
Aku mengeluarkan beberapa pasang baju mas Leon dan ku masukan kedalam koper. Sementara mas Leon masih asyik memainkan gawai nya, sambil tiduran di kasur.
Huft ... Ku hela nafasku, sebentar saja berdiri aku sudah merasa letih, aku duduk di bibir ranjang sembari membereskan baju-baju yang mau di bawa mas Leon.
"Besok sebelum ke bandara, kita ke rumah sakiy dulu yah. USG dulu."
"Iya, Mas." jawabku singkat.
Aku tak sanggup lagi menahan air mata, sedari tadi buliran bening ini selalu membanjiri pipiku. Namun ku coba untuk tidak menyuarakan tangisku, biarlah dia mengalir sendiri.
Mas Leon melingkari tangannya di perutku dan membenamkan wajahnya di kasur. Tanpa dia bilang pun aku tahu dia juga berat untuk pergi. Haruskah kamu pergi Mas? tidak bisakah kamu tetap berada disini saja?
"Mas, kamu disana jaga kesehatan ya." ucapku memecah keheningan.
"Hmmm." jawab mas Leon yang masih membenamkan wajahnya di kasur.
"Jaga makanan nya juga."
"Emm."
"Jaga hati kamu juga ya."
"Iya, bawel." dia menggeliatkan badan nya.
"Ingat aku ya, Mas."
"Iya dan iya. Semua pertanyaan kamu akan ku jawab iya, Sayang." Aku tersenyum mendengar jawaban mas Leon.
"Siapkan sekalian baju buat besok, ya." sambungnya.
"Iya, kamu mau pake baju apa besok, Mas?"
"Kamu suka lihat Mas pake baju yang mana?" mas Leon kembali bertanya padaku.
"Aku suka lihat kamu pakai baju warna hitam, kamu seksi pakai hitam Mas."
"Aku suka lihat kamu gak pake baju. Seksi kamu kalau gak pake baju." mata mas Leon mengerling nakal.
"Apaan kamu sih, Mas." aku tertawa, tapi buliran bening itu terus mengalir menyertai tawaku.
Mas Leon meraih kedua pipiku dan mecium bibirku lembut. Dia memeluk badanku sangat erat. Setelah sekian lama aku meleraikan pelukannya, Manjauh dari mas Leon dan membuka sedikit jendela kamar.
Ku hirup udara sekedar untuk menyegarkan perasaanku, dadaku terasa begitu menyesak karena menahan tangis yang tak ingin ku tumpahkan.
Aku kembali menangis dan kali ini aku tidak ingin menahan nya. Biar ada sedikit rasa lega di dada. Kontraksi yang agak menyakitkan dari dalam perutku mulai terasa. Sepertinya sang bayi tau bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.
"Ah... Au..." aku memegang perutku yang terasa sedikit keras.
"Shena." mas Leon beranjak dari kasur dan menggendongku. Dia meletakan badanku dengan lembut di atas kasur.
"Kamu baik-baik saja? apa masih sakit?" tanya nya khawatir.
"Iya Mas, hanya sedikit kram saja." aku mengernyitkan kedua alisku menahan sakit.
"Kita kerumah sakit ya." ajaknya.
__ADS_1
"Gak perlu Mas, cuma kontraksi saja. Ini juga udah mendingan kok." jawabku menenangkan.
"Aku mohon jangan terlalu sedih, ingat kandungan mu lemah. Jaga anak kita di dalam ya." mas Leon membelai lembut dahiku.
Ku raih tangan mas Leon dan kucium punggung tangan nya. Ku letakan punggung tangan mas Leon di pipiku. Kembali buliran bening itu menghiasi pipiku yang dari kemarin memang sudah basah dan seakan tak pernah mengering.
"Dasar cengeng, jangan menangis terus Mas gak suka."
"Jadi aku harus gimana mas? dia memang tidak mau berhenti." Mas Leon tersenyum dan menarik kepalaku, lalu kembali memelukku.
"Mas kan mau pergi kerja, bukan mau mati, kenapa nangis terus?" Aku mencubit dada mas Leon mendengar omongan nya itu. Sembarangan saja kalau ngomong.
"Besok pagi masak sarapan nasi goreng ya."
"Iya." aku kembali menyeka kedua mataku.
"Tapi rasa nya harus hambar, seperti kamu pertama kali masak buat, Mas." ucap Mas Leon sambil menggodaku.
"Ih, jahat. Hari itu bilangnya enak."
"Apapun yang dibuat oleh tanganmu, pasti akan terasa enak." goda nya.
"Gombal kamu, Mas." aku mencubit lengan tangan mas Leon dan tertawa kecil.
"Gitu dong ketawa, jangan nangis terus."
Aku tidak bisa tertawa Mas, bahkan saat bibirku tertawa sekalipun, bulir bening ini masih ikut menyertai tawaku. Kehilanganmu dari pandanganku lebih berat dari apa yang pernah aku alami dulu Mas.
Banyak hal yang kusadari saat aku bersamamu, dan salah satunya adalah aku yang telah jatuh cinta padamu. Aku tidak tau sejak kapan, tapi saat kamu terus berada disisiku aku akan terus merasa lengkap dan ringan.
***
Pagi ini kami ke Rumah sakit sebelum berangkat ke bandara, aku melakukan USG lebih cepat dari jadwal. Ku genggam tangan Mas Leon erat dari semenjak berada di dalam mobil. Ku letekan kepalaku diatas bahu mas Leon. Menikmati detik-detik bersama dengan suamiku ini.
