Hati Yang Terpasung

Hati Yang Terpasung
Bab 55


__ADS_3

Bara menatap curiga ke arah, Sisy. Perkataan barusan Sisy, melahirkan tanda tanya besar di benak, Bara. Namun, sinar di manik mata, Sisy, menyiratkan kejujuran. Membuat, Bara, bernapas lega. Setidaknya, tak ada salahnya mempercayai, Sisy.


"Trimakasih, ya, Sy. Atas pengertian kamiu. Aku, percaya nantinya kamu pasti mendapatkan seseorang yang terbaik," ucap Bara.


"Berengsek! Ternyata, kalian tidak membuang tubuh, Dewi, seperti yang aku perintahkan!" amuk Alex pada anak buahnya, Pak Kumis.


"Kami sudah lakukan perintahnya, Pak. Mungkin saja ada yang menolongnya," sahut Pak kumis tertunduk.


Alex menggeram, mendengar ucapan anak buahnya. Biar bagaimanapun itu adalah kelalaian, anak buahnya.


"Oke, perhatikan baik-baik foto ini." Alex melempar beberapa foto ke atas meja. Pak Kumis meraih beberapa foto itu, lalu menunjukkan ke rekannya. "Kamu kenal siapa orang itu?"


"Iya, Bos. Dia adalah, Tuan Bara, pemilik tanah pertanian. Rumahnya di atas bukit, pinus," ucap Pak Kumis takut-takut. Di kota ini siapa yang tidak kenal Tuan Bara. Dialah yang telah membunuh Tuan Vincent, beberapa bulan lalu. Seorang tokoh pengedar obat terlarang, yang selalu lolos dari tangan petugas.


"Bagus, mulai sekarang kamu harus cari informasi tentang pria itu dan laporkan segera padaku," perintah Alex tegas.


"Baik, Bos! Siap, segera dilaksanakan," Pak Kumis segera berlalu dari hadapan Alex. Begitu lepas dari pandangan Alex, Pak Kumis berbisik pada rekannya. " Gawat, buat apa si Bos, berurusan dengan Tuan Bara. Kita di suruh mengintai dan cari informasi tentangnya," ungkap Si Kumis.


"Buat apa coba, kalau bukan mau cari mati. Sombongnya si Bos, dah kelewatan. Gak, tau cari lawan."


"Jika sampai keduanya bentrok, si Bos jelas akan kalah. Tuan Bara itu memiliki banyak kaki tangan. Petugas saja, hormat sama dia," sambung si Kumis.


"Biar sajalah, kita cuma kasih info saja. Terserah si Bos, mau merencanakan apa. Tidak ada salahnya sejak ini kita harus lebih waspada."


***


Persiapan, untuk pesta pernikahan Bara dan Sava 90% sudah rampung. Surat undangan telah di sebar, decor, catering, semua tinggal menunggu hari H-nya. Pesta sengaja dilaksanakan di rumah kediaman, Bara. Karena halaman yang cukup luas, dan suasana yang begitu masih alami.

__ADS_1


Tema pernikahan out door menjadi pilihan. Menyatu dengan alam, diantara pohon- pohon pinus yang menjulang.


Pohon-pohon pinus bak tiang raksasa berjejer rapi, meciptakan siluet diantara pendar warna mentari, menelisik dari sela-sela daun pinus. Menciptakan gradasi warna yang begitiu excotic.


Deskeripsi itulah yang tertangkap oleh kamera sang fotografer saat mengabadikan, beberapa foto preweding, Bara dan Sava.


"Wi, tolong bantu bibi, memindahkan bunga- bunga ini," teriak Bi Arni sama Dewi. Dewi yang tengah mengganti gorden bergegas ke arah Bi Arni.


"Bunga yang mana, Bi? Wow!" decak Dewi kagum melihat tumpukan bunga ros, anyelir, mawar, lily, entah bunga-bunga apa lagi itu. Dewi baru kali melihatnya. "Cantik sekali, Bi."


"Iya, barusan datang. Ayo, jangan diliatin terus. Keburu kena panas, bunga-bunganya layu," perintah Bi Arni.


" Eh, iya, Bi," bergegas, Dewi, membantu Bi Arni, memindahkan bunga-bunga itu ke dalam rumah. Aroma wangi semerbak kini merebak di dalam ruangan.


