Hati Yang Terpasung

Hati Yang Terpasung
22.


__ADS_3

Frank menatap Bara penuh selidik. Bagaimana bisa Bara bersama orang asing di kamarnya.


Padahal tadi , dia berada di rumah sakit. Sampai- sampai rapat pertemuan direksi di batalkan.


" Iya om. Ini orang yang tadi saya tabrak. Saya terpaksa membawanya ke sini. Karena dia memiliki tato yang sama dengan anak buah, Vincent! " tutur Bara memberi penjelasan.


" Maksud kamu itu apa?" Bara memperlihatkan tato di lengan Sava.


" Apa dia komplotan Vincent. Bagaimana kamu bisa membawanya ke sini.Hah!"


" Aku hanya salah faham, om. Dia malah melarikan diri dari sana. Karena Vincent telah menyekapnya. Hampir setahun."


" Hem, kamu bisa percaya begitu ucapannya. Bagaimana kalau dia itu hanya mencoba menipumu?" kecam Frank tajam.


" Dia perempuan, om. Sengaja menyaru jadi lelaki demi menghindari kejaran anak buahnya, Vincent." Frank melirik ke arah Sava. Melihat kejujuran di mata Sava.


Sava menatap, memohon belas kasihan. Meminta perlindungan.


" Kamu tau resiko yang kau ambil, dengan melindungi gadis itu?"


" Aku tidak punya pilihan, om. Setidsknya dia lebih aman di sini dari pada di luar sana.Dia tidak punya keluarga. Orang tuanya tewas di bantai Vincent."


" Terserah kamulah. Aku harap kamu bisa melindunginya. Ini tidak mudah. Vincent akan memburu gadis itu, sampai ke mana pun!"


Sementara itu, di kediaman Vincent.


" Brengsek! Bagaimana mungkin gadis itu bisa melarikan diri dari rumah ini. Setelah setahun ia dubsekap di sini.!" teriak Vincent lantang.


Matanya menatap nyalang satu persatu anak buahnya. Seakan hendak menembus jantung mereka!


Tak seorang pun yang berani menatap. Apalagi untuk sekedar membantah, memberi alasan.


Prannngggg....!!!


Vincent menendang patung keramik di dekat meja hingga pecah berserakan.


" Kenapa tak satu pun ada yabg bicara. Tidak mungkin dia lepas begitu saja. Tanpa ada yang membantu! Siapa kalian yang menghianatiku!"


Semua diam membisu.!


Rendra yang merasakan ketegangan kian memuncak, berusaha menetralisir keadaan.


" Bos, saat gadis itu melarikan diri, kami semua ada di proyek irigasi. Tidak mungkin ada yang berkhianat sama, bos"


" Pasti ada seseorang yang memberinya anak kunci."


" Bukankah hanya bos yang memegang anak kunci itu?"


Seketika Vincent terdiam. Masuk di akal. Yah , hanya dia yang memegan anak kunci kamar tempat Sava di sekap.


" Baiklah. Kali ini kalian lepas dari hukuman. Tapi kalian harus cari gadis itu sampai ketemu!" perintah Vincent geram.


" Baik bos. Kami akan cari sampai dapat gadis itu." Rendra memberi kode pada anak buahnya agar segera keluar.

__ADS_1


" Semoga saja gadis itu sudah jauh," batin Rendra setelah di luar dan menarik nafas lega.


Vincent memang tak pernah tau, kalau Rendra membuat kunci duplikat. Dia kasihan juga melihat nasib gadis itu. Sudah keluarganya di habisi. Dia pun di sekap di rumah Vincent. Di jadikan tahanan. Padahal gadis itu masih muda.


Masa depannya masih panjang.


Karena itulah dia membantu melepaskan gadis itu.


***


" Sekakrang apa pilihanmu. Tetap menyaru jadi seorang laki-laki atau kamu kembali berpenampilan perempuan." ucsp Bara setelah memutuskan untuk melindungi Sava.


" Sebaiknya aku tetap seperti ini."


" Oke. Jika itu pilihanmu." Bara menelepon Bas untuk membeli beberapa stel pakaian laki- laki.


" Kamu bersihkan dulu dirimu. Dan kamu boleh tidur di kamar orang tuaku."


" Terima kasih karena telah mau, menolongku. Suatu saat aku akan membalas kebaikan mu ini."


" Hem, pergilah cepat. " kibas Bara dingin.


Sava ke luar dari kamar, Bara. Sepeninggal Sava, Bara mencengkram kursi, hingga buku jarinya memutih.


