Hati Yang Terpasung

Hati Yang Terpasung
Bab 23


__ADS_3

Akhirnya Bas lah yang merapikan potongan rambut Sava. Benar- benar di buat seperti model rambut cowok. Kepalang basah guyon Sava, sebelum Bas memotong rambutnya.


" Sekarang sang tuan putri telah berubah jadi pangeran." gurau Bas.


Sava mengamati wajahnya di cermin. Orang tidak akan percaya kalau dia seorang perempuan. Dengan melihat penampilannya seperti itu.


" Makasih ya, kak. Aku kagum dengan hasilnya."


" Sama- sama." Bas segera pergi meninggalkan Sava. Dan Sava pun berbalik hendak ke kamarnya. Tapi di tangga Sava berpapasan dengan dengan Bara.


Mata Bara melotot melihat perubahan wajah, Sava. Sava jadi gugup karena tatapan mata yang dingi itu.


" Ya ampun. Tidak harus gini juga. Cukup dirapikan saja, kenapa malah kamu buat cepak! " seru Bara tak suka.


" Sudah terlanjur. Lagian aku suka." sahut Sava cuek. Melanjutkan langkahnya.


Bara geleng kepala. Lalu menuruni anak tangga. Mencari Bas. Bas tengah memanaskan mesin mobil di halaman samping.


Melihat Bara datang, Bas mematikan mesin mobil.


" Kenapa dengan rambutnya?"


" Dia sendiri yang minta, bos."


" Dasar aneh. Ada masalah dengan mobilnya, ya?


" Gak bos. Cuma periksa rutin saja."


" Ayo, antar aku ke proyek!"


" Sekarang bos?


" Iya."


Bas langsung membuka pintu mobil, untuk Bara.


Lalu Bas menyalakan mesin mobil. Saat Bas memutar ke arah jalan, tiba- tiba Sava berlari dari arah pintu.


Bara mengernyit heran melihat dari kaca spion.


"Aku ikut. Aku takut sendiri di rumah itu."


" Kamu pikir kami mau piknik, ya? "delik Bara gusar.


" Tapi aku takut sendiri di rumah."


" Ada- ada saja. Cepat masuk!" perintah Bara.


Sava tersenyum, masuk di kursi penumpang.


" Ayo jalan!" dengus Bara saat Sava sudah nyaman duduk.

__ADS_1


Sava sangat menikmati perjalanan sepanjang menuju proyek irigasi. Sesekali ia berdecak kagum, melihat pepohonan pinus yang berjejer rapi.


Hingga akhirnya mereka tiba di lokasi. Bara langsung menemui mandor pengawas. Bertanya beberapa hal mengenai proyek.


Pembangunan proyek irigasi sudah mencapai tujuh puluh lima persen. Beberapa minggu ke depan, proyek irigasi itu akan rampung.


" Apa ada kendala yang di hadapi, Pak?" tanya Bara pada mandor pengawas.


" Tidak ada apa. Semua berjalan lancar, sesuai rencana pak."


" Tidak ada yang datang mengacau lagi, kan?"


" Tidak pak. Semua aman terkendali."


" Ok, berkerjalah dengan baik, pak." Bara berjalan mengelilingi sekitar proyek.


Sementara Sava sejak turun dari mobil tertarik denga beberapa bunga yang tumbuh liar di sekitar proyek.


Sava mencabut beberapa, untuk dia tanam nanti di halaman rumah, Bara. Karena halaman rumah itu sangat luas, tapi tak satupun ada tumbuh bunga.


Tanpa Sava sadari, tatapan tajam Bara mengamatinya dari jauh. Tingkah Sava seolah menarik perhatiannya.


Bara berjalan mendekati Sava, ingin tau apa yang di perbuatnya.


" Apa yang kamu lakukan?" tanya Bara saat melihat Sava mengumpulkan beberapa tumbuhan liar.


" Aku mau tanam ini di halaman rumah kamu, bolehkan?"


" Itukan rumput liar, ngapain kau lindahlan ke halaman rumahku?" sergah Bara. Membuat wajah ceria Sava langsung lenyap.


" Ah, ayo pulang. Tinggalkan rumput- rumput itu!"


Bara berbalik, meninggalkan Sava dengan hati yang sedih. Karena gagal membawa bunga- bunga liar itu.


Perjalanan pulang ke rumah, tak seceria tadi lagi. Sava diam membisu. Hal itu membuat heran Bara. Tapi dia acuh saja. Tak peduli sama sekali.


