Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 24


__ADS_3

POV Leon


Ku ketuk pintu kaca dapur yang terkunci, Shena melarikan diri setelah aku menggodanya. Jadwal seminar ini membuat aku tak leluasa di hari libur.


Sudah hampir setahun menikah, untuk pertama kalinya Shena berinisiatif mencium bibirku. Tak tega ingin meninggalkna sendiri, hampir setiap akhir weekend aku meninggalkan ia sendiri di rumah.


Shena, kamu membuat aku jauh lebih bersemangat menjalani hidup. Saat ini sekuat hati aku menjalani perkerjaanku untuk kamu, untuk menafkahimu, agar kamu bahagia menikahi aku.


Ku buka percakapan seminar ini dengan senyum yang mengembang indah. Ingin segera cepat kembali dan menggoda Shena lagi. Bahkan saat ini mengingat senyumnya saja membuat aku sangat bahagia.


Aku menjejaki dengan cepat anak tangga gedung ini, sengaja aku meninggalkan seminar lebih cepat dan meminta asistenku, Andra untuk menggantikanku.


Semenjak menikah, aku memang lebih sering merepotkan Andra. Apalagi dia dengan status single nya yang masih single itu, sedikit banyaknya waktu dia lebih leluasa di bandingkan aku.


Aku selama setahun berusaha membuat istriku jatuh cinta padaku. Kini sedikit cahaya telah menunjukan sinarnya. Akankah hubungan aku dan Shena akan segera mengalami kemajuan?


Entahlah, yang pasti saat ini aku sangat bahagia.


Aku tidak bisa melepaskan pikiranku dari Shena, aku melajukan mobil hitamku dengan cepat. Aku sering sibuk sama urusan pekerjaan ini, waktu santaiku masih sering tersita untuk memberikan penyuluhan ke berbagai tempat.


Aku memberhentikan laju mobilku di depan toko bunga, dan ku pilih satu buket besar bunga mawar.


'Semoga saja Shena suka, dan semoga hubungan kami ada kemajuan.'


Aku memberikan dua lembar uang lima puluhan, dengan cepat aku menaiki mobilku dan melaju nya dengan kecepatan sedang.


Di tengah perjalanan aku baru teringat, saat ini Shena sedang dirumah Orang tuanya.


Aku memutar arah mobilku dan memacu mobilku dengan cepat.


Mataku menangkap Shena sedang duduk di bangku taman. Aku tersenyum lega begitu melihat wajahnya, Entahlah aku merindukan nya walaupun aku baru saja meninggalkannya.


Aku memarkirkan mobilku dan ku langkahkan kakiku dengan cepat untuk menyusul Shena. Tapi aku malah melihat Shena sedang di peluk dengan mantan kekasihnya.


Oh apakah di belakangku Shena masih sering bertemu dengan nya? berani sekali dia memeluk istri orang di tempat umum. Seketika amarahku mulai nenjalar, merajai hatiku.


Aku memalingkan wajahku dan ingin melangkah pergi. Tapi aku mendengar suara tamparan yang sangat keras.


"Ingat..! Jaga batasan kamu, Ran. Aku ini istri orang."


"Oh apakah laki-laki itu yang mengajari kamu berbuat sekasar ini? Setahu aku, kamu itu perempuan yang sangat lembut Shen."


"Itu bukan urusan kamu."


"Shena. Siapa dia? sampai kamu harus membela dia seperti itu di depan aku?"


"Dia suamiku, dan kamu? kamu bukan siapa-siapa."


Ada perasaan bahagia saat aku mendengar Shena mengakui status aku di depan laki-laki itu. Aku berusaha untuk maju dan mendekati mereka.


"Iya, Dia memang suamimu. Tapi apakah dia bisa menggantikan aku di hatimu?"


Langkah kakiku terhenti, aku ingin mendengar jawaban apa yang akan keluar dari mulut Shena. Aku ingin tahu apakah laki-laki itu masih begitu berarti di hatinya?


