
Bara menyerahkan dirinya kepada polisi. Setelah membunuh, Vincent! Penyerangan yang di lakukan Vincent, dengan mengerahkan anak buahnya. Untuk mengacaukan peresmian irigasi itu.
Berujung dengan kematian Vincent yang mengenaskan!
Banyak orang yang bersyukur atas kematian mafia narkotika itu.Karena selama ini Vincent, telah banyak menindas orang.
Mereka menganggap Bara, sebagai seorang pahlawan. Karena telah membebaskan mereka dari penindasan Vincent.
Jadi tidak heran, ketika Bara menyerahkan diri ke polisi . Warga berbondong- bondong menuju kantor polisi. Agar Bara di bebaskan.
Melihat banyaknya warga yang membela Bara. Atas kasus pembunuhan itu, di mana Bara melakukan pembunuhan itu. Karena membela diri. Karena sangat jelas di saksikan oleh orang banyak. Bahwa Vincentlah yang telah melakukan penyerangan.
Melihat banyaknya para.pendukung Bara. Polisi harus exstra hati- hati mengambil kebijakan.
Polisi tidak ingin terjadi kerusuhan akibat tindakan anarkis pendukung Bara.
Akhirnya, polisi menetapkan Bara hanya tahanan kota. Dan wajib melapor setiap hari.
Karena pihak polisi juga sudah mengetahui sepak terjang Vincent selama ini. Ternyata dia adalah salah satu mafia, pengedar obat terlarang yang paling di buru polisi.
Karena di lindungi pejabat korup, bisnis illegalnya selama ini tak tersentuh hukum. Bahkan karena ulahnya yang menindas beberapa warga, sehingga menciptakan teror di tengah masyarakat.
Jasad Vincent telah di kuburkan. Karena tidak memiliki pewaris atas harta kekayaannya. Maka pejabat setempat mengembalikan lagi tanah warga yang telah di rampas atau di jual paksa oleh warga.
Semua anak buah Vincent mendapat pembinaan agar kembali ke jalan benar. Dan juga di berikan sepetak tanah untuk usaha atau membangun rumah mereka.
Para pejabat atau aparat yang selama ini menjadi anteknya Vincent, di proses hukum untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.
Seperti batu yang di lemparlan ke kolam. Riaknya akan menciptakan gelombang hingga ke tepian.
Dan dengan tewasnya, Vincent. Memberi kelegaan kepada banyak orang lain. Sekaligus menimbulkan dendam bagi yang di rugikan.
Karena saat mata rantai sebuah bisnis, sekelas mafia narkotik di usik. Otomatis akan menimbulkan efek yag luar biasa dahsyatnya.
Tidak akan semudah itu menghancurkannya. Apa lagi untuk sekelas mafia Vincent, yang sudah bekerja sama dengan kartel di negara K.
Ketika stok barang terputus dari jaringan mafia Vincent, muncul lagi mafia baru. Dengan label dan tampilan yang baru.
Yang tujuannya tetap satu, melanjutkan pasar yang sudah terlanjur ada.
__ADS_1
***
" Bara?" akhirnya Sava menemukan Bara yang sedang berdiri, di balkon. Menghadap hutan pinus. Aroma khas dari pinus yang terhembus angin, menusuk hidung .
" Kamu kenapa?" peluk Sava dari belakang. Akhir- akhir ini Bara sepertinya lebih sering menarik dirinya. Menyendiri!
Entah apa yang sedang berkecamuk di dada Bara. Orang yang selalu berusaha melindunginya.
Sosok lelaki yang begitu ia cintai. Tapi akhir- akhir ini, dia seperti kehilangan dirinya. Seolah ada yang memasung hatinya, untuk ia miliki seutuhnya.
Bara merespon pelukan Sava, dengan mengelus punggung tangan Sava yang membelit di pingganganya .
" Aku baik- baik saja, Va. Hanya saja tidak bisa tidur. Gerah! Sahut Bara. Tetap dalam posisi membelakangi Sava.
" Di sini sangat dingin, bagaimana kamu bisa gerah? Apakah suasana hatimu lagi, galau? Ceritalah padaku, berbagilah Bar?" kini Sava telah menatap iris mata Bara lekat. Ingin menyelami telaga matanya. Seberapa dalam mata itu menyiratkan isi hatinya.
