Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 37


__ADS_3

"Shena, Kapan kamu mau kasih nama buat anakmu, nduk?"


"Dua minggu lagi Bu, selesai nifas. Sekalian, biar aku gak terlalu repot."


"Sudah ada namanya?"


"Sudah, Bu."


Ibu tersenyum dan menghela nafas panjang, kemudian Ibu mengambil kedua tanganku.


"Belum ada kabar dari suamimu?"


Aku hanya menggeleng pelan. Ku usap pipi bayiku yang sedang tertidur pulas di pangkuanku.


"Ibu tau ini berat, tapi kamu harus kuatkan hatimu ya, nduk."


Aku meneteskan air mataku saat mendengar perkataan Ibu. Aku sadar, setiap orang pasti akan berpikiran sama dengan Ibu. Mungkin mas Leon memang gak akan pulang.


Ku lihat bayiku mulai mengulet dan merengek, aku tahu dia pasti merasakan apa yang aku rasakan. Kami melewati ini hanya berdua, pasti dia juga kangen sekali dengan Ayahnya.


"Sudah jangan menangis, nduk. Anakmu bisa menangis juga." jawab ibu menenangkan ku.


Ku letak kan bayiku di atas kasur dan ku letakan kepalaku di atas pangkuan Ibu. Ku pecahkan tangisanku disana, aku butuh tempat untuk bersandar saat ini, aku sungguh lelah.


"Shena harus bagaimana, Bu. Shena harus berbuat apa jika mas Leon tidak kembali?" Ibu hanya mengelus-elus kepalaku, menenangkan.


"Sabar, Sayang. Doakan agar suamimu baik-baik saja disana."


"Tidak ada petunjuk apapun, bu. Semua jalan Shena buntu. Shena harus bagaimana?" Tangisanku mulai meledak, begitu juga bayiku yang ikut rewel.


"Shena, kamu harus tenang, nak. lihat bayimu menangis." Ibu dengan cepat menggendong bayiku dan berusaha menenangkannya.


Sementara aku, masih terus menangis menyembunyikan wajahku di kasur. Kurasakan hangat belaian tangan Ibu membelai rambutku.


"Kamu harus kuat, nak. Jangan terpuruk dengan kesedihanmu, ini semua sudah menjadi ketentuan yang di atas. Kamu harus tabah dan ikhlas."


Aku masih terbawa dalam tangisanku, Ibu benar, tapi pada kenyataannya ini jauh lebih berat dari apa yang kelihatan. Aku harus sanggup menahan luka ini sendiri, bagaimana aku sanggup membesarkan bayiku sendiri.


Tega kamu mas, tega sekali kamu membiarkan aku seperti ini. Kamu meninggalkan aku dengan semua kenangan yang perlahan terus menusukku hingga aku terus terluka. Kamu membiarkan aku merasakan kepedihan ini sendiri, bagaimana pundakku sanggup memikulnya sendiri.


Bagaimana mas?


Tolong aku, ku mohon tolong aku mas.


***


Hari ini aku melangsungkan cukur rambut dan pemberian nama, namun disini aku masih sendiri.

__ADS_1


Sudah empat puluh hari kelahiran Leona, tapi mas Leon juga belum kembali.


Aku sengaja memberi nama malaikat kecilku ini Leona Kyra Mc.Kanzee. Karena memang dia yang mirip sekali dengan mas Leon, bibirnya, hidung, dagu, dan juga matanya. Hanya pipinya saja yang cabi seperti aku.


Tangan kecilnya sudah mulai bisa menggenggam jariku, seharusnya kamu lihat mas, Kyra sudah besar. Berulang kali aku menanyakan kabar oleh pihak Rumah sakit, namun hasilnya tetap saja tidak ada.


Pihak Rumah sakit juga kehilangan kabar tentang dua Dokter berbakatnya itu. Aku bisa apa? hanya bisa mendoakanmu saja mas, semoga kamu kembali, mau hidup ataupun mati.


Perih, saat para tamu datang dan menanyakan dimana ayah bayiku. Aku hanya bisa tersenyum getir saja. Tidak mampu menjawab apapun, karena memang tidak ada jawaban yang bisa aku berikan.


Waktumu sudah habis disana mas kapan kamu akan pulang?


Hari-hari terus terlewati, bulan terus berganti namun aku masih saja tetap menanti disini. Setiap detik, saat Leona menangis akupun ikut menangis disini, berat sekali rasanya mengurus Leona sendirian.


Aku hanya menatap kasur kosong di sebelahku saat pagi. Aku tidak mampu bercerita betapa lelahnya hariku mengurus bayinya, aku tidak punya tempat untuk berbagi lelah ini.


Tidak ada orang yang  mendengarkan cerita setiap tumbuh kembangnya Leona. Kemana aku harus cerita? Tidak ada suami ataupun ayah yang bisa memperhatikan kami berdua.


Kami melewati sakit hanya berdua, kami melewati dinginya malam berdua. Kami butuh penopang, kami butuh seseorang yang melindungi kami. Tapi dimana kamu mas?


Dimana kamu?


Setiap sujud, sajadahku selalu basah oleh air mata, setiap saat, setiap detik bahkan sampai saat ini mataku terus di banjiri oleh bening bulir ini. Kemana aku harus mencari kamu?


Bisakah aku mengharapkan kamu kembali walaupun kemungkinan nya itu sangat kecil.


