Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 36


__ADS_3

Shima mencoba menelpon Shine beberapa kali, namun Shine tidak juga menjawabnya.


Aku mengambil ponselku dan ku coba untuk menghubungi Riany. Namun hasil nya sama, tersambung namun tidak di angkat.


"Mbak, aku carik taxi aja ya. Mbak sabar, Tahan ya mbak." Shima melesat dengan cepat keluar dari pintu.


Aku berusaha untuk berjalan, meraba dinding-dinding rumah untuk sebatas menahan beban tubuhku. Aku berjalan keluar dan duduk perlahan di kursi teras rumah.


Ku singkap sedikit ujung dres ku dan ku lihat air ketuban yang semakin banyak mengalir. Aku mencoba untuk tenang dan mengatur nafasku. Sungguh ini sangat menyakitkan.


Setelah lima menit berlalu Shima kembali dan menuntun aku memasuki taxi. Dengat cepat taxi itu melaju, menyusuri jalanan yang lumayan ramai, karena waktu ini adalah waktunya orang kembali dari istirahat makan siang.


Untung lah jarak rumah sakit tidak terlalu jauh dari rumah kami. Suster langsung membawaku ke UGD. Mereka memasang selang infus dan beberapa alat medis lain nya. Riany datang dan melihatku tersenyum getir.


Dia mengecek keadaanku dan ku lihat wajahnya yang mulai tegang.


Aku tahu, pasti ini tidak baik-baik saja. Entah apa saja yang di lakukan Riany, dia sibuk mondar mandir kesana kesini. Berbicara pada para suster dan asisten nya. Perlahan sakit yang ku rasakan mulai mereda. Kontraksi ini masih mirip dengan yang sebelumnya, sakit sekali untuk beberapa waktu, lalu mereda dan hilang.


Riany melihat ke arahku dan dia menggelengkan kepalanya. Dia melihat beberapa dokumen yang di berikan asistennya dan wajahnya mulai mengeluarkan peluh keringat.


"Shena, apa perutmu masih sakit?" tanya nya.


Aku menggeleng kan kepalaku, terdengar helaan nafas dari Riany yang terdengar sedikit berat.


"Posisi kepala bayimu sudah memasuki jalan rahim, ketuban kamu juga sudah pecah. Kamu sepertinya akan melahirkan lebih cepat."


Mataku terasa mulai mengembun, ada cairan yang memenuhi pandanganku, namun dia belum menetes.


Kandunganku baru berumur tujuh bulan. Anak ku masih terlalu muda, kenapa dia cepat-cepat ingin keluar.


Nak, kenapa kamu gak sabar nunggu ayah kamu? dia udah janji bakalan temeni mama lahiran, Nak. Maafkan mama ya nak, mama gak bisa menjaga kamu dengan baik. Mama terus mengancam keselamatan kamu.


Aku mengelus perutku dan ku teteskan genangan air yang dari tadi menutupi pandanganku.


Mas, anak mu saja tidak betah menunggumu. Kenapa sampai sekarang kamu belum kembali.


Aku harus melahirkan mas, kembali lah.


Aku mohon.


"Shena, jangan khawatir. Jangan stres lagi, aku mohon."


Aku menghapus kedua mataku dan mencoba fokus pada bayiku.


"Shena, kalau kontraksi nya berhenti kamu harus bilang aku ya, kamu masih kuat kan?"


"Iya." jawabku pasrah.


Aku harus kuat, demi anakku. Entah apa yang di masukan Riany kedalam selang infusku. tapi sesaat setelah dia memasukan cairan itu, terjadi kontraksi yang lebih menyakitkan dari tadi.


Aku menahan nya sampai dadaku terasa sangat sesak. Ku remas-remas sprai tempat tidur rumah sakit itu.


"Kalau kamu sudah gak tahan kita Secar. Tapi jika kamu tahan, kamu bisa melahirkan normal. Karena posisi bayi kamu sudah di jalan Rahim."


"Aku kuat Ri."


Aku menggigit ujung bibirku, sesekali air mata menetes dari sudut mataku. Peluh keringat sudah mulai membanjiri seluruh tubuhku. Sakitnya seperti putus seluruh sarafku.


"Atur nafas ya, Shena." arahan dari Riany.


Aku mencoba mengatur nafasku, namun sakit ini masih terus berkelanjutan. Gelisah, aku sangat gelisah dengan keadaan ini. Seharusnya kamu disini mas, di sampingku.


Memberi semangat dan menguatkan aku.


Seharusnya kamu disini mas, seharusnya kamu yang menghapus peluh keringat yang mengucur dari dahiku.


Setelah menghabiskan waktu yang menyakitkan itu selama hampir enam jam. Aku berhasil mengeluarkan benih yang di tinggalkan mas Leon itu.


Ukuran nya masih sangat kecil, kulitnya yang begitu memerah.