"Ri, semalam Shena kontraksi. Apa itu gak masalah?"
"Gak apa-apa kalau gak ada pendaharan. Tapi Shena harus bisa jaga diri, jangan terlalu stres. Karena kandungan dia dari awal sudah lemah." jelas Riany sesaat setelah USG di lakukan.
"Tuh, jangan stres, jangan cengeng juga." timpal mas Leon padaku.
"Kamu jadi berangkat pagi ini Leon?"
"Iya." jawab mas Leon berat. " Jangan ganggu Andra, dia banyak tugas selama aku pergi." sambung mas Leon. Di sambut cubitan Riany pada lengan mas Leon. Mereka tertawa kecil sambil berbisik-bisik.
Pemandangan ini membuat aku gerah, mas Leon begitu mesra di hadapanku. Apa maksudnya ini mas? aku yang menangisi mu semalam dan kamu masih bisa tertawa bercanda dengan wanita lain di hadapanku.
Lagi, buliran air mataku kembali menghiasi pipi cabiku. Ada sesak di dada yang tak mampu ku suarakan.
"Kok nangis lagi sih?" tanya mas Leon sambil menyeka kedua pipiku.
"Leon, sebaiknya kamu jangan tinggali Shena dalam keadaan begini." ucap Riany saat menyadari aku menangis.
"Terus aku harus bagaimana, Ri? Dokter kepala sudah berkata, mau tidak mau ya harus di jalani." terang mas Leon, tegas.
"Yasudah, aku print foto USG nya biar kamu gak terlamabat ya."
__ADS_1
Sepulang dari rumah sakit aku terus terbayang sikap mas Leon tadi, mas Leon ini tidak peka apa memang ada sesuatu yang di sembunyikan padaku sih? dia bisa seakrab itu sama Riany, ah aku tidak boleh stres atau ini bisa berakibat buruk sama bayiku.
Ku coba untuk merelakan kejadian tadi padi.
Ku lihat mas Leon yang duduk di sebelahku dengan menggunakan kemeja hitam dan jeans hitam. Sangat terlihat memepesona, kamu harus kembali mas, apapun yang terjadi kamu harus kembali mas.
"Shena, habis ini kamu langsung pulang tempat Bapak ya, biar ada yang jaga kamu selama aku pergi." ucap mas Leon lembut.
"Iya mas." jawabku pasrah. Sebenarnya aku ingin tinggal dirumah aja, tapi harus nurut perintah suami.
"Jaga bayi kita ya, jangan pikiri yang enggak-enggak. Aku disana buat kerja, bukan buat main." jelasnya lagi.
"Iya."
"Shena, boleh akau minta sesuatu sebelum pergi?" tanya mas Leon ragu.
"Apa, Mas?" tanyaku bingung.
"Sekali saja, aku ingin mendengar kamu mengatakan, kamu mencintaiku." aku tertegun mendengar perkataan mas Leon. Apa selama ini dia tidak merasakan bahwa aku mencintainya?
"Shena, apa kamu mencintaiku?" aku menganggukan kepalaku. Bukan sulit tapi aku memang tidak terbiasa mengucapkan kata cinta pada seorang lelaki. Aku bahkan tidak pernah mengatakan cinta pada Randy.
"Jangan hanya anggukan, tapi katakanlah, Shena."
"Aku akan katakan, jika kamu kembali padaku nanti."
"Baiklah, jika hari itu datang aku akan memintanya dengan banyak tambahan."
"Apa, Tambahan apa?"
"Rahasia." bisik mas Leon di telingaku.
Setelah tiga puluh menit di jalanan kami pun sampai ke bandara, ku tatap kembali wajah yang akan pergi meninggalkan ku selama tiga bulan itu.
"Kamu gak sendiri kan mas? teman kamu mana?" tanyaku.
"Belum sampai mungkin, kamu baik-baik ya." ucap mas Leon lirih.
"Mas kamu akan pulang kan?" tanyaku dengan suara parau.
"Iya, aku pasti pulang."
Aku merapikan bahu kemeja mas Leon, sebenarnya tidak kusut tapi aku ingin menyentuhnya lebih lama lagi. Ku peluk dan ku sembunyikan wajahku di dada bidang mas Leon. Lagi-lagi aku tidak bisa menahan cairan bening ini untuk tidak mengalir.
Mas Leon menguraikan pelukanku dan mencium keningku lembut.
"Tunggulah aku kembali, maka aku akan menyempurnakan kisahmu. Tapi jika aku tidak kembali, maka hatiku tetap akan kembali ke tempatnya. Dan itu hanya ada pada hatimu."
"Mas, kamu harus kembali. Apapun yang akan terjadi, kamu harus kembali padaku." tangisku kembali pecah mendengar perkataan mas Leon.
"Aku juga berat meninggalkan kamu sendiri, tapi aku percaya bahwa Allah mampu menjagamu lebih baik dari pada aku." mas Leon mengelus-elus pucuk kepalaku.
"Jadi kamu juga harus percaya, bahwa Allah akan bisa membawaku kembali padamu." aku mengangguk dan memeluk kembali badan mas Leon.
Oh ya Tuhan tidak bisakah waktu kamu berhentikan disini? agar aku tidak akan berpisah dari makhluk yang telah kau berikan sebagai pelindung untukku ini. Bisakah waktu berhenti disini, agar dia selalu berada dalam pelukanku.
__ADS_1