
Pertarungan pun berlangsung. Ternyata ilmu bela diri Vincent lumayan juga. Buktinya dia bisa menangkis serta mengelak dari serangan Bara.
Vincent berhasil mengambil tongkatnya di samping tempat tidur. Ternyata tongkat itu adalah senjata. Dengan memencet tombol di tengahnya, tongkat itu berubah jadi pedang.
Bara sempat terkejut melihat senjata itu,
Merasa di atas angin karena memiliki senjata. Vincent bergerak maju, memainkan pedangnya.
Bara melompat melampaui Vincent, dan berhasil mengambil samurai yang tergantung di dinding.
Kini kedudukan, ke duanya sama- sama memiliki senjata. Untuk beberapa saat pertarungan tampak seimbang.
Hingga akhirnya Vincent terdesak ke sudut ruangan dan tak bisa meloloskan diri. Sekali sabet pedang Bara mendarat di paha Bara.
Cress..! D**ah segar memercik ke dinding kamar. Juga membasahi lantai. Vincent menjerit kesakitan!. Dengan langkah tepincang, Vincent berusaha ke luar dari kamar. Untuk memanggil anak buahnya.
Tetapi anak buahnya juga sedang sibuk bertarung, mempertahankan nyawanya. Tak ada yang peduli dengan jeritan tuannya.
" Rendra....!!!" teriak Vincent lantang. Tapi yang di panggil sedang menghadapi lawan, yang cukup tangguh. Rendra kesulitan karena ia tengah di keroyok.
Begitu ia mendengar teriakan Vincent, konsentrasi , Rendra langsung buyar, membuatnya jadi lengah. Akhirnya, sebuah tendangan mendarat telak di dadanya.
Rendra terhuyung jatuh, di dekapnya dada yang terasa perih . Lalu ia memuntahkan d***ah segar dari mulutnya.
Vincent berhasil lolos dari kamar, rasa putus asa memerangkap dirinya. Saat dia lihat banyak anak buahnya yang terkapar. Bahkan, Rendra ada di sana. Bersimbah da**h. Entah masih hidup atau sudah mati.
Vincent terus menyeret langkahnya, menjauh dari Bara. Sementara Bara masih saja mengikutinya.
" Mau kemana kamu tua bangka?! Hanya sampai di sinikah perjuanganmu. Tenyata kamu tak lebih dari seorang lelaki tua, yang sudah bau tanah!"
ucap Bara penuh ejekan.
Pedang yang ia seret di lantai, suaranya begitu melinukan tulang! Sungguh sebuah kengerian, yang mampu menciptakan teror!
Vincent terus melangkah, begitu putus asa. Luka di pahanya semakin terasa sakit. Vincent mengambil taplak meja. Mengikatkannya ke pahanya. Untuk menghentikan pendarahan.
Suasana malam yang begitu mencekam. Di tingkahi suara jangkrik seolah tangisan pilu. Mengiringi Bara melampiaskan dendamnya.
Kini Bara berhadapan kembali! Di ruang yang lebih luas untuk melanjutkan pertarungan mereka.
Denting suara pedang yang menari, sangat menulikan telinga.
__ADS_1
Cress...! Kembali paha Vincent tersabet pedang Bara. Vincent semakin kepayahan untuk mengayunkan pedangnya.
Bas dan Sava yang menyaksikan pertarungan itu sedari tadi , hanya mampu menatap ngeri.
Sava menyaksikan sendiri, betapa dingin tatapan Bara. Membuatnya bergidik.!
Cres.... Cresss...Aghk.....!!!! Jerit pilu Vincent tak berdaya. Kala pedang Bara kembali menoreh lukisan di kedua lengan Vincent.
" Ini untuk ke dua orang tuaku, yang kamu suruh habisi malam itu. Dengan pembunuh bayaran itu."
Bara bersiap hendak menusukkan pedangnya ke jantung, Vincent. Ketika sebuah teriakan menggema.
" Bara! Tunggu! Jangan kamu lakukan itu. Jangan lumuri tanganmu dengan darah iblis itu.Biar dia tanggung kesakitannya sendiri, karena ulahnya." teriak Sava memohon. Agar Bara tidak melanjutkan tindakanya.
"Sava?!" seru Bara seolah tersadar dari perbuatannya. Sava berlari, memeluk Bara.
Vincent kaget saat mendengar, Bara menyebut nama Sava. Seorang pemuda menghambur ke dalam pelukan Bara.
