Hati Yang Terpasung

Hati Yang Terpasung
Bab 24.


__ADS_3

Bara sungguh tak menyangka Sava akan nekad, mencium b***rnya. Sehingga Bara kehilangan fokus dan Sava bisa mengalahkannya.


Sebuah trik curang! Dan Sava bersorak ke girangan karena Ia berhasil menghempaskan tubuh Bara di tanah.


Benar- benar curang. Bara menatap ke arah Frank dan Bas. Keduanya malah mengendikkan bahu tanda tak turut campur, lalu mereka segera pergi karena pertandingan usai.


" Dasar curang! Permainanmu tidak fair." Bara berdiri dan mengibaskan pantatnya karena dedaunan yang melekat.


" Kamu yang bilang, musuh itu harus ditaklukkan dengan segala cara."


"Ah! Sudahlah," Bara mengibaskan tangannya. Tidak tau harus ngomong apa. Malas meladeni kalo gokilnya sudah kumat.


Sepeninggal Bara, Sava terkekeh puas. Cowok dingin macam Bara, sesekali pantas di kerjai.


***


" Bara, besok bi Arni akan bekerja kembali di rumah ini, sebagai asisten rumah tangga. Biar Sava punya teman di rumah ini." ucap Frank seusai makan malam.


" Apa om sudah kenal baik dengan bi, Arni?"


" Sudah. Bi Arni sudah lama bekerja di sini. Karena om dulu sering bepergian. Sementara rumah ini terlalu besar, untuk dia tinggali seorang diri. Jadi om menyuruhnya mengurus rumah ini secara berkala.


" Terserah om bagaimana baiknya saja," sahut Bara acuh.


Frank geleng kepala melihat sikap Bara.


" Kamu yang menahannya tinggal di sini. Kok malah acuh! Masih kesal ya, dengan kecurangannya tadi sore? Anak itu luar biasa tekadnya. Kamu harus bisa melindunginya, Bara,"


" Kok aku om?"


" Siapa lagi? Kamu kan tau dia sudah tak punya siapa- siapa lagi. Lagian yang membawanya ke sini adalah kamu. Atau kamu mau melepasnya di luar sana dan anak buah Vincent akan menemukan dia! Kalian satu visi, mau balas dendam dengan orang yang sama."


Bara terdiam dengan penjelasan om Frank. Yah, sepertinya mereka memang di takdirkan bertemu. Karena mereka adalah korban dari orang yang sama. Yang telah membunuh orang yang mereka cintai.


" Om harap, kamu bisa lebih lembut ke anak itu," ucap om Frank seraya mematikan puntung rokoknya pada asbak.


" Oh ya, besok bawa saja dia ke perusahaan. Siapa tau ada pekerjaan yabg cocok untuknya. Ketimbang di rumah ini terus. Bisa- bisa dia depresi. Om, tidur dulu. "


Belum sempat Bara menjawab, Frank sudah beranjak dari tempat duduknya. Bara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tau akan berurusan begini dengan Sava, Bara tak akan menculiknya waktu itu.

__ADS_1


Sejak pertama bertemu dengan Sava, entah perasaan apa yang berkecamuk di hatinya. Perasaan asing yang sebelumnya pernah ia rasakan.


Ia membenci perasaan itu. Setiap kali muncul secara tiba-tiba. Dan puncaknya adalah ketika Sava menciumnya, saat bermain curang tadi sore.


Sekuat hati dia menahan perasaan itu, sementara Sava malah seenaknya tertawa. Karena dia pikir itu hanya permainan!


" Brengsek!" maki Bara pada dirinya sendiri karena sudah selarut ini belum bisa memicingkan mata. Ucapan om Frank masih terngiang di telinganya.


Karena rasa haus dsn kesal. Bara keluar dari kamarnya untuk mengambil air di kulkas.


Begitu menuruni anak tangga, Bara mendengar suara yang mencurigakan dari arah dapur. Dengan langkah mengendap Bara ke arah dapur. Dan benar saja, dalam gelap Bara melihat sosok di dapur. Bara mengira itu adalah pencuri.


Dan,


Hup!


Sekali sergap, Bara berhasil menangkap sosok itu. Sosok yang tak lain adala Sava, menjerit karena kaget.


" Sava, kamu?" Bara menyalakan saklar lampu. Dia melihat Sava yang menegang karena takut, dengan botol minuman di tangannya.


" Kirain siapa, kenapa kamu berjalan dalam gelap?" sentak Bara. Untung saja dia tadi tidaksampai melukai Sava.


" Maaf, aku kira semua orang sudah tidur. Aku lapar juga haus," Sava merasakan wajahnya memerah karena telah ke pergok menguntil isi kulkas.


