Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 21


__ADS_3

Aku menyibukan diri di dapur sedari pagi tadi. Membuat beberapa pesanan cake dan berusaha untuk memalingkan pikiranku.


Kejadian semalam membuat hatiku masih berdebar sampai saat ini. Bahkan pipiku masih merona jika mengingat kejadian semalam. Pesona mas Leon selalu membuat aku tidak sadar dan menjebak ku masuk kedalam permainan ini semakin dalam.


Sementara mas Leon dari pagi tadi sudah sibuk dengan laptop nya. Ntah apa yang di buatnya, dia bahkan sibuk bekerja saat weekend. Dia memang bersungguh-sungguh pada pekerjaan nya.


Ku siapkan sepiring camilan dan teh hangat di atas nampan, ku antar ke ruang tivi untuk menemani kesibukan mas Leon.


Ku letakan sepiring camilan di meja, dan aku mulai menonton layar datar di hadapanku.


"Kamu sudah selesai membuat pesanan cake?" mata nya masih menatap laptop nya itu.


"Hmm."


"Kalau begitu coba praktekan lagi?" Dia memalingkan badan nya menghadap kepadaku.


"Apa? praktek apa?"


"Bagaimana cara kamu semalam mencium bibirku." mas Leon memainkan satu jari nya di bibir.


Aku menundukan wajahku karena sangat malu. Ya ampun aku dari tadi berusaha melupakan, kenapa dia malah membahas lagi sih?


"Coba lakukan saat aku sadar, mungkin ciuman nya akan lebih bergairah." dia memainkan kedua alis nya.


"Apa an sih." Aku beranjak dari duduk ku dan ingin pergi. Tapi mas Leon menarik tanganku dan mendudukan aku di pangkuan nya. Tangan nya mendekapku erat, dia mendekatkan bibirnya ketelingaku.


Ya Tuhan jantungku bisa lompat keluar jika seperti ini. Kenapa mas Leon bisa berubah begini, apa aku sudah membangunkan hasrat nya semalam.


"Terima kasih, untuk semangat yang udah kamu berikan kepadaku semalam." suara mas Leon terdengar lembut di telinga kananku.


Perlahan ada rasa panas yang mulai menjalar di badanku, wajahku memerah karena malu.


Aku sepertinya tidak bisa lagi mengontrol detak jantungku, aku bisa kehilangan nafas jika aku berada di posisi ini lebih lama lagi. Aku harus melepaskan diri sebelum aku terjebak lagi oleh pesona nya.


Aku melepaskan dekapan tangan mas Leon dan berlari ke kamar. Terdengar suara cekikian dari belakangku, mas Leon memang sengaja ingin menggodaku. Luar biasa memang kamu mas, pagi-pagi sudah ada ide untuk membuat jantungku bertabuh kencang.


Ku atur sedikit napasku yang sudah tak karuan. jantungku berdebar seperti aku habis lari maraton saja. Huhhh ya ampun Shena, kendalikan dirimu!. Mas Leon itu benar-benar deh, pagi-pagi sudah buat jantungku bekerja berkali-kali lipat dari biasanya.


Suara dering ponsel mas Leon membuat aku terkejut setengah mati. Huft tidak orang nya tidak ponsel nya sama saja. Ku lihat nama yang tertera di layar handphone nya 'Riany'. Hemm pagi-pagi pun sudah menelpon suami orang, dasaar.


"Mas. Handphone mu berbunyi."


Ku dengar langkah kaki mas Leon mendekat, dan jantungku pun ikut berdetak mengikuti langkah kaki mas Leon. Oh dari pada disini mending aku lari saja ke dapur. Sebelum mas Leon kembali memulai keburukan nya itu.


Mas Leon keluar dari dalam kamar dengan menempelkan ponsel di telinga kirinya.


Aku beranjak menuju pantry, membuka beberapa cake yang masih menempel pada loyangnya.


Aku mendengar mas Leon mangobrol serius dengan suara yang berada di seberang sana. Sesekali mas Leon melihat kearahku dan tersenyum.


Riany cantik dan Anggun, mas Leon itu ganteng dan penuh pesona, pantas saja mereka sering dibilang pasangan. Mau di lihat bagaimana pun juga mas Leon dan Riany itu memang pasangan yang ideal.


Apalah dayaku ini yang hanya gadis biasa.


