
Aku menyiapkan beberapa hidangan pagi ini. Ku panggil mas Leon yang masih berada di dalam kamar. Dari semenjak subuh tadi dia belum keluar kamar.
Ku ketuk pintu kamar dan ku panggil dia dari luar. Tidak lama kemudian mas Leon keluar dan duduk di meja makan.
"Shena." panggilnya saat melihat menu sarapan.
"Iya, ada apa mas?"
"Nanti malam ada acara amal, kamu mau ikut aku?"
"Menurut kamu mas?" tanyaku bimbang.
"Loh... kok malah tanya aku sih?"
"Aku gak pernah pergi ke acara yang begituan mas. Menurut kamu bagaimana? Aku takut buat kamu malu."
Mas Leon tersenyum dan menggeleng. Dia menyendoki nasi yang ada di hadapannya.
"Nanti aku jemput jam 7 yah." ucapnya santai.
Eh... dia bilang jemput aku jam tujuh. Maksudnya mas Leon mau bawa aku gitu?
Ku lihat mas Leon yang makan dengan santai, ku perhatikan setiap gerakan dia yang menyuapi nasi ke dalam mulutnya.
Tanpa sadar aku terus memandangi wajahnya yang pagi ini terlihat sedikit lebih ganteng. Eh tapi mas Leon memang ganteng sih. Apalagi matanya yang sedikit sayu, tapi pandangannya kadang dapat membuat debaran jantung lebih kencang.
Baru juga ku bilang, mas Leon sekarang malah menatapku dengan ekspresi bingung. Aku menundukan pandanganku saat mata kami beradu pandang.
"Kenapa lihatin aku begitu?" tanya nya yang membuat jantung aku hampir copot.
"Gak papa mas, aku cuma... Cuma..."
"Cuma apa?" sambungnya memotong kalimatku.
Iya aku cuma apa ya? aku dari tadi ngapain juga? memang aku mandangin dia. Tapi gak mungkin juga kan aku bilang kalok aku pandangin dia, bisa malu aku.
"Ditanya kok malah bengong sih?" mas Leon mencubit pipi cabiku.
"Mas aku nanti pake baju apa?" tanyaku polos, mengalihkan pembicaraan.
"Gak usah pake baju juga gak papa." jawabnya enteng.
"Ih." aku mencubit lengan tangannya.
"Dasar kepiting kamu."
mas Leon menarik ujung kepalaku dan mencium lembut dahiku.
"Aku pergi dulu ya." ucapnya sambil berlalu pergi.
Aku membereskan piring kotor sisa tadi. Ku langkahkan kakiku ke kamar untuk mengambil pakaian kotorku dan mas Leon. Ku lihat sebuah kotak berwarna putih di atas tempat tidur.
Perasaan tadi gak ada apa apa deh. Aku mendekat dan kulihat ada memo di atas kotak itu. 'Untuk istri kepitingku'. Aku manyun saat membaca memo itu, aku di bilang kepiting sih?
Ku buka kotak itu dan kulihat dres selutut berwarna hijau muda. Dengan lengan tangan yang setengah tiang dan payit yang melingkar di bagian pinggangnya.
Selera mas Leon elegan banget sih, tidak banyak pernak pernik tapi tampak mewah. Dia sudah mempersiapkan dress untukku tapi kenapa gak ngasih langsung aja sih?
Dasar kamu mas.
Kulihat jam di dinding sudah pukul lima sore, segera aku bergegas menyiapkan pekerjaan dan bersiap-siap.
Aku memoleskan bedak tipis ke wajahku, ku pilih lipstik berwarna peach dan eyeshadow yang senada. Aku memang gak terlalu pintar berdandan. Hanya tau dasarnya saja, tapi ya lumayan juga lah yang penting gak polos-polos amat.
Ku dengar pintu kamar terbuka dan mas Leon masuk dengan wajah lelahnya. Aku lihat jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
"Mas, kok udah jemput?" tanyaku yang masih belum siap di depan meja rias.
"Aku mau mandi dulu, gerah banget." jawabnya sambil berlalu ke kamar mandi.
Ku lanjutkan untuk kegiatanku di depan kaca, mau aku apakan ya rambutku? di ikat atau di urai ya?
Di ikat aja deh.
Selang lima belas menit mas Leon kembali ke kamar, dia membuka lemari dan memilih baju kemeja polos berwarna hitam.
Aku melihat dia yang begitu rapi dengan mengenakan kemeja hitam lengan panjang, Membuat aku tidak dapat memalingkan pandanganku. Bukan cuma keren, tapi dia juga seksi dengan kemeja hitam itu.
