas rasa.


Malah berubah jadi penyesalan. Karena sikap nekadnya.


Selesai mandi tubuh Sisy terasa segar kembali. Ingat akan kebodohannya yang minum tuak itu kemarin


Beruntung sekali dia, karena pak supir taxi yang ia tumpangi begitu baik. Dan mengantarnya hingga tiba di tempat tujuannya.


Mengingat maraknya sekarang kejahatan. Ternyata masih banyak yang jujur melakukan pekerjaanya.


Sisy keluar dari kamarnya, kembali ke ruang tamu. Tapi Bara sudah tak berada di sana lagi. Sisy mencari ke arah dapur. Tak ada seseorang pun. Juga ketika dia melihat ke depan rumah. Siapa tau mereka di teras.


Tiba- tiba Sisy bertemu bi Arni.


" Eh, udah bangun nak Sisy? Ayo ke belakang rumah. Kita sarapan di sana saja. Nak Bara menyuruh bibi, melihatmu apa sudah selesai mandi."


" Iya bi, saya sudah selesai mandi"


" Kalau begitu, ayolah nak." Sisy mengikuti langkah bi Arni. Ke arah belakang rumah.


Sisy merasakan pemandangan yang begitu eksotik, saat melihat sekitar rumah yang di tumbuhi hutan pinus.


Tempat yang masih begitu alami. Aroma hutan yang begitu khas.


Langkah mereka kini terhenti, di sebuah pondok terbuka. Makanan terhidang di atas lantai pondok. Mereka akan duduk lesehan makan. Aroma ikan bakar, begitu harum menguar. Membuat perut Sisy makin meronta untuk di isi.


" Mari duduk nak di sini." bi Arni menarik tangan Sisy untuk duduk di sisinya.


Sisy menatap ke arah Bara. Yang duduk di sisi Sava. Seketika Sisy merasa canggung sekali. Seolah tak di harapkan hadir di sini.


" Duduklah Sy, katanya tadi sudah lapar. Oh iya, kenalkan ini, bi Arni. Sava dan itu Bas." tunjuk Bara pada Bas yang sedsng asyik membakar ikan.


" Saya Sisy." angguk Sisy tersenyum.


" Silahkan kak. Mari makan," ucap Sava ramah. Memberikan sepiring nasi beserta lauknya kepada Sisy.


Sisy mulai menikmati makanannya. Karena hawa yang dingin, Sisy sangat menikmati makanannya. Bahkan dia sampai nambah, saking nikmatnya makanan yang tersaji.

__ADS_1


Untunglah semua makannya nambah. Berkat ikan bakar yang gurih dan harum. Belum lagi karena racikan bumbunya yang khas.


Rasanya begitu menggigit di lidah. Bi Arni bilang itu andaliman. Rempah khas batak yang di racik ke bumbu ikan bakar itu.****


__ADS_2