Tapi Shena hanya diam, bibirnya tak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia malah melangkah pergi dan meninggalkan seribu pertanyaan dalam benakku.


Aku membalikan badan dan dengan cepat melangkah ke parkir, ku letak kan buket bunga itu di pagar taman. Ku laju dengan cepat mobilku untuk pulang kerumah. Sesekali ku pukul setir mobil karena rasa kesal yang tidak bisa ku gambarkan sedang bersarang di dadaku.


Aku merebahkan badanku di sofa dan ku nyalakan tivi untuk sekedar meramaikan suasana. Shena apa selama ini tidak adakah sedikitpun tumbuh rasa cinta di hatimu?


Tidak bisakah kamu melupakan masa lalumu itu?


Ku lihat jam di tanganku, sudah tiga puluh menit tapi Shena belum kembali. Ku raih jaket ku dan ku langkahkan kakiku untuk keluar. Namun sebelum sampai pintu aku sudah membanting jaketku ke sofa.


"Ahh ... Tidak ada guna nya aku menyusul, aku hanya jadi perusak suasana diantara mereka saja."


Ku acak-acak rambutku. Kembali aku duduk di sofa, ku dengar langkah kaki Shena di depan pintu. Ku rapikan sedikit rambutku yang berantakan dan mencoba tenang.

__ADS_1


Diluar dugaan Shena kembali dengan senyum yang begitu merekah di bibirnya. Oh aku tidak tau ternyata Shena masih sangat mencintai laki-laki itu.


Aku menunggu Shena untuk bercerita tentang pertemuan nya itu, tapi Shena tidak juga membuka cerita tentang pertemuan nya sore ini, dia terus saja bungkam, bahkan saat makan malam pun dia hanya diam saja.


Aku membuka pintu kamarku dan mencoba untuk bertanya, aku ingin mendapatkan penjelasan akan kejadian sore ini.


Namun Shena ketawa sendiri dengan ponselnya. Apa mereka sedang berbalas Chat?


Bahkan ada aku pun dia masih bisa tersenyum. Pikiranku sudah mulai melambung jauh, perasaan butukku untuk Shena mulai mengahntui pikiranku.


Aku merebahkan badanku dan kutarik selimut, aku tidur membelakangi Shena. Dia mengecup lembut dahiku.


Apa ini Shena? tidak adakah rasa bersalahmu padaku?


Aku berjalan cepat meninggalkan Shena yang sedang menyiapkan sarapan. Ku laju mobilku dengan cepat, aku tidak ingin makan satu meja denganmu Shena, Sebelum kamu menceritakan pertemuanmu padaku. Kamu seharusnya menjelaskan padaku walaupun aku tidak bertanya padamu.


Ku parkirkan mobilku di parkiran Rumah Sakit dan ku jejaki langkahku memasuki rumah sakit.


Ya ampun pikiranku kacau sekali, bagaimana aku bisa memeriksa keadaan pasien jika begini?


Aku membalik-balik kertas dokumen di mejaku untuk mengalihkan pikiranku.


Tok... Tok... Suara pintu ruanganku di ketuk. Tak lama, seorang Suster masuk kedalam.


"Permisi Dokter Leon, Dokter di panggil Dokter kepala." ucapnya terus terang tanpa basa basi.


Ya ampun, aku belum menyiapkan laporan hasil seminar kemarin. Aku mengusap-usap wajahku menggunakan kedua tanganku. Apa ini Leon? kenapa kau menjadi tak profesional begini?


"Baiklah." jawabku singkat.


Aku berjalan menjejaki koridor rumah sakit dan mengetuk pelan pintu kaca yang sudah terbuka lebar itu.


"Permisi Dok. Dokter manggil saya?"


"Oh iya, silahkan duduk Dokter Leon."


"Begini Dokter Leon, kamu tau kan Rumah Sakit kita sudah 2 tahun belakangan ini bekerja sama dengan yayasan amal? jadi Rumah Sakit kita akan mengirim 4 Dokter terbaik ke daerah bencana selama 3 bulan setiap tahun nya. Dan pihak Rumah Sakit akan mengirim 2 orang setiap 6 bulan sekali. Dan saya ingin kamu ikut berpatisipasi, Dokter Leon." menjelaskan dengan rinci.


