
Peresmian irigasi akhirnya hari ini, launching. Bersamaan dengan peringatan hari ke empat puluh kematian ,Frank.
Para undangan telah banyak yang hadir. Mulai dari pejabat daerah, aparat dan tamu penting lainnnya.
Terutama para pertani yang nantinya akan mengelola tanah pertanian itu. Mereka di bagi atas beberapa kelompok.
Setelah acara pembuakaan dan beberapa kata sambutan selesai. Tibalah penyerahaan, surat kontrak pengelolaan tanah pertanian, kepada ketua kelompok, secara simbolik.
Dengan adanya kelompok petani ini di harapkan akan akan meningkatkan pendapatan petani. Sehingga arus urbanisasi dapat di redam. Begitulah sebagian inti kata sambutan dari Bara sebagai pemilik tanah pertanian.
Juga dari beberapa pejabat setempat. Sangat mendukung program yang di laksanakan oleh PT Artha Group, yang begitu peduli dengan kehidupan para petani.
Bahkan pejabat setempat, memberikan perhargaan berupa piagam mengapresiasi kinerja perusahaan yang di kelola, Bara.
Kegiatan yang di isi dengan berbagai acara, mulai dari hiburan beberapa pertandingan, berjalan denhan lancar.
Satu persatu kegiatan berlangsung khidmat. Para hadirin dan tetamu mengikuti setiap acara dengan antusias.
Hingga, ketika tiba- tiba sekelompok orang tak di kenal. Tiba- tiba muncul dari seberang sungai. Beberapa orang dengan pakaian ala ninja, datang menyerang .
Mereka memporak porandakan beberpa tenda. Meja dan kursi. Sehingga para undangan lari ketakutan, menyelamatkan diri.
Acara yang tadinya berjalan lancar, kini kacau balau. Yang ada adalah jerit tangis dari tamu, yang berlarian tak tentu arah.
Bara terkejut melihat kejadian yang tersaji di depan matanya. Dia tau itu pasti ulah, Vincent.
Anak buah Bara yang dari ,awal sudah berjaga langsung bertindak. Menghadapi para penyerang. Sebagian menyelamatkan anak- anak dan orang tua.
Bara turun tangan menghadapi para penyerang. Benar- benar pengecut! Maki Bara dalam hati.
Bara mencari sosok Vincent.
Bukannya sadar dan bertobat, setelah kejadian tempo hari. Malah semakin menjadi dan terang- terangan melakukan penyerangan
Kejadian ini akan berakibat fatal pada rencananya mengelola pertanian. Tentu para petani tidak akan berani mengolah sawah bila di teror seperti ini.
Akhirnya Bara melihat sosok Vincent yang berdiri di seberang sungai. Bara bermaksud menemui
Vincent. Menyelesaikan apa yang dia tunda malam itu.
" Bara! Kamu mau kemana?" teriak Sava yang sudah berada di belakangnya.
" Aku harus menyelesaikan apa yang aku tunda malam itu! Aku tidak mau lagi ada korban jatuh karen ulah Vincent."
" Maafkan aku, seharusnya aku tidak mencegah mu malam itu. Tak seharusnya semua ini terjadi,"
__ADS_1
" Sudah, kamu bantulah anak- anak itu ke tempat yang aman. Aku akan mencari si tua bangka itu."
" Hati- hati!"
" Kamu juga, bergegaslah!" Bara lantas berlari ke arah seberang sungai.
"Bos, aku ikut! seru seseorang berlari di sisi Bara.
Ternyata dia salah satu anak buahnya yang ikut menemaninya, malam itu.
Dalam sekejap mereka telah sampai di hadapan, Vincent. Vincent yang tak mengira kalau Bara melihatnya, melalngkah mundur satu langkah.
" Kamu memang benar- benar manusia iblis!" seru Bara geram.
" Hem! Kamu pikir aku akan menyerah begitu saja. Kamu memang bodoh, ha..ha..." kekeh Vincent tak gentar.
" Aku sudah peringatkan kau pak tua. Untuk tidak mencampuri urusanku. Tapi dasar manusia iblis, bukannya bertobat malah cari mati."
" Kamu telah melukai harga diriku. Harusnya kamu bunuh aku malam itu!"
" Bicara soal harga diri, kamulah yang membuat dirimu tak punya harga diri. Merampas hak orang lain, bertindak semaumu. Kamu itu sakit, tau!"
" Ah, dasar bocil. Banyak bacot kau!" Vincent menyerang Bara tiba- tiba. Tongkat pedangnya langsubg menyambar lengan Bara.