Ingin rasanya dia membunuh Vincent saat ini juga. Bagaimana lelaki tua itu tega menyekap Sava selama kurang lebih satu tahun. Setelah membunuh keluarganya.


Benar- benar sadis. Dan berhati iblis!


Dengan tatapan penuh tanya, Bas menyerahkan pesanan Bara.


Bas tak habis pikir, kenapa Bara memesan pakian dengan ukuran jauh lebih kecil dari tubuhnya.


" Ada apa? "


" Egh, anu bos. Pakaian ini sebenarnya untuk siapa?"


" Sudah, gak usah banyak tanya."


Tapi tiba- tiba Sava muncul di depan pintu kamar Bara.


" Dia siapa bos?" tanya Bas keheranan.


" Namaku, Sava." Sava menyebut namanya, memperkenalkan dirinya pada, Bas.


" Ingat! Mulai sekarang namamu, Fasha." Bara berbalik menatap Sava.


Dan melemparkan bungkusan pakaian itu, ke arah Sava. Dengan gerak refleks Sava berhasil menangkapnya.


" Pakailah itu." Bara kembali berbalik. Dan menatap pepohonan pinus yang menjulang tinggi.


Sava segera pergi, ke kamarnya. Untuk bersalin pakaian.


Bagas juga hendak keluar, tapi langkahnya terhenti saat Bara memanggilnya.

__ADS_1


" Kamu harus merahasiakan keberadaan perempuan itu. Dia melarikan diri dari, Vincent. Aku telah menabraknya tadi pagi. Jelas?"


" Iya bos."meski rada bingung, Bas tetap mengiyakan saja ucapan Bara.


Sementara Sava nampak mengenakan pakaian yang di beli Bara. Tadinya dia ragu untuk memakai pakaian itu. Tapi demi keamanannya dia harus memilih jadi sosok pria saja.


Apa dia juga harus memotong lebih pendek dan rapi rambutnya, ya? Karena kemarin dia hanya asal - asalan memotong rambutnya waktu di hutan.


Sekilas orang akan melihat nya seperti laki- laki. Dengan kemeja longgar, yang ia pakai dapat menyamarkan area dadanya. Ada juga untungnya, dadanya agak rata. Sehingga lebih mudah baginya menyaru jadi laki-laki.


Setelah puas mematut dirinya di depan cermin, Sava keluar dari kamar. Ia tak bisa berdiam saja di kamar. Sepanjang hari.


Sava bermaksud hendak beres- beres rumah. Atau memasak. Atau apa sajalah yang bisa ia kerjakan di rumah ini.


Sava, membuka pintu kamar dan bersamaan Bara juga, keluar.


Sava menatap kikuk ke arah Bara. Karena Bara selalu bersikap dingin dan kaku.


" Mau ke mana?" selidik Bara tajam.


" Mungkin ada yang bisa aku lakukan di rumah ini. Aku tak suka berdiam diri di kamar."


" Tak ada yang perlu kamu lakukan di sini. Kembalilah ke kamarmu." perintah Bara.


" Tapi, aku ingin melakukan sesuatu. Mungkin memasak atau beres- béres rumah."


" Kamu ikut aku saja. Rambutmu itu, sangat menggangu mataku." Bara melangkah menuruni anak tangga.


Tapi Sava masih berdiri mematung. Hingga Bara menyuruhnya segera turun.


Ucapan Bara tentang rambutnya, barusan membuat Sava rada sebal. Dia juga tak ingin punya model rambut seperti itu. Tadinya rambutnya panjang, dan bagus.


Buru- buru Sava turun, dan mengikuti langkah kaki Bara.


" Bos mau ke mana? Barusan pak Frank menelepon. Ada razia anak buah Vincent." cegat Bas. Saat tau bosnya hendak ke luar rumah


Bara terdiam.


" Kalau begitu, kamu saja yang merapikan rambut nya. Biar tidak seperti orang gila." ucap Bara berbalik masuk ke kamar.


Sava terpelongo mendengar ucapan kasar itu. Bas hanya tersenyum. Sava mendelik melihat senyum Bas.


" Jangan marah, kamu memang tampak lucu dengan rambut seperti itu. Mengingatkan aku pada tokoh kartun." gelak Bas.


Sava akhirnya tertawa juga. Apa lagi saat melihat bayangan dirinya di kaca jendela.


Sava merasa terhibur melihat sosok Bas yang lebih humoris. Sangat jauh beda dengan Bara.


Wajahnya sangat kaku dan dingin. Mungkin efek jarang tertawa. Bicaranya juga seenaknya saja.


Sava seperti berada di gunung es saja, setiap berdekatan dengan Bara. ***


"

__ADS_1


__ADS_2