Hati Yang Terpasung

Hati Yang Terpasung
Bab 53


__ADS_3

"Kamu ini, kalau bercanda jangan kelewatan. Masak Sisy disamakan dengan kuda," ucap Bara.


"Yah, karena suka bikin ulah, Bos. Kesal aja liatnya." Sahut Bas, seraya mengemudikan mobil hati-hati karena jalan yang menurun.


"Oh, ya, Bas. Tadi aku sudah melamar, Sava. Kamu tau apa jawab, Sava? Dia menerima lamaranku, Bas." Suara decit ban yang terhenti tiba-tiba mengagetkan, Bara. Hampir saja, keningnya mencium dashboar, kalau saja Bara tidak keburu menahan tubuhnya.


"Aduh, Bos! Bisa gak, jangan ngomong seperti itu saat aku nyetir," Bas, memegang dadanya karena kaget.


"Lha, aku kan ngasih kabar gembira. Apa kamu suka sama, Sava, ya? Sampai kaget begitu."


"Gak, Bos. Mana punya nyali aku bersaing dengan, Bos," kekehnya.


"Trus, apa arti ucapanmu, barusan?" delik Bara curiga.


"Jangan, menatapku seperti itu, Bos. Tadi, aku protes karena aku gak mau konsentrasiku menyetir, terganggu. Aku bahagia, akhirnya Bos mau melamar, Sava."


Bara, melirik acuh ke arah, Bas. Senyum menggoda masih tersimpan di sudut bibir sang supirnya. Akhirnya, Bara, juga senyum- senyum sendiri. Betapa suasana hati akhir- akhir ini sangat mudah berubah. Terkadang pikirannya bengong. Bentar kemudian, dia sudah ingin bersiul-siul sepanjang hari.


Ah, seperti ini rasanya dipermainkan cinta? Sebuah rasa yang baru pertama kali hadir dalam hidupnya.


"Ciiiitttt....!!!" Mendadak mobil berhenti! Bara, yang tak menduga langsung terdorong ke depan. Kepalanya sukses menyentuh dashboard. Bara, merasa pusing sejenak.


"Apaan, kamu, Bas!" Teriak Bara, seraya memegangi keningnya yang berdenyut, sakit.


"Maaf, Bos. Lihat itu!" Tunjuk Bas pada keramaian di depan mereka. Buru-buru membuka pintu, dan segera keluar. " Seperti suara si Putih, Bos."


Bara, juga terhentak saat mendengar suara ringkikan kuda. Dia menyusul, Bas, memastikan apa benar itu suara kudanya.


Benar saja, itu memang suara si Putih, kuda peliharaan, Bara, yang mengamuk karena Sisy telah berbuat kasar padanya saat mengambilnya tadi.


Sisy, berusaha membujuk, si Putih yang mengamuk. Tadi, si Putih telah melemparkan tubuhnya dari punggung kekar itu. Mungkin si Putih kesal atau marah, karena sepanjang jalan tadi dia terus bersikap kasar, memu**l dan menendangnya.

__ADS_1


Tingkah si Putih ini, menarik perhatian orang. Sehingga jalanan ramai dan macet. Membuat si Putih makin stres dan panik.


"Tolong kasih jalan, Pak!" Seru Bas menyeruak kerumunan orang-orang. seperti dugaan, Bas, itu memang si Putih. Kuda yang dilarikan, Sisy. Berbeda dengan si Belang, si Putih ini jauh lebih sensitif.


Bas dapat merasakan kalau si Putih lagi stres dan ketakutan. Karena itu dia terus meringkik. Bas, bersiul, menyenandungkan sebuah lagu yang biasa dia nyanyikan saat memandikan atau merawat ke dua kuda, Bara.


Saat mendengar siulan itu, si Putih langsung kenal suara itu. Si Putih berhenti meringkik dan mengangkat kakinya ke atas. Beberapa orang yang menyaksikan itu, menjdi takjub.


Begitu, melihat Bas yang datang sambil bersiul. Wajah Sisy memerah, malu. Apalagi ada Bara yang berjalan tergesa di belakang, Bas. Membuat Sisy makin salah tingkah.


"Kamu selalu saja, buat masalah," ungkap Bas kesal, melewati Sisy. Bas menarik tali kekang. Mendekati si Putih yang sudah nampak tenang.


"Tidak apa-apa, semua sudah tenang, oke. Sekarang kita pulang." Bas, mengelus-elus wajah si Putih lembut. Menggiringnya keluar dari keramaian itu. Banyak orang bertepuk tangan, takjub, karena kuda itu telah dijinakkan olehnya.