Aku menangis sejadi-jadinya. Ku lihat dia yang menangis saja masih begitu susah.


Ku lihat wajahnya yang masih berukuran setelapak tangan.


Tangan kecilnya yang terlihat kedinginan.


Kasian kamu nak, seharusnya kamu masih merasakan hangat di dalam rahim mama.

__ADS_1


Tapi karena mama tidak bisa menjaga kamu, kamu harus hadir di dunia ini lebih cepat.


Kemudian asisten Riany membawanya pergi. Sementara Riany masih mengurus aku.


Setelah dua jam berlalu, aku di pindahkan dari UGD ke ruang rawat inap.


Aku lihat Ibu dan Bapak yang menangis menyambutku.


"Shena, kamu baik, nak?" tanya Bapak cemas.


"Aku baik pak, lihat aku sudah bisa tersenyum." aku tersenyum lebar.


"Permisi." Riany memasuki kamarku dengan seorang suster.


"Shena, anak kamu untuk sementara harus menginap di inkubator dulu ya. Dia terlahir prematur, ukuran badanya tidak sesuai, berat badan dia juga tidak mencukupi."


Seperti tak cukup dengan luka yang aku alami, sekarang harus di tambah lagi. Ya Allah, bagaimana aku harus melewati ini semua?


Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, aku menangis sejadi-jadinya. Aku sendiri melewati kehamilanku. Aku sendiri berjuang melahirkan bayiku, aku juga sendiri melewati masa nifas ini.


Mas, bisakah kamu merasakan? aku butuh kamu disini, aku butuh dukunganmu mas.


Anak kita juga butuh kamu, ku mohon kembali sekarang mas.


"Shena, jangan terlalu sedih. Aku khawatir kamu akan mengalami baby blues jika terlalu stres. Apa kamu ingin melihat bayi kamu? ayo kita pergi."


Aku menyeka kedua air mataku, suster membantuku untuk menaiki kursi roda. Kami berjalan menuju ruangan sterilisasi bayi. Ku lihat bayiku dari balik dinding kaca ruangan ini.


Aku bisa melihatmu nak, tapi aku tidak bisa menyentuhmu. Dadamu yang sudah naik turun karena hembusan nafasmu, aku bisa melihatmu tapi tidak bisa merasakanmu. Kenapa kamu begitu kecil nak?


Ku lihat jemarinya yang mengepal, bibirnya yang sesekali terlihat mengemut.


Aku tersenyum namun air mataku tidak bisa berhenti. Andai kamu disini mas, kamu akan memeluk aku dan anak kita. Anak kita tidak akan kedinginan sendiri disana. Karena ada kamu yang selalu menemaninya. Berulang kali aku memanggilmu untuk pulang mas.


Ku mohon pulang lah, adzani telinga buah hati kita.


"Shena, kamu bisa menyusui dia jika ASI kamu sudah mulai terisi. Karena itu jangan buat diri kamu stres."


Aku masih terus memandangnya dari kaca jendela itu. Ingin sekali aku menyentuhnya. Aku hanya melihatnya sekali tadi, aku ingin menyentuh bayiku, aku takut dia hilang dariku.


"Iya, tapi besok pagi ya. Ini sudah malam, kita akan kembali besok pagi ya."


"Tapi aku mau sekarang Ri, bagaimana ... Bagaimana jika dia hilang, bagaimana jika dia tidak kembali?" kembali tangisanku pecah, kututupi wajahku dengan kedua tanganku.


Mungkin aku sudah gila, ada rasa takut yang tidak bisa ku bendung lagi, timbul rasa curiga pada semua orang. Aku takut jika ada orang yang merampas bayiku. Seperti keadaan yang merampas mas Leon dariku.


"Shena, tenang ya. Tidak ada yang mangambil bayimu. Aku janji akan menjaga bayimu, aku sendiri yang akan menjaganya. Aku janji ya."


Riany berlutut di hadapanku, dia membuka kedua tanganku yang menutupi muka. Disekanya buliran air mataku, dia memelukku sangat erat.


Seperti ada energi yang mengalir ketubuhku, dia memberi kekuatan padaku.


Riany juga lelah, tapi dia berusaha untuk memberikan energinya buat aku.


"Kita kembali ke kamar ya, kamu istirahat ya." bujuknya lembut.


Aku mengangguk dan dia kembali mendorong badanku kembali ke kamar. Aku memejamkan mata lelahku dan kemudian kesadaranku pun menghilang.


***


Empat hari aku menginap disini dan akhirnya aku di perbolehkan pulang. Tapi bayiku masih harus menginap disini. Daya tahannya belum sempurna, Riany masih belum mengizinkan aku membawanya.


Akupun bolak balik ke Rumah sakit saat pagi dan sore untuk memberikan ASI ke bayiku.


