Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 14


__ADS_3

Kembali aku memeluk dada mas Leon. Mas Leon hanya menghela nafas panjang. Entahlah begitu sulit aku mengungkapkannya, aku takut jika mas Leon menjatuhkan talak padaku.


Walau Bapak percaya mas Leon gak mungkin seceroboh itu, tapi aku takut jika mas Leon kehilangan kendali atas dirinya.


"Baiklah, jangan ceritakan jika itu terlalu berat, aku tidak akan memaksamu. Yang penting jangan nangis lagi." ucapnya sambil mengelus ujung kepalaku.


Aku mengangguk dan menyeka kedua mataku. Tapi menghentikan tangisan yang dari siang tadi membuat nafasku sedikit tergugu karena tangisanku.


Di elusnya pipi cabiku dengan menggunakan satu jarinya, terlihat senyum mas Leon yang sangat sendu.


"Shena, jangan menangis terus, lihat matamu membengkak." ucapnya lembut.


"Mas, apa yang kamu lakukan jika kamu kecewa pada seseorang mas?" tanyaku untuk memastikan sikapnya setelah kejujuran atas sikap bodohku.


"Entah lah, Shena. Aku gak tau." jawabnya asal.


Kembali rasa takut menguasai pikiranku. Kali ini aku menangis tergugu karena semakin takut.


Dengan cepat mas Leon manarik daguku dan mencium bibirku. Seketika mataku membelalak lebar saat tersadar atas perbuatan ekstrimnya itu.


Kulihat wajahnya sangat dekat, bahkan nafasnya terasa sangat hangat menyentuh pipiku. Mata sayunya terpejam, namun debaran jantungnya terasa sangat kencang menendang telapak tanganku yang berada di atasnya.


Setelah beberapa menit dia meleraikannya, di tinggalkan aku dengan segala kebingungan yang membuat aku terbengong. Dia memasuki kamar seperti tidak terjadi apa-apa. Aku yang bingung mengintilinya dari belakang.


"Mas..." ucapku saat ku sentuh bahunya dari belakang.


Dia menoleh kearahku dan tersenyum sendu. Di tariknya pinggangku agar menempel pada perutnya.


"Syukurlah tangisanmu berhenti, Shena." ucapnya sambil memelukku.


Iya jelas berhentilah, dia melakukan adegan dewasa namun meninggalkan aku tanpa berdosa.


"Aku kebingungan melihatmu menangis. Kamu juga gak sanggup cerita, jadi aku mencoba hal lain untuk menghentikan tangisanmu."


"Kenapa mas, kenapa kamu lakukan itu?" tanyaku dengan penuh keheranan.


"Maaf ya kalau kamu gak nyaman." ucapnya bersalah.


"Bukan ciuman itu yang aku maksud mas. Kenapa, kenapa kamu lakukan itu semua untukku. Bukankah aku orang asing bagimu."


"Kenapa? apa aku orang asing bagimu?" dia kembali bertanya, membuat aku bingung harus menjawab apa.


"Awalnya, mas. Tapi sekarang tidak." jelasku.


Namun seperti tidak puas dengan ucapanku, dia hanya tersenyum simpul. Merapikan rambutku, dan menyingkapkan rambutku di sebalik telinga.


"Kamu tidak akan menanyakan nya, jika kamu tidak menganggap aku asing."


Deg... Aku salah ngomong. Apa maksud dia mengatakan itu, apakah aku telah menyakiti dia tanpa aku sadari. Ya ampun, kenapa dia begitu banyak menyimpan teka taki.


"Sudah makan?" tanyanya mengakhiri pertanyaan di dalam pikiranku.


Aku hanya menggelengkan kepalaku.


Dia kembali tersenyum dan meleraikan pelukannya.


"Siap-siap, kita makan di luar. Yuk." ucapnya sambil membuka lemari dan mengambil handuk dan membawa kaosnya itu.


Tanpa membuang waktu dia berlalu ke kamar mandi. Aku mencuci wajahku di kamar mandi dekat dapur dan menyisir rambutku. Mengganti pakaianku dan memakai bedak tipis.


Aku menunggu mas Leon di ruang tivi. Aku masih bingung harus bagaimana, haruskah aku mengatakan kejadian yang aku lewati hari ini atau menyimpannya sebagai racun dalam diriku.


