Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 28


__ADS_3

"Mas, memang harus ya kita kesana?"


"Iya, kesana, sebentar saja ya. Mau kan?" mas Leon memainkan gawainya.


"Emmm." jawabku kesal.


Setelah melahap makan malam kami,


aku dan mas Leon beranjak pergi dari warung itu.


Mas Leon melajukan mobilnya dengan cepat menembus ramainya kota, tak jauh dari kota, mas Leon memarkirkan mobilnya di sebuah rumah mewah.


Rumah bak istana, banyak pilar-pilar tersusun mengikut panjang nya koridor teras, yang menyambut kami sebelum sang tuan rumah, halaman nan hijau yang terpapar luas di depan rumah. Rumah mewah dengan gaya eropa berlapiskan cat cokelat muda, sangat apik di pandang mata.


"Mas, ini rumah, Riany? Besar banget ya, Mas." mataku masih memandang sekeliling sangking takjubnya.


"Iya, Riany itu masih termasuk dari keluarga bangsawan."


Hemm pantas saja, gaya nya selalu anggun dengan senyum ayunya itu. Badan yang bagus dan tata bicaranya selalu beretika. Kalok Riany itu bangsawan, masak iya dia jadi pelakor sih? apa aku yang terlalu kejam ya?


Tok...Tok... Mas Leon mengetuk daun pintu dengan ukiran khas jawa. Terdengar suara dari sebalik pintu sebelah sana.


"Eh... Udah datang, ayo masuk." sambut Riany ramah kepada kami.


Aku dan mas Leon masuk kedalam rumah mewah itu, mataku masih menatap keliling dengan rasa takjub, tidak pernah aku melihat rumah semewah ini, dengan hiasan guci dan beberapa barang antik di ruang tamu, menambah indahnya ruang tamu rumah ini. Banyak hiasan bunga kristal yang membuat mataku silau.


"Nih, oleh-oleh buat kamu, By the way happy milad ya." mas Leon memberikan bungkusan yang di bawa tadi.


"Wah, apa ini?" senyum Riany melebar saat dia melihat isi dalam nya.


"Makasih, ya." Riany menambah kalimatnya.


"Eh, jadi kan yang kamu, Chat tadi?" Riany bertanya ke mas Leon.


Oh jadi dari tadi mas Leon memainkan gawai nya Chat-an sama Riany toh.


"Yaudah, yuk Shena." ajak Riany kepadaku.


Eh kok ngajak aku? aku menatap mas Leon dan dia hanya mengangguk. Aku berjalan mengikuti langkah Riany, dia berjalan memasuki sebuah kamar dan aku mengikutinya.


Ada sebuah ranjang pasien dan beberapa alat medis di dalam kamar itu, aku melihat ranjang itu saja sudah merinding, dari kecil aku selalu takut dengan Rumah Sakit.


Aku mundur beberapa langkah, namun aku menabrak tubuh seseorang.


"Ada apa, Shen? jangan takut." suara lembut mas Leon dari belakangku.


"Ayo masuk," perintah Riany dengan senyum melebar.


Mas Leon menarik tanganku dan menidurkanku di ranjang itu, entah kenapa keringat dingin mulai menerpaku, jantungku bertabuh kencang bak ikut ke medan perang.


"Jangan takut, Shena. Aku coba periksa keadan kamu aja kok." senyum nya ayu banget memang.


Riany menekan nadiku dan memegang beberapa bagian di perut, wajahnya yang sedang serius itu terlihat makin manis, aku malah membayangkan wajahnya mirip artis manis Raline Shah.

__ADS_1


"Udah, yuk." suara Riany menyadarkanku.


Aku ini kenapa? baru saja aku tadi sangat membenci wajahnya, kenapa sekarang aku malah terkesan dengan paras ayu nya itu.


"Gimana, Ri? Dugaanku benar kan?" mas Leon menanyakan dengan wajah tegang.


"Iya, Leon. Selamat ya."


"Alhamdulillah," mas Leon menarik badanku, dan memelukku erat.


"Ada apa sih, Mas?" tanyaku bingung.


"Kalian ini aneh ya, aku baru lihat loh, lebih peka suaminya dari pada istrinya. Apa karena kamu Dokter ya Leon?" mas Leon menaikan bahu nya. Sedangkan aku masih terbodoh dengan keadaan ini.


"Gini loh, Shena. Selamat ya kamu hamil."


Aku tertegun mendengar pernyataan Riany, bagaimana mungkin aku selama ini tidak sadar. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali datang bulan.


Ada rasa bahagia yang menyelimuti hatiku, seperti ada harapan baru yang menyinari hatiku. Ku elus perutku yang masih rata itu dan ku coba untuk merasakan nyawa kecil yang sekarang sedang bergantung dengan aku.


"Tapi aku sarani besok kalian ke Rumah Sakit aja deh, Leon. aku ngerasa detak jantung nya sedikit lemah. Sebaiknya di USG dulu, biar lebih akurat." jelas Riany detil.


Aku menggelang sambil menatap mas Leon, aku takut dengan Rumah Sakit, aku gak mau kesana.


"Gak papa, kan Mas temani. Mas selama ini kerja disana, dan sampai sekarang Mas masih baik-baik aja kan." bujuk mas Leon padaku.


--- -- ---- ---


Aku mondar mandir sedari pagi tadi, begitu resah hatiku memijakkan kaki di Rumah Sakit. Ya ampun apa yang harus aku lakukan.


"Jangan khawatir, ada Mas disana." suara nya yang lembut menenangkan hatiku.