Memang mas Leon ini tidak memakai baju dengan banyak warna. Lemari bajunya dominan warna hitam dan putih.
Dia berjalan mendekat kearahku, menyisir rambutnya dan memakai parfume sihirnya itu. Wanginya lagi-lagi membuat aku tidak bisa menghindari pesona nya itu.
Mas Leon menatapku yang sedari tadi terus memandangnya, dia tersenyum simpul lalu berdiri di belakangku. Aku yang masih duduk di depan meja rias mampu melihat dia dari pantulan cermin besar di depanku.
Dia mengeluarkan kalung yang entah dari mana asalnya itu. Dengan sebuah liontin berbentuk uliran dan sebuah mutiara di dalamnya. Dia menempelkan dagunya di bahuku.
"Suka?" bisiknya di telinga kiriku.
Aku hanya mengangguk, dia mengaitkan kalung itu di leherku dan melepaskan ikatan rambutku.
Dia meletakan dagunya di ujung kepalaku dan memeluk bahuku.
"Kamu cantik, tapi aku lebih suka jika rambut kamu terurai."
Perlahan rona wajahku kembali memerah, Ku tatap wajahnya didalam cermin itu, manis sekali.
"Yuk berangkat."
"Em... Mas." panggilku saat melihat dia yang beranjak pergi.
__ADS_1
"Iya."
"Bentar, deh."
Aku menarik tangannya dan ku gulung rapi ujung tangan kemeja nya sampai setengah tiang. Aku rapikan kerah kemejanya dan juga ku rapikan bagian bahunya.
"Aku suka lihat kamu begini."
Dia seperti tersipu dan menggaruk kepalanya, sehingga rambut nya kembali berantakan. Beberapa helai rambutnya jatuh kedepan menutupi sebagian mata kanannya. Entah kenapa aku lebih suka saat rambutnya begini, terlihat lebih keren saja.
"Yaudah yuk." aku menggandeng lengan tangannya. Namun dia hanya melihatku seperti heran.
"Mas."
"Iya. Ayuk." sahutnya.
Kami berdua segera keluar dan memasuki mobil. Mas Leon melaju kan mobilnya sedikit kencang, menembus keramaian malam dan tidak lama kami sampai ke sebuah gedung yang memang sering di pakai buat acara.
Mas Leon turun dari mobilnya, tapi aku seperti enggan untuk masuk. Aku takut, bagaimana jika aku buat masalah nanti. Ini pertama kalinya aku pergi ke acara seperti ini. Mas Leon bisa kehilangan image nya jika aku berbuat salah.
"Shena. Ayo masuk."
"Mas. Aku tunggu disini aja ya."
"Loh ... kok gitu sih, udah cantik gini juga." bujuk mas Leon.
"Aku gak pernah pergi ke acara begini, nanti kalau aku buat kesalahan bisa buat mas malu."
"Memang kamu mau buat kesalahan apa sih? memang mau ngapain kok buat masalah pulak?" mas leon tertawa geli. Namun wajahku masih terlihat tegang.
"Genggam tanganku, semua akan baik-baik saja. Ayo." mas Leon kembali meyakinkan aku.
Aku pun turun dan menggandeng mas Leon, sebenarnya lututku gemetaran, tapi aku berusaha untuk tenang.
Baru saja melangkah masuk, namun mas Leon sudah banyak di sambut dengan orang-orang. Dan juga Riany ada disini, Dia terlihat sangat akrab dengan mas Leon.
Bahkan saat mas Leon dan Riany berbicara ada yang mengira bahwa Riany adalah istri mas Leon.
Hello... Aku yang menggandengnya kenapa Riany yang disangka.
Lagian juga kenapa sih Riany harus berdiri di samping mas Leon juga. Buat orang salah paham kan, buat aku kesel juga.
Ini memang bukan tempatku, Aku tidak pernah berada di tempat ini. Semua orang disini terlihat hebat dan mewah. Di lihat dari kastanya juga seperti orang-orang kaya, aku tidak nyaman sama sekali berada di acara begini.
Aku memutuskan untuk pergi ke toilet wanita, sebenarnya gak kebelet sih, tapi setidaknya aku bisa bernafas disini. Aku mencuci kedua tanganku dan merapikan riasanku. Beberapa orang wanita masuk ke dalam toilet dan bercanda ria.
"Eh lihat Dokter ganteng tadi gak? keren banget ya." Buka obrolan seorang gadis manis dengan dres hitam.
