
Sepasang pengantin berjalan di pelataran yang ditaburi bunga-bunga. Di kedua sisi jalan yang mereka lalui bergelantung bunga- bunga yang ditata artistik. Keduanya tak berhenti tersenyum, seakan hendak menularkan kebahagian mereka pada tetamu yang hadir.
Semua mata tertuju, memandang ke arah sang pengantin yang berjalan gagah dan anggun. Para undangan mengagumi kecantikan dan ketampanan sang mempelai, yangberubah bak sepasang raja dan ratu
Alunan musik, yang mengalun lembut, mengiringi langkah mempelai menuju altar, yang didominasi hiasan bunga putih dan merah.
Bara yang di balut stelan jas putih tulang begitu gagah melangakah, mengandeng Sava dengan gaun pengantin, slayer dengan warna senada. Menjuntai, panjang terseret, menyapu karpet merah
Bak cerita dongeng saja saja melihat pasangan pengantin itu menapaki karpet merah yang bertabur bunga mawar merah.
Dibelakang sang pengantin iringan pasangan bridesmaid mengikuti tak kalah anggun. Mereka adalah pasangan Sisy dan Richardrd juga Dewi dan Bas. Kedua pasangan bridesmaid ini juga menyita perhatian dari para tamu undangan. Buktinya kilatan blizt dari para fotografer juga menyambar wajah mereka.
Langkah Bara dan Sava telah tiba di altar. Pernikahan dengan tema outdoor ini dan dres code putih juga telah banyak menarik perhatian wartawan lokal dan luar kota.
Pendeta Albert menyambut kedatangan sang pengantin. Disaksikan para tamu undangan, mengambil sumpah kedua mempelai untuk hidup semati. Suasana sakral begitu lekat, mewarnai pengambilan sumpah itu. Apalagi sang pengantin sempat berurai air mata, saat teringat kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia.
Rasa haru tidak hanya merayapi hati, Sava. Sisy tanpa sadar, memegang erat tangan Richard yang hadir sehari sebelum acara di mulai. Richard menjadi tamu kehormatan bagi Bara. Bara merasa sangat suprise atas kehadiran Richard sahabat lamanya itu.
Richard membalas genggaman tangan Sisy. Wanita yang sangat ia cintai, sekian lama. Keduanya saling pandang, tak sadar kalau mereka telah jadi tontonan tamu undangan. Sisy tertunduk malu, saat ada tamu yang nyeletuk.
"Sepertinya, habis pesta pernikahan ini, bakalan ada yang nyusul kayaknya," bisik sang tamu ke teman di sampingnya.
" Kok tau?
" Liat tuh, pasangan bridesmaid yang persis di belakang pengantin."
Percakapan itu sangat jelas di dengar Sisy, sehingga wajahnya memerah, seperti kepiting rebus.
"Kenapa sih?" bisik Richard
"Gak ada apa-apa," ucap Sisy dengan wajah tertunduk. Tidak mungkin dia menceritakan apa yang barusan ia dengar.
"Lihat, Sy! Pengantin mau lempar bunga tuh," tunjuk Richard karena melihat dibarisan tamu undangan berubah riuh.
"Benarkah?"Sisy melihat Bara dan Sava bersiap hendak melemparkan bunga. Wajah Sisy sedikit agak kecewa karena jaraknya yang agak jauh dari pengantin. Mau mendekat, geraknya tak bebas karena gaunnya.
__ADS_1
"Mau, aku tangkap bungannya buat kamu?" bisik Richard ke telinga Sisy.
"Ih, kejauhan," dalam hati, Sisy berharap sekali.
"Sy, tangkap Sy." Teriak Dewi histeris melihat bunga yang dilemparkan Sava melambung jauh, menuju arah Sisy. Dengan gerak refleks Sisy menangkap bunga itu.
"Hup...! Dapat...!" teriak Sisy kegirangan seperti anak kecil. Tanpa sadar Sisy memenghamburkan dirinya kepelukan Richard. Disambut Richad penuh tawa, melihat kebahagian di wajah Sisy
"Dooor...!!!
Tiba- tiba suara tembakan yang diarahkan ke udara mengacaukan kesakralan suasana pernikahan itu. Berubah jadi kepanikan diantara tamu yang hadir. Mereka menghambur melarikan diri. Kursi yang tadinya tersusun rapi kini berantakan tak beraturan. Benar-benar kacau!
Richard terkejut!
Bas juga kaget!
Terlebih Bara! Yang tak menduga akan ada insiden di pesta pernikahannya. Padahal sistem pengamanan telah dilipatgandakan. Bagaimana bisa kecolongan.
