Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 42


__ADS_3

Ku hela nafasku saat duduk di bibir ranjang. Lelah, sehabis menyiapkan acara pemberian nama untuk Sera menyerap habis tenagaku.


Ku lepaskan kerudung putih yang ku kenakan dan merebahkan badanku perlahan. Ku pejamkan mataku, sekedar melepas lelah dan letih, kekurangan waktu tidur juga membuat badanku sedikit kelelahan.


Kurasakan belaian tangan menyentuh dahiku. Ku buka mata dan melihat mas Leon duduk di sebelahku.


"Lelah, Sayang?"


"Hem," ucapku kembali menutup mata.


"Istirahat yang nyenyak. Biar Mas yang jaga Sera malam ini."


"Jangan, Mas masih harus kerja besok. Aku hanya tidur lima menit, setelah itu pasti bugar lagi."


"Terserah kamu saja. Kalau kamu butuh bantuan bilang sama Mas, Shena."


"Emh." ku lingkari tanganku di pinggang mas Leon.


Ku rasakan belaian tangan mas Leon menghantar tidurku malam ini.


Ku tata piring sarapan di atas meja. Sambil menggendong Sera, aku menyiapkan beberapa sarapan untuk mas Leon.


"Kyra, makan yang benar." ku ubah posisi Kyra yang makan sambil terngkurap di lantai.


"Jangan bentak-bentak anakmu, Shena. Biarkan saja, nanti kalau sudah siap makan tinggal di beresi." ucap mas Leon lembut, ia menarik salah satu kursi di meja makan.


"Jangan di biasain jorok begitu, Mas. Nanti sakit gimana?"


Mas Leon hanya menggelengkan kepalanya.


"Kyra, sini makan sama Ayah."


Mas Leon menaiki badan Kyra diatas meja makan. Ku hantarkan sepiring lauk keatas meja makan. Kembali aku berkutat di dapur, mencuci sebagian peralatan piring selagi masih ada mas Leon yang menjaga Kyra.


Praaankkk


Sontak ku balikan badanku saat mendengar suara pecahan piring. Ku lihat mas Leon yang tersenyum getir, melihat putri kesayangannya menjatuhkan piring lauk yang baru saja selesai aku masak.


"Kebiasan Mas suka main diatas meja sama Kyra."


"Maafin Mas, Sayang. Kita sarapan di luar saja yuk." jawab mas Leon bersalah.


"Mas!" ucapku sedikit keras.


"Aku siapin ini dari pagi buta, sekarang Mas mau kita makan di luar?" ku gelengkan kepalaku dan berjalan membereskan pecahan piring di lantai.


"Shena, biar Mas saja, kamu lanjutin saja kerjaan kamu." ucap Mas Leon sambil berjongkok di depanku.


"Sudahlah, Mas berangkat kerja sana. Nanti baju Mas kotor gara-gara bantuin aku."


"Mas bisa kerjain ini, sini biar mas bantu."


Ku tepis tangan mas Leon yang ingin meraih puingan beling di lantai.


"Mas kan mau sarapan dulu, nanti mas terlambat kalau harus beresin ini." ucapku tanpa melihat mas Leon yang saat ini berada di hadapanku.


"Shena, Mas minta maaf Sayang."

__ADS_1


"Iya, yasudah Mas berangkat sana, nanti gak sempat sarapan di luar lagi."


"Shena, maksud Mas bukan begitu," ku dengar helaan nafas berat dari mas Leon. "Yasudah, Mas berangkat ya, Sayang."


"Hati-hati, Mas." ucapku cuek.


Mas Leon menarik kepalaku dan mencium dahiku lembut.


"Jangan di paksakan Sayang. Istirahat jika kamu lelah."


"Hem." jawabku cuek.


Sore.


Ku baringkan badan Kyra diatas kasur. Setelah lelah bermain seharian dan tidak tidur, akhirnya dia menyerah juga.


Ku pejamkan mata lelahku sejenak. Sebelum mas Leon pulang dan kedua anakku sedang tertidur pulas. Seharian berebut waktu dengan mereka ternyata lebih melelahkan di bandingkan bekerja di luar rumah.


Aku tersentak, saat suara adzan berkumandang. Ku buka mataku dan ku lihