Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 20


__ADS_3

Semakin banyak pertanyaan yang timbul dari pikiranku, aku seperti kesal dengan persamaan aku dan Sera.


"Sera itu gadis yang kuat, ia tak pernah mengeluh. Ia tak pernah menangis. Ia selalu tersenyum apapun yang sedang terjadi. Tapi waktu malam itu aku lihat kamu menangis, kamu mengeluh dan kamu terkadang menunjukan siapa dirimu. Itu yang semakin buat aku sadar, kamu dan Sera itu jauh berbeda, sangat jauh."


Setelah aku berperang pada pikiranku sendiri, mas Leon seakan tahu isi hatiku. Ia menjawabnya dengan sangat tepat mengenai hatiku.


"Kamu bukan Sera yang melindungi aku, tapi kamu Shena yang harus aku lindungi. Semakin aku mengenalmu semakin jelas perbedaan antara kamu dan Sera. Mungkin, sebagian dari diri kamu memang mirip sekali dengan Sera, tapi bukan itu yang membuat aku memilihmu, Shena. Walaupun awalnya Sera yang menarik aku padamu."


"Aku tau, Mas. Aku tau." aku mengambil tangan mas Leon dan meremasnya kuat.


"Aku ini adik yang sangat nakal, Shena. Aku suka sekali membuat ia kesal, aku ingin sekali melihatnya marah. Tapi ia tak pernah marah, ia hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum manis. Menunjukan lesung pipinya yang dalam padaku. Dia sering bilang padaku 'Zack sampai kapan kamu begini? Aku bosan melihatmu begini." mata mas Leon menatap kosong kedepan. Aku melihat senyumnya begitu sangat menyimpan luka.


"Sera itu sangat pintar, Shen. Ia mempunyai IQ di atas rata-rata. Aku baru tahu belakangan, bahwa Papa menyiapkan ia untuk menjadi ahli waris bisnis Mc.Kanzee. Papa ingin dia mengurus bisnis keluarga kami. Tapi dia menolak, karena dia punya mimpi nya sendiri.


Dulu aku tidak mengerti apapun, saat itu umurku baru 11 tahun, dan Sera sudah berumur 16 tahun saat itu. Tapi di umur segitu ia sudah mempersiapkan diri untuk masuk universitas."


"Malam sebelum ia pergi, dia berkata kepadaku 'Zack kamu harus tumbuh menjadi laki-laki yang menakjubkan, kelak aku akan memeluk dan memujimu jika kau bisa menjadi lelaki yang hebat.' ia berbicara sambil mengacak-acak rambutku saat itu."


"Aku saat itu tak mengerti apapun, Shena. Aku tak tahu itu malam terakhir aku berbicara padanya, dengan sombong aku menjawab pertanyaannya. Bahwa aku akan menerbangkan pesawat, aku akan berada di atas awan, Kelak kau tidak akan bisa memegang rambutku lagi. Aku akan menjadi Kapten Pilot Leon Zack Mc.Kanzee.


Aku tidak tau itu malam terakhir dia memegang rambutku, aku sangat benci jika ada yang mengacak-acak rambutku dulu." suara mas Leon terdengar parau, matanya mulai mengeluarkan bening buliran air matanya.


"Dan saat aku terbangun di pagi hari, ia sudah pergi. Mama bilang ia pergi mengejar mimpinya. Ia tidak mau mengurus bisnis keluargaMc.Kanzee, ia punya mimpinya sendiri, dan mimpinya itu menjadi seorang Dokter. Ia ingin menyelamatkan banyak nyawa dari tangannya itu. Tangan lembutnya yang sering ia gunakan untuk mengelus rambutku."


"Aku sangat merasa kehilangan ia saat itu. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Tapi dia tidak pernah pulang, aku berusaha untuk memperbaiki kesalahanku, aku mencoba untuk tidak membuat kesalahan apapun.


Agar dia tidak bosan lagi berada dirumah karena ulahku. berharap dia akan pulang dan tidak pernah pergi lagi. Tapi takdir berkata lain, setelah 2 tahun kepergian nya, papa tahu bahwa dia ada di Indonesia. Papa dan Mama pergi untuk membawa nya pulang kerumah. Tapi hari itu begitu suram buatku ingat Shena, hari itu terlalu pahit untukku telan."


Mas Leon mulai menundukan kepalanya, aku menarik badannya dan ku peluk ia erat.


Perlahan air matanya mulai tumpah, membasahi piama ku.


"Tapi mereka tidak pernah kembali lagi, bukan hanya Sera, papa dan mama juga tidak kembali. Mereka tidak pernah kembali selama apapun aku menunggunya. Aku sudah berubah jadi anank yang baik, tapi mereka tidak pernah pulang, Shena.


Mereka pergi, pergi meninggalkan aku sendiri, tanpa apapun. Mereka membawa segalanya dariku, seberapa keras aku memohon mereka tak pernah kembali, Shena."


Suara mas leon terdengar sangat sedih, ia nangis tergugu sampai badan besarnya bergetar.


Ku raih wajahnya dan ku hapus buliran bening yang menghiasi wajah gantengnya itu.


"Sudah mas, jangan ceritakan lagi. Aku tak mau melihat kamu terluka seperti ini.


mas Leon manarik kepalaku, ia meletakan dagunya di atas pucuk kepalaku. Tangannya melingkar erat di tubuhku. Setelah menghela nafas mas Leon melanjutkan ceritanya lagi.


"Setelah pemakaman selesai, keluarga Mc.Kanzee mulai berantakan. Mereka saling berebut untuk mengasuhku. Dengan tujuan bisnis papa yang akan bisa mereka kuasai. Perebutan kekuasaan dimana-dimana, pertengkaran dan juga pembunuhan terjadi dirumahku.


Aku melihat banyak darah, di setiap sudut rumahku, semua nya darah. Aku mencium bau darah dimana-mana. Sekejap rumah itu menjadi neraka buatku. Kenangan manis bersama Sera perlahan berubah menjadi mimpi buruk. Aroma wangi bau Sera berubah menjadi bau amis darah. Mereka melenyapkan kenangan indahku. Mereka mengubur semua sesuatu tentang Sera dalam ingatanku, Shena. Rumah itu begitu menyeramkan bahkan untuk aku ingat sekalipun."


Mas Leon melepaskan pelukannya dan menatap wajahku. Perlahan pandangan matanya berubah menjadi kebencian.

__ADS_1


"Aku hanya seperti seseorang yang menunggu waktu saja, menunggu saat aku akan di eksekusi oleh mereka."


Raut wajah mas Leon mendadak berubah.


"Mereka tidak bisa membunuhku saat itu, karena aku masih di bawah umur. Karena jika aku mati maka bisnis papa akan di serahkan pada negara. Jadi mereka menunggu umurku 21 tahun untuk bisa mengambil alih."


"Aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia, sebelum mereka menguburku bersama Sera disana.


Aku kabur dari Prancis saat umurku 18 tahun, aku datang kesini dengan satu harapan. Aku bisa mengambil sisa kenangan yang di tinggalkan Sera disini. Aku mengambil mimpi Sera yang pernah ditinggalkan nya, aku berusaha untuk melanjutkan mimpinya."


"Agar dia tau, bahwa aku bisa menjadi lelaki yang menakjubkan. Agar dia mau kembali ke sisiku walau hanya sekejap saja. Tapi apa yang ku katakan benar terjadi, Sera tidak pernah lagi mengacak-acak rambutku, walaupun sekarang aku yang memintanya."


"Saat tante Ranti menemukanku, ada rasa takut di sekujur tubuhku. Aku takut tante Ranti seperti keluarga Mc.Kanzee, trauma yang di timbulkan mereka padaku begitu membekas, Shena. Bahkan sampai saat ini pun aku masih sangat ingat bau darah itu.


Aku berusaha untuk mencari perlindungan dan mencoba akrab dengan Bapakmu.


Bapakmu, orang yang sangat Friendly. dia menceritakan banyak hal tentang keluargamu, termasuk kamu. Dan aku menemukan sosok Sera di dalam dirimu, saat pertama kali aku melihatmu, aku merasakan pandanganmu sangat meneduhkan, sikapmu yang lembut kepada Bapak mirip sekali dengan Sera. Aku menemukan cahaya kedua dalam hidupku."


"Aku berusaha untuk dekat denganmu, tapi aku kesulitan, karena aku takut dengan orang baru. Aku takut bercengkrama dengan orang lain saat itu, bayangan apapun tentang peristiwa silam membuat aku takut, bahkan bersentuhan dengan orang. Aku sering memperhatikanmu dari jauh, dan aku melihat kamu sudah nyaman dengan orang lain. Jadi aku mundur perlahan dan pergi bersama kenanganmu. Itu saja sudah cukup buatku."


