
"Aku juga dibuatkan, Sy." Bas mangangsurkan piringnya ke Sisy biar diisi juga.
"Ambil sendiri kenapa, sih," sahut Sisy jutek.
"Kok cuma, Bara. Gak, fair tau." Bas memonyongkan bibirnya, tanda protes. Sisy cuek saja.
"Sini, aku yang buatin," seru Dewi. Mengambil piring Bas. Bas terkekeh menanggapi ucapan Dewi.
"Thanks, berat Mbak Dewi,"
"Sava, sini sekalian piringnya, Mbak isi," ucap Dewi.
"Sava aja, yang isi, Mbak," sahut Sava. Tapi tiba-tiba Bara meraih piring, di tangan Sava. Mengisinya dengan nasi dan lauk. Lalu memberikannya pada, Sava.
Mata Sisy membulat melihat ulah Bara. Rasa cemburu tak mampu ia tahan. Sendok dan garpu yang ia gunakan untuk makan, berdenting.
"Nak, Sisy, gak sopan loh, kalau sendok dan garpu bunyi saat kita makan," tegur Bi Arni.
"Dagingnya alot, Bi," rungut Sisy dengan wajah sebal. Padahal dia hanya cemburu pada Sava. Tidak suka perlakuan manis, Bara pada Sava.
Sava mengerti sikap Sisy, tapi dia acuh saja. Sejak kehadiaran Sisy di rumah ini, dia selalu saja bertingkah naif dan kekanakan. Bukannya Bara tak paham apa maksud Sisy. Tapi lebih baik diam saja, dari pada masalah tambah runyam. Mana Sisy tipikal keras kepala.
Diamnya Bara malah membuat Sisy makin kesal. Karena setiap polahnya selalu dicuekin.
"Bagaimana kabarnya Mbak Dewi?" tanya Bara, pada Dewi.
"Puji Tuhan, sudah sehat Tuan, saya sudah pulih seperti semula. Terimakasih telah menyelamatkan nyawa saya, dan menerima tinggal di rumah ini," ucap Dewi terbata.
"Jangan panggil saya, Tuan Mbak. Kita semua di rumah ini saudara. Kita adalah keluarga, jadi bersikaplah seperti keluarga."
"Sava, untuk mengisi waktu luang ada baiknya Mbak Dewi kau ajari belajar seni bela diri. Karena itu akan sangat berguna nantinya. Bas juga akan bantu saat ada waktu senggang. Mau 'kan, Bas?" tanya Bara minta persetujuan Bas.
"Siap Bos!" seru Bas, dengan mimik sengaja dibuat serius.
__ADS_1
"Sisy, kapan liburanmu berakhir, atau kamu sudah lupa jalan pulang, ya?" Mata Sisy, membola saat Bara menyindirnya dihadapan semuanya. "Tak perlu tersinggung, Sy. Aku hanya sekedar mengingatkan. Siapa tau aja kamu lupa," ucap Bara datar.
"Segitunya kamu menunjukkan antipatimu padaku? Kamu jahat, Bara!"
"Ingat, Sy. Kedatanganmu ke sini bukan atas undangan, saya. Seharusnya sebagai seorang tamu, kamu lebih bisa menjaga sikap kamu. Bukan malah bertindak seenaknya " sahut Bara dingin. Lalu meninggalkan meja makan.
Semua terdiam mendengar ucapan Bara. Bara bukan orang yang banyak bicara, apalagi saat emosi. Semua tatapan tertuju pada Sisy.
"Ngapain liat-liat, ke aku?" hardik Sisy melengoskan pandangannya ke arah perginya Bara.
"Nak Bara benar. Harusnya, Nak Sisy, lebih bisa menjaga sikap terlebih di depan Nak Bara. Sebagai tuan rumah, kita harus menghormatinya," ucap Bi Arni.
"Ah, Bibi tau apa sih. Bawel," rungut Sisy keras kepala.
"Ya, Bibi taulah. Nak Sisy 'kan tamu di rumah ini. Tapi sikap kamu itu melebihi tuan rumah. Bersikap seolah ratu di rumah ini," cebik Bi Arni.
"Eh, Bibi ngomong apaan sih, Bibi malah sok berkuasa dari tuan rumah sendiri," balas Sisy tak mau kalah.
"Dasar bebal, dinasehati malah ngeyel terus," umpat Bi Arni, melenggos ke arah dapur.
Langkahnya panjang-panjang menuju kamarnya sendiri. Lalu menutup pintu kamar itu, dengan menghempasnya. Menimbulkan suara yang membuat kaget seisi rumah.
"Tidak tau malu!" umpat Bas kesal karena kaget.
Sava dan Dewi hanya mengelus dada. Benar- benar bingung dengan sikap Sisy.
Tak lama berselang, Bara kembali masuk ke rumah. Sava dan Dewi, juga Bas masih di meja makan menikmati sisa makanan mereka, karena sempat terjeda tadi dengan ulah Sisy.
Semua tertunduk diam, tak satupun berani mengeluarkan suara. Semua menekuri makanan masing- masing.
"Hem, seperti suasana di pekuburan saja," guman Bara seolah pada diri sendiri. Sava, Dewi, dan Bas saling berpandangan mendengar sindiran, Bara.
"Mending, dari pada kayak suasana di proyek. Bising!" sahut Bas menanggapi sindiran, Bara.
__ADS_1
Kedua mata Bara, langsung melotot ke arah, Bas. Bas cuma tersenyum kecut, menerima pandangan itu.
"Oh, ya. Kebetulan kamu ingatkan soal proyek. Bagaimana laporan proyek pertanian itu," ucap Bara.
"Entah ini basa-basi atau beneran dah pikun. Laporan sudah aku serahkan tiga hari yang lalu. Laporan berikutnya bulan depan," sahut Bas cuek. Seraya menyudahi suapan terakhirnya. Bara mengernyitkan keningnya. Sehingga alisnya terangkat sebelah.
"Maksudmu, laporan sudah ada pada saya?"
"Hooh."
"Sava, bantu saya nanti carinya di meja kerja, saya," ucap Bara.
"Gak bakalan ketemu, Bos. Saya ngasihnya di kantor, bukan di sini," seringai Bas dengan mimik lucu. Membuat merah wajah Bara.
"Ya, sudah. Nanti aku periksa di kantor. Sava, tolong kamu bereskan merja kerja saya sebentar," ucap Bara. selesai berucap, Bara meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
Sava, yang telah selesai makan segera menyusul langkah Bara. Sava masuk setelah lebih dulu mengetuk pintu kamar yang terbuka lebar.
"Masuklah!" perintah Bara. Sava masuk, tapi tidak melihat keberadaan Bara di kamar. Kamar yang cukup luas itu, memiliki kamar mandi. Mungkin Bara ada di sana.
Sava langsung menuju meja kerja Bara, yang ternyata tersusun rapi. Lalu, untuk apa dia tadi disuruh mau merapikan meja kerjanya?
Sava berbalik hendak berlalu dari kamar, karena telah merasa dikerjai. Hatinya merasa dongkol, benar-benar kesal. Semudah itu Bara membohonginya.
Tapi saat berbalik, pintu telah di tutup. Bara malah telah berdiri di sana dengan bersandar ke pintu. Kedua lengannya dilipat di dada. Senyum di bibirnya benar-benar menggoda Sava.
" Ngapain pintunya ditutup. Aku mau keluar," dengus Sava dengan wajah cemberut.
"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu." Tiba-tiba saja tubuh Sava telah tenggelam dalam pelukan Bara. Sava tidak sempat menghindar, gerakan Bara terlalu cepat. Seperti sekelebat bayangan saja. Bara mengunci tubuh Sava dalam pelukannya. Sava meronta, sehingga Bara memperketat pelukanny
Akhirnya Sava diam saja. Mencium aroma tubuh Bara yang khas. Jika hanya sekedar pelukan , Sava akan pasrah saja. Tapi tidak untuk hal lain.
Setelah beberapa menit, Bara melepas pelukannya. Menatap lekat wajah Sava, dengan pandangan menghujam. Entah apa yang ada dalam pikiran Bara. Sava tak ingin menebak.
__ADS_1
"Kamu bohong soal meja kerja itu," sungut Sava mencairkan kebekuan di antara mereka.
"Sejak kapan meja kerjaku berantakan, dan kusuruh orang lain membersihkannya. Kamu saja yang mudah ketipu," gelak Bara. Seraya menggelitik pinggang Sava. Sava menggelinjang geli karena tak tahan digelitik. Akibatnya, Bara kehilangan keseimbangan tubuhnya. ***