
2 bulan kemudian.
"Mas..." aku menjerit memanggil mas Leon yang sedang bermain dengan Leona di ruang tivi.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya cemas.
"Aku hamil lagi." jawabku pasrah.
"Alhamdulillah..."
"Kok Alhamdulillah sih?"
"Terus bagaimana?"
"Ya kamu harus tanggung jawab lah, Mas." jawabku sedikit kesal.
"Kan Mas sudah nikahi kamu, masak mau nikah dua kali sih?" jawabnya datar.
"Bukan itu maksud aku, Mas. Kan kamu yang buat, gara-gara kamu ini."
"Kok gara-gara Mas sih? kan buat nya sama-sama. Yaudah lah Sayang. Rezeki itu." jawabnya enteng.
"Rezeki, rezeki kalok kamu yang mau lahirin." aku berlalu meninggalkannya sendiri.
Gampang banget dia bilangnya, sakit bekas ngelahirin Leona saja belum hilang sepenuhnya.
Ku lanjutkan memasak bubur Leona di dapurku. Mas Leon bukannya mikirin solusi malah gampang aja bilangnya.
Kurasakan tangan mas Leon menyentuh lembut bahuku.
"Gak mungkin kan kita gugurkan dia, bagaimana juga dia anak kita, Sayang." ucapnya tenang.
"Tapi Kyra masih kecil banget mas, kasian dia kalau punya adik lagi. Lagian bekas ngelahirin Kyra juga masih terasa sakit sampai sekarang Mas." ucapku rewel.
"Mas janji gak akan biarin kamu melewati semuanya sendiri. Kali ini kita lewati sama-sama ya, Sayang." ucap Mas Leon sambil meraih jemariku.
"Tapi, Mas..."
"Allah maha tahu yang terbaik, Sayang. Jangan seperti ini, jangan menolak rezeki dari-Nya. Mas akan mendampingi kamu, aku janji." ucap mas Leon memutuskan kalimatku.
"Tapi mas, gimana kalok Kyra gak terima. Gimana kalok badan Kyra kurusan?"
Mas Leon hanya tersenyum dan membelai rambutku lembut.
"Kyra pasti lebih paham kok, dia anak yang pintar. Dia pasti seneng punya adik. Apalagi kalok adiknya kembar. Bagaimana kalok kita buat lagi biar jadi kembar?"
Aku mengetuk lembut kepala mas Leon dengan sendok kayu masakku. Enak saja dia, hanya buat saja yang ada di pikirannya.
"Keluar dari daerah kekuasaanku, Mas. Keluar...!"
Dengan melenggang mas Leon keluar dari area dapur, tidak ada sedikitpun dia merasa pusing memikirkan ini.
Dasar...
****
Ku tata beberapa piring menu sarapan pagi di meja. Aroma dari lauk yang ku masak kembali membuat perutku bergemuruh. Secepat kilat aku berlari ke kamar mandi saat perutku ingin memuntahkan isinya.
Huft ... Ku seka mulutku dan ku hela nafas panjang. Kali ini mabuk dari kehamilan kedua sedikit membuat aku kelimpungan. Terlalu sensitif dengan bau.
Tok ... Tok ...
__ADS_1
"Shena, kamu di dalam?" ku dengar suara barito dari balik daun pintu kamar mandi.
"Iya, Mas."
"Mabuk lagi?"
"Hem." jawabku cuek, ku buka pintu kamar mandi dan ku lihat mas Leon dan Kyra di gendongannya.
"Apa hari ini Mas ambil cuti lagi?"
"Jangan lah, Mas. Nanti pasien kamu gimana?" ucapku sambil berjalan menuju meja makan.
"Terus kamu sanggup jagain Kyra?"
"Hem." ku tarik kursi di meja makan.
Kembali aroma dari masakanku menyeruak ke rongga hidung. Lagi dan lagi, aku berlari secepat kilat ke kamar mandi.
Ku dengar helaan nafas panjang dari mas Leon saat aku berlari ke kamar mandi.
Ku seka ujung bibirku saat keluar dari kamar mandi.
Ku lihat mas Leon yang sedang membereskan menu sarapannya.
"Loh, kok di simpan sih mas?" tanyaku bingung.
"Mas cuti saja hari ini, mana bisa kamu jaga Kyra kalau bolak balik ke kamar mandi terus."
"Hem, antar aku kerumah ibu saja, Mas. Jangan cuti terus, nanti kalau kamu kebanyakan cuti, gaji kamu kurang dong Mas."
Mas Leon tersenyum dan menggeleng pasrah. Tangannya sigap membereskan menu yang ku tata rapi tadi.
