Hitam Biru

Hitam Biru
Epidode 43


__ADS_3

Seharian pikiranku terus bercabang, kenapa mas Leon malah jadi memarahi aku.


Aku hanya berusaha untuk menjadi Ibu dan istri yang baik untuk mereka. Karena aku sangat menyanyangi mereka. Tak ku hiraukan jika lelah dan juga letih.


Tapi kenapa mas Leon malah seperti ini?


Aku hanya tak tega jika harus melibatkan mas Leon yang sudah seharian bekerja, masih harus membantu aku mengurusi rumah.


"Mama." panggil Kyra sambil menarik ujung bajuku.


"Ada apa, Sayang?"


"Sakit, Ma." rintihnya sambil menyipitkan matanya.


"Apanya yang sakit, Nak?" tanyaku sedikit cemas.


"Sakit, Ma." kembali ia merintih.


"Bilang sama Mama apa yang sakit, Kyra. Jangan buat Mama cemas." aku berjongkok di depan Kyra.


Mencoba untuk mengecek seluruh badan Kyra. Takut jika ada sesuatu yang melukainya.


"Apanya yang sakit, Sayang?" kutanya sekali lagi setelah melihat tak ada satupun luka luar di tubuh mungil Kyra.


"Sakit, Ma." rintihnya sambil memegangi perutnya.


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Ku ambil gawaiku dan mencoba untuk menghubungi mas Leon. Setelah beberapa kali tersambung namun tidak kunjung di angkat.


"Mama." teriak Kyra sambil menangis kencang.


"Ya Tuhan, Nak. Sabar ya, Mama siapin Sera kita ke rumah sakit."


Aku berlari masuk ke dalam kamar, ku gendong Sera yang masih tertidur pulas. Sedikit kebingungan, kalau aku gendong Sera terus Kyra bagaimana?


Ku turunkan Sera dan berlari menarik Kyra, ku masukan badan Kyra dengan cepat ke gendongan depan. Ku angkat Sera dan menggendongnya di samping.


Dengan sigap aku berlari keluar rumah, lima menit, sepuluh menit. Tak kunjung ada taksi yang lewat.


Semakin kencang tangisan Kyra, semakin membuat aku kelimpungan tak menentu.


"Sabar sayang, Mama lagi usaha." ucapku menenangkan.


Tak sanggup mendengarkan tangisan Kyra, aku berlari menembus tengah hari siang. Mencari taksi kejalan raya. Namun setelah langkahku sampai di jalan raya tak ada juga taksi kosong yang melintas.


Ditambah tangisan Sera yang ikut rewel karena Kyra yang terus menangis. Ku pegang dahiku yang ikut cenutan mendengar tangisan kedua putriku ini, di tambah terik sinar mentari yang menyengat kulit kepalaku.


Ingin ikut nangis bersama rasanya. Ku keluarkan gawaiku dan kembali menelpon mas Leon. Namun sayang, masih juga tak di angkat.


Dengan sedikit berlari aku melintasi trotoar jalan raya. Karena rasa panik aku tak mampu lagi berpikir harus berbuat apa.


Tujuanku hanya ingin sampai rumah sakit secepatnya. Ku kuatkan langkah kakiku saat matahari terus menyengat kulit kepalaku.


Aku harus sanggup membawa Kyra sampai rumah sakit secepatnya.


"Sabar Sayang. Mama gak akan biarin kamu kenapa-kenapa." ku usap lembut dahi Kyra yang ikut berkeringat karena sengatan matahari siang.


Tak tega, namun aku harus bagaimana?


Aku langsung berlari memasuki UGD saat berada di rumah sakit tempat mas Leon bekerja. Ku lihat Sera yang sama keringatan sepertiku.


Ku buang bokongku di kursi penunggu, sekedar melepas lelah dan juga menetralisir sakit kepalaku yang kian berat mendera.

__ADS_1


Perlahan langit-langit rumah sakit mulai menghitam dalam pandanganku. Seketika pandanganku berubah gelap seluruhnya.


Ku buka mataku perlahan, sedikit pusing, ku pegang sudut dahiku yang terasa nyeri.


"Dokter, istri Dokter sudah siuman." ku dengar suara lembut seorang wanita.


"Sayang, apa yang terjadi?" tanya mas Leon mengusap dahiku lembut.


"Kyra, Sera, mana Mas?" ucapku sedikit cemas, aku sadar sebelum pingsan sedang menggendong Sera.


"Kyra di bangsal anak. Sementara Sera Mas titipkan sama Ibu."


Aku bangkit seketika, bagaimana keadaan Kyra. Aku belum melihatnya.


"Shena, mau kemana?" tanya mas Leon menahan tubuhku.


"Kyra baik-baik saja saat ini. Maaf, Mas gak lihat ponsel tadi."


"Kyra kenapa Mas? dia bilang perutnya sakit sama aku tadi."


"Kyra baik-baik saja, dia cuma sakit perut karena susah BAB."


"Ya ampun, Mas. Aku lupa kapan Kyra buang air terakhir kali." ucapku sambil meraih sudut dahiku.


"Maafin Mas ya Sayang. Seharusnya Mas ngerti kelelahan kamu. Maafin ucapan Mas tadi pagi." ucap mas Leon sendu, mengelus dahiku lembut.


"Aku juga minta maaf ya, Mas. Aku juga gak bisa ngontrol emosi belakangan ini." jawabku sambil meraih jemari mas Leon dan menggenggamnya erat.


