
"Maaf, aku memang selalu saja buat kerusuhan," ucap Sisy lirih. Matanya segera berembun saat bayangan Bara dan Sava tadi di kamar melintas di benaknya.
Yah, hatinya tadi begitu marah dan cemburu. Saat menyaksikan Bara melamar Sava. Dia memang tak sengaja, memergoki kejadian itu. Juga, dia tak berhak cemburu atau marah karena itu.
Dari dulu, Bara, telah menegaskan bahwa antara mereka tidak ada hubungan apa-apa. Bara tak pernah menunjukkan sikap sekalipun, yang patut membuat Sisy untuk berharap dan jatuh cinta padanya.
Bara yang acuh dan dingin, bahkan selalu menunjukkan sikap antipati padanya. Justru Richardlah yang selalu bersikap lembut padanya, dan terang-terangan menunjukkan perhatian.
Namun, justru sikap dingin Baralah yang membuatnya setengah hidup mencintai, Bara. Selalu ada sisi liar dalam hatinya untuk menaklukkan, hati Bara. Selalu saja, semua itu berujung kecewa di hati, Sisy.
Dia yang datang dengan menempuh jarak yang begitu jauh, hanya untuk menjumpai, Bara. Kini semua perjuangannya itu, sia-sia. Bara, telah menetapkan kemana hatinya akan dia labuhkan.
Sia-sia waktunya selama ini, mengharapkan, Bara. Bodohnya! Kenapa baru hari ini menyadari semua itu?
Bukankah dari awal sikap, Bara, sudah jelas. Namun mata hatinya masih saja dibutakan oleh perasaan yang menipu. Seperti bayang kamuflase, di padang gurun. Menyadari semua itulah tadi, emosi Sisy dia lampiaskan pada kuda lembut si Putih. Sehingga, si Putih melemparkan tubuhnya tadi ke atas trotoar.
Sakitnya masih bisa dia tahan, tapi sakit atas luka yang ditoreh, Bara, sungguh tak tertahankan. Salahkah, Bara, atau Sava? Rasanya, mencari objek apapun untuk dijadikan kambing hitam dari situasi ini, sungguh tak berarti apa-apa lagi.
"Eh, jalan ini bukan jalan, menuju rumah?" guman Sisy dalam hati, tiba-tiba Sisy tersadar dari
lamunan panjangnya. Sisy, menatap ke arah, Bara. Namun, Bara, bersikap biasa saja, seolah tak ada yang ganjil.
"Ini, bukan jalan ke rumah," seru Sisy dengan mata membulat.
"Memang, aku mau bawa kamu dari sisi, lain."
"Buat apa? Jika hanya membuat lebih, jauh. Aku ingin lekas sampai. Badanku terasa sakit, karena ulah si Putih, tadi," ucap Sisy. Dia tak bermaksud mengadu, karena pasti akan diabaikan juga. Sisy hanya ingin pulang saja, lebih cepat. Ternyata. Bara malah menempuh jalur lain.
"Tidak, apa. Hanya sebentar saja. Apakah ada bagian tubuhmu, yang memar?" ucap Bara serius.
__ADS_1
"Tidak, cuma lecet sedikit, kok."
"Jangan anggap remeh, mungkin kamu harus periksa ke Rumah Sakit atau dikusut, dulu?"
"Aku tidak bohong, aku tidak apa-apa."
"Baiklah kalau begitu." Laju mobil terhenti tiba-tiba. Bara keluar dari mobil, memutari mobil lalu membukakan pintu untuk, Sisy. "Ayo, Sy, keluar." Sisy keluar dari mobil dengan pandangan heran sekaligus bingung.
"Ikuti aku." Perintah Bara, menyusuri jalan setapak, menurun ke bawah. Seperti kerbau dicocok hidungnya. Sisy, mengikuti langkah, Bara. Tiba, di bawah Sisy takjub dengan apa yang ia lihat. Seluas matanya memandang, hamparan sawah hijau menerpa irish mata, Sisy.
"Wao....!" Tanpa sadar Sisy berdecak kagum, melihat luasnya tanah pertanian itu. Bulir- bulir padi sudah mulai bermunculan dari celah batang.
Bara, juga melakukan hal yang sama. Melepas pandangnya sejauh mungkin. Ada rasa lega di batinnya melihat tanah pertanian yang berhasil di kelola oleh beberapa kelompok tani. Satu atau dua bulan ke depan, para petani akan panen raya.