"Shena." panggil mas Leon lembut.


Kulihat dia sudah rapi dengan kemeja liris-liris berwarna abu-abu tua. Dengan lengan yang di gulung dan rambut yang agak berantakan.


Keren, dan juga tampan, sangat tampan malah.


Apa aku ini gila, melupakan lelaki yang di hadapanku ini dan malah mengenang kisah masa laluku yang sudah berakhir itu.


Dimana? aku tidak akan bisa melihat celah kekurangan mas Leon.


Aku bodoh, memang bodoh. Membiarkan Randy menyentuhku namun menolak setiap kali mas Leon ingin menyentuhku.


Aku harus bisa mengatakannya, mas Leon harus tau.


"Shen, kok bengong lagi sih?" tanyanya kali ini dia sudah duduk di sampingku.

__ADS_1


"Iya maaf, Mas."


Mas Leon beranjak, berjalan keluar dan aku mengikutinya dari belakang. Sepanjang perjalanan mencari makan malam aku hanya memikirkan cara untuk menyampaikan pesan racun ini.


Sedikit kesalahan maka hancurlah segalanya. Ku perhatikan wajah mas Leon yang sedang fokus menyetir, sesekali ia merapikan rambutnya yang jatuh di depan mata kirinya. Kenapa?


Muncul lagi pertanyaan itu dalam pikiranku.


Kenapa harus aku yang dipilih mas Leon?


Jelas sekali di acara amal kemarin banyak perempuan yang jauh lebih apapun dariku.


Kenapa, lagi lagi kenapa aku?


Ku rapikan rambut mas Leon yang kembali jatuh menutupi mata kirinya. Kulihat dia yang menatapku dengan ujung matanya.


"Rambutku udah panjang ya, padahal belum lama pangkas." ucapnya memecah keheningan susana di dalam mobil itu.


"Gitu saja, jangan di pangkas lagi mas. Aku suka rambutmu itu."


Ku lihat wajah mas Leon mulai bersemu merah, seperti ingin tersenyum namun ia menahannya.


Aku tersenyum melihat ekspresinya itu, oh ya ampun sungguh manisnya dirimu mas.


Tapi kenapa aku belum bisa jatuh cinta padamu mas.


Mas Leon menghentikan ban mobilnya di depan halaman luas rumah makan nusantara. Suasana tenang dan cahaya yang kuning, membuat rumah makan ini terlihat sedikit lebih romantis.


Mas Leon turun dan menggandeng tanganku, kami duduk di dalam bilik yang terbuat dari anyaman bambu itu. Setiap bilik terpisah oleh anyaman bambu namun pembatasnya hanya setinggi pinggang saja. Jadi aku bisa melihat pelanggan lain yang berbeda bilik dengan kami.


Aku memiliki mata yang jeli setelah menikahi mas Leon. Ada beberapa pasang mata yang mencuri-curi pandangan kearah mas Leon. Hanya wanita buta saja yang akan melewatkan pemandangan indah ciptaan sang maha kuasa ini.


Mas Leon punya karismatik yang sangat menarik. Ia akan menarik setiap pandangan para wanita muda. Ia memang banyak menutup mulutnya, namun bibir tipis dengan dagu terbelahnya itu mampu membuat seseorang jatuh dalam pesonanya walau tanpa kata sekalipun.


Ku pandangi wajah itu lekat-lekat, mas Leon yang duduk tepat di hadapanku membuat aku puas memandang wajahnya itu. Mata sayunya itu tertuju pada menu-menu makanan yang ada di genggamannya itu.


Dia sibuk membalik-balik halaman menu makanan itu. Rambutnya kembali jatuh menutupi sebagian matanya.


Huft... kapan aku bisa lepas dari pesona dia itu, Tuhan?


Ku kumpulkan keberanian untuk mengatakan kejadian siang tadi. Sedikit bergetar bibirku saat ingin memanggilnya.


"Hemm..." dia melempar pandangannya kepadaku sesaat, lalu kembali melihat katalog menu yang lumayan tebal itu.


"Bisa aku jelaskan sesuatu mas. Tapi kamu janji harus percaya padaku."


"Iya... aku percaya, Shena." ucapnya tanpa menolehkan pandangannya padaku.