Refleks! Bara menghindar, tapi tak urung lengannya kena juga. Stelan jas yang di pakai, Bara robek! Dan darah segar merembes. Untung lukanya tak begitu dalam.
Bara membalas serangan, Vincent. Langkahnya sudah tak lincah malam itu. Mungkin efek luka, yang di sebabkan Bara malam itu.
Tapi dasar lelaki tua sombong. Bukannya berhenti berbuat jahat, karena tidak jadi di bunuh. Malah semakin gila, membuat onar.
Tapi Bara tidak boleh menganggap remeh lelaki tua ini. Dia tak ubahnya seekor rubah, yang sangat licik. Bukan tidak mungkin dia membuat perangkap.
Bara berbisik pada anak buahnya untuk hati- hati.
Benar saja dugaan Bara! Detik kemudian tiga orang melompat dari balik pohon pinus.
Berdiri di belakang Vincent! Siap memberi perlindungan pada tuannya. Bara tersenyum sinis melihat ke tiganya.
" Kita lihat, siapa yang akan menemui ajalnya hari ini Bara. Kamu akan menyesali tindakkanmu malam itu, ha..ha..." Vincent memberi kode pada anak buahnya untuk menyerang, Bara.
Tiga lawan dua! Pertarungan pun terjadi. Ke dua belah pihak sama- sama tangguh! Saling adu kekuatan, dengan skil bertarung yang mumpuni.
Vincent menyaksikan pertarungan itu, dengan dada gemuruh.
Dalam hati, Vincent mengagumi ilmu bela diri yang di miliki, Bara. Pantasan anak buahnya banyak yang gagal melaksanakan tugasnya. Ternyata lawannya tak seimbang begini.
__ADS_1
Bahkan kini ia menyaksikan sendiri, ketiga anak buahnya mulai terdesak menghadapi serangan Bara dan anak buahnya.
Padahal lawan tak seimbang. Tiga lawan dua. Masih juga anak buahnya kewalahan.
" Aghk..." salah satu anak buahnya terkapar di tanah. Entah mati atau pingsan. Di susul ke duanya. Hanya dalam tempo beberapa menit, ke tiganya terkapar tak berdaya.
Vincent mundur satu langkah, saat Bara menatapnya penuh kebencian
Tanpa membuang waktu, Bara menyerang Vincent tanpa memberinya kesempatan untuk membalas.
Vincent membalas begitu saja. Tapi serangannya hanya melawan angin. Karena tak terarah. Dengan mudah Bara melumpuhkan lelaki tua yang sombong itu.
Nafas Vincent memburu, masih berusaha bangkit memberi perlawanan. Tongkat pedangnya terhunus, siap mau membunuh Bara!
Dengan mudah Bara menangkap lengan Vincent. Memutar lengan itu dan mematahkannya sekaligus.
Tongkat pedang itu terjatuh, di sertai lengking suara Vincent menahan rasa sakit.
Bara mengambil tongkat pedang itu, dan siap hendak menghunus pedang itu, ke jantung Vincent.
" Ampun Bara! Tolong ampuni aku. Aku berjanji tidak akan mengganggu kehidupan kamu lagi." Vincent bersujud minta ampun.
" Cres..! Aghk...." teriak Vincent, karena kakinya di tusuk dengan tingkat pedangnya sendiri.
" Itu untuk kematian orang- orang yang kamu sakiti selama ini. Bara mencabut pedang itu.
Lalu kembali menusukannya, tepat di jantung Vincent!
" Itu untuk kematian, orang- orang yang aku kasihi. Yang kamu renggut paksa dari sisiku!
Aku telah memberimu kesempatan, tapi kamu benar- benar manusia iblis!"
Vincent, melototkankan matanya, saat dia merasakan hujaman pedang di dadanya.
Entah apa yang dia sebutkan di saat ajal datang menjemput. Hingga matanya tetap terbuka. Seolah ketakutan yang amat sangat.
Bara menjauh dari tempat itu, tubuhnya terasa gemeter karena telah membalaskan kematian ke dua irang tuanya. Om Danu, om Frank. Bibi dan kakeknya.
" Bara!" teriak Sava, saat dia melihat Bara menjauh. Dan Vincent telah terkapar mati di tanah.
Sava membuang pandangannya, ngeri melihat kematian Vincent yang mengenaskan!
Sava menyusul langkah Bara. Yang berjalan terhuyung seolah tanpa tenaga.
" Bara.." isak Sava. Dia mengerti apa yang bergolak saat ini di hati laki-laki yang selama ini memberinya perlindungan. *****
__ADS_1
"
"