"Dasar, Mas masih punya jatah cuti. Jadi kamu jangan khawatir soal gaji."
"Istirahat gih, biar Mas yang beresin ini."
Ku anggukan kepalaku dan berjalan memasuki kamar. Ku elus pelan perutku yang masih rata.
Kenapa kamu jahil banget sih, Nak. Kerjain Ayah kamu terus. Kita beruntung karena Ayah kamu lelaki lembut dan juga bertanggung jawab.
Ku hela nafasku dan ku rebahkan badanku diatas kasur. Tak lama suara langkah kaki datang mendekatiku.
"Mas sini Kyra sama aku. Mas sarapan dulu sana."
"Mas bisa sarapan nanti. Temani Kyra main dulu."
"Oh, yaudah." ku ambil gawaiku dan sekedar memainkannya.
Sementara mas Leon dan Kyra masih asyik bermain berdua di lantai kamar. Ku tatap wajah Mas Leon yang sedari tadi tersenyum saat bermain bersama Kyra.
Seandainya kamu tak kembali, Mas. Apakah kehidupanku kembali senyaman saat ini. Entah seberapa keras perjuanganmu dulu, aku tak pernah tahu. Tapi jika itu aku, mungkin aku tak akan sanggup.
Karena, tanpa kamu di sisiku saja mampu membuat aku gila. Bagaimana jika kamu benar-benar gak kembali saat itu?
"Ada apa Shena? kenapa memandangku begitu?" tanya mas Leon, sadar aku memandangnya dari tadi.
Aku tersenyum dan menggeleng pasrah.
"Mau jalan-jalan? kita beli perlengkapan bayi."
"Kehamilanku masih dini, Mas. Gak boleh beli perlengkapan bayi buru-buru."
__ADS_1
"Tapi waktu kamu hamil Kyra dulu, Mas kan gak sempat temeni kamu pilih baju bayi." sambung mas Leon sendu.
Aku bangkit dan berjalan mendekati mas Leon. Duduk di sebelah mas Leon.
"Mas buka baju, gih."
"Eh ... Kamu mau ngapain?" ucap Mas Leon sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
Ku cubit dada bidang mas Leon, geram.
"Mas gak usah lebay deh."
Mas Leon hanya tersenyum menampilkan jejeran giginya dan melepaskan kaus yang ia gunakan.
Ku benamkan wajahku di dada bidang milik Mas Leon.
Wangi ini masih sama seperti pertama kali kita bertemu dulu.
"Dari hamil Kyra, sampai hamil anak kedua. Kebiasaan kamu gak berubah ya Sayang." ucap mas Leon sambil mengelus pucuk kepalaku.
"Hem."
"Aku yakin anak kita perempuan lagi."
"Kok gitu?" ku dongakan kepalaku melihat wajah mas Leon.
"Habisnya kebiasaan nya masih sama."
"Gak juga." ku letakan kepalaku diatas pangkuan mas Leon.
"Mas." ku panggil mas Leon lembut.
"Hem."
"Aku gak kebayang gimana kalau kamu gak pernah kembali saat itu," ucapku mengingat hari-hari dimana harus berjuang sendiri.
"Mungkin saat ini, aku dan Kyra harus saling berjuang menguatkan untuk hidup kami berdua." sambungku sambil tersenyum sendu. Ku rasakan tangan mas Leon yang membelai lembut dahiku.
"Kenapa gak cari suami baru aja lagi?" jawab mas Leon dengan senyum menggoda.
Ku cubit kulit perut mas Leon kuat. Mas Leon mengernyitkan dahinya menahan sakit.
"Ini juga, kebiasaan yang gak pernah hilang." ucap Mas Leon sambil mengenggam jemariku.
"Kamu pikir aku semudah itu bisa menikah lagi?"
"Karena kamu bukan wanita seperti itu, Shena. Aku tenang meninggalkanmu sendiri disini."
Sontak aku terduduk dan mencubit kedua pipi mas Leon, gemas.
"Jadi mas mau ninggalin aku sendiri lagi?" tanyaku garang.
"Enggak loh, siapa juga yang tahan jauh dari kamu."
"Alah, gombal kamu, Mas."
"Walau gombal, tapi kamu suka kan." Mas Leon melingkari tangannya di perutku. Meletekan dagunya di bahuku.
"Kemanapun Mas pergi, kamu adalah tempat Mas kembali, Sayang."
"Gombal saja terus."
__ADS_1
"Yaudah kalau gak suka." ucap mas Leon meleraikan pelukannya.
"Eh ... Suka."