"Mas, gak usah ke Rumah Sakit ya. Aku baik-baik aja." pintaku merayu.


"Ini untuk kebaikanmu dan anak kita. Baiklah jika kamu tidak peduli pada anak kita, tapi Mas peduli dengan calon ibunya."


Aku tau, ini memang tidak bisa ku elakan lagi. Apapun ceritanya mas Leon pasti akan memaksa aku untuk ikut dengan nya.


Mas Leon melajukan mobil nya dengan cepat, ku lirik jam pada mobil mas leon sudah menunjukan pukul 7 pagi lewat. Pantas saja dia terburu-buru begitu, suara decitan dari ban mobil mas Leon terdengar saat dia memarkirkan mobil nya pada halaman Rumah Sakit.


Dan keringat dingin sudah mulai mengalir, saat aku baru turun dari mobil.


Aku berjalan mengikuti langkah kaki mas Leon. Aku tidak bisa berhenti meremas tanganku semenjak turun dari mobil tadi.


"Apa Riany udah datang?" tanya mas Leon pada seorang perawat yang berdiri di belakang meja administrasi.


"Belum, Dok." jawab perawat itu singkat.


Mas Leon kembali berjalan melewati bagian kamar-kamar di Rumah Sakit itu. Rumah Sakit ini terbilang mewah, suasana nya juga nyaman, tapi tetap saja tidak membuat rasa takutku berkurang.


Setelah agak lumayan jauh berjalan, mas Leon masuk ke sebuah ruangan yang di pintu kaca nya bertuliskan dr. Leon Zack Mc.Kanzee.


Aku segera ikut mas Leon masuk kedalam.

__ADS_1


Aku memandang sekeliling ruangan mas Leon, ku buka kaca jendela ruangan itu untuk menghirup udara pagi di Rumah Sakit itu.


Aku melihat taman Rumah Sakit nampak dari jendela ruangan mas Leon. Aku melihat beberapa anak kecil bermain disana dengan selang infus yang masih terpasang.


Seperti tidak ada rasa khawatir tentang hidupnya, seperti itulah anak-anak. Dunia nya selalu terlihat indah, tidak peduli seperti apa keadaan nya, mereka selalu bisa membawa tawa untuk orang di sekitarnya.


Aku mengelus perutku, 'Nak, semoga hadirmu membawakan surga di rumah kita ya'.


Tak percaya, aku akan menjadi ibu sebentar lagi, memikirkan bagaimana anak ini nanti, seperti apa rupanya?


Pasti cantik dan ganteng, dan penuh pesona seperti ayahnya.


"Dokter,  ada pasi ... en, ehhh ada Ibu Dokter disini." Asisten mas Leon tersenyum malu.


Aku hanya membalas senyum nya dan kembali menatap keluar jendela.


"Kita bicara di luar aja," sambung mas Leon


Lalu mas Leon dan asisten nya itu keluar, gak tau aku kemana, dan gak pingin tau juga. Setidaknya dengan memandang paparan hijau taman ini membuat sedikit kecemasanku menghilang.


Setelah 1 jam lebih mas Leon kembali dengan dahi yang sudah berkeringat. Habis maraton kah? pagi- pagi udah keringatan aja.


"Yaudah, yuk."


"Kemana?"


"Ke ruangan Riany lah, masak ke hotel. Apa kamu mau kita olahraga di ruang rawat inap pasien?" mas Leon memainkan alisnya dan tersenyum lebar.


"Gak lucu!" jawabku ketus.


"Dihhhhh, judes amat." ledek mas Leon.


Aku dan mas Leon berjalan melewati beberapa ruangan tidak terlalu jauh tapi ruangan disini terlihat lebih sepi dari ruangan yang lain nya.


Aku mengikuti langkah kaki mas Leon yang berjalan masuk ke dalam ruangan kandungan, disini sedikit lebih nyaman. Ruangan nya lebih luas di bandingkan dengan bilik mas Leon tadi. Aroma nya juga lebih harum.


"Langsung saja yuk, sebentar lagi pasienku ramai." kata Riany yang begitu melihatku masuk ke dalam.


Riany mulai menyiapkan beberapa alat dan juga menyingkap sebagian bajuku. Dia mengoleskan gel dan meletakan alat nya di atas perutku dan munculah gambar hitam putih di layar monitor.


Mas Leon menggenggam tanganku sangat erat, sepertinya dia sekarang yang lebih takut dari pada aku.


"Ini gambar bayinya, umurnya sudah 9 minggu." tangan Riany menunjukan ke arah bulatan kecil berwarna hitam di monitor itu.


"Sekarang, kita dengar detak jantungnya, ya."


Aku mendengar suara nya, irama jantungnya Senada dengan irama jantungku. seperti tak percaya ada nyawa kecil di dalam rahimku. Ada dua detak jantung di dalam badanku, Oh Ya Allah, terima kasih untuk kebahagiaan ini. Kau menjadikan aku seorang wanita yang sempurna.


Tangan mas Leon menggenggam erat tanganku dan kulihat pipi nya mulai berhiaskan buliran air mata.


Cengeng banget sih jadi laki-laki. Aku tersenyum dalam hati, melihat mas Leon yang begitu terkesima dengan gambar yang tak begitu jelas di dalam layar hitam putih itu.


"Terima kasih, Sayang. Kamu udah memberikan aku cahaya baru dalam hidupku." mas Leon mengecup dahiku lembut.

__ADS_1


"Ini tidak baik, Leon. Detak jantung nya tidak terdengar normal." jelas Riany dengan wajah muram.


__ADS_2