Hati Yang Terpasung

Hati Yang Terpasung
Bab 44


__ADS_3

Malam itu hujan turun deras sekali. Seorang wanita muda turun dari sebuah angkot. Perempuan muda itu, buru- buru berteduh di emperan toko.


Dia memeluk erat tasnya, seolah menghalau cuaca dingin di malam itu. Masih pukul tujuh memang. Tapi karena hujan, jalanan lengang seolah sudah larut malam.


Perlahan, dia mulai melangkah menyusuri trotoar. Melanjutkan perjalanannya. Karena angin yang bertiup agak kencang, dia kewalahan memegang payungnya karena angin yang cukup kuat.


Di tilik dari pakaiannya yang memakai daster, sepertinya dia tengah hamil. Kasihan sekali melihat keadaannya,yang seolah kebingungan hendak mau kemana.


Setenbah hari sudah ia habiskan waktu dalam perjalanan ke kota ini. Perempuan itu, namanya Dewi. Sengaja datang ke kota untuk mencari suaminya yang sudah lebih tiga bulan pergi merantau, tak ada kabar berita.


Dewi sudah tiba di kota ini sejak sore tadi kisaran pukul empat. Dia sudah mencari ke sana ke mari, tapi alamat yang dia tuju tidak juga ketemu.


Bahkan banyak orang yang tidak mengenal tempat itu. Membuat Dewi begitu putus asa.


Atas petunjuk seseoranglah akhirnya dia sampai ke tempat ini. Dan Dewi disambut hujan deras, sementara di daerah tadi cuaca sangat panas.


Kakinya sudah letih melangkah, dan tambah panik karena sudah malam. Dewi tidak tau mau singgah di mana untuk istirahat malam ini.


Dewi hanya bisa berdoa, semoga malam ini dia tidak tidur seperti gelandangan. Semoga saja ada yang menolongnya.


Tak lama kemudian, perempuan itu singgah di sebuah warung. Dia memesan segelas teh hangat. Menyeruputnya perlahan. Telapak tangannya dia tempelkan di gelas, untuk mencari rasa hangat.


Penampilannya yang kusut dan kelelahan, menarik perhatian Mak Rumi pemilik warung. Mak Rumi membuka kedai kopi dan jajanan gorengan di sampng warungnya.


" Kamu mau ke mana nak, malam -malam begini?" tanya pemilik warung.


" Mau ke alamat ini, mak. Mak tau tempatnya?"


" Iya, mak tau. Tapi masih jauh dari sini. Mana sudah malam, hujan pula!"


" Iya, mak. Tapi aku harus ke sana juga. Aku mau bertemu suamiku, mak." seru Dewi. Segala lelahnya seolah terbayar, ketika yang dicarinya menemui titik cerah. Harapan untuk bertemu suaminya semakin nyata.


" Tapi ini sudah malam nak. Kamu besok saja ke sana mencari suamimu. Mana kamu lagi hamil pula. Kamu bukan orang sini, ya?" selidik mak Rumi. Mak Rumi begitu kasihan melihat keadaan Dewi. Mengingatkannya pada putrinya Rani, yang telah meninggal tiga tahun lalu.


" Saya dari desa, mak."


" Ya, udah nak. Malam ini kamu tidur di rumah mak dulu. Besok kamu lanjutkan mencari suami kamu."


" Terima kasih atas kebaikan nya, mak."


" Nama kamu dan suami kamu siapa?"

__ADS_1


" Saya Dewi mak. Suamiku namanya Alex."


" Kenapa kamu sampai mencarinya ke kota, nak" .


Dewi menunduk sedih, jari jemarinya saling bertautan. Parasnya yang manis, seolah tertutupi karena beban pikiran.


" Ya, udah kalau gak mau cerita gak apa- apa. Untunglah kamu singgah di warung mak. Jadi mak bisa menolongmu. Di luar sana sangat keras, nak. Kita harus waspada dan berhati- hati."


" Sebenarnya, suami aku merantau ke kota ini mak. Sudah tiga bulan gak ada kabar beritanya. Jadi aku sangat khawatir keadaannya, mak."


"Kamu boleh tinggal sementara ini, sama mak. Sampai kamu bertemu suami kamu. Semoga suaminya cepat ketemu, ya nak."


" Amin, makasih ya mak. Mak telah berbaik hati menolong Dewi." isak Dewi tak mampu menahan haru.