"Bertahun-tahun aku pergi, dan saat aku kembali aku malah melihatmu menangis. Saat itu aku sadar, kamu dan Sera berbeda, Sera tidak pernah menangis walau dalam luka terdalam sekalipun.


Kamu cahaya baru dalam hidupku, dan aku tidak ingin melihat cahaya itu redup hanya karena cinta.


Aku ingin melindungimu, tapi aku malah merenggut kebahagiaanmu."


Luar biasa mas, kamu memang lelaki yang pintar menyembunyikan perasaan.


"Bertahun-tahun aku mengejar mimpi Sera, aku bertahan hidup dalam angan-anganku, angan suatu hari Sera akan memeluku dan mengatakan bahwa aku sudah menjadi lelaki yang menakjubkan. Tapi seberapa keras aku berusaha, Sera hanya ada dalam anganku."


"Aku rela menukarkan apapun hanya untuk pelukan Sera, aku rela menghabiskan waktuku, meninggalkan mimpiku, hanya demi sebuah kalimat pujian dari Sera.


Aku telah kehilangan mutiaraku, aku hanya sebuah cangkang kerang tanpa isi. Orang yang melihat cangkangku pasti berfikir aku ini keras, tapi saat mereka membukanya, maka hanya ada kekosongan saja. Kekosongan yang menyedihkan. Aku hampa, Shena."


"Kerang yang kehilangan mutiaranya itu sudah tidak berarti, dia hanya akan dicampakan dari satu tempat, ke tempat yang lain nya."


"Tapi cangkang itu akan berubah indah saat di temukan oleh tangan seorang seniman, mas. Kerang hanya akan di buang saat mereka berada di tangan orang yang salah. Dan kamu sudah membuktikan bahwa cangkang itu bisa berubah menjadi sesuatu yang berharga, Mas."


Mas Leon menatapku sendu, mungkin ia sedang mencerna setiap kata yang aku ucapkan.


"Aku sangat benci bau darah, Shena. Tapi pekerjaanku setiap hari harus melihat dan mencium bau darah. Aku tidak peduli itu, demi mimpi Sera aku melupakan mimpiku. Demi mewujudkan mimpi Sera yang tertunda aku membunuh mimpiku. Hanya untuk sebuah kata ' kamu menakjubkan, Zack. Kamu hebat'. Yang mungkin tidak akan pernah aku dengarkan sampai kapanpun. Aku lelah Shena, lelah sekali. Luka ini berdarah dan terus berdarah lagi saat aku menjalani profesi ini."


Mas Leon merebahkan badan nya dan meletakan kepala nya di atas pangkuanku. Sedari tadi air matanya terus mengalir.


"Setiap hari aku melihat seorang anak kehilangan Ibu nya, Ibu yang kehilangan anaknya, Istri yang menjadi janda, ataupun anak-anak yang menjadi yatim.


Sekuat hati aku menjalani pekerjaan ini, demi anak yang memerlukan Ibu nya, demi Istri agar tidak menjadi janda, demi keluarga orang lain agar mereka tetap lengkap.


Agar tidak ada lagi anak-anak yang seperti aku, agar tidak ada lagi adik yang tertawa dan menangis sendiri. agar tidak ada lagi luka yang menyayat hati mereka, karena kehilangan keluarga nya.

__ADS_1


Agar tidak ada lagi anak-anak yang di campakan dari satu tempat ke tempat yang lain."


"Demi mimpi Sera yang ingin menyelamatkan banyak nyawa orang lain, aku membunuh mimpiku, aku meninggalkan mimpiku, aku membuang nya jauh dari harapanku."


"Tapi apa? aku bukan Tuhan, aku hanyalah seorang dokter. Aku tidak bisa memberikan nyawaku, untuk menggantikan nyawa mereka."


"Yang harus pergi akan tetap pergi, mas! Bukan kehendak kita, tapi kehendak Allah. Semua akan tetap berjalan dengan porosnya sendiri. Jika tidak ada yang pergi, maka tidak akan ada juga yang datang."


Mas Leon kembali terdiam, kini buliran bening itu sudah tidak menampakkan kehadirannya lagi.