"Yang mana nih? yang pakai kemeja hitam?" Sahut seorang temannya lagi.
"Oh... itu dokter Leon kan, Dokter jantung di Rumah sakit Bakti Husada." sambung seorang lagi.
" Enggak kenal sih, cuma aku sering lihat waktu Papa aku masuk Rumah sakit kemarin itu. Aku denger sih katanya udah merid dia."
Aku tersenyum puas mendengar pernyataan wanita itu, ya setidaknya mereka tahu lagi menggosipkan suami orang. Di depan istrinya lagi. Dasar...
"Ih sayang banget sih, kenapa gak sama aku saja sih."
Eh ya ampun, aku tersenyum masam mendengar perkataannya itu, gak salah sama dia? Cantik sih memang, tapi ganjen banget sih.
"Tapi penasaran sih, seperti apa istri dia? Secara Dokter muda, ganteng keren, blasteran lagi."
Bagaimana jika mereka tahu kalau wanitanya itu seperti aku, mungkin bakalan pingsan, atau gak, aku bisa aja kenak sumpah serapah biar cerai sama mas Leon. Haduhhhh, aku menepuk jidatku dan menggelengkan kepalaku.
Ampun dah mereka gosipin suami aku tapi aku cuma bisa dengarin doang.
"Mungkin cewek yang pake drees merah itu, aku lihat dari tadi dia di samping nya terus deh."
Eh yang di maksud itu Riany kah?
"Iya sih, lagian dia cantik dan sexi gitu, seperti model. Jelas saja kalau Dokter itu bisa jatuh cinta sama dia."
Memang yang seperti aku ini gak cocok ya sama mas Leon. Aku segera membereskan tasku dan pergi meninggalkan toilet itu, kesel denger mereka ngira mas Leon itu suami Riany. Memang sih mas Leon dan Riany itu di lihat serasi banget, banyak juga yang ngira kalok Riany itu istri mas Leon.
Apalah dayaku ini yang gadis biasa dan tidak berpenampilan mewah.
"Kamu dari mana?" suara mas Leon hampir membuat jantungku copot.
"Dari toilet, Mas."
"Oh yaudah yuk, acaranya mau mulai."
"Mas memang ini acara apa sih?"
"Kan udah aku kasih tau ini acara amal." Terang mas Leon sambil menggandeng tanganku.
"Acara amal kok gini sih? biasanya acara amal itu bagi-bagi ke panti asuhan atau anak yatim gitu."
Mas Leon tertawa dan mencubit pipi cabiku.
"Lucu banget sih kamu."
"Apa sih mas?" aku mengelus pipiku yang sakit karena cubitannya itu.
"Ini acara amal beberapa Rumah Sakit dan perusahaan, disini akan ada pelelangan barang-barang dan uangnya akan di sumbangkan untuk amal." terang mas Leon.
"Oh... tapi aku gak nyaman mas, aku pingin pulang." jawabku polos.
Mas Leon hanya menatapku dingin, entah aku tidak tau bagaimana menebak ekspresinya yang seperti itu.
__ADS_1
"Yaudah yuk." ajak nya.
"Aku pulang sendiri aja, mas disini aja. Ini kan acara Rumah sakit mas, gak enak kan kalok mas pulang."
Mas Leon menghela nafas panjang dan menggenggam kedua tanganku.
"Kalau kamu gak nyaman, aku juga gak nyaman, Sayang. Aku cuma mau berada di mana tempat kamu juga berada."
Lagi, mas Leon membuat semua rasa kesalku menghilang hanya dengan kata-kata dan sentuhannya itu. Sihir yang seperti apa yang digunakan mas Leon, aku pun tidak tahu.
Demi mas Leon aku memutuskan untuk tetap berada disini. Mas Leon telah membelikan aku dress dan kalung hanya untuk acara ini, pasti dia akan kecewa kalau aku bersikap egois seperti tadi.
Aku juga akan berusaha mengimbangi kamu mas Leon. Walau aku gak suka dengan tempat ini, Aku juga gak suka dengan orang-orang yang menceritakan kamu di belakang. Tapi aku juga gak bisa tidak memikirkan posisi kamu, kamu telah banyak berkorban untukku, masak aku tidak bisa berkorban sedikit untukmu.
Pagi. Kulihat ponselku masuk beberapa pesanan, dan satu pesanan yang lumayan banyak. Tapi dia meminta aku sendiri yang mengantarnya. Kulihat alamat yang tertera berada di sekitaran rumah Ibu. Ku pikir ya gak masalah lah sekalian aku main tempat Ibu.
