Hati Yang Terpasung

Hati Yang Terpasung
Bab 57


__ADS_3

"Richard!" teriak Sisy histeris saat melihat tubuh Richard yang bersmbah darah. Richard meringis menahan sakit di lengan atasnya. Beberapa anak buah Bara, bergerak cepat menangkap Alex.


Mereka langsung meringkus Alex, sementara Lily yang kena tembak, terkapar lemah di atas karpet.


"A-lex...." serunya lemah, tangannya terulur ke arah Alex lalu terkulai jatuh. Perlahan dia menutup matanya. Alex terperangah, dia meronta dari cengkeraman anak buah, Bara. Salah satu anak buah Bara memeriksa urat nadi, Lily. Dia menggeleng, mengisyaratkan kalau Lily telah tewas.


"Lepaskan aku," ronta Alex sekuat tenaganya. Anak buah Bara melepaskan Alex agar dia bisa melihat Lily yang sudah terkapar tewas.


"Tidak....!!!" teriak Alex sekuatnya. Sauarang bergaung ditengah hutan pinus, membuat merinding siapa yang mendengar. Bara memberi kode, agar anak buahnya kembali memegangi, Alex.


"Sudah, Pak. Sekarang bapak ikut kami ke kantor polisi. Untuk mempertanggung jawabkan perbuatan bapak atas penyerangan ini."


Alex meronta dari pegangan anak buaah, Bara, saat tubuhnya diseret paksa meninggalkan lokasi pesta. Petugas ambulans serta petugas Polisi telah tiba bersamaan, segera melakukan tindakan sesuai prosedur.


"Richard, jangan tinggalkan aku. Ayolah, bangun Chad , ini aku Sisy," ucap Sisy sesegukan melihat tubuh Richard yang masih tak sadarkan diri.


Tepatnya, pura- pura tidak sadarkan diri. Entah dari mana datangnya ide gokil itu, Richard ingin menguji Sisy sejauh mana dia merasa kehilangan.


Luka tembak yang dia alami tidaklah separah yang terlihat, karena banyaknya darah yang membasahi pakaiannya. Luka tembak itu menembus lengan atasnya. Walaupun ada sensasi panas di lengannya tidak sampai menghilangkan kesadarannya. Dia bahkan pernah terluka lebih parah dari itu, tidak membuat dirinya pingsan.


Namun, saat mendengar jeritan Sisy , saat melihatnya tertembak Richard pura-pura jatuh pingsan. Seperti yang ia harapkan, Sisy membuka pengakuannya terhadap Richard.


""Ayo, dobg , Chard, bangun. Aku sayang kamu, jangan tinggalkan aku," tangis Sisy disisi Richard.


"Bara, tolong lakukan sesuatu, dong. Mana paramedis itu," ucap Sisy panik


"Sisy, kamu tenaglah. Jangan panik, oke." Bara berusaha menenangkan Sisy.


"Tapi, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya, Bara."


"Kita berdoa saja. Nah, itu paramedis telah datang, biarkan mereka bekerja." Bara, menarik Sisy supaya paramedis leluasa memeriksa keadaan, Richard.


"Bagaimana keadanya, Dokter?" tanya Sisy tak sabar.


"Jangan khawatir, Bu. Lukanya tidak terlalu berbahaya. Tapi harus segera dilakukan tindakan operasi untuk menveluarkan peluru di lengannya,"


"Oh, jadi dia tertembak di lengan, bukan dada, Dok?" ucap Sisy lega.


"Iya, Bu. Tapi peluru itu harus segera dikeluarkan."

__ADS_1


lalu dokter menyuruh petugas memasukkannya ke ambulans. Sisy bersikeras minta ikut mendampingi, Richard. Sisy, sangat ketakutan kalau sesuatu mendadak terjadi pada , Richard, meski dokter telah mejelaskan secara rinci kondisi, Richard.


***


Seminggu setelah pernikahan, Bara menunda bulan madu mereka karena kondisi Richard yang masih terbaring di rumah sakit.


"Ah, bosan gua tiap hari liat muka datang kesini," sindir Richard. Menyambut kedatangan Bara, di ruang rawatnya.


"Aku juga terpaksa , nyet. Nanti kau bilang aku sahabat durhaka. Mentang-mentang manten baru, lupa sohib sendiri," kelakar Bara.


"Apa bini lo, gak nyinyirin kau tiap hari kesini?"


"Amanlah itu. Gimana dengan Sisy, ada kemajuan gak. Hampir tiap hari jagain kamu disini."


"Dasar, kepo. Rahasia kamilah itu," kekeh Richard disambut tawa Bara. Tiba-tiba Sisy muncul.


"Tuh, yang dibicarain langsung nongol, panja g umur dah. Aku pamit ya, takut merusak suasana."


"Eh, kok buruan sih, baru juga aku datang," protes Sisy.


"Ada yang gak sabar menunggumu dari tadi, Sy," Bara mengerling nakal ke arah Richard. Merasa digoda, Richard melemparkan bantal ke arah, Bara, tapi tubuh Bara sudah menghilang di balik pintu.


"Kalian ngomongin apa sih, nampaknya seru," tanya Sisy seraya memungut bantal yang dilemparkan Richard.


"Alah, sama ajanya, jangan suka mojokin teman," kilah Sisy mengulum senyum. Sisy duduk di tepi ranjang, Richard, membetulkan selimutnya.