Bara melihat penampilan Sava yang berbeda. Dia terlihat cantik dengan kimono yangbia kenakan. Hanya saja dari mana dapatkan kimono itu?


Oh, tidak! Apa Sava mengutak atik lemari baju milik mamanya? Seketika emosi Bara naik ke ubun- ubun. Tapi, langsung melempem saat melihat paras Sava yang pucat ketakutan.


" Aku juga haus. Tolong ambilkan aku satu bir kaleng." ucap Bara lembut. Membuat Sava yang sudah ketakutan perlahan bisa bernafas lega.


Perlahan Sava menuju kulkas dan mengambil minuman yang di minta ,Bara.


" Maafkan aku, karena telah memakai kimono ini tanpa izin. Aku tadi kegerahan dan..."


" Tidak apa- apa. " potong Bara dan menerima bier kaleng dari tangan Sava.


" Kamu boleh memakai yang cocok untukmu. Karena selama ini pun tidak ada yang memakainya. Dari pada mubazir. Tapi aku ingin kamu bisa merawat pakaian itu dengan baik."


Untuk pertama kalinya sejak dia bertemu, Bara bicara lembut dan panjang. Biasanya dia bicara singkat, dengan tatapan dingin.


" Trimakasih," angguk Sava. Lalu melintasi Bara yang masih berdiri. Entah pengaruh takut atau gugup, saat di anak tangga kaki Sava tersandung.

__ADS_1


Tubuh Sava oleng, dan jatuh. Dengan sigap, Bara menangkap tubuh Sava yang hampir jatuh menghantam anak tangga.


Sava menutup matanya ngeri, karena mengira tubuhnya akan terhempas di lantai. Tapi dia merasakan ada tangan kokoh yang menyangga tubuhnya. Saat ia membuka matanya, wajah Bara hanya beberapa inci jaraknya dari wajahnya.


Sava merasakan helaan nafas Bara menyentuh kulit wajahnya. Matanya terperankap dalam sorot mata elang Bara. Seketika wajah Sava memerah seperti kepiting rebus.


" Ouwh.." rintih Sava saat merasakan sakit di pergelangan kakinya. Menyadarkan Bara dari situasi kaku yang tiba- tiba merajai mereka.


" Kamu tidak apa- apa, Va?" tanya Bara, cemas.


" Sepertinya kakiku keseleo," ringis Sava menahan sakit. Bara membantu Sava melangkah menaiki anak tangga.


" Ouwh..! Sakit!" rintih Sava saat ia mencoba melangkah.


" Kamu tidak bisa jalan? Sakit, ya?" Sava mengangguk. Akhirnya Bara membopong tubuh Sava ke kamarnya. Membaringkannya di tempat tidurnya. Lalu kembali ke bawah mengambil es untuk mengompres kaki Sava.


" Mana kakimu yang sakit?"


" Kaki yang kanan," ucap Sava. Bara melihat memar merah di pergelangan kaki Sava, lalu mengusutnya.


" Auh...sakit! " teriak Sava saat Bara memutar telapak kakinya yang terkilir. Sava tak dapat menahan tangisnya.


" Sudah, jangan menangis. Posisinya sudah kembali. Makanya lain kali hati-hati." Bara mengompres kaki Sava dengan es.


" Makasih ya, aku telah banyak merepotkan, abang."


" Tidak apa- apa. Bagaimana, apa sudah mendingan?" Sava mengganguk. Karena rasa sakit di kakinya telah berkurang.


"Coba berdiri dulu." Bara membantu Sava untuk berdiri, dengan memegangi tangannya.


Karena masih trauma, Sava ragu untuk berdiri. Sehingga ia kehilanngan keseimbangan tubuhnya. Tubuh Sava limbung, dan jatuh ke dalam pelukan Bara.


" Hati- hati Sava!" dengan gerak refleks Bara, menangkap tubuh Sava yang jatuh ke dalam pelukannya.


Untuk beberapa saat pandangan mata mereka kembali bersirobok. Sava tak mampu untuk menghindari tatapan itu. Dia begitu terhipnotis oleh telaga mata itu.


Begitu juga dengan Bara, seolah ada magnet yang menarik tubuhnya untuk menyelami telaga bening di mata Sava.


Seolah dirinya terbawa arus, makin mendekatkan wajahnya hingga dia mereguk rasa manis dari bibir yang merekah.


Keduanya berpa**t dalam rengkuhan manis hingga ruang nafas mereka terasa sesak karena kehilangan oksigen

__ADS_1


Sava menyembunyikan wajah merahnya, di balik dada bidang itu. Didalam rengkuhan Bara yang meneduhkan. *****


__ADS_2