Ku palingkan wajahku saat mendengar suara geseran kursi dari meja makan. Mas Leon duduk dengan pakaian yang sudah rapi.
"Mas, aku belum siap, tunggu sebentar ya."
"Iya, santai aja." jawab mas Leon ringan.
Bergegas aku menyiapka sarapan, dan sedikit kewalahan karena aku membuat cake bersamaan.
Ting... suara mikrowave berbunyi. Ku keluarkan loyang hanya dengan sebuah kain, repot ku pikir jika harus memakai sarung tangan.
Karena terburu-buru aku mengeluarkannya, sedikit loyang mengenai kulit telapak tanganku.
Segera ku letakan ke pantry sambil mengibas-ngibas tanganku yang merah karena terbakar.
"Kamu gak papa? kok gak hati-hati sih?" Mas Leon mendekat saat melihat aku mengibas-ngibaskan tanganku.
"Ini, cuma terbakar sedikit kok mas." jawabku membela.
Dia melihat telapak tanganku, dan memeriksanya. Di oleskan salep luka bakar dan melanjutkan pekerjaanku.
"Mas, biar aku saja." ku geser badan besarnya yang berdiri di depan kompor.
Dia bergeser sedikit dan melipat kedua tangannya, kemudian meletakkannya di depan dada. Di tatapnya lekat-lekat wajahku yang sedang memasak. Karena grogi, terus dilihati oleh mas Leon, wajahku jadi merona merah, tanpa sengaja aku menjatuhkan sendok kayu masak ku.
"Hati-hati kalau bekerja." mas Leon mengambil sendok kayu itu.
"Mas sih, ngapain sih ganggu aku masak?"
"Siapa yang ganggu? aku cuma berdiri disini. Bahkan bergerak juga enggak."
"Ih..." aku mendorong badan besar mas Leon keluar dari daerah kekuasaanku.
"Diam disana." ku tunjuk salah satu kursi di meja makan.
Tanpa banyak berpikir dia berjalan dan duduk disana, seperti anak kecil yang dimarahi Ibunya, aku tersenyum melihatnya.
Segera ku sajikan sarapan saat semua hidangan sudah siap. Ku lihat mas Leon mulai melahapnya dengan cepat.
"Kamu gak makan?" saat dia melihat aku yang masih berdiri di depan meja makan.
"Nanti saja mas, aku lagi buat kue."
"Aku lihat kamu kecapek an, berhenti saja sebentar, jangan terlalu lelah."
"Baru juga mulai mas, udah di suruh berhenti aja." aku mengerucutkan bibirku.
"Baiklah, jangan cemberut. Suka hati kamu saja." jawabnya mengalah.
"Mas, aku izin keluar ya."
"Mau tempat Ibu?" tanyanya santai.
"Iya, sekalian antar pesanan juga."
"Kok tumben kamu mau ngantar pesanan?" dia menaiki sebelah alisnya.
"Iya, ada pesanan yang lumayan banyak. Aku bilang di antar pake ojol aja dia gak mau. Di bilang dia mau langsung kasih tau kalau ada rasa yang gak enak."
"Oh." jawabnya cuek.
"Atau gak mas yang antar aja boleh?"
"Boleh, kamu yang bedah jantung ya di Rumah sakit."
Aku tersenyum kecut dan menggelengkan kepalaku.
"Makasih, tapi aku gak minat sama tawaran mas." aku berlalu meninggalkan mas Leon.
Dia hanya menggeleng dan melanjutkan makan nya lagi. Setelah sarapan dia mencium dahiku dan berangkat kerja. Aku segera bergegas menyiapkan pesanan. Kutinggalkan piring-piring kotor itu di atas wastafel.
Karena orangnya minta di antar sebelum siang, jadi aku sedikit terburu-buru.
Ku jejaki taman di dekat area rumah Ibu, karena dia ingin bertemu disini. Ku letakan bokongku di bangku taman pinggir jalan. Aku men share lokasi tempat aku duduk. Ku letakan enam buah kotak cake itu di kursi bangku taman.
Setelah lima belas menit orang itu belum juga muncul, berulang kali aku mencoba menghubungi namun tidak di jawab.
Aku terburu-buru kesini, tapi kalau begini lebih baik aku suruh antar ojol aja deh.
"Maaf ya, aku terlambat mbak." suara seseorang dari belakang kursiku.
Aku tersenyum sumringah dan segera membalikan badanku.
"Iya, gak apa-apa." mataku terbelalak lebar saat melihat lelaki yang berada di belakang aku itu.
__ADS_1
"Randy."