Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 29


__ADS_3

"Ini tidak baik, Leon. Detak jantung nya tidak terdengar normal." jelas Riany dengan wajah muram.


"Apa maksud kamu, Ri?" mas Leon menyeka pipinya.


"Kandungan, Shena. Masih sangat lemah, dia rentan keguguran dengan keadaan ini!"


"Jadi, aku harus gimana?"


"Saran, aku Shena harus rawat inap. Sampai kandungan nya sedikit lebih kuat. Aku akan memberi beberapa obat penguat kandungan selama dia di rawat."


"Mas, aku gak mau." aku hampir menangis mendengar pernyataan yang mengharuskan aku untuk di rawat inap.


Aku merasa aku baik-baik saja, kenapa harus tinggal sih, ya ampun selama ini kejadian seperti ini lah yang selalu aku hindari.


"Shena, Shena. Dengarkan Mas Sayang! ini yang terbaik buat kamu, jadi nurut aja ya." bujuk mas Leon kepadaku.


"Tapi aku takut, Mas." bulir bening mulai melintas di pipi cabiku. Aku ketakutan tak menentu, seperti ada phobia pada Rumah sakit.


"Takut kenapa? ada Mas. Mas selalu nemeni kamu. Ada Ibu, Shima, dan Shine nanti yang bakalan temani kamu, ya." pinta nya, berusaha menenangkan.


Aku menggeleng dan tangisku pun mulai pecah, aku benar-benar takut dengan Rumah Sakit. Cobalah untuk mengerti mas.


"Riany, apa gak bisa di rumah aja?"


"Huft... Leon aku takut kandungan nya tidak bertahan, rahim nya sangat lemah. Aku takut jika dia bergerak terlalu lasak bisa berakibat fatal." jelas Riany.


Wajah mas Leon terlihat pucat dan lesu, ada setumpuk keraguan tergambar dari raut wajah manis nya itu.


"Shena, Mas mohon mengertilah. Bukan Mas tidak mengerti rasa takutmu. Tapi ini untuk kebaikan kalian berdua. Percayalah, Mas lebih takut sesuatu terjadi padamu, Shena." aku mendengar suara mas Leon mulai kalut.


"Mas tidak akan meninggalkan kamu sendiri, kamu harus percaya." mas Leon mengelus pucuk kepalaku.


Aku mengangguk dengan berat, aku tidak bisa kekeh pada rasa takutku. Bukan hanya aku, sekarang sudah ada nyawa yang bergantung padaku.


Para suster mempersiapkan kamar VIP untukku. Mas Leon mendorong kursi roda yang kunaiki melewati beberapa bangsal. Aku masih baik-baik saja tadi pagi, kenapa sekarang di dorong pake kursi roda. terserah sajalah yang penting mas Leon bisa tenang.


Setelah melewati banyak kamar, aku memasuki kamar paling sudut. Ya ampun biasa yang angker itu yang pojok, kenapa mas Leon milih yang pojok sih, aku mengomel dalam hati.


Setelah infus telah terpasang dan semua telah siap, satu persatu perawat mulai pergi, tinggal lah mas Leon dan Riany yang sedang berbincang serius di luar pintu.

__ADS_1


Aku melihat sekeliling, mataku terus jeli melihat, mana tau ada sesuatu yang mencurigkan.


Riany itu ternyata tidak seburuk yang ku kira, dia cukup baik. Ya setidaknya untuk sekarang, gak tau deh kedepannya.


mas Leon masuk dan mendaratkan kecupan di dahiku, dia menggenggam tanganku erat, ada kekhawatiran yang tegambar di wajah tampan nya itu.


"Mas sudah menelpon Ibu, Shima dan Shine akan datang kesini. Selama Mas kerja, kamu di jaga mereka ya." jelasnya.


"Mas, kamu malam disini kan, kamu juga nginap disini kan." aku menggenggam erat lengan mas Leon.


"Jadi Mas mau kemana? pulang kerumah juga gak ada yang di lihat, tapi kita gimana ya kalok mau olahraga nanti?"


Aku tesenyum getir medengar lelucon mas Leon yang garing itu. Mungkin inap disini juga gak teralu buruk, kamar ini juga gak terlalu menyeramkan.