"Mungkin Shima ingin melanjutkan mimpimu yang tidak pernah selesai. Atau dia melihat mimpinya ada bersamamu. Kasih sayang seorang kakak itu sangat nyata. Tapi kasih sayang seorang adik itu tidak terlihat, kadang juga tidak terasa. Walau sebenarnya kasih sayang nya itu ada."


Aku membelai lembut rambut mas Leon, bagaimana bisa dia hidup dengan baik dengan luka yang seperti ini? aku merasa sangat berdosa padamu mas.


Aku selama ini berpikir bahwa tegap badanmu itu selalu kuat, aku tidak pernah menembus hatimu. Aku buta, aku sangat buta. Kau membalut lukamu dengan senyum manismu, kau balut dingin hatimu dengan sikap hangatmu. Aku selalu terbuai dengan kepura-pura an mu. Aku tidak penah tau bagaimana membalas perlakuanmu.


Mata sendu mu itu selalu menyampaikan luka, tapi aku sama sekali tidak peduli. Aku berpikir saat bibirmu tersenyum saja itu sudah cukup membuatmu bahagia. Oh ya Tuhan, bagaimana mungkin dia menopang hidupku dengan luka sedalam itu? Dia berusaha melindungiku dari semua perih tanpa dia memikirkan semua perih yang dirasakan nya itu.


Kamu terlalu sabar mas, kamu memang tumbuh dengan sangat menakjubkan. Andai aku tau dari dulu, maka aku bersedia ikut menahan nya bersamamu.


Ku belai lembut wajah mas Leon, dia menutup mata nya, kembali bulir itu menghiasi sudut matanya. Dia mengambil tanganku dan meletakan nya di dada.


"Terima kasih, Shena. Terima kasih untuk sentuhan lembutmu padaku. Walaupun itu tak mampu menggantikan sentuhan tangan Sera."


"Mas, kenapa kamu tidak menceritakan nya dari dulu?"


"Aku tidak pernah percaya pada siapapun, aku hanya percaya padamu. Tapi luka ini terlalu berat untuk di bagi. Aku selalu terluka saat mengingatnya. Percayalah, Shena. Sedetikpun aku tak ingin mengingatnya kembali. Ada perih yang kembali terasa disini."


Mas Leon menaruh tanganku di atas jantungnya. Terasa degupan jantungnya sangat keras.


"Kamu menakjubkan, Mas. Kamu sangat hebat."


"Terima kasih, Shena! Tapi kamu dan Sera berbeda. Aku senang mendengarnya darimu, tapi aku merindukan, Sera."


"Aku memang tidak bisa menggantikan Sera, mas! tapi percayalah, aku mampu berada disampingmu, untuk menyembuhkan luka hatimu."


Aku membelai lembut matanya, ntah kenapa ada rasa bergejolak di dalam dadaku. Ingin sekali aku memberikan nya semangat, tapi aku tidak tau bagaimana cara untuk menyemangatinya.


Selama ini aku yang bergantung padanya, aku yang berlindung padanya. Aku tidak tau bagaimana cara agar aku bisa melindunginya.


Aku selama ini selalu menopangkan diri padanya, aku tidak tau bagaimana cara untuk menyanggah kerapuhan nya.


Ku pandangi wajahnya dalam-dalam, tak kusangka wajah yang selama ini kulihat manis, banyak menyimpan kepalsuan. Aku ingin mencairkan hatimu, tapi aku tidak tau bagaimana caranya.


Ku tundukan sedikit wajahku, ku kecup lembut di dahi nya. Aroma gel rambutnya memang sangat mempesona. Aku memindahkan bibirku dari dahinya dan mendarat dengan lembut d bibirnya.


Mata mas Leon terbuka lebar, namun dia menutupnya kembali. Dia meraih ujung kepalaku dan menekannya.


Sesaat aku membuka mataku dan tersadar, Ya Tuhan apa yang ku lakukan. Tapi aku tidak menarik diri, aku takut mas Leon akan tersinggung. Ku biarkan untuk beberapa saat, mas Leon menciumku. Kucium aroma tubuh mas Leon yang wanginya senada dengan wangi gel rambut nya. Aku merasa semakin masuk kedalam pesonanya. Pesona nya memang terlalu kuat, aku sering kali terjebak dan terpenjarat oleh pesona nya ini.

__ADS_1


__ADS_2