"Kamu adalah salah satu Dokter terbaik di Rumah Sakit ini. Persentase kegagalan kamu saat operasi sangat kecil. Kamu bahkan bisa melakukan tindakan ekstrim dalam operasi dan hasil nya sempurna. Pihak Rumah sakit sebenarnya ingin mengirimmu tahun lalu, tapi karena kamu baru menikah pihak Rumah sakit membatalkan nya."


Iya, aku ingat, tahun lalu ada beberapa rekanku yang dikirim ke sana. Aku tidak bisa mengelak memang, aku sudah bersumpah di hadapan Tuhan. lagian mungkin pernikahan aku dan Shena tidak akan bertahan lebih lama lagi.


Shena sudah punya cintanya sendiri, sebaik nya aku juga harus bisa move on dan mencari kehidupanku sendiri.


"Baiklah, Dokter aku bersedia."


"Baiklah, Bulan depan Rumah sakit akan memberangkatkan 2 orang di gelombang pertama, dan kamu akan berangkat di gelombang kedua, saya akan menyiapkan berkas keberangkatan kamu."


Aku keluar dari ruangan Dokter kepala dengan wajah lesu. Pikiranku terus terganggu dengan kejadian kemarin. Kuraih ponselku dan kulihat beberapa pesan Chat dari Shena.


Apa dia khawatir denganku? lalu kenapa dia tidak menjelaskan apapun padaku?


"Andra..." panggilku saat aku memasuki ruangan ia yang bersebelahan dengan ruanganku.


"Iya, Leon." Jawabnya singkat sambil mengecek beberapa hasil tes lab pasien.


"Bisa kamu bantu aku hari ini? Pikiranku kacau." ucapku lesu sambil melemparkan bokong ke hadapannya.


"Bisa, asal separuh gaji elu, buat gue." ucapnya tanpa menoleh kearahku.


"Sialan..." aku tersenyum kecut mendengarnya.


Andra membuang pandangannya kearahku, ia seperyi tersenyum meledek melihat raut wajahku.


"Wah, kacau banget muka elu pak su? kenapa? gak di kasih jatah elu ya?" tanyanya asal.


"Sotoy lu. jomblo akut diem aja ya, santai."

__ADS_1


"Biar jomblo tapi gue berkualitas." Andra memainkan kedua alisnya.


"Udah gak usah kebanyakan gaya, lamar itu anak orang. Jangan di angguri aja, nanti di samber orang nyesel tujuh turunan elu."


Andra menghela nafasnya berat, ia menutup dokumen yang sedari tadi ia pantengin.


"Berat, Leon. Anak sultan mah dia, gue gak berani, sekarang aja gue cuma asisten elu."


Andra dan aku memang satu kampus dulu, dia bisa di bilang lumayan dekat dengan aku dan Riany, tapi dia tetap melanjutkan S2 nya di kampus yang sama, sementara aku dan Riany pindah ke luar Negeri.


Aku mendalami S2 aku di London, mungkin karena itu juga, saat ini posisi aku yang lebih baik di bandingkan Andra.


"Jangan layu sebelum mekar, bro. Elu harus berani, anak sultan atau anak pembantu gak ada urusannya. Latar belakang cuma identitas, Andra. Gue sama bini aja beda, tapi masih bahagia kan."


Tunggu dulu, apa aku bilang tadi?


Bahagia? iya bahagia sebelum Shena merusak segalanya. Kembali pikiranku menjadi kacau setelah mengingatnya.


"Gue tau, tapi gue gak berani."


"Coba aja dulu, gak tau kan sebelum di coba? Gue aja nekat dulu, untungnya gue gak di tolak." kembali pikiranku mengawan ke masa lalu.


"Jelas dia mau, lihat elu? Lu sukses, lu udah mapan, ganteng, gak ada kurangnya. Nah gue?"