Begitu turun dari mobil Sava kembali ke kamarnya. Karena dia memang tak tau harus melakukan apa.


Di rumah ini, hanya mereka berempat tinggal. Satu sama lain jarang bertegur sapa. Mereka selalu sibuk dengan urusan mereka


Soal makanan ternyata setiap hari ada yang mengantar. Pantaslah tak ada seorang asisten rumah tangga di rumah ini.


Baru beberapa hari tinggal di rumah ini, Sava sudah merasakan kesepian. Karena dia tak bisa mengisi waktunya dengan pekerjaan.


Waktunya habis terbuang percuma. Semuanya berjalan terlalu lambat. Dia lebih sering di tinggal pergi dan tak bisa ke mana- mana.


Lama- lama seperti ini, apa bedanya dengan hidupnya selama di rumah Vincent. Terkekang!


Bedanya, kalau di sinidia dapat bergerak bebas, kalau di rumah Vincent dia di sekap dalam.satu kamar.


Rencananya bukan seperti ini. Dia ingin benar - benar bebas mangatur hidupnya. Bebas merdeka melakukan apa yang berguna bagu hidupnya.

__ADS_1


Meniti masa depannya!


Ketukan di pintu kamarnya, membuat Sava beranjak dari tempat tidur. Dengan malas ia melanhkah menuju pintu.


Di luar pintu berdiri sosok Bara.


" Ayo turun," ucapnya singkat dan berbalik. Sava mengikuti langkah Bara menuruni anak tangga. Tiba di bawah sudah ada Frank dan Bas.


Sepertinya mereka akan membahas sesuatu.


" Sava, ada hal yang hendak om sampaikan sama kamu."


" Soal apa, om?" sahut Sava pelan.


" Begini, kamu telah melarikan diri dari Vincent.


Kamu pasti sudah tau seperti apa, Vincent itu.Dia tidak akan berhenti mencarimu. Rumah ini bukan tempat yang aman bagimu. Apabila dia tau kamu berada di di rumah ini. Dia tidak akan segan- segan datang ke mari. Apapun yang terjadi.


" Jadi om ingin aku pergi dari sini?"


" Tidak, kamu lebiih aman di sini. Dari pada di luar sana."


" Lalu apa sebenarnya maksud om?"


" Om ingin kamu belajar bela diri. Biar Bara yang mengajarimu. Atau om, kalau ada waktu luang."


" Baik om, saya mau." Sava sangat senang mendengar usul itu.Karena dia memang butuh ilmu bela diri mengingat betapa keras hidup di luar sana.


Dengan belajar ilmu bela diri akan lebih mudah baginya unthk msmbalaskan dendamnya, suatu saat nanti. Maka Sava bertekad untuk belajar keras.


Bara akhirnya mengajari Sava belajar ilmu bela diri. Dan Sava juga bukan orang yang susah di ajari. Setelah beberapa bulan belajar keras, Sava sudah menguasai beberapa jurus ilmu bela diri.


Terkadang malah Sava belajar terlalu keras. Semya itu dia lakukan untum membalaskan kematian ayah dan ibunya juga adiknya.


Seperti saat ini Sava sedang latihan di bawah bimbingan Frank. Frank menyuruh Bara untuk menjadi kawan tanding Sava.


Dengan gerak lincah, Sava memulai menyerang Bara. Bara meladeninya dengan memberi beberapa gerak tipuan.


Sava mampu membalas dan menghindari beberapa gerakan yang cukup mematikan. Bara mengagumi semangat Sava dan usahanya belajar keras.


Hingga di satu gerakan Sava terkecoh, Bara mengunci tubuh Sava. Sava berusaha melepaskan dirinya. Sava berhasil berbalik tapi tubuh Bara terlalu berat menindih tubuhnya.


Akibatnya, jarak atara wajah mereka hanya beberapa inci.Kedua mata mereka beradu tatap dengan nafas yang memburu. Berusaha mempertahankan posisi masing- masing.


Tiba- tiba entah keberanian dari mana, keinginan Sava hanya satu. Hendak lepas dari kuncian Bara.


Sehingga ia melakukan kelicikan untuk menyelamatkan dirinya.


Tentu saja Bara kaget dan lengah, sehingga Sava bisa lolos.


Frank dan Bas yang melihat kelicikan Sava hanya bisa tersenyum geli.

__ADS_1


Sementara Bara, menahan amarah juga rasa rasa malu.Karena Sava telah bermain curang!***


Pengen tau apa kecurangan yang di lakukan Sava? Intip yuk di bab berikutnya.


__ADS_2