"Mas carikan asisten rumah tangga buat bantuin kamu kerja dirumah ya."


"Aku masih sanggup kok Mas. Lagian kita juga harus nabung buat Sera dan Kyra kan."


"Iya, Suamiku Sayang." jawabku lembut.


"Kamu rawat inap ya, biar tenaga kamu pulih."


"Emh, gak mau. Sayang Sera kalau harus di titipin ke Ibu."


"Kamu juga butuh waktu buat istirahat Sayang. Suhu kamu meninggi, Mas takut kamu kenapa-kenapa."


"Aku baik-baik saja, Mas." ucapku sambil tersenyum sendu.


"Inap ya." bujuk mas Leon kembali.


"Gak mau Mas. Nanti siapa yang bakalan urusin rumah, terus ASI Sera gimana? yang jaga Kyra siapa?"


"Shena, Nurut kata Mas kenapa? kamu juga harus sehat demi Mas, demi anak-anak kita. Mas gak bisa lihat kamu terus paksain diri seperti ini."


Ku miringkan badanku dan ku peluk pinggang mas Leon yang sedang duduk di bibir ranjang.


"Aku begini saja sudah sehat kok Mas." ucapku membenamkan wajahku di pinggang mas Leon.


Ku rasakan tangan Mas Leon membelai lembut rambutku. Mas Leon menghela nafasnya berat.


"Mas gak akan luluh sama rayuan kamu, apapun yang kamu katakan. Kamu akan tetap inap."


Dengan cepat aku bangkit dan terduduk.


"Mas kok gitu sih?"


"Kamu kok gitu sih?"

__ADS_1


"Aish, Mas." ucapku manja.


Jemari mas Leon lembut membelai rambutku, menarik kepalaku perlahan dan mendaratkan ciuman di dahiku.


"Mas sayang sekali sama kamu, Shena. Mas gak bisa lihat kamu yang terus-terusan memaksakan diri akhir-akhir ini. Sedikitpun kamu gak mau Mas bantu, Mas juga punya tanggung jawab buat jagain anak-anak kan, Sayang."


"Ck, aku cuma berusaha buat jadi istri yang baik buat kamu Mas. Jadi Ibu yang baik buat anak-anak kita. Mas sudah lelah bekerja. Jadi gak mungkin aku bebankan lagi dirumah."


Mas Leon tersenyum simpul dan meraih kedua jemariku.


"Hey, Shena. Kita punya tanggung jawab sama-sama untuk membesarkan anak-anak. Sedikit membantu kamu tak akan membuat Mas kelelahan, malah Mas lebih lelah saat lihat kamu dan Kyra seperti ini."


Ku lingkari pinggang mas Leon, mendaratkan kepalaku di dada bidangnya. Memang lelah sekali rasanya, tapi aku juga tak akan menyerah, aku sanggup dan aku akan berusaha kuat.


"Mas aku hanya ingin menjadi yang terbaik buat kamu dan anak-anak kita. Aku takut kalian gak bahagia, Mas."


"Kebahagiaan itu kita yang buat, kamu pikir Mas akan bahagia lihat kamu memaksakan diri seperti ini? sama sekali tidak Shena. Minta bantuan Mas, Mas akan lebih bahagia jika bisa bekerja bersama denganmu dirumah."


Bagaimana aku tega meminta bantuan kamu Mas? aku tahu pekerjaanmu juga bukan mudah, banyak menghabiskan tenaga dan juga pikiran.


"Kamu dengar apa kata Mas, Sayang?"


"Hem." jawabku cuek.


"Mas tahu, kamu pasti tak akan mau minta bantuan setelah apa yang Mas katakan tadi."


"Mas, Mas gak perlu bantu aku, aku kuat kok."


"Mas tahu kamu wanita yang tangguh Shena. Tapi Mas juga bukan lelaki yang lemah. Ingat kamu itu tulang rusuk Mas."


Ku dongakan kepalaku, ku tatap wajah mas Leon yang memancarkan aura sedih.


Saat mas Leon memalingkan pandangannya kearahku, aku hanya menyengir kuda.


Mas Leon menarik ujung hidungku, lalu mengusap wajahku lembut.


"Dasar, kamu ini susah banget di bilangin." ucap Mas Leon tersenyum manis.


"Tempat Kyra yuk, Mas."


"Gak ah, Mas lebih suka disini, berdua sama kamu." ucap mas Leon sambil memeluk badanku erat.


"Mas, ini bangsal loh, nanti kalau ada suster yang masuk gimana?" tanyaku meleraikan pelukan mas Leon.


"Gak akan ada yang masuk, mereka tahu Mas lagi mau berduaan." jawab mas Leon menarik pinggangku menempel erat padanya.


"Mas kangen kamu, Sayang." sambung mas Leon lembut.


"Kalau gitu bawa aku pulang malam ini, Mas."


"Hem, jangan gunakan trik untuk menipu Mas, Shena. Kalau mas ijini pulang, kamu akan sibuk sama Sera dan juga Kyra."


"Yah, siapa suruh Mas gak sabaran pingin nambah pasukan."


"Pintar kamu, salahi Mas terus." ucap mas Leon sambil mentoel ujung hidungku.


"Shena." panggil mas Leon lembut.


"Hem."


"Mas akan selalu mencintai kamu, Sayang." ucap mas Leon lembut, ia menarik wajahku mendekat. Mencium bibirku dengan hangat.

__ADS_1


__ADS_2