Ku tatap wajahnya yang mulai memerah muda, pipinya yang semakin tembem, dan panjangnya yang sedikit bertambah.


Gadis kecilku ini, dia terlihat sangat mirip ayahnya, hampir 85 persen mengikuti bentuk lekuk wajah mas Leon.


Apa kabar ayah kamu disana ya nak?


Seharusnya dua minggu lagi dia pulang, dia pasti akan terkejut saat melihat kamu yang sudah keluar sayang.


Ada semangat tersendiri bagiku saat mengingat mas Leon yang akan kembali kesisiku. Tidak sabar rasanya ingin cepat-cepat waktu berlalu dan dia akan terkejut melihat anaknya.


Aku menjalani masa nifas ini sendiri, Ibu dan adik kembarku memang membantu, tapi aku juga butuh sosok mas Leon disini. Lelah sekali rasanya harus mengurus ini semua sendiri.


Aku harus kerumah sakit setiap hari, sedangkan masa nifasku belum berakhir. Akhirnya aku kembali dirawat di rumah sakit selama sepuluh hari.

__ADS_1


Bobot badanku yang terus menurun, kualitas ASI juga menurun pastinya.


Aku kembali kerumahku pasca 25 hari setelah melahirkan. Akhirnya aku bisa pulang bersama bayiku kerumah.


Seharusnya tiga hari lagi ayahmu pulang, tapi ayahmu tidak pernah memberi kabar nak.


Bagaimana jika ayahmu tidak pulang, sayang?


Bagaimana jika ayahmu tidak pernah kembali lagi?


Bayiku menangis dengan sangat keras, dia seperti tau kecemasanku. mungkin dia juga merasakan kegelisahanku. Aku mengelus-elus lembut punggungnya. Berharap dia akan tenang, namun dia semakin menangis keras.


Ibu datang dan mencoba menggendongnya, perlahan tangisannya pun mereda.


Seseorang mengetuk pintu rumahku dan aku bergegas untuk membukanya.


Kulihat Riany berdiri di hadapanku.


"Ri, tumben kesini? ayo masuk." ajak ku, ramah.


"Tidak usah, aku hanya sebentar, kok. Bagaimana keadaanmu?."


"Aku, baik. Alhamdulillah."


"Syukurlah, aku kesini mau antar ini." Riany menyerahkan sebuah undangan berwarna gold.


Aku mengambil dan ku lihat namanya.


"Andra?" tanyaku heran.


Dia mengangguk dan tersipu malu, selama ini aku pikir dia menyukai suamiku. Tapi dia mungkin tidak pernah berpikir seperti itu.


Hanya aku saja yang terlalu suudzon padanya. Dia sangat baik padaku selama ini, dia sabar menghadapi sikapku yang terkadang seperti orang stres.


Aku jadi merasa bersalah padanya.


"Selama aku cuti, kamu bisa hubungi asisten aku. Jaga dirimu baik-baik ya. Jangan terlalu stres dan sedih."


"Iya." jawabku pasrah.


"Yasudah aku pamit dulu ya." dia mencium kedua pipiku sebelum pergi.


"Riany." panggilku saat dia membalikan badannya.


"Hem"


"Aku minta maaf ya." ucapku bersalah.


"Hem, buat apa?" tanyanya binggung.


"Maaf, dulu aku selalu berburuk sangka padamu, aku pikir kamu dan mas Leon dulu..."


"Pacaran?" ucap Riany memutuskan kelimatku, tawanya meledak mendengar ucapanku.


"Shena, aku, Leon dan Andra itu satu kampus dulu. Tapi aku lebih deket ke Leon karena rasa suka ku ke Andra buat aku canggung."


Jadi mas Leon dulu pernah bilang Riany ada pria idamannya sendiri itu benar. Aku tidak pernah percaya, bahkan sampai saat terakhir mas Leon pergi, aku masih saja curiga sama mereka.


"Yasudah, aku pamit ya."


Aku mengangguk dan Riany berlalu meninggalkanku. Ku pandangi undangan mewah berwarna emas itu. Terbayang perkataanku pada mas Leon dulu.


"Semoga saja aku tidak menjadi janda saat Riany menikah."


Sekarang perkataanku menjadi kenyataan. Padahal saat itu aku hanya cemas akan kehilanganmu, Mas. Tapi sekarang aku benar-benar kehilanganmu Mas.


Mas apa kamu tega membiarkan aku menyandang gelar itu mas?


Gelar yang sangat di takuti para istri.


Kemana kamu mas?


Ya Allah beri aku petunjuk tentang suamiku.


Apakah dia masih hidup atau sudah tiada?


Berikan aku petunjukmu, dan juga kekuatanmu. Agar aku mampu berdiri sendiri, jika memang mas Leon tidak akan pernah kembali.

__ADS_1


__ADS_2