
"Ehem, Dokter. Kita harus pergi, pesawat akan take off sebentar lagi." Seorang laki-laki yang sedikit lebih dewasa dari mas Leon menyadarkan kami.
"Ehm, Dokter Medi, perkenalkan ini Shena istriku." ucap mas Leon sambil tersenyum kaku.
Aku melemparkan senyuman ke lelaki itu, tak lama pandanganku teralih ke sebelah lelaki itu, ada seorang wanita dengan menggendong anak laki-laki berumur tiga tahun, mungkin.
Wanita itu tersenyum manis saat mataku bertemu dengan matanya.
"Ayo." Mas Leon menarik pergelangan tanganku.
Ku genggam jemari mas Leon saat mengantarkannya ke gerbang pemeriksaan.
"Kamu hati-hati dirumah ya, jaga kandunganmu." mas Leon meraih kedua jemariku dan mengenggamnya erat.
"Iya, kamu hati-hati juga disana, Mas."
Mas Leon hanya tersenyum, ia meraih kedua pipiku, mengelusnya dengan lembut.
Ku lihat punggung badan mas Leon dan pria yang berjalan semakin jauh dari kami, memasuki gerbang pemeriksaan. Ku lihat lekat-lekat punggung mas Leon sebelum dia benar-benar hilang dari pandanganku.
"Berat ya mbak, di tinggal pas lagi hamil besar gitu." ucap perempuan itu mengalihkan perhatianku.
"Iya, Mbak." jawabku sambil menggulum senyum.
"Ini sudah berapa bulan, Mbak?" tanyanya sambil menyentuh perut besarku.
"Lima bulan, Mbak." jawabku sambil melangkahkan kaki keluar bandara.
"Hamil anak pertama?"
"He he, iya."
"Kuat ya mbak," ucap wanita ini memberiku semangat.
"Iya, mbak. Yuk kita pulang mbak." ajak ku setelah keluar dari bandara secara bersamaan.
Aku berjalan berdampingan dengan wanita itu, dan terakhir kami berpisah menaiki taxi masing-masing.
Semoga Allah membawamu kembali kehadapanku Mas. Semoga Allah mau mempersatukan kita kembali, ada aku dan anak kamu disini. Kamu harus kembali.
***
Satu minggu kemudian.
Aku membereskan meja makan setelah sarapan tadi, Shima dan Bapak sudah berangkat setelah selesai sarapan. Sementara Ibu, pamit untuk membantu tetangga yang akan mengadakan acara pesta anaknya. Tinggal aku berdua dengan Shine yang sedang asyik mencuci motornya.
Peluh keringat sudah mulai menetes dari dahiku saat aku selesai mencuci piring. Memang semenjak kehamilan ini mulai membesar, tenagaku banyak sekali berkurang.
__ADS_1
Mas Leon masih sering memberiku kabar walaupun tidak setiap hari. Tapi syukurlah, dia masih ingat padaku di tengah-tengah kesibukannya. Ku letakan bokongku di atas tikar yang berada didepan tivi. Ku selonjorkan kedua kakiku yang terlihat sudah mulai membengkak.
Ku nyalakan televisi dan ku ganti chanel untuk mencari acara yang menarik. Pencarianku berhenti pada sebuah acara berita yang membuatku kaget setengah mati. Daerah tempat mas Leon datangi kembali terguncang gempa, beberapa gedung rubuh termasuk balai desa tempat mas Leon menginap.
Sontak aku berdiri mengambil ponselku yang berada diatas nakas dalam kamar dan menekan nama mas Leon. Namun sayang, nomor mas Leon tidak bisa tersambung. Tidak, ini tidak mungkin, mas Leon baru saja menghubungiku tadi malam, ini tidak mungkin.
Mataku kembali mengeluarkan banjiran air bening itu. Kurasakan kontraksi yang begitu hebat dari dalam perutku. Aku berusaha mengatur nafas dan duduk di bibir kasur untuk mengurangi rasa sakit.
Kurasakan sesuatu mengalir dari salah satu selah pahaku. Aku menyingkap dress ku dan ku lihat darah segar yang mengalir.
"Shi ... Shine!" aku berteriak dengan keras sambil menahan sakit di perutku.
"Astagfirullah, Mbak." suara cemas Shine saat melihat keadaanku.
Dengan cepat Shine mecari kain dan menggendong aku yang sudah mulai lemas karena sakit ini. Shine berlari dengan cepat keluar dari gang kecil rumah kami. Badan nya tak jauh berbeda dari mas Leon, adik kecilku kini sudah jadi pria gagah sekarang.
Wajah Shine terlihat penuh dengan keringat, wajah nya kini terlihat kebingungan saat tak ada satupun taxi yang melintas di jalan itu.
"Sabar ya, Mbak. Tahan, aku akan lari ke jalan raya untuk cari taxi." suara nya terdengar cemas.
"Shine..." panggil seorang gadis manis berambut pirang dari dalam mobil Jazz berwarna merah.
"Chika."
"Ada apa?" tanya nya saat melihat wajahku yang mulai pucat.