Dimana semua pasukan pengawalnya?"
Bara tak mengenalnya dan belum pernah berurusan dengan pasangan itu.
"Apa khabar sang pengantin. Tragis bukan, jika di hari pernikahanmu ini, akan menjadi hari terakhir kamu menikmati hidup," teriak Lily.
" Kalian siapa, dan apa mau kalian mengacau disini!" Hardik Bara.
"Kami adalah tamumu yang tak diundang, mau menunaikan tugas, membalaskan kematian pamanku, Vincent!"
Deg!
Bara terkejut.
"Kenapa? Kamu kaget, ya? Tak mengira kalau Vincent masih punya keluarga."
"Lalu apa urusannya dengan kamu?" ucap Bara dingin seraya menatap tajam ke arah Lily. " Tidakkah kau malu, menuntut balas atas kematian, Vincent, setelah apa yang dia lakukan sepanjang hidupnya. Aku beri kamu kesempatan, segera tinggalkan tempat ini. Sebelum kamu bernasib sama seperti, Vincent!" ancam Bara.
__ADS_1
"Hahaha....! Cih! Dasar sombong! Apa aku tidak salah dengar. Harusnya kamu berlutut mohon ampun, didepanku. Karena kamu juga akan menyusul paman Vincent."
"Kamu sungguh tidak layak, mengorbankan nyawamu pada seseorang seperti, Vincent!"
"Cukup! Hari ini akan di kenang orang sebagai 'tragedi berdarah sepasang pengantin'. Darahmu akan tertumpah disini," Lily dengan penuh percaya diri mengarahkan senjatanya ke arah Bara. Sementara, Bas Richard, diam-diam telah siaga dengan senjata mereka.
"Cukup! Dasar betina iblis. Setelah kau rebut suamiku. Kalian juga membunuh bayiku, sekarang kalian masih berani mau membunuh disini? Kalian pikir kalian akan bisa lolos dengan semua ini," teriak Dewi tiba-tiba dengan suara lantang.
Alex yang sepertinya tidak asing dengan suara itu, merasa terkejut.
"Dewi?" desis Alex perlahan. Dia terpana melihat istrinya.
"Ya, aku Dewi! Istrimu yang telah kamu coba habisi, demi ular betina itu. Kamu dengan tega telah membunuh anak kita, bang. Kamu itu jahat! Kalau bukan karena mereka, aku sudah mati," teriak Dewi, membuat Bas dan Bara terkejut. Mereka tak mengira, kalau suami Dewilah yang telah menganianya.
Alex, memandang Dewi beberapa saat. Dia teringat saat pergi meninggalkan istrinya. Juga saat dimana dia menganiaya dan menyuruh anak buahnya membuang tubuhnya. Ternyata, Dewi masih hidup dan orang yang hendak dia bunuhlah yang menolongnya.
"Hem, kamu boleh lolos dari maut waktu itu. Tapi kali ini, aku pastikan kamu tidak akan lolos lagi," Lily mengalihkan todongannya ke arah Dewi.
"Apa-apaan kamu, Ly? Sasaran kita adalah, Bara."
sergah Alex kaget.
"Rencana berubah, Lex! Sungguh kamu telah membangkitkan rasa cemburuku. Kamu tembak Bara, dan aku akan habisi, Dewi, mantan istrimu itu."
"Tidak, bisa! Tetap pada rencana, kalau tidak kita akan terjebak disini. Mana yang lain, mengapa mereka belum muncul juga?" bisik Alex mulai gugup.
"Bunuh saja, Bara. Dan aku akan habisi istrimu itu. Aku tidak ingin ada saksi, dari perbuatanmu. Ayo, tunggu apa lagi!"
"Kita hanya berdua, Ly. Anak buahmu telalh menghianati kita. Mereka pasti telah melarikan diri."
"Hem, aku siap mati, Lex, tapi sebelum itu mereka juga harus mati di tanganku." Lily menodongkan senjatanya ke arah Dewi. Dewi terkesiap, begitu juga Alex. Jadinya dia tak fokus mengarahkan senjatanya ke Bara.
Disaat itulah Richard, merangsek menyerang Alex. Mencoba melindungi Bara, sehingga peluru menembus tubuh, Richard. Sisy menjerit histeris saat melihat tubuh Richard roboh menyentuh karpet. Darah segar sangat kontras membasahi jas yang ia kenakan.
Sementara Sisy yang menembak ke arah Dewi, serangannya dipatahkan oleh Bas, yang telah siaga lebih dulu. Peluru itu menembus tepat, di dada Sisy. Tak ayal lagi, tubuhnya terkapar bersimbah darah. ****
__ADS_1