Hati Yang Terpasung

Hati Yang Terpasung
Bab 25


__ADS_3

Untuk beberapa saat keduanya tetap dalam kondisi berpelukan. Hingga sebuah suara batuk kecil menyadarkan mereka.


Frank berdiri di ambang pintu! Tadi dia terjaga dari tidurnya karena mendengar jerit kesakitan dari ruang atas.


Tanpa pikir panjang dia langsung lari melompati anak tangga satu dua sekaligus. Pas dia sampai , pintu kamar Sava terbuka, dan ia melongokkan kepalanya melihat ke dalam. Saat itulah dia melihat Sava jatuh ke dalam pelukan Bara. Dan dengan sigap Bara menangkap tubuh Sava.


Bara hendak bertanya apa yang terjadi ketika tiba- tiba adegan itu, membungkam mulutnya. Frank tersenyum melihat yang terjadi. Karena itulah ia terbatuk kecil, menggoda papsangan itu.


" Eh, om Frank?!" beliak Bara berbarengan, kaget.


" Apa yang telah terjadi? Om mendengar suara ribut dari sini," sahut Frank cuek seolah tidak melihat apa- apa.


" Kaki Sava om. Sava tersandung di tangga. Kakinya keseleo," sahut Bara dengan wajah memerah.


" Kok, bisa? Trus, sekarang bagaimana?"


" Udah baikan om, tadi udah di kusut,"


" Oh, sukurlah kalau sudah baikan. Om, balik dulu ke kamar." Frank memutar tubuhnya balik arah, seraya senyum di kulum. Saat tiba di anak tangga, Frank masih menoleh lagi ke atas dan geleng kepala.


Ada rasa leg menelusup hatinya, melihat kejadian tadi. Selama beberapa bulan ini, Frank melihat Bara menajalani kehidupannya.


Bara begitu acuh dan tak begitu peduli dengan urusan perempuan. Padahal dia melihat, begitu banyak karyawannya mencoba menarik perhatian Bara. Tapi Bara acuh seolah tak perduli.


Sepertinya dia begitu menutup diri, untuk urusan asmara.


Tapi setelah kehadiran Sava di rumah ini, ada yang berbeda dengan, Bara. Bara lebih sering salah tingkah oleh ulah Sava.


Sementara Sava orangnya cuek tapi periang. Dia lebih sering bersikap semaunya. Kehadirannya di rumah ini telah mengubah kebekuan suasana penghuninya.


Ulah Sava yang bersikap seolah seorang laki- laki karena selalu tampil dengan gaya lelaki. Kadang jadi bahan tertawaan di antara mereka.


" Egh! Aku balik ke kamarku dulu ya, " ucap Bara kaku setelah Frank berlalu dari kamar.


" Iya, makasih ya. Karena kakiku sudah gak terlalu sakit lagi."


" Iya, kalo ada apa- apa, beritahu aku," Bara.keluar kamar dan segera menutup pinta kamarnya. Bara menghempaskakn tubuhnya di tempat tidur, mengingat kembali kejadian tadi.

__ADS_1


Bagaimana ia begitu hanyut seolah terseret arus.


Berbeda dengan Sava entah kenapa perasaannya jauh berubah. Dia yang selama ini acuh dan dingin dengan perempuan. Tiba- tiba seorang Sava menjungkir balikkan semua fakta tentang dirinya.


Padahal Sisy gadis yang dulu selalu berusaha menarik perhatiannya selalu ia acuhkan. Sisy gadis yang cantik dan sexy dan gadis - gadis lain juga yang mencintainya. Sekali jentik saja, pasti mau melakukan apa saja yang ia perintahkan.


Hem, bagaimana kabar Sisy sekarang? Juga teman lainnya yang ia tirnggal dan tak sempat pamitan? Tiba- tiba Bara merindukan kehidupannya dulu, sebelum berakhir di sini.


Semoga saja mereka baik- baik saja. Bara telah kehilangan kontak dengan mereka. Karena Frank tak mengizinkan dia waktu menghubungi teman- temannya.


Dan ponselnya terpaksa di hancurkan karena telah di retas. Terpaksa semua di lakukan demi ke amanannya.


Karena para pembunuh pamannya Danu, sampai sekarang masih mengincarnya.


Bara menyadari suatu saat keberadaan dirinya pasti di temukan. Musuh - musuh om Danu tidak akan tingal diam dan akan terus mencarinya.