Walaupun aku ini istri mas Leon yang beneran, tapi saat ada Riany aku hanyalah sebuah lalat yang tak terlihat oleh mereka.


Biasa mas Leon itu, selalu melupakan kejadian yang terjadi di malam hari, dan kembali bersikap seperti biasa di pagi hari. Ia akan selalu terbangun pagi seperti tidak ada kejadian apapun. Tapi kenapa pagi ini dia ingat ya?


Aku meletakan satu jariku di sudut bibir, aku memutar bola mataku seakan sedang mengingat-ingat sesuatu.


"Mikirin apa sih?"


"Itu, Kamu..." aku menggantung kalimatku, bisa gawat kalau dia tahu aku sedang memikirkannya.

__ADS_1


"Aku? Aku, kenapa?" tanya Mas Leon bingung


"Gak apa-apa, Kepo!" jawabku ketus.


Mas Leon hanya mengerdikan bahunya cuek, kemudian mas Leon meletakan ponsel nya dan memindakan laptop nya ke meja makan.


kenapa juga sih dia harus bekerja disini?


"Aku gak bisa anterin pesanan kamu hari ini, aku harus keluar mungkin agak lama."


"Udah biasa."


"Kamu marah?"


"Enggak kok, mas pergi nya bareng  Riany?"


"Emm" ia menjawab tanpa menoleh kearahku


"Yah ... fans kamu kecewa dong." nada ku meledek.


"Fans aku,  atau kamu nih?" suara mas Leon menggoda namun mata nya masih berkutat di laptop.


"Apa?" aku tersenyum getir mendengar perkataan mas Leon.


"Riany itu cantik ya, Mas."


"Hmm, dimata aku itu yang cantik cuma kamu."


Dih apaan sih mas Leon ini, kenapa dia selalu menghukum jantungku seperti ini.


"Riany itu siapa sih mas?" tanyaku penasaran.


"Dia temen aku, kami bekerja di Rumah Sakit yang sama." jawabnya enteng.


"Dia .... bisa di bilang sahabat juga, soalnya aku sama dia satu kampus dulu, ya lumayan deket sama aku."


"Yakin cuma sahabat? persahabatan laki-laki dan perempuan itu pasti melibatkan perasaan loh, Mas."


Mas Leon menatap kearahku, dia menaiki sebelah alis nya. Senyumnya terlihat sinis, Dia mendekat kepadaku dan duduk di kursi yang berada di depan pantry.


"Yakin lah, aku dan dia punya persamaan. Kami sama-sama memendam perasaan selama bertahun-tahun."


Mas Leon menuangkan air putih kedalam gelas, lalu meneguknya.


"Tapi aku beruntung."


"Beruntung, kenapa?" tanyaku penasaran.


"Karena sekarang gadis itu sudah ada di depanku dan jadi istriku. Tapi kalau Riany, ia  masih memendam perasaan nya saja. Mungkin karena dia wanita, jadi sulit untuknya menyampaikan perasaan nya."


"Kamu yakin laki-laki itu bukan kamu,mas? Dia sangat akrab loh sama kamu."


"Tentu bukanlah, dia punya laki-laki idaman nya sendiri."


"Bener tu,  yang dia idamkan bukan kamu?"


"Tunggu saja, nanti kamu juga bakalan tau laki-laki nya kalau dia mengirimkan undangan pernikahan dia."


"Yaaah semoga saja saat dia menikah aku tidak menjadi janda." aku berbicara membelakangi mas Leon.


"Kenapa? apa kamu cemburu?" suara mas Leon mengejek.


"Apa? kenapa aku harus cemburu?"

__ADS_1


Mas Leon berjalan ke arahku, ia menatapku dengan pandangan mata yang seperti elang, ingin mencengkram anak ayam. Aku berusaha mundur untuk menjaga jarak dengan nya. Namun dia terus berjalan maju sampai pinggangku menempel pada pantry.


Mas Leon meletakan kedua tangan nya di pinggiran pantry, Dia menumpuhkannya pada pinggiran pantry dan mengurung tubuhku dengan kedua tangan nya.


Mas Leon mendekatkan wajahnya ke wajahku, badan nya sedikit membungkuk untuk bisa menyamakan wajahku. Ya ampun apa sih mau nya laki-laki ini. Apa yang tadi belum cukup untuk membuatku malu.