"Aku bertemu... ehm... Randy Mas." ucapku sedikit terbata karna takut.


Kulihat matanya yang melirik tajam kearahku. Seperti ada anak panah yang di layangkannya menancap tajam di hatiku. Ia menembak anak panah itu hanya dengan sekali tatapan saja. Dia menghela nafas berat, lalu menutup katalog menunya.


Ia melambaikan tanganya, lalu seorang waiters datang menghampiri meja kami.


"Aku mau iga bakar, dan tongseng sapi, aku juga minta lemon tea. Eh... green tea aja. Kamu mau apa Shena?" tanya nya yang seakan tidak mendengar perkataanku. Padahal jelas-jelas pandangan matanya menusukku tadi.


Aku dengan cepat membuka daftar menu, namun tidak ada satupun yang membuat aku selera, hatiku bingung dengan sikap mas Leon. Apa masih ada seleraku untuk makan?


"Aku bingung mas, kamu yang pilih aja." jawabku pasrah.


"Yaudah, sama aja deh mbak."


Waiters itu mengangguk dan berlalu meninggalkan kami. Ku lihat wajah mas Leon yang membuang matanya kesana dan kesini. Seperti ingin menghindari tatapan mataku.


"Mas..." ku panggil lagi dia yang seakan cuek.


Dia hanya menaikan alisnya dan menatapku dingin. Kok aku takut ya lihat sikap mas Leon begini. Sikapnya ini menandakan ia yang sedang pura-pura cuek, atau sedang kecewa.


"Aku berani bersumpah mas, aku tidak sengaja menemuinya." ku beranikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya.


Dia hanya menatapku santai lalu kembali membuang pandangannya. Ya ampun, bagaimana aku harus menjelaskannya. Kenapa mas Leon harus begini banget sih. Aku merasa dia sengaja cuekin aku.


"Mas, ku mohon percaya padaku. Aku tidak sengaja menemuinya, aku... Aku..." kulihat mas Leon yang menatap mataku tajam. Sinis sekali, seakan ingin membunuhku dengan tatapannya itu. Cukup dengan tatapan matanya dia mampu membungkam mulutku.


Ku tutup wajahku dengan kedua tanganku. Ku tumpuhkan kedua sikuku di atas meja dan mulai kembali menangis tersedu. Mas Leon menggeser kursinya dan duduk di sebelah kiriku, membentangkan tangan kanannya lalu menarik kepalaku untuk menyandar di bahunya.


Aku masih menutup wajahku, dia hanya diam tanpa kata, bahkan tangannya sama sekali tidak menyentuh kulitku. Semarah itukah dia?

__ADS_1


Biasa ia akan mengelus pucuk kepalaku ataupun mengecup dahiku saat aku menangis terseduh.


Ku buka kedua tanganku, dan ku tatap wajahnya. Dia melirik tajam kearahku, oh ya ampun, aku sudah menebar racun itu. Dan sekarang ia membalasnya dengan hujan anak panah yang di tembakannya tepat di hatiku. Berulang kali tatapan matanya itu menghukum kebodohanku. Kembali ku tutup wajahku dan ku sembunyikan kepalaku di ketiaknya. Tapi mas Leon masih tidak bergeming sedikitpun.


"Bisa, jangan rusak suasana makan malam pertama kita?" ucap mas Leon datar.


Jleeb, ada sesuatu menembus hatiku. Ucapan mas Leon itu apa maksudnya. Ku keluarkan kepalaku dan ku tatap kembali wajahnya dengan mataku yang masih berembun.


Di sekanya kedua mataku dengan sebuah tisu yang tersedia di atas meja itu.


"Aku hanya ingin makan malam romantis, jangan bahas apapun yang bisa merusak suasana malam ini." ucapnya kembali.


Aku membersihkan sisa tangisanku dan ku lihat lagi wajah mas Leon yang datar itu. Sebagian kemejanya sudah basah karena air mataku.


"Maaf..." ucapku menyesal.


Tak lama kemudian waiters datang membawa pesanan kami. Ku lihat selera makan mas Leon yang memburuk. Mungkin karena aku yang salah mencari waktu berbicara.


Kembali rasa bersalah menjalar dalam hatiku.