"Jangan terlalu pesimis, Andra. Lu gak tau kadang takdir berkata lain kan."


Sejenak Andra terdiam, ia mulai berperang dengan pemikirannya sendiri. Seharusnya tak kubuat pikirannya kacau seperti aku.


"Andra, gue akan keluar seharian. Bisa elu tolong gantikan gue? elu bisa hubungi gue jika ada tindakan operasi dari pasien."


"Baik, Dok. Tapi separuh gaji Dokter buat saya." ia tersenyum kuda. Tapi aku ingin mengakhiri percakapan ini.


"Terima kasih." aku langsung melengos keluar ruangannya.


Aku keluar dengan cepat dari koridor rumah sakit dan ku laju dengan cepat mobilku. Ku berhentikan laju mobilku di sebuah taman yang agak sedikit jauh dari keramaian kota. Ku rebahkan badanku di sebuah bangku yang menghadap ke danau.


Ada apa denganku? Aku meninggalkan pekerjaanku hanya untuk seorang wanita? Tapi bagaimana aku bisa bekerja, jika keadaanku kacau begini. Aku bahkan tidak bisa memikirkan apapun selain Shena.


Hemm kamu memang racun Shena, kamu meracuni seluruh duniaku. Bahkan kamu mampu membuat aku kehilangan semangat sampai seperti ini. Tapi bagaimana mungkin? kamu bahkan tidak berusaha untuk menjelaskan.


Aku berdiam disini selama berjam-jam, dari siang masih memberikan kehangatan, sampai malam menyapa dengan kesunyian. Ku periksa ponselku, tidak ada lagi pesan yang masuk dari dia. Shena juga tidak menanyakan kenapa aku pulang terlambat.


Seperti inikah aku di dalam hatimu, kamu mengabaikan aku begitu saja Shena. Tidak adakah arti aku di dalam hidupmu? Tidak adakah sedikitpun cinta hadir dihatimu untukku? walaupun cinta itu hanya sekedar menyapa hatimu aku sudah sangat bahagia, Shena.


Ya Allah apa yang harus aku lakukan? Shena harus bisa mengerti kesalahan nya, tapi aku takut menyakiti hatinya. Shena harus bisa meninggalkan masa lalunya, dia sudah hidup denganku selama setahun, dia harus bisa meninggalkan masa lalu nya demi aku. Ya dia harus memilih, meninggalkan masa lalu nya atau meninggalkan masa depannya bersamaku.


Aku melajukan mobilku dengan cepat, ku parkir mobilku di halaman rumah kami. Aku membuka pintu kamarku dan Shena masih duduk disana. Ya Allah aku tidak bisa menyakiti dia, aku takut kehilangan dia. Aku harus bagaimana ya Allah?


Ku singkap kain jendela kamar kami dan ku tatap kosong ke depan. Aku mencoba merangkai kata yang ingin aku sampaikan padanya.


Maafkan aku Shena, tapi mungkin dengan cara ini kamu bisa sadar siapa aku di hatimu.


"Shena.."


"Iya, Mas." suara nya begitu lembut, bagaimana aku bisa membuat nya tersakiti.


"Jika kamu mau, aku sudah siap."


"Siap? Siap untuk apa Mas?" wajah nya terlihat sangat bingung


Maaf kan aku Ya Allah, aku tidak bermaksud memainkan talak, aku hanya ingin mendidik istriku agar dia paham siapa dia. Agar dia tau batasan dia. Aku tidak bisa membimbing dia dengan baik. Semoga engkau mengampuni aku.


Aku berjalan ke hadapannya dan duduk tepat di depan nya. Ku lihat wajahnya sendu, membuat aku tidak tega menghukum dia. Resiko ini terlalu besar, aku tidak sanggup jika harus kehilangan dia. Tapi jika tidak, selama nya dia akan tidak akan paham.


Bissmillah...


"Aku siap untuk menceraikan, mu."

__ADS_1


"APA?"


__ADS_2