"Masuk, cepat." perintah gadis itu.
Dengat cepat Shine memasukan aku kedalam mobil perempuan itu, dan perlahan kesadaranku pun mulai menghilang.
*****
Ku buka kedua mataku, ku lihat sekelilingi, ternyata aku sudah berada di ruangan rawat inap rumah sakit. Aku berusaha untuk mengingat kejadian sebelum aku tidak sadarkan diri. Ku raba bagian perutku dan nafasku sedikit lega saat ku pegang perutku masih membesar.
Aku lihat wajah Ibu yang basah dan mata yang sedikit sembab. Aku berusaha untuk duduk, namun bagian perutku, masih terasa sedikit sakit saat aku bergerak.
"Jangan terlalu banyak gerak dulu, Shena." aku memalingkan kepalaku dan ku lihat Riany di sebelahku.
"Bagaimana bayiku, Ri?" tanyaku cemas.
"Syukurlah. Masih baik-baik saja. Tolong jaga kehamilanmu. Kali ini masih baik-baik saja. Tapi kalau sampai dua kali, bisa bahaya." nada Riany terdengar tegas.
"Ri, kamu udah tau kan?" tanyaku sendu.
Riany menghela nafas dan menarik sebuah kursi, lalu dia meletakan bokongnya diatas kursi itu.
"Jangan terlalu dipikirkan. Leon pasti baik-baik saja." ucapnya menenangkan.
__ADS_1
"Tapi, aku gak bisa menghubungi dia. Bagaimana aku bisa tenang?" kembali air mataku mengalir.
"Shena, dengar aku. Saat suatu daerah itu terkena bencana, maka sambungan teleponnya memang terputus. Jangan buat khawatir dirimu sendiri."
"Tapi, aku... Aku."
"Shena. Hey ... dengarkan aku, kamu harus memikirkan keadaan bayimu. Dia lebih memerlukan perhatianmu dari pada Leon. Leon sudah besar, dia pasti bisa mengurus dirinya sendiri." sambung Riany.
Iya mas Leon memang sudah besar, tapi dia suamiku. Bagaimana aku bisa tidak memikirkan dia?
Aku bahkan tidak tau bagaimana keadaannya di luar sana, apakah dia masih bernafas atau sudah tiada.
Ya Allah, lindungi dia.
"Aku pergi dulu ya, kamu bisa panggil aku jika terjadi apa-apa." ucap Riany, tak lama ia keluar dari ruanganku.
"Bu," ku panggil Ibu yang sedari duduk bertiga dengan Shine dan gadis cantik temannya itu.
"Iya, Nduk." jawab Ibu sembari mendekat ke tempat tidurku.
"Mas Leon, Bu. Bagaimana aku tidak memikirkan dia? Dia sekarang masih hidup atau sudah..." aku tidak sanggup menyambung kalimatku. Kembali aku menangis dan kali ini cukup lama.
Terlintas dalam benakku seluruh kenangan indah dengan mas Leon. Hampir seluruh kenangan yang ia tinggalkan padaku adalah kenangan yang manis.
Aku gak mau tau mas, kamu harus bisa bertahan. Aku belum memberi mu izin untuk meninggalkanku selamanya. Kamu harus pulang untuk anak kita. Kamu gak boleh meninggalkan anak kita yang bahkan belum lahir ini.
Kamu gak bisa tega begini mas, kamu harus pulang.
"Shena, sayang. Anak Ibu, jangan nangis terus." ucap Ibu sambil memelukku.
Karena pelukan Ibu ini membuat aku semakin sedih. Sepertinya Ibu sedang memberikan kekuatan kepadaku. Kekuatan untuk harus tetap kuat mengurus anak ini sendiri. Harus tabah dan ikhlas dengan kepergian mas Leon.
"Mbak, masih ada aku disini. Ada Shima dan juga Bapak. Mbak gak sendirian kok." Shine mengambil tanganku dan menggenggam erat.
Seakan mas Leon seperti tidak akan kembali saja. Kenapa semuanya harus berkata seperti itu, mas Leon pasti kembali. Aku yakin mas Leon pasti kembali.
"Shine, jangan bicara begitu. Mas Leon pasti pulang, dia janji bakalan temeni aku lahiran. Dia udah janji, Shine."
Aku ini kenapa? aku tau bagaimana keadaan nya, tapi aku seakan tidak terima dengan ucapan Shine.
"Iya, Mbak. Iya aku percaya." ucap Shine mengalah.
Dia pikir aku ini adiknya? aku ini kakaknya, tapi sekarang dia memperlakukan aku seperti seorang anak kecil saja. Dia bilang percaya dengan ekspresi begitu? siapa yang akan percaya.
Bahkan dia saja tidak percaya bahwa mas Leon akan pulang.
Aku mohon jangan begini mas, bagaimana aku akan mencarimu. Kemana aku harus pergi menjemputmu mas? beri aku petunjuk, beri aku kabarmu. Setidak nya aku tau jika kamu baik-baik saja, atau sudah tiada.
__ADS_1