Tiba-tiba, tangan Richard yang bebas, meraih lengan Sisy dan membawanya ke dadanya. Sisy terkejut, tapi hanya bisa diam saat Richard mengelus punggung tangannya.


"Sy, kamu tau gak, selama ini aku selalu berharap dapat perhatian kamu. Berharap kamu selalu hadir mendampingiku. Menikmati hari-hari depan bersama." Ungkapnya seraya menatap lembut ke arah Sisy, menelisik hatinya menunggu jawaban jujur dari gadis yang telah lama ia sukai.


Sisy tertunduk diam, merenungi makna ucapan Richard barusan. Seketika dia diam membisu, tidak tau harus menjawab apa atas ungkapan hati Richard.


Melihat sikap diam Sisy, Richard jadi gelisah, takut akan mendapat penolakan lagi. Setelah sekian menit suasana berubah hening, akhirnya Sisy menengadahkan kepalanya. Menatap Richard dengan tatapan penuh makna.


"Kamu, kamu serius dengan ucapan kamu?" bisik Sisy lirih diantara deburan hatinya.


"Dua rius malah," sahut Richard penuh canda.


"Ih...." Sisy memeluk manja lengan, Richard. Kebahagian terlihat jelas di sinar matanya. Dia bersiap menyongsong bahagia bersama Richard selamanya.

__ADS_1


Cericit, burung di dahan bersahut-sahutan. Kompak menciptakan konser abadi di hutan pinus. Suara-suara burung inilalh yang selalu Bara nantikan di setiap pagi, mengawali langkahnya meniti pagi.


Bara membuka matanya, disisinya Sava yang masih tergolek diam, masih asyik mengembara dalam mimpi. Dengan lembut, Bara, menyisihkan anak rambut dari pipi istrinya. Mengecup pipinya, membuat Sava menggeliat manja. Lalu membuka matanya.


Sedikit kaget karena memergoki Bara, suaminya tengah menatapnya lekat.


"Ada apa sayang?"


"Tidak ada apa-apa, kok. Aku cuma, hem...." Bara tak melanjutkan ucapannya karena dia telah membenamkan ci**an dalam pada istrinya. Sava mengeluh, nikmat. Membalas pagu*** suaminya.sepertinya dia harus pasrah, setiap hari menerima perlakuan suaminya. Tidak kenal waktu dan tempat. Di masa bulan madu mereka, mereka habiskan dengan bercin**. Hampir semua tempat mereka jelajahi. Menikmati semua momen. Hingga disuatu pagi.


" Hoek....hoek...." Sava mua dan muntah. Sudqh bolak balik dia sedari pagi ke toilet. Tapi tidak ada apapun yang dia muntahkan.


"Kamu kenapa sayang?" Bara menatap Sava penuh khawatir.


"Gak tau, mungkin aku masuk angin." Bara mengusap-usap tengkuk Sava dan mengolesinya mintak telon.


"Kita kerumah sakit, yuk," ajak Bara. Dia takut terjadi sesuatu dengan istrinya.


"Gak, aku cuma mau baringan sebentar, " Sava berjalan terhuyung. Untunglqh Bara sigao menangkap tubuhnya. Menggendongnya ke tempat tidur. Dan membaringkannya dengan lembut. Wajah pucat istrinya makin membuatnya cemas.


"Sayang, kita harus segera ke rumah sakit. Liat, wajahmu pucat seperti itu, atau jangan-jangan kamu hamil?" seru Bara dengan wajah penuh harap.


"Hamil?" sahut Sava lemah. Tiba-tiba Sava teringat kalau haidnya sudah telat beberapa minggu. Apa benar dirinya hamil? Sava teringat seminggu yang lalu pernah beli test pack, tapi entah kenapa dia lupa meggunakannya. Karena dia takut kecewa.


"Kamu mau ke mana, sayang?" ucap Bara heran saat melihat Sava mau bangun dari tempat tidur.


"Ada sesuatu, yang mau aku lakukan." Bara membantu Sava turun dari ranjang. Menuju meja riasnya , lalu membuka lacinya. Mencari-cari benda itu, dan akhirnya ketemu.


Bara yang tidak mengerti apa-apa hanya binging melihat polah istrinya. Sava kembali masuk ke kamar mandi, dan seketika Bara mendengar jeritan kecil, Sava.


Dengan langkah tergesa, Bara menyusul Sava ke kamar mandi.


"Sayang, kamu kenapa?" Gedor Bara pada pintu. Sava keluar dari kamar mandi, menunjukkan benda kecil pipih yang barusan diagunakan tadi di kamar mandi.


"Apa ini?" Bara melihat ada dua tanda garis merah di benda pipih agak panjang itu. "Benarkah, kamu hamil sayang?" beliak Bara bahagia. Sava mengangguk lemah.


"Tuhan, terimaa kasih, secepat ini Engkau beri kami anugrahMu," ucap Bara penuh syukur.


"Sayang, terima kasih, ya." Bara memeluk tubuh istrinya penuh haru. Tak sabar rasanya rumah mereka akan dipenuhi jerit tangis dan tingkah polah anak-anaknya mengisi rumah ini.

__ADS_1


Bersama mereka akan bahagia selamanya, dengan cinta dan anugrah, Tuhan. ***


T a m a t


__ADS_2