Hati Yang Terpasung

Hati Yang Terpasung
Bab 31


__ADS_3

Bara membuka pintu kamarnya, hendak turun untuk sarapan. Bersamaan dengan itu Sava juga juga baru keluar dari kamarnya.


Kedua mata mereka saling memandang. Sava mengalihkan arah matanya, menghindari tatapan Bara. Ingatannya langsung melayang ke kejadian kemarin sore.


Wajah Sava langsung memerah. Di pura- pura membetulkan kemejanya.


Bara tersenyum melihat tingkah Sava, dan menghampirinya. Melihat Bara datang mendekat, spontan Sava melangkah mundur.


" Selamat pagi Sava." ucap Bara lembut. Menatap Sava begitu intens.


" Pagi, " sahut Sava tertuduk.


"Kenapa, marah sama aku ya?"


" Eh, gak!" sahut Sava kaget tak menduga pertanyaan Bara.


" Hem.., kenapa menghindari tatapanku?"


Ih, norak! Pertayaan apaan sih, seru Sava membatin.


Aneh, sikapnya kok berubah begini?


" Aku tidak apa- apa kok, Bara." ucap Sava lemas saat Bara semakin mendekati dirinya. Jarak antara dirinya hanya beberapa centi saja. Bahkan helaan nafas Bara kini menyapu seluruh wajahnya.


Sava semakin mepet ke dinding. Tubuhnya serasa terkunci hanya karena tatapan, Bara. Serta merta Sava menahan nafasnya. Pikirannya sudah traveling ke mana- mana. Apa yang akan Bara lakukan lagi pada dirinya.


Sava menutup ke dua matanya. Hanya pasrah menunggu apa yang akan terjadi.


Tapi beberapa detik menunggu, tak ada apa- apa.


Sava membuka matanya. Sosok Bara sudah tak ada di depannya. Sava menghela nafasnya lega, plus kesal karena merasa di permainkan!


Sava menuruni anak tangga, dan melihat Bara dan om Frank telah duduk, di meja makan untuk sarapan.


" Hai, selamat pagi Sava, sudah bangun ya? Bara bilang kamu masih, ngorok!" seru om Frank menyapa Sava.


Wajah Sava langsung memerah. Matanya menatap tajam ke atah Bara. Yang di tatap malah acuh, seolah tanpa salah.


" Selamat pagi juga om. Maaf terlambat bangun, soalnya semalam ada musang gangguin tidurku." seru Sava enteng. Menyindir Bara.


" Musang? Ada musang masuk.kamarmu?" seru Frank menanggapi ucapan Sava serius. Tapi matanya berkedip lucu ke arah Sava.


" Eh, bukan masuk kamar saya, om. Tapi di atap, sangat berisik!" seru Sava, jadinya salah tingkah. Karena ia ngerti kalau om Frank tengah menyindir Bara juga.


Bara juga faham kalau dirirnya di sentil sang paman. Wajahnya memerah dan melotot ke arah Sava.

__ADS_1


" Oh! Kamu dengar gak, suara musang yang di bilang Sava, Bara?" tatap om Frank ke Bara.


" Ah gak ada. Aku gak dengar apa- apa. Sava ngigau kali."


" Iya, bibi juga gak ada dengar. Mungkin itu suara angin, nak Sava." timpal bi Arni serius.


" Masuk di akal, bi. Soalnya kita tinggal di tengah hutan," kekeh Frank.


Bergantian melirik Sava dan Bara. Keduanya jadi salah tingkah. Senang saja hatinya melihat keduanya bisa saling menyukai.


Frank berharap Bara menemukan seseorang yang bisa membuatnya tersenyum. Menjalani hidupnya penuh bahagia.


" Yuk! Kita sarapan. Bas ke mana bi, kok belum keliatan batang hidungnya." seru Frank, mencairkan suasana kaku di meja makan.


" Siap bos," sahut Bas yang mendadak muncul.


" Telat bangun ya, Bas?"


" Eh, iya bos. Semalam aku susah tidur."


" Lho, kenapa. Karena suara musang jugakah?" kekeh Frank .


" Suara musang? Ih, memang semalam ada suara musang, bos?" Bas malah balik bertanya.


" Sava yang bilang. Dia juga telat bangun. Katanya di mendengar suara berisik musang di atap."


Tadinya kan dia cuma keceplosan, menyindir. Eh, om Frank malah serius menanggapi.