" Masuklah, Va. Di sini dingin. Nanti kamu masuk angin. Tatapan Bara tetap pada keheningan malam yang pekat di depannya.
Seolah menggambarkan hati Bara yang sebernarnya, sedang tersesat.
Sava menatap putus asa. Hatinya seolah tertusuk melihat sikap Bara yang tidak sehangat dulu. Sejak peristiwa kematian Vincent, hatinya berubah beku dan dingin,lagi!
Sava, melepas pelukannya. Hendak berlalu.Tapi tiba- tiba Bara menariknya dalam pelukannya. Tanpa bicara apa- apa, Bara mel***t b***r Sava dengan kasar. Seolah menuntut penuntasan hasratnya yang begitu mendadak.
Sava kaget dan melenguh, berusaha melepaskan diri dari Bara. Tapi kekangan Bara yang begitu kuat mencengkramnya. Sava tak berdaya. Rontaannya malah membuat Bara seakan kalap.
Hati Sava begitu sakit di perlakukan seperti ini. Seolah Bara menghukum dirinya.
" Bar...augh" erang Sava seolah kehabisan nafas. Sava berusaha menahan gejolak di dadanya. Bukan hanya mulut Bara , tangannya juga mulai menyentuh bagian sensitif Sava.
Dengan kekuatan penuh, Sava mendorong tubuh, Bara.Hingga dirinya terlepas. Nafas Sava tersenggal, karena kehilangan pasokan oksigen.
Dadanya turun naik menahan luapan emosinya.
Bara menatap sengit ke arah Sava. Dan merasa bingung dengan apa yang telah dia lakukan tadi.
" Maafkan aku, Sava. Aku..aku ," Bara seolah kebingungan menyelesaikan kata- katanya.
Dengan menahan tangis, Sava memeluk Bara kembali. Sava mengerti , Bara melakukan hal tadi, di luar kontrol dirinya.
__ADS_1
Mungkin dia hanya melepas ketegangan hatinya. Karena goncangan berat, karena peristiwa kematian Vincentkah?
Tentu rasa bersalah dan trauma itu pasti ada. Karena telah dengan terpaksa melakukan pembunuhan itu. Meski itu di luar rencanya.
Perasan bersalah itu, yang membuat tidurnya beberapa hari ini tak pernah nyenyak. Rasa bersalah itu begitu menggerogoti, hatinya.
Harinya seolah tak pernah sama lagi.Tangannya telah kotor oleh darah orang yang telah membunuh orang yang ia cintai.
Balas dendam itu telah di tuntaskan! Darah di bayar dengan darah. Nyawa ganti nyawa! Tapi mengapa hati jadi terbelunggu rasa bersalah?
" Aku tau kamu terpaksa melakukan semua itu, Bar. Kamu hanya membela dirirmu. Semua itu bukan salah kamu. Hentikan menghukum diri kamu sendiri, Bara. Aku mohon , jadilah diri kamu sendiri. Bara yang penuh kasih. Bara yang hangat. " ucap Sava tak mampu menahan tangisnya.
Bara membalas pelukan Sava. Sebagai penebusan atas kesilapannya tadi. Tubuh mungil Sava tenggelam dalam rengkuhannya. Bara seolah tak mau melepaskan pelukannya.
Tiba- tiba terdengar batuk kecil di belakang mereka.Ternyata ada Bas. Bas tadi mermaksud ke kamar Bara. Tapi tak menemukannya. Lalu ia ke balkon. Karena ada hal penting yang hendak ia sampaikan.
Tapi apes, dia malah memergoki Bara sedang berpelukan dengan, Sava.
" Ada apa?" ujar Bara. Masih tak melepas pelukannya.
" Egh, anu bos," seru Bas serba salah. Karena telah menggangu bosnya.
" Tidak apa, lekas katakan!"
" Ada tamu polisi, pak. Menunggu di bawah."
" Hah! Polisi?" sahut Sava cemas.
" Bilang aku akan segera turun, Bas."
" Baik, bos." Bas bergegas turun.
" Tidak apa- apa, Va. Jadi jangan cemas ya." Bara mengecup kening Sava, untuk menghalau cemas yang tersirat di matanya.
Bara bergegas turun, Buat apa polisi datang ke rumahnya? Malam- malam pula? Benak Bara juga di penuhi berbagai tanya.
Apa ini ada kaitannya dengan kematian, Vincent?
****
__ADS_1