Hati Yang Terpasung

Hati Yang Terpasung
Bab 34


__ADS_3

Bas mengikat ke dua orang yang melakukan, penyerangan ke rumah bosnya. Lalu satu persatu di ikatkannya ke pohon pinus di samping rumah.


Setelah itu, Bas mengambil sember air untuk menyadarkan mereka dari pingsannya.


Sementara orang yang di ikat Bara di kamarnya sudah siuman. Dia meronta berusaha melepaskan ikatan di tubuhnya. Tapi tidak berhasil


Bara menarik topeng yang di kenakan pria dan tampaklah seraut wajah. Sepertinya Bara pernah melihatnya , tapi entah di mana.


"Siapa kamu? Dan mau apa di rumahku, hah!" hardik Bara. Laki- laki itu hanya menatap tajam ke arah Bara. Mulutnya bungkam seribu basa.


" Ayo jawab! Siapa yang menyuruhmu ke sini?"


Masih bungkam juga


Plak! Plok! Bara melayangkan dua bogem mentah! Darah segar mengucur dari sudut bibir pria asing itu.


" Jadi kamu, lebih baik memilih mati, ya? Ketimbang menjawab pertanyaanku.!"


Bara bersiap hendak melepaskan tendangannya, tapi buru- buru pria asing itu minta ampun


" Ampun, Pak! Aku di suruh pak Vincent!"


Tendangan Bara menggantung di udara. Lalu Bara menurunkan kakinya.


Hem! Vincent lagi. Kali ini emosi Bara sudah di ubun- ubun. Tidak putusnya Vincent mengusik dirinya.!


Bara membawa pria asing itu ke ruang bawah tanah. Mengikatnya ke kursi dengan erat. Lalu keluar lagi, menjumpai Bas.


Bara berpapasan dengan Bas, saat mengambil air dalam ember.


" Untuk apa itu, Bas?"


" Buat menyadarkan orang itu, bos." Bara mengikuti langkah Bas. Dan heran karena ke duanya telah di ikat ke pohon pinus.


Bara melepas topeng ke duanya. Nampak wajah mereka yang sudah babak belur.


Lalu Bas menyiramkan air itu ke wajah ke duanya.


Bara menelepon beberapa anak buahnya, yang berjaga di pos menara. Tak berapa lama tiga orang datang. Sisanya nasih berjaga di pos masing- masing.


" Ada apa, bos?"


" Kamu lihat itu! Mereka berhasil masuk menyelinap, ke sini. Digudang bawah tanah satu orang lagi. Mereka suruhan Vincent.


" Astaga! Apa yang harus kita lakukan, bos! Mereka makin keterlaluan.!" ucapnya geram.


" Ikat ketiga orang itu. Bawa ke mobil. Sekarang juga, kita antar ke sana. Suruh yang lainnya bersiap. Malam ini juga kita buat perhitungan!"


" Apa perlu kode BLACK BIRTD , di aktifkan pak?"


" Maksud kamu apa? Balik tanya Bara, heran.

__ADS_1


" Itu adalah kode pasukan yang telah lama di siapkan, pak Frank."


" Untuk apa?"


" Untuk situasi seperti ini, pak. Pak Frank, sudsh memprediksi kalau hal ini pasti datang. Hanya saja, aku juga tak mengira akan secepat ini,"


" Baiklah kalau begitu. Suruh saja mereka bersiap."


" Baik pak."


Jadi untuk itukah om Frank sering menghilang. Dengan alasan yang tak jelas. Ternyata om telah memikirkan semuanya, jauh sebelum kedatangan nya.


Bara menemui Sava, yang ternyata sudah bersama dengan bi Arni, di ruang tamu.


Bi Arni terjaga dari tidurnya karena mendengar suara berisik.


" Ada apa nak, Bara?"


" Tidak apa- apa bi. Bibi bersama Sava dulu, ya. Aku ada urusan sebentar." Bara bergegas menaiki anak tangga. Menuju kamarnya.


Karena khawatir sesuatu, Sava berlari menyusul Bara.


Pintu kamar Bara ternyata tidak di kunci. Sava berdiri di pintu, melihat Bara tengah berlutut. Bara sedang berdoa.


Selesai berdoa, Bara langsung berbalik. Dan terkejut melihat Sava telah berdiri di pintu. Bara tersenyum, kaku. Di hampirinya Sava.


" Aku pergi sebentar, Va. Perbuatan Vincent sudah tak bisa di tolelir lagi. Aku akan buat perhitungan dengannya. Demi Om Frank."


" Aku ikut!"


" Kemana?"


" Kamu lupa, kalau aku juga punya urusan dengan, bajingan itu?" ucap Sava, tercekat.