" Gak tau juga sih. Mungkin aku salah dengar, seperti kata bibi." Sava meluruskan ucapannya.


" Hem.." Bas mengangguk mengerti.Tapi dia merasa aneh, karena Bara sedari tadi asyik menikmati sarapannya.


"Apa benar, Sava tak mau lagi kerja di perusahaan?" tanya Frank menatap Sava. Mengubah haluan percakapan.


Sava menatap Bara, Bara acuh saja tetap melanjutkan acara makannya.


" Sebenarnya bukan gak mau, om. Hanya saja, saya belum siap."


" Apa karena gosip itu? Kenapa mesti di dengarkan. Nanti juga akan reda sendiri.Lagian mereka juga gak salah. Mereka menilai dari apa yang mereka lihat."


" Maafkan saya om," Sava tertunduk, tak enak hati.


" Tidak apa- apa. Kalau Sava memang belum siap. Kapan saja kamu berubah pikiran, kamu bisa ngomong sama, om."


" Baik om, " sahut Sava.

__ADS_1


" Bara, jangan lupa untuk memeriksa laporan bulanan. Terutama soal proyek pembangunan irigasi itu."


" Iya om, mungkin hari ini semua berkasnya sudah ada di meja saya om."


" Bas, kamu sama Bara saja. Saya mau ke kota. Ada janji bersama teman."


"Sebaiknya Bas, bersama om saja. Supaya om ada teman jalan,"


" Iya bos. Aku ikut bos saja." sahut Bas antusias.


" Tidak apa- apa. Om, pergi sendiri saja. Kamu di sini saja ,Bas. Jaga mereka semua baik- baik. Aku percayakan mereka samamu.


Kamu juga Bara. Sebisa mungkin lindungi Sava, ya.? Jangan biarkan Sava jatuh ke tangan Vincent lagi, faham!?"


" Eh, om ngomong apaan sih. Pamitnya kayak mau pergi sebulan. Sehari saja enggak! " celetuk Bi Arni bercanda. Bi Arni merasa lucu , yang di tinggalin pesanpun mendengarnya serius amat.


" Iya juga. Si bos serius amat ngomongnya. Kayak mau pergi jauh saja. Gak balik- balik!"


" Hush! Ngaco kamu. Justru omongan kamu yang ngawur." sela bi Arni lagi, menanggapi ucapan Bas.


" Sudah, sudah. Apa yang salah dengan ucapan saya. Cuma sekedar mengingatkan saja. Om pamit. Sampai jumpa semuanya." Frank memeluk satu persatu orangnyang telah dia anggap keluarganya.


Saat giliran memeluk Sava.


" Sava, om titip Bara sama kamu ya, jaga dan beri dia selalu kekuatan ya. Om,percaya sama kamu. Kamu paati bisa menjaganya. Terutama soal hatinya. Cintai dia sepenuh hatimu, ya. Tetaplah di sisinya sampai akhir." bisik Frank. Membuat Sava, merinding mendengar nasehat itu.


" Om...?" hanya itu yang mampu Sava ucapkan. Frank mengangguk . Tatapan Frank begitu penuh harap.


" Bi, bibi jaga kesehatan, ya."


Bara mengantar hingga ke mobil, kepergian om Frank.


" Om percaya sama kamu Bara. Semua paati baik- baik saja di tanganmu. Jangan lupa, segera halalkan cewek cantik itu. Jaga dan lindungi dia ya."


" Om lagi mabuk ya.Dari tadi ucapannya aneh- aneh saja." kekeh Bara. Tawa Frank pecah saat melihat wajah Bara yang memerah karena godaannya .


" Jangan bilang kamu gak suka gadis itu. Semuanya nampak jelas. Kalo kamu itu sudah bucin sama Sava." tawa Frank makin berderai.


" Ah, om ini. Bisa aja." Bara akhirnya ikutan tertawa karena godaan Frank.


Siapa yang menyangka, itu adalah pertemuan terakhir mereka. Tawa itu, adalah tawa terakhir dari Om Frank yang di lihat, Bara.


Semua ucapan dan pesannya di pagi itu. Juga adalah, pesan yang terakhir yang mereka dengar.


Tak ada yang tau. Meski dari ucapannya sudah terasa aneh. Bahwa telah ada firasat dari semua tingkah Frank pagi itu. Tetapi sangat berat untuk menerima kenyataan. Bahwa itulah hari terakhir Frank bersama dengan mereka. ****

__ADS_1


"


__ADS_2