"Sekarang bubar ya, Bapak, Ibu. Ini adalah kuda peliharaan kami. Kuda ini akan stres kalau ada yang memaksa menungganginya." ucap Bas, menjelaskan kondisi, kuda si Putih.


"Oh, akibat dipaksa, toh. Jadi kudanya ngamuk," celetuk seorang ibu di tengah keramaian itu. Lalu satu persatu, mereka bubar.


"Kamu ini, Sy, maumu apasih? Selalu saja membuat rusuh. Apa kamu itu tak ingat umur, gak. Kamu itu bukan anak kecil lagi, tau!" Hentak Bara, seraya mendorong, Sisy, ke mobil


"Kamu juga, apa gak bisa bersikap lembut, pada perempuan, Bara!" Balas Sisy tak kalah, keras.


"Kamu?!"


"Iya, aku! Kenapa?"


"Iya, kamu itu kenapa? Salah minum obat, ya?" ucap Bara, penuh ejekan. Membuat merah wajah Sisy.


"Kamu, pikir aku orang gila, ya?" plotot Sisy emosi.


"Terserah, aku tak ada waktu meladeni kegilaanmu." Bara meloncat masuk ke dalam, mobil. "Ayo, masuk. Atau kamu mau pulang jalan kaki, ya?" ancam Bara.

__ADS_1


"Ya, pulang saja sana. Aku mau jalan kaki."


"Jangan keras kepala, Sy. Tak akan ada yang menjemputmu setelah ini. Bas, akan pulang dengan si Putih."


"Ya, udah. Aku akan jalan kaki saja."


"Oke, terserah. Sampai jumpa, saat makan malam." Bara menyalakan mesin mobil, dan akan memutar balik. Jarak tempat ini, kerumah mereka sudah lumayan jauh. Bila di tempuh jalan kaki, baru sampai tiga jam. Berarti itu sudah malam.


Tidak ada kendraan mau diajak naik keatas, karena itu bukan jalan umum. Penghuni yang tinggal di atas bukit sana, hanyalah Bara. Karena pemilik bukit itu adalah keluarga Bara turun temurun.


"Bos, aku jalan duluan!" Teriak Bas, seraya memacu si Putih ke arah jalan pulang. Sepertinya senang diajak pulang. Si Putih, meringkik keras dan berlari dengan kecepatan maksimal.


Bara melambaikan tangannya ke arah, Bas, sebelum mereka berlalu. Kemudian dia menyalakan mesin mobil, lalu memutar arah mobil menuju ke rumah. Bara, sengaja melambatkan laju mobilnya. Mungkin, Sisy, mau berubah pikiran, jadi masih bisa mengejarnya.


1 menit berlalu, Sisy masih belum bereaksi. Sisy masih berdiri di pinggir jalan, seperti posisi semula. Bara, melirik ke kaca spion. Bayangan Sisy makin mengecil.


Sesaat, ketika Bara hendak menambah laju mobilnya. Bara, melihat Sisy berlari-lari mengejarnya sambil berteriak memanggilnya.


Bara tersenyum tapi dia pura-pura tidak mendengar teriakan Sisy. Supaya Sisy berusaha lebih keras lagi. Bara, tiba-tiba mendapat ide, untuk mengerjai, Sisy.


Namun, sungguh sial!


Bara melihat Sisy terjatuh, lalu dia terduduk di trotoar.


"Benar-benar keras kepala," guman Bara. Bara akhirnya, memundurkan kembali mobilnya. "Ayo, cepat naik!" perintah Bara, seraya membukakan pintu. Mau tidak mau, Sisy, masuk juga. Tidak ada gunanya membantah, dia takut, Bara, berubah pikiran dan meninggalkannya di pinggir jalan ini.


Bara, kembali melajukan mobil dengan perlahan. Sisy, memandang lurus ke depan, seolah enggan melihat, Bara. Bara, mendiamkan saja sikap, Sisy. Biarlah nantinya, Sisy yang mulai bicara. Tapi, hingga beberapa saat, Sisy, masih bungkam.


Mungkin dia enggan atau takut memulai pembicaraan, setelah tingkahnya yang memicu kerusuhan barusan. Bara, juga sama enggannya karena tak ingin lagi salah bicara.


Setelah beberapa saat, kebisuan meraja diantara mereka. Akhirnya, Bara, mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


"Kenapa, kamu melarikan si Putih dengan, paksa? Kuda-kuda itu tidak pernah, dibawa ke arah jalan raya. Makanya dia panik dan stres saat dikeramaian," jelas Bara, mencairkan situasi.***


__ADS_2