Tinggal menunggu waktu saja.


Terlebih karena perseteruannya dengan Vincent sudah semakin genting. Dan Sava juga sudah berada di tangannya. Vincent akan tambah murka bila tau keberadaan Sava sekarang.


Tapi Bara akan tetap melindungi Sava, apapun yang terjadi. Baginya Sava bukan lagi seseorang yang sekedar ia tolong atau selamatkan.


Keberadaan Sava kinintelah memberi arti bagi kehidupannya. Yang selama ini kurang merasakan kehangatan kasih.


Kehilangan kedua orang tua dwngan cara tragis, itu telah menorehkan sebuah luka di hatinya. Di susul kematian paman dan bibinya dengan cara yang sama. Semakin menambah luka itu.


Seiring dengan dendam juga yang semakin membara!


***


Pagi ini, bi Arni telah resmi bekerja lagi, di rumah Bara. Selama ini dia memang bekerja di rumah itu. Tetapi tidak setiap hari datang. Dia bekerja secara berkala. Hanya datang sekali seminggu atau sekali sebulan. Tergantung kebutuhan. Karena rumahnya ada di kota kabupaten.


Kemarin dia di hubungi Frank untuk tinggal dan bekerja kembali di rumah, Bara. Bi Arni belum pernah bertemu dengan Bara tapi dia sudah sering mendengar cerita tentangnya.


Anak majikannya yang tewas secara tragis. Usia bi Arni. Usia bi Arni sekitar lima puluhan lebih. Tapi masih tampak segar dan sehat. Karena terbiasa bekerja keras.


" Bara, ini bi Arni. Bi, ini Bara." Frak memperkenalkan keduanya. Bara menyalami tangan bi Arni dengan hangat.

__ADS_1


" Selamat datang kemnali di rumah ini, bi," bi Arni mengernyitkan keningnya heran.


" Aku sudah cerita bi, kalau bibi dulunya sudah bekerja di sini." tukas Frank menanggapi keheranan bi Arni.


" Oh, begitu ya. Senang melihatmu nak," senyum bi Arni dengan mata berkaca- kaca. Giliran Bara kini yang merasa heran. Karena bi Arnibtidak dapat menyembunyikan emosinya.


" Sama- sama bi. Semoga bibi betah."


" Yang itu siapa ya. Istri nak Bara kah?" seketika semua terheran. Terlebih Sava karena penampilannya tidak bisa menipu mata bi Arni.


" Maksud Bibi siapa?" seru Frank.


" Itu, gadis cantik itu." menunjuk ke arah tangga, di mana Sava tengah menuruni anak tangga secara perlahan.


Bas dan Frank juga Bara tersenyum. Mereka saja tertipu kalau melihat sekilas, Sava adalah laki- laki. Eh, bi Arni malah bilang dia perempuan.


" Dia Sava bi. Baru beberapa hari tinggal di sini. Kok bibi bisa tau kalau dia perempuan?" delik Frank santai.


" Yah jelaslah bibi tau. Mana ada laki- laki cantik sekaligus ganteng. Dia dominan ke cantik, jadi pasti perempuan." semua tetawa mendengar ucapan bi Arni.


Sava yang belum faham betul kalau dia adalah bahan pembicaraan, melotot heran karena semua mata tertuju padanya.


" Ucapan bibi benar, dia itu memang perempuan," kekeh Bas.


Sava jadi kesal karena.jadi topik ulasan mereka. Dia yang gak tau apa-apa, rada sebal. Dengan langkah tertatih Sava melangkah ke arah bi Arni.


" Apaan sih bu. Pada ketawa semua. Ngomongin aku ya?" cebik Sava menatap tajam ke arah, Bara. Bara pura- pura tak dengar, mengalihkan pandangannya ke arah lain.


" Udah ya, bi. Kalau bibi mau mulai kerja hari ini boleh. Mau istirahat dulu juga boleh. Kamar bibi tetap yang itu saja, ya?"


" Ayo, Bas. Kamu jadi supir saya saja hari ini."


" Trus si bos gimana? " menunjuk ke arah, Bara.


" Alah, kan udah ada supir barunya tuh," goda Frank. Mata Bara mendelik mendengar gurauan Frank.


" Jangan- jangan om Frank melihat kejadian semalam?" pikirnya. Wajah Bara langsung memerah. ******

__ADS_1


__ADS_2