Vincent heran, bagaimana Sava bisa berubah seperti itu. Denga menyaru sebagai laki- laki tentu sulit untuk mengenali Sava. Pantasan kemarin itu dia seperti mengenal laki- laki iti.
Ternyata dia memang Sava. Gadis yang ia sekap hampir satu tahun. Dan sampai sekarang, siapa yang membantu pelariannya masih misteri.
Dan ternyata Sava ada dalam perlindungan, Bara.
Kini berdiri di hadapannya, hendak melakukan hal yang sama padanya.
Tapi gadis yang orang tuanya juga telah a habisi, malah mencegahnya!
" Ayo kita pergi dari sini! Bas, cepat tarik semua anak buah kita. Hentikan pertarungan ini.!" perintah Bara. Bas segera melakasanakan perintah, Bara.
Dimana anak buah Vincent sudah babak belur semua. Dan telah menyerah!
" Ini peringatan padamu, pak tua. Jangan pernah lagi mengusik hidupku. Dan semua yang berhubungan denganku. Kali ini aku masih berbaik hati tak membunuhmu. Lain kali tidak ada ampunan lagi.!" ucap Bara tandas penuh ancaman! Melemparkan pedang samurai itu .
Suaranya menggema memecah malam.
Vincent hanya bisa menatap kepergian, Bara dan anak buahnya dengan tatapan penuh dendam.
" Dasar bocah bodoh! Kamu pikir aku takut ancamanmu. Seharusnya kamu habisi aku, agar hidupmu benar- benar aman." guman Vincent tersenyum licik.
Sejuta rencana masih bersiliweran di otak Vincent, untuk memusnahkan Bara dengan cara apapun.
__ADS_1
Vincent menatap luka di tubuhnya, yang lumayan parah juga. Darahnya telah banyak keluar, membuat tubuhnya lemah tak berdaya.
Setelah Bara dan anak buahnya meninggalkan kediaman Vincent. Barulah anak buah Vincent, berani mendekati tuannya yang terluka parah.
Vincent memaki panjang pendek, karena tadi tak satupun di antara mereka yang datang menolongnya.
" Kalian, kemana saja tadi. Baru sekarang datang menolongku!" hardik Vincent.
" Maaf tuan, kami juga bertarung. Karena mereka datang menyerang kami." jelas salah satu dari mereka.
" Buat apa aku bayar kalian. Tapi kalian tidak mampu melindungiku!" semua makin tertunduk dalam. Mereka tau tuan mereka sangat arogan. Penjelasan apa pun tak akan di terima.
" Cepat telepon dokter! Apa kalian mau melihatku mati, kehabisan darah?!"
" Sudah Tuan, dokternya sedang dalam perjalanan."
***
Sinar mentari telah menguar di ufuk timur, ketika rombongan Bara dan anak buahnya tiba di rumah.
Yang luka langsung di obati. Untung tidak banyak anak buahnya yang terluka. Begitu juga yang terluka parah. Hanya lecet dan biru lebam saja. Akibat adu fisik.
Bi Arni menyeduh kopi untuk mereka semua. Beliau bersyukur, mereka semua pulang dengan selamat. Dan senang mendengar, kalau Vincent telah di kalahkan oleh, Bara.
Semoga saja lelaki tua berhati iblis itu mau bertobat. Karena tidak di bunuh, Bara.Tapi untuk manusia selevel Vincent, rasanya mustahil dia mau berubah secepat itu.
Yang ada malah, dendam kesumat!!
Bi Arni sudah kenal tabiat kejam, Vincent.
Dia suka meneror para petani, agar menjual tanah nya pada Vincent. Dengan harga yang sangat miring. Jika menolak, itu berarti cari masalah.
Karena itulah banyak orang di kampungnya ini, pindah ke kota. Meninggalkan rumah dan tanah mereka terbengkalai begitu saja.
Pernah sih, ada warga yang nekad mengeluh dan mengdu pada aparat setempat. Tapi tak pernah di gubris. Malah dia mati mengenaskan beberapa hari kemudian.
Sehingga sejak kejadian itu, warga lebih banyak diam. Dan pindah ke daerah lain. Untuk menghindari ke kejaman, Vincent.
Sehingga lama kelamaan kampungnya jadi sepi. Dan tanahnya di kuasai, Vincent.
Bukan aparat atau lurah yang tidak peduli dengan, warga yang banyak pindah ke kota. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa- apa. Karena banyak aparat yang telah korup, sehingga tak berani bertindak. *****
__ADS_1
Mohon likenya, para pembaca. Salam sehat, salam sejahtera.