" Sudahlah nak Dewi. Kita semua wajib untuk saling tolong menolong. Mak tutup dulu warungnya. Kayaknya dah sepi karena hujan."


" Aku bantu ya, mak."


" Eh, gak usah nak Dewi. Biar mak saja." tapi Dewi tetap bersikeras mau bantu. Akhirnya mak Rumi membiarkan saja.


***


Pagi, yang cerah. Sinar mentari sudah menerangi. Bekas hujan semalam perlahan menguap. Dewi membuka matanya, karena cahaya silau yang menerobos lewat celah dingding kayu.


Mengingat itu, Dewi mengucek matanya seolah masih bermimpi. Dewi teringat pertemuannya dengan mak Rumi. Wanita tua yang memberinya tumpangan.


Samar- samar Dewi mendengar suara seseorang sedang sibuk di dapur. Dewi melirik jarum jam di atas meja kecil di samping dipan. Sudah menunjukkan angka 5:30.


Aduh, aku kesiangan? Hati Dewi membatin. Perlahan Dewi bangkit dari dipan. Kakinya terasa kebas karena lelah berjalan semalam.


Dewi menjumpai Mak Rmi yang sedang sibuk menyiapkan dagangannya.


" Eh, nak Dewi sudah bangun?" sapa mak Rumi saat menyadari kehadiran Dewi di dapur.


" Aku kesiangan, mak. Kenapa mak tidak membangunkan, Dewi?"


" Tidak apa- apa. Sepertinya kamu lelah sekali semalam. Mak gak tega membangnkanmu. Kamu mandilah dulu, biar segar. Nanti agak siang kamu lanjutkan mencari suami kamu. Setelah sarapan dulu."


" Iya, mak." Dewi segera pergi ke belakang untuk mandi. Dari semalam tubuhnya sudah terasa lengket. Tapi karena hujan Dewi tidak berani mandi. Hanya cuci muka dan salin baju.


Selesai mandi, Dewi merasa segar dan fit kembali. Dewi kembali ke dapur untuk membantu mak Rumi, beres-beres.

__ADS_1


Tepat pukul delapan, Dewi melanjutkan kembali pencarian alamat suaminya.


" Nak Dewi pulang saja nanti ke sini. Kalau belum berhasil menemukan alamat itu, ya." ucap mak Rumi. Seraya memasukkan bekal siang untuk Dewi.


" Makasih mak. Doakan ya mak, Dewi menemukan suami Dewi."


" Iya nak. Tasnya di tinggal saja di sini. Biar gak berat di bawa ke mana- mana. Kan bisa di jemput lagi ke sini, nak.


" Iya, mak." Dewi menyalami tangan mak Rumi. Hatinya sangat terharu atas kebaikan dan perhatian Mak Rumi. Padahal dia bukan siapa- siapanya. Tapi Mak Rumi sudah begitu berbaik hati padanya.


" Hati- hati ya, nak! Jangan sungkan datang ke sini lagi. Mak senang kok, nak Dewi di sini."


" Iya, mak. Makasih ya, mak."


Dewi masuk ke sebuah angkot yang telah di hadang mak Rumi. Mak Rumi ngomong sesuatu pada supir. Mungkin menjelaskan tujuan Dewi. Sang supir manggut- manggut. Lalu angkot bergerak maju.


Seperti perkiraan mak Rumi, alamat yang di tuju Dewi cukup jauh juga. Setelah masuk terminal, Dewi harus naik angkot lagi.


" Bu, ibu turun di sini saja. Biar lebih dekat." ucap supir angkot itu menjelaskan alamat tujuan Dewi.


" Jadi saya harus belok kiri ya pak? "


" Iya bu, habis itu jalan lurus saja. Ada ruko bercat merah hijau. Itu alamatnya bu."


" Trimakasih ya, pak."


" Sama- sama, bu. Nanti kalau ibu mau balik lagi, ibu ke sini saja. Naik angkot yang sama seperti ini. Trus ke terminal dan cari angkot sama seperti tadi ya, bu." jelas sang supir. Agar Dewi tidak sembarangan naik angkot, sehingga salah trayek.


" Iya,makasih ya pak." Dewi menyusuri jalan seperti arahan pak supir angkot.***.


Hai pembaca setiaku. Mampir juga yuk d ceritaku yang lain.


Cinta AIRIN


Suamiku kekasih sahabatku.


Dustanya suamiku.


Ketika cinta menyapa


Cek profilku ya.

__ADS_1


Mohon like n komen.


__ADS_2