Kemana lagi aku harus berlari, seperti apalagi luka yang harus kau tanamkan?


Aku hanya ingin melihatmu, walau hanya jasadmu pun aku ingin melihatnya.


Agar aku bisa menemukan alasan, agar aku menemukan cara. Bagaimana dan seperti apa aku harus bertahan. melewati semua beban luka ini, aku bisa gila mas.


Ku letakkan Leona di keranjang bayinya, Seharian ini dia rewel sekali. Untunglah pertumbuhan nya berjalan baik, beratnya terus naik dan badan nya juga semakin gempal.


Empat bulan sudah Leona berada di dunia ini, berarti enam bulan sudah Ayahmu pergi tanpa kabar nak. Kamu harus jadi wanita yang kuat ya sayang, jangan seperti mama yang selalu menangis menanti ayahmu pulang.


Kamu harus bisa jadi wanita mandiri, kamu harus bisa menjaga dirimu sendiri kelak.


Jangan seperti mama yang begini, mama terlambat mencintai ayahmu nak. Seandainya mama lebih cepat membuka hati dulu, pasti kamu akan lahir dengan seorang ayah di sampingmu. Pasti ayah akan selalu mendampingi pertumbuhan kamu, nak.


Maafkan mama nak, maaf kamu hafus lahir dari rahim mama nak, maaf mama harus melahirkan kamu dalam keadaan seperti ini. Maaf kamu harus lahir sebelum waktunya, dan maaf kamu harus lahir tanpa ayah kamu.


Semua salah mama nak, mama yang tidak bisa menjaga kamu dan ayah kamu agar tetap berada disini.


Sudah enam bulan berlalu tapi air mataku seakan tidak pernah mengering untuk menangisi kamu mas, Perlahan tapi pasti, kamu membunuhku mas. Kamu melumpuhkan setiap sarafku, sehingga yang bisa aku lakukan hanya menangis dan terus menangis.


Ku seka kedua mataku saat ku lihat Leona yang sudah mulai menggeliatkan badannya. dia selalu rewel saat aku menangis, ku putuskan untuk membereskan pakaian kotor milikku dan Leona. Tanpa sadar aku menjatuhkan buku tabunganku.

__ADS_1


Ku lihat nominal yang tertera di rekening tabunganku sudah banyak jauh berkurang. pihak Rumah sakit sudah tidak membayarkan gaji mas Leon dari tiga bulan yang lalu. Memang masa tugas mas Leon seharusnya berakhir tiga bulan yang lalu.


Aku menghela nafas panjang dan ku letakkan bokongku di atas kasur. Ku lihat Leona yang tertidur pulas dalam keranjang bayi. bagaimana aku bisa menyambung hidup, jika aku bekerja, maka Leona bagaimana?


Leona masih terlalu kecil buat di tinggal kerja, tapi kalau gak kerja bagaimana aku harus menyambung hidup?


Tidak mungkin aku merepotkan Bapak dan Ibu lagi, Semenjak tiga bulan lalu aku sudah tidak memberikan uang biaya kuliah Shine dan Shima lagi.


Sekarang saja Shine sudah bekerja di studio foto sebagai fotografer. Ya Tuhan, aku harus bagaimana?


Aku menggaruk-garuk kepalaku.


"Mbak." Suara Shine mengangetkan lamunanku.


"Mbak lagi ngapain?" Tanya nya yang berlalu masuk dan mencium pipi mungil leona.


"Mbak... lagi mau nyuci, kamu jagain Kyra sebentar ya."


"Yasudah iya." jawabnya yang masih mencium gemes bayiku.


"Jangan di ciumi terus, nanti dia bangun rewel lagi. Mbak yang gak bisa kerja."


"Hem." jawabnya yang masih saja degil menciumi leona.


Memang kalau sudah ada si kembar, habis Leona di buat mereka. Tapi aku terbantu sekali dengan ada mereka berdua disini.


Aku segera membereskan rumahku yang sudah seperti kapal pecah ini, selagi ada yang jaga Leona dan dia tertidur pulas, kesempatan aku buat beres-beres.


Setengah harian aku membereskan rumah ini dan tinggal saat nya masak makan siang. Ku lirik jam di dinding sudah menunjukan pukul sebelas siang. Aku bergegas memasak sebelum Leona terbangun lagi.


"Mbak, aku pergi ya, ada pemotretan di studio. Gak apa-apa, kan?"


"Kyra masih tidur?"


"Iya masih anteng banget itu, di cium juga gak bangun-bangun."


"Yasudah, hati-hati ya."


"Iya, mbak. kalok ada apa-apa telepon aku aja ya."


Aku mengancungkan jempolku dan tersenyum. Kemudian Shine berlalu pergi, aku segera menyiapkan makan siang dan mencuci beberapa baju Leona. Mumpung hari cerah, aku harus cepat-cepat.


Sebelum menjemur pakain perasaanku tidak enak karena dari tadi aku tidak mendengar Leona sedikitpun. Aku berjalan cepat ke kamar untuk memberikan ASI ke bayiku, tapi keranjang bayi nya kosong. Leona gak ada di box nya. Kemana dia?


kemana perginya?


Tidak, tidak, oh ya Tuhan jangan lagi, jangan renggut siapapun lagi dalam hidupku.

__ADS_1


__ADS_2