" Biar aku yang akan selesaikan, semua itu untukmu, ,Va.


" Tidak! Aku ingin melihat matanya saat menggigil ketakutan! Apakah senyumnya yang penuh kelicikan itu, masih ada saat di meregang , nyawa!"


" Bagaimana kalau terjadi sesuatu nanti padamu. Aku tidak bisa melindungimu?"


" Aku bisa jaga diriku sendiri!" sahut Sava tegas. Bara tau kalau emosi Sava lagi labil. Itu akan sangat berbahaya. Karena itu akan berpengaruh juga padanya.


Karena takut terjadi sesuatu pada Sava, hingga konsentrasinya terpecah pada musuh.


Tapi meninggalkan Sava bersama bi Arni juga, hatinya tidak tentram.


" Baiklah, jika kamu memaksa. Tapi aku mohon, jangan bertindak gegabah nanti, di sana."


" Baiklah, aku akan menurutimu." Sava memeluk tubuh Bara, erat.Bara juga membalas pelukan itu.


Keduanya segera turun, karena malam itu juga mereka akan menuju, tanah milik Vincent!

__ADS_1


" Nak, Bara?" ternyata bi Arni masih menunggu Bara.


" Iya, bi. Ada apa?" bi Arni langsung.memeluk Bara. Dan menumpahkan tangisnyan dalam pelukan Bara.


Tadi ia telah bertanya pada salah satu anak buah Bara. Kenapa pada kumpul tengah malam begini.Jawabannya sangat mengejutkan hatinya.


" Sudah, bi. Doakan saja kami agar selamat ya, bi."


" Iya nak. Bibi akan berdoa untuk keselamatan kalian. Vincent itu memang terlalu sombong." bi Arni melepas pelukannya.


" Terima kasih ,bi."


" Ayo, Sava!" Bara menggamit lengan Sava. Bi Arni menatap kepergian mereka. Iring - iringan mobil dan sepeda motor memecah kesepian malam, yang terasa amat panjang.


Hampir satu jam rombongan itu pun tiba. Jalan menuju rumah Vincent harus memutar mengitari bukit. Karena tanah mereka yang di batasi oleh sungai.


Jalan pintas kesana hanya lewat irigasi, menerobos hutan.


Begitu mereka tiba di depan pintu pagar besi, Bara memerintahkan untuk membuka pintu gerbang itu, secara paksa!


Suara ribut membuat para penjaga berlarian ke pintu gerbang. Dan menghadang rombongan anak buah, Bara.


Sehingga pertarungan benar- benar tak dapat lagi di hindari.


Bara menangkap salah seorang penjaga, dan menyuruh menunjukkan di mana kamar tuannya.


Sava dan Bas mengikuti langkah Bara. Juga satu tawanan yang di tangkap di rumah Bara.


Dengan sangat ketakutan, penjaga itu menunjukkan kamar tuannya di lantai atas. Bara melepas penjaga itu, dan lari ketakutan.


Dengan sekali tendang, pintu kamar Vincent terbuka. Vincent yang tidak menduga ke datangan Bara. Terlonjak dari ranjangnya. Jerit ketakutan terlontar dari mulut perempuan yang menemaninya sepanjang malam tadi.


Segera perempuan itu memunguti pakaiannya yang berserak, dan keluar dari kamar saat di usir Bara.


" Pergi dari sini!"


" Siapa kamu! Beraninya memasuki kamarku!" teriak Vincent lantang.


Sekali tendang, lelaki tua yang masih perkasa itu, jatuh terjengkang. Vincent yang belum siap menerima serangan itu, mengumpat panjang pendek.


" Dasar pengecut! Beraninya hanya mengirim orang ke rumahku!" melemparkan anak buah Vincent yang menyelinap ke rumahnya.


Mata Vincent terbeliak, dan faham. Bahwa anak buahnya telah gagal lagi, menjalankan tugas.


Ciut juga nyalinya, saat melihat kemarahan di mata, Bara. Ada sinar mata membunuh di sana!"


" Tenang, Bara! Semua bisa kita bicarakan!" ucapnya berusaha meredam kemarahan Bara. Tapi Bara sudah terlalu muak dengan teror yang di lakukan Vincent selama ini, padanya . Dan juga orang lain.


Vincent bergerak perlahan, mendekati dinding. Tujuannya adalah untuk meraih pedang samurai koleksinya, yang tergantung tepat di atas kepalanya.


Bara menebak apa yang hendak di lakukan, Vincent. Dengan geraknya yang ringan, Bara sudah berdiri di depan,Vincent. Dalam satu kedipan mata!

__ADS_1


Vincent merasa terdesak! Menyerang Bara dengan pukulan membabi buta. ***


__ADS_2