"Benarkah kamu tidak cemburu padaku?" mas Leon menaikan kedua alis nya.


"Y... y... ya. Kenapa aku harus cemburu?"


Mas Leon semakin mendekatkan badan nya kepada ku, sampai aku bisa mencium aroma wangi tubuhnya. Ya aroma nya ini seperti sebuah sihir yang membuat aku lupa akan diriku. Aku selalu terjebak karena aroma nya ini.


Biru bola matanya itu menatapku dengan lekat, seperti nya dia memang ingin membunuhku dengan debaran jantung yang tidak bisa ku kontrol lagi. Kerongkongan ku mulai terasa mengering, mulai terasa gejolak di dalam dadaku yang membuat nafasku terasa sesak. Sekujur tubuhku mulai merasakan hawa panas yang menjalar bersama peredaran darahku.


Pandangan matanya itu seperti ingin mengurungku pada pesona nya. Kenapa sudah begitu lama menikah, namun pesona nya masih saja begitu kuat dan membuat aku selalu terpenjarat olehnya.


Ah aku tidak bisa terlalu lama dalam keadaan seperti ini, atau tidak mas Leon akan menggunakan sihir nya lagi untuk menjebakku berulang kali. Aku bisa mati muda jika tingkah mas Leon seperti ini setiap pagi.


Aku berusaha untuk melepaskan sebelah pegangan tangan mas Leon yang sedari tadi di tumpuhkan nya pada pantry. Namun pengangan nya terlalu kuat, aku bahkan tidak bisa membuatnya bergeser walau satu mili meterpun.


"Kenapa? kenapa terburu-buru? apa kamu ingin ke kamar bersamaku?"


Dia membisikan dengan lembut ke telingaku. Membuat aku merasa merinding. Dia ini manusia apa setan sih? kok bulu kuduk aku jadi bangun begini?


"A... a... a... Aku mau itu, mas?"


"Mau apa?" dia memainkan kedua alis nya dan tersenyum sinis.


Oh Tuhan, tolong aku, bagaimana aku harus meloloskan diri ini. Badan nya begitu tegap berdiri di depanku, otot tangan nya terlihat sangat kuat. Bagaimana mungkin aku melawannya dengan badanku yang kecil ini.


"Mas jangan begini, jangan..." aku menolak dada nya dengan kedua tanganku. Tapi sedikitpun dia tidak bergeming.


"Pegang saja apa yang ingin kamu pegang, seluruh badanku ini milikmu."


Aku langsung menarik kedua tanganku mendengar perkataan nya itu. Aku bukan mau memegangnya, aku mau mendorongnya, tapi kenapa malah begini.


Matanya masih menatap lekat wajahku, sedetikpun dia tidak memalingkan pandangan nya itu dariku.


"Mas, maksudnya aku, i... i... itu."


"Kenapa, sekarang kamu jadi gagu, Sayang?" ia mengedipkan sebelah matanya.


Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku, oh ya ampun Tuhan. Kenapa suamiku jadi genit sekali, seperti ini?


Dia membuat aku seperti tawanan yang terpenjara dalam pandangan mata nya itu. Sedikitpun dia tidak membiarkan aku lolos dari penjara pesona nya itu.


"Mas, aku mohon jangan begini, mas. Ini tidak baik." ucapku lirih dengan pandangan menunduk.


"Jadi kamu mau nya begini?"


Mas Leon menarik badanku dan melingkarkan tangan nya di perutku, dia mendekap eratku dari belakang.


Oh ya Tuhan bisa kah kamu memberiku jantung cadangan, aku khawatir jantungku ini tidak akan bertahan lebih lama lagi.


Pasti saat ini mas Leon mendengar degupan jantungku yang bertaluh tak beraturan. Seperti aku yang bisa mendengar hembusan nafasnya, terasa begitu hangat menerpa kulitku.


Mas Leon meletakan dagu nya di atas bahuku, dia menyingkap sedikit rambutku. Terasa bibir mas Leon meyentuh lembut leherku. Seketika bulu kuduk ku berdiri semua.


"Kenapa jantungmu berdetak kencang sekali, Shena? Kamu takut padaku, atau..." mas Leon menggantungkan kalimatnya.


"Atau kamu sudah jatuh cinta padaku?" Bisik mas Leon di telingaku.


Ah aku, jatuh cinta?

__ADS_1


__ADS_2