Sayang kamu mas, dapat istri seperti aku ini. Ku lihat sekeliling aku, masih ada mata yang selalu memperhatikan setiap gerak mas Leon. Ada rasa tak suka melihat kejadian ini. Ku suapi setiap sendok makananku dan kulihat mas Leon yang makan tanpa semangat.


"Mas..." ku panggil dia lembut.


Dia hanya melempar pandangannya padaku. Ku ambil sebuah tisu dan ku lap sudut bibir tipisnya itu. mulai ada semu merah di wajahnya, ku lihat pandangannya yang mulai melunak.


"Ada sisa kotoran di ujung bibirmu." ucapku bohong. Padahal gak ada apa-apa. Bagaimana mungkin ada sisa kotoran dengan cara makan mas Leon yang begitu terlatih sempurna.


Ku lihat lagi ekspresi wajahnya yang tampak malu-malu itu. Sudah membaik kah suasana hatinya itu?


ku potong kecil iga bakar di piringku dan ku colek sedikit dengan sambal terasi.


Ku berikan sendokku kehadapannya. Dia hanya tertegun, memandangku dengan heran. Yah heranlah, makanan kami sama, kenapa juga aku harus meminta dia mencicipi?


Dasar bodoh kamu, Shena!


"Gak mau, mas?" tanyaku sok melas. Karena udah kalah malu juga.


Dengan cepat ia memasukannya kedalam mulut, ku lap lagi ujung bibirnya dan ternyata itu membuatnya keselek.


"Uhuuuk."


"Minum ini, Mas." ucapku sambil mengambil gelas minumku.


Dia meminumnya dengan pandangan mata yang bertanya-tanya. Mungkin dalam hatinya setan apa yang sedang merasuki diriku. Jawabannya setan rasa bersalah mas. Aku bersalah telah merusak suasana malam ini. Aku bersalah sudah membuat suasana hati kamu kacau.


Dia melepaskan peggangan tangannya setelah beberapa kali meneguk minumanku. Matanya masih menatapku lekat.


"Lagi?" aku mengangkat sendokku ke hadapannya.


Dia diam tanpa berkata sepatah katapun, hanya membuka mulutnya lalu memakannya. Aku hanya berusaha menciptakan suasana romantis yang aku rusak tadi. Aku hanya berusaha untuk mengembalikan moody dia.


Selesai makan, mas Leon tidak langsung membawaku pulang, kami singgah di taman tengah kota. Suara pancuran air di tengah taman, dan ada beberapa lampu klap klip yang menghiasi, membuat suasana malam ini semakin romantis.


Aku berjalan di atas keramik pinggiran kolam itu sambil menggenggam tangan mas Leon. Sedangkan mas Leon hanya mengikuti tingkah bocahku dari bawah.


Aku berjalan mengelilingi keramik kolam air pancur itu, dengan gaya yang persis seperti anak TK. Beneran gak sadar umur.


Mas Leon hanya tersenyum dan menggelengkan sesekali kepalanya. Dia mengikuti setiap langkahku sampai aku bosan dan memutuskan untuk duduk di pinggir kolam itu.


Di ikuti mas Leon yang juga ikut duduk.


Dia menumpuhkan kedua sikunya di atas kedua pahanya. Badannya yang tinggi dan proposional itu membuat dia terlihat keren bergaya seperti apapun itu.


Aku meletakan kepalaku di atas bahu kanannya. Memainkan telapak tangannya yang besar itu.


"Dimana?" tanyanya padaku.


"Di taman kota." jawabku masih memainkan telapak tangannya yang di bentangkan itu.


"Dimana ketemu Randy?" ucapnya lagi.


Sontak aku memgehentikan jariku yang sedari tadi menari-nari di atas telapak tangan besarnya itu. Aku mengangkat kepalaku dan ku lihat wajahnya mas Leon. Dia menatapku dengan tatapan dingin.


Bahkan melebihi dinginnya angin yang berhembus malam ini. Seperti ada angin yang membuat hatiku menggigil mendengar pertanyaan mas Leon itu.


Aku pikir dia tidak akan membahasnya lagi. Tapi ternyata dia hanya menunda menanyakannya.

__ADS_1


Ya Tuhan, haruskah aku berkata yang sebenarnya?


Bagaimana aku mampu jujur padanya?


__ADS_2