"Hem....bau apa ini. Seakan aku di taman, Firdaus," ucap Bas, sesaat keluar dari kamarnya. Matanya menangkap tumpukan bunga di ruang tamu, juga Bi Arni dan Dewi yang hilir mudik membawa bunga.


"Ofs, bisa kena jewer, si Bos nih karena gak bantuin angkut bunga. Buru-buru Bas, membantu Bi Arni dan Dewi.


Sementara itu di kediaman Alex.


Terlihat Alex mempersiapkan anak buahnya, untuk penyerangan ke kediaman, Bara, tepat di hari pernikahannya.


Alex telah menebar tugas, dan memberi bimbingan langsung pada anak buanya. Apa saja yang akan dilakukan nanti.


"Jangan ada kesalahan. Kita tidak boleh gagal. Targetnya adalah, Bara. Perhatikan baik-baik foto ini," Alex menunjukkan sebuah foto. "Semua harus melakukan yang terbaik dan kuasai posko masing-masing, paham?!" ucap Alex mengakhiri wejangannya.


"Siap, Bos!" teriak semuanya serempak.

__ADS_1


"Oke, semuanya bubar. Sebelumnya, masih ada yang kurang jelas. Ada, pertanyaan?" teriak Alex lantang.


"Tidak, Bos!" teriakan lantang kembali menggema. Lalu Alex memberi kode lewat jarinya, tanda bubar kepada anak buahnya. Dalam hitungan detik, kumpulan itu bubar.


"Kamu yakin dengan rencanamu ini, Say." Lily mengusap wajah suaminya dengan manja. Alex mengangguk, pasti.


"Bara, akan lengah di hari bahagianya itu. Jadi, dia akan jadi sasaran empuk senjataku, dan hup....! Kita masuk dengan mudah, melumpuhkannya. Bara, akan berlutut di kakimu sayang. Memohon ampun, karena telah membunuh paman kesayanganmu," seringai Alex tersenyum sumringah.


"Terima kasih sayang. Karena kamu telah mau melampiaskan dendamku, atas kematian pamanku, Vincent!"


"Untukmu, akan aku lakukan segalanya. Bahkan nyawaku juga rela aku berikan." ucap Alex penuh kesombongan. Keduanya tertawa penuh seringai. Tak sabar menunggu hari H, hari dimana Bara, akan menemui ajalnya.


Sepasang pengantin berjalan dipelataran yang ditaburi bunga bunga. Di kedua sisi jalan yang mereka lalui, juga bergelantung bunga-bunga yang ditata penuh artistik. Keduanya tak henti tersenyum, memamerkan kebahagian mereka kepada para tetamu, yang hadir.


Semua mata tertuju, memandang kearah sang mempelai yang berjalan gagah dan anggun. Mereka mengagumi ketampanan dan kecantikan sang mempelai yang berubah bak raja dan ratu.


Alunan musik yang mengalun lembut, mengiringi langkah pengantin menuju altar, yang juga trlah dihiasi bunga, bernuansa putih dan merah.


Bara yang dibalut jas putih krem nampak begitu gagah. Begitu juga Sava dengan balutan gaun pengantin dengan warna senada. Gaun pengantinnya yang menjuntai panjang, menambah keanggunannya. Bak cerita dongeng saja, melihat sepasang pengantin itu menapaki karpet merah yang bertabur mawar merah.


Di belakang sang pengantin iring-iringan pasangan bridesmaid yang tak kalalh cantik dan anggun dari pengantin.


Dia adalah Sisy dan Richard, Dewi dan Bas. Kedua pasangan ini juga menyita banyak perhatian dari para tamu undangan.


Langkah, Bara dan Sava telah tiba di altar. Pernikahan dengan thema outdoor ini dan dres code putih, juga telah menarik banyak perhatian wartawan, lokal. Bahkan ada yang dari luar kota.


Sesampai di altar, Pendeta Albert, mengambil sumpah dan janji dari kedua mempelai. Disaksikan oleh para tamu undangan. Suasana sakral lekat mewarnai acara pemberkatan pernikahan itu.

__ADS_1


Sisy, tanpa sadar memegang erat tangan Richard. Richard yang hadir sehari sebelum acara di mulai, menjadi tamu kehormatan bagi, Bara. Bara merasa sangat suprise atas kedatangan, Richard sahabat lamanya itu.


Richard membalas geggaman tangan, Sisy, wanita yang selama ini sangat ia cintai. Namun, sampai sekarang dia belum bisa menundukkan hatinya.***


__ADS_2