"Semoga saja tidak ada bala datang, sehingga para petani tidak gagal panen." monolog hati Bara.
"Ini, tanah siapa? Indah sekali!" ucap Sisy seraya mengerjapkan matanya, saking hatinya senang melihat lukisan alam. Sisy, melupakan sejenak galau hatinya.
"Karena tanah inikah, kamu tiba-tiba menghilang dulu? Aku kaget, karena kamu menghilang seolah ditelan bumi."
"Bukan, karena tanah ini. Tapi, karena keselamatanku yang terancam. Pamanku menjemputku, tiba-tiba."
"Tapi kenapa bersamaan dengan kematian, paman Daud? Kabar yang aku dengar, paman Daud meninggal karena di bantai."
"Ah, sudahlah. Jangan membahas masalah itu lagi," tepis Bara.
"Lalu, untuk apa kamu membawa ku, ke mari?" selidik Sisy bingung.
"Aku hanya ingin bicara soal, Sava, sebentar denganmu," tatap Bara, serius ke arah Sisy.
__ADS_1
"Soal apa?" degub jantung Sisy tak beraturan. Apakah Bara, akan memberitahukan dirinya, bahwa dia telah melamar, Sava?
"Sava."
Deg!
"Ada apa dengan, Sava?" meski sudah menduga, tapi Sisy kaget juga.
"Aku mau menikahi, Sava."
"Apa hubungannya, dengan saya," ucap Sisy, menahan sesak di dadanya.
"Sisy," tiba-tiba saja jemari tangan, Sisy, telah tenggelam dalam telapak tangan, Bara. " Aku meminta maaf, karena harus menikahi, Sava. Bukan aku tak peduli atau tidak tau perasaan kamu, yang sesungguhnya padaku. Kamu adalah sahabatku yang selama ini telah menemaniku. Kamu dan Richard pasangan yang sangat cocok.
Saat ini mungkin hatimu masih tertutup untuk, Richard, tapi cobalah untuk membuka hatimu. Richard adalah orang yang setia dan selalu ada untukmu, dalam segala kondisi. Hanya saja kamu tidak menyadarinya, karena pandanganmu selalu teralih padaku," ucap Bara, membujuk.
Sisy menarik kedua jemarinya dari genggaman tangan, Bara. Hatinya, merintih perih. Apa yang dikatakan Bara, barusan adalah benar. Dunianya memang teralih hanya karena seorang, Bara! Lalu, kenapa dia menyuruh pandangannya teralih ke arah lain. Bila dia tau, hanya Baralah dunianya. Karena dunia Bara, hanyalalh milik seorang, Sava? Iya, kan?" jerit hati Sisy.
"Jangan mengkhwatirkan aku, Bara. Aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan, Sava. Namun, kumohon jangan urusi perkara hatiku."
"Sisy, aku tidak bermaksud mencampuri, perkara hatimu. Aku, hanya ingin, kamu tau dan membuka hatimu untuk, Richard. Sama seperti dirimu, dia juga selalu menunggumu."
"Stop, Bara. Jangan bicara soal Richard lagi!" sentak Sisy mulai kesal. Jika, Bara, memintanya melupakannya oke, dia bisa terima. Namun, jangan menjadikan Richard, jadi topik baru untuk mengalihkan perhatiannya. Soal bagaimana hidupnya setelah Bara, menikah nantinya cukup itu menjadi urusannya sendiri.
"Maafkan aku, Sisy, aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu. Kamu harus tau, aku peduli sama kamu," ucap Bara.
"Tidak apa-apa. Aku juga merasa lega. Setidak kamu tau aku mencintai kamu selama ini. Yah, bula akhirnya semua berakhir seperti ini, yang jelas aku sudah memperjuangkan apa yang harus aku perjuangkan. Walau pada akhirnya aku gagal tidak ada yang perlu untuk disalahkan. Ayo, kita harus segera pulang. Bentar lagibsenja mau turun. Tidak, baik berlama-lama di sini. Bisa- bisa aku malah ingin tidur di tempat ini,"
"Kamu baik-baik saja, Sisy?"
__ADS_1
"Iya, aku baik-baik saja. Bahkan tidak pernah sebaik ini, malah. Alam ini telah mendetox racun dalam aliran darahku. Makasih, ya. Tiba-tiba saja hatiku merasa plong. Oke, aku akan jadi salah satu bridesmaid, kamu."******