"Mas pergi dulu, ya. Ada pemeriksaan beberapa pasien."


"Aku, bagaimana mas?"


"Ada perawat yang menemanimu, ini masih pagi. Jangan terlalu parno."


"Mas, janji gak bakalan biarin aku sendiri." Nada ku cemas.


Mas Leon mengelus pucuk kepalaku, dia Mendaratkan bibirnya lembut tepat diatas bibirku. Sesaat ciuman itu, membuat segala kekhawatiranku menghilang.


Aku melepaskan ciuman nya dan meraih wajahnya.


"Ini rumah sakit loh, Mas."


"Yang bilang ini rumah kita siapa?"


"Jangan seperti itu, kalok ada suster yang lihat gimana?"


"Itu cuma sebagai pelipur rasa khawatirku saja, Mas lebih khawatir dari pada kamu."


"Dokter." seorang suster telah berdiri di belakang pintu.


"Iya, Mas kerja dulu ya." mas Leon meraih pucuk kepalaku dan berlalu pergi.


kulihat langkah besar mas Leon dengan cepat meninggalkan ruangan kamar inap ku.

__ADS_1


"Ibu butuh sesuatu?" tanya ramah seorang suster di hadapanku ini.


Aku menggeleng dan tersenyum, suster itu mengangguk dan duduk di sofa dan mengeluarkan gawainya.


"Punya suami ganteng itu repotkan, Bu!" suara suster itu memecahkan kehingan.


"Enggak juga." aku menjawab sambil tersenyum.


"Apalagi, kalok suaminya kayak Dokter Leon, dan Dokter Andra, pasti susah jaga nya."


"Kok gitu?" tanyaku penasaran.


"Iya, banyak fans nya." dia tersenyum.


"Termasuk kamu?" Ledek ku.


"Enggak deng bu, saya suka nya yang seperti Oppa korea." gadis itu tersenyum lebar menampilkan sederet gigi nya yang rapi.


Suster ini ramah sekali, bibir nya selalu saja terbuka semenjak tadi, syukurlah suasana nya tidak terlalu membuatku takut seperti di awal.


Sudah beberapa hari aku dirawat inap disini, tapi belum ada tanda- tanda aku boleh pulang.


Ibu, Shima, dan Shine bergantian menemaniku disini saat mas Leon bekerja. Terkadang Bapak juga ikut menemaniku jika sedang tidak bertugas, sayang mereka pasti lelah.


Wajah Ibu sering kali terlihat letih saat datang kesini, sepertinya dia tidak makan dan istirahat yang benar. Ini pertama kalinya aku dirawat inap, Ibu pasti sangat khawatir.


Wajah mas Leon pun terlihat pucat beberapa hari ini, pasti dia juga lelah, selesai bekerja malah harus menjaga aku semalaman, suaranya sudah terdengar bindeng, sesekali dia seperti mendeham, mungkin dia sudah kena flue terlalu lama di Rumah Sakit.


Suara adzan magrib telah berkumandang, Shima sudah pulang dari tadi, tapi mas Leon kenapa belum balik juga.


Cklek ... Suara pintu kamarku terbuka, daun pintunya terbuka sedikit, tapi aku tidak melihat tanda-tanda ada orang di sebalik sana. Aku susah payah menelan ludah, ini sudah 5 menit berlalu tapi kenapa belum ada juga orang yang masuk?


Aku menurunkan kaki ku dan mencoba berjalan untuk melihat nya. Seketika bulu kuduku merinding semua, saat langkah kakiku mulai mendekati pintu.


Ku rasakan hawa dingin mulai menerpa kulitku, membuat jantungku bertabuh kencang. Aku berjalan lebih dekat untuk melihat siapa di balik sana, namun tidak ada siapa pun.


Aku membalikan badanku dan tidak jadi keluar, terdengar suara langkah kaki yang datang mendekat, aku berusaha untuk memalingkan muka ku. Memastikan siapa di belakangku, tapi tidak terlihat.


Aku dengan cepat membalikan badan

__ADS_1


dan deg...


__ADS_2