Hati Yang Terpasung

Hati Yang Terpasung
48


__ADS_3

Begitu mudahnya memang hati, berpaling. Hanya karena rumput di taman tampak lebih indah. Rumput liar, sama sekali tak menarik lagi.


Sejak berkenalan dengan Lily, Alex sepertinya lupa segalanya. Lula pads tujuannya merantau ke kota. Lupa kalau masih punya istri di kampung.


Dalam tempo kurang lebih dua bulan, hidup Alex berubah drastis. Alex yang pada dasarnya berperawakan tampan, setelah di poles semakin menunjukkan pesonanya.


Lily telah melihat itu sejak awal. Sejak pertama kali bertemu, saat Alex menolong dirinya waktu itu. Lily begitu mengagumi fisik Alex, yang berkilau karena keringat. Meski saat itu Alex seorang kuli bangunan. Tak memudarkan rasa simpatiknya.


Setelah pertemuan kedua, Lily tak bisa menahan diri lagi untuk tidak tergoda pada pesona seorang Alex. Meskipun Alex telah menceritakan statusnya yang telah memiliki seorang istri. Tak menyurutkan langkah Lily untuk memiliki, Alex.


Akhirnya pernikahan itupun terjadi, setelah perkenalan yang cukup singkat. Sayangnya, sikap dan prilaku Alexpun berubah sejak itu. Terutama setelah diberi kepercayaan mengelola tempat billiard. Salah satu usaha papanya Lily, tuan Lexzard.


Terlebih, setelah tangan dingin Alex berhasil mengelola usaha billiard itu. Dan menjadi menantu kesayangan tuan Lexard. Sikap Alexpun jadi arogant dan cendrung sadis. Sehingga banyak rekan bisnisnya, segan dan takut.


Bahkan akhir- akhir ini Alex menekuni bisnis baru.


Alex bekerja sama denga seotang mafia, yang sudah melanglang buana dalam pengedaran barang narkotika.


Mereka menjalin kerja sama, dengan perjanjian akan membagi keuntungan fifty- fifty. Sebuah bisnis yang sangat menggiurkan bagi Alex.


Lily yang baru kehilangan pamannya, merasa tertarik dengan kerja sama itu, selain karena bisnis, juga ingin balas dendam atas kematian pamannya Vincent. Lily dendam kepada orang yang telah menghancurkan bisnis pamannya. Informasi yang ia dengar, pelakunya adalah Bara.


Lily sangat mengandalkan Alex untuk tugas itu.


Hanya saja Lily harus hati- hati. Karena orang yang akan dia hadapi bukan orang sembarangan. Sebab itulah Lily setuju saja saat Robert mengajak kerja sama.


***


Bara dan Bas dalam perjalanan pulang ke rumah. Setelah mengikuti seminar di kota Kabupaten. Mata Bara sudah terkantuk- kantuk dan lelah. Selama tiga hari ikut seminar, jadwal tidurnya tidak teratur.


Karena banyaknya hal yang di bahas dslam seminar. Juga meeting dengan para mitra bisnis.


Benar- benar menguras tenaga.


Baru saja Bara memejamkan matanya, ketika mobil berhenti tiba- tiba. Bara tersentak kaget, dan hendak memaki Bas.


" Bos, ada mayat tu, di pinggir jalan," ucap Bas setelah menghentikan mobil. Menunjuk kearah jalan yang sudah mereka lewati.

__ADS_1


" Mayat apa, mana?" nanar mata Bara mencari yang disebut, Bas.


" Itu bos, sudah terlewat beberapa meter. Tadi kukira, entah apa." Bas turun dari mobil. Memperhatikan sekeliling. Tak ada siapapun.


Bara juga ikut turun dan menghampiri sosok tubuh yang terbaring di pinggir jalan.


" Ya, Tuhan! Dia perempuan hamil, bos. Apa dia korban tabrak lari, bos?" seru Bas lalu meraba urat nadi Dewi. Ya, tubuh yang terbaring di pinggir jalan itu, adalah Dewi. Istri Alex yang dibuang anak buahnya atas perintahnya sendiri.


" Masih hidup bos," ucap Bas.


" Ya, sudah. Tunggu apalagi. Kita bawa ke rumah sakit, semoga belum terlambat." Perintah Bara, pada Bas. Untuk membawa Dewi ke Rumah Sakit, terdekat.


" Sepertinya dia, mengalami pendarahan. Apa karena terjatuh atau kena tabrak, bos," tukas Bas, seraya melarikan mobilnya agar segera tiba di Rumah Sakit.


"Itu, ada klinik bersalin Bas." Tunjuk Bara pada papan nama, yang terpampang di pinggir jalan. Bas memperhatikan papan nama itu, lalu memutar sesuai petunjuk. Karena letak klinik itu, masuk ke gang sekitar sepuluh meter.


Bergegas Bara turun dari mobil, dan menggendong tubuh Dewi yang sedari tadi, pingsan.


" Tolong mbak, ibu ini segera di periksa. Kami temukan di jalan dalam keadaan, pingsan."


" Mari bawa ke ruang dokter, pak," sahut suster jaga. Dewi segera di tangani para medis. Dokter segera memutuskan operasi, dan meminta tanda tangan persetujuan pada Bara.


Bara segera mengurus administrasi.Supaya operasi segera bisa di laksanakan. Dokter mengatakan kalau janin dalam kandungan Dewi sudah tak bisa lagi di pertahankan.


Sepertinya wanita itu mengalami tindak kekerasan. Karena di sekitar perutnya di temukan luka memar. Akibat benda tumpul. Kemungkinan itu penyebab korban mengalami keguguran. Itulah penjelasan yang didapat Bara, darindokter yang menangani kasus wanita yang mereka tolong.


Mungkin dia mengalami KDRT, atau tindak kejahatan lainnya. Sungguh kasihan, guman Bara dalam hati.


Siapapun yang melakukan itu, pada perempuan tak di kenal ini, sungguh suatu tindakan biadab.


Hampir dua jam lamanya tindakan medis itu dilakukan untuk menyelamatkan nyawa Dewi. Rasa cemas di rasakan Bara dan Bas. Takut kalau wanita itu tidak bisa diselamatkan mengingat keadaannya yang kritis.


Meskipun mereka tidak mengenal siapa wanita itu, tapi apa yang dia alami itu menumbuhkan rasa empati.


Akhirnya pintu kamar operasi di klinik bersalin itu, terbuka juga. Pertanda operasi telah selesai. Bergegas Bara dan Bas menjumpai dokter Fariz, pemilik klinik bersalin itu.


" Bagaimana keadaannya, dokter?"

__ADS_1


" Syukurlah, operasi berjalan lancar. Tinggal pemulihan saja," sahut dokter Fariz .


" Terimakasih, dokter," ucap Bara dan Bas bersamaan.


Beberapa perawat mendorong brankar, di mana tubuh Dewi terbaring tak sadar karena pengaruh bius. Dewi akan ditempatkan di ruangan Vip, sesuai permintaan Bara.


Bara dan Bas mengikuti para perawat itu ke ruangan Dewi akan dirawat. Tiba- tiba.ponsel Bara berdering. Bara melihat nama Sava, di aplikasi berlogo telepon berwarna hijau itu.


" Halo sayang, ada apa?" sapa Bara. Membuat Sava heran karena Bara menyapanya dengan sebutan 'sayang'. Hal yang tak pernah dia lakukan selama ini.


" Sayang? Tumben manggil aku begitu?" delik Sava.


" Emang gak boleh?" balik tanya Bara. Bara merasa kedua belah pipinya memerah, untung saja Sava tak melihatnya. Entah kenapa dia bisa keceplosan bilang kata ' sayang' , yang langsung kena protes.


'Hem, didiamkan saja kenapa, sih. Ini malah diprotes. Apa gak rindu dia samaku setelah hampir seminggu tidak jumpa?' batin Bara.


" Egh, bukan gak boleh. Aneh saja," kekeh Sava di seberang.


" Ngapain telepon, aku?" sahut Bara pura- pura kesal.


" Cuma mau nanya, seminarnya udah selesaikan hari ini?" tanya Sava . ' Ih, kumat lagi dinginnya' rutuk Sava dalam hati.


" Sudah, tapi aku dan Bas tidak bisa pulang hari ini. Ada kejadian mendadak yang kami temui di jalan," Bara menceritakan semua kejadian yang mereka alami dalam perjalanan pulang.


" Jadi sekarang bagaimana keadaannya?"


" Baru selesai operasi, sudah di ruang rawat. Aku dan Bas harus menungguinya dulu. Banyak hal yang harus kami ketahui darinya," jelas Bara.


" Kasihan ya, aku jadi ingin mengenalnya," ujar Sava.


" Aku akan tanya, kalau dia masih punya keluarga biar dihubungi. Kasihan keluarganya juga, mungkin sudah kehilangannya. Tapi karena masih belum sadar, tak ada yang dapat kami perbuat," tukas Bara


" Lakukan yang terbaik ya. Aku mendukungmu, sayang," ucap Sava memberi semangat. Terdengar suara batuk di seberang. Sava tertawa, pasti Bara kaget karena ia latah juga ikutan bilang sayang.


" Makasih ya, sayang. Aku kangen berat, nih," desah Bara menggoda.


" Ih, dasar gesrek!" seru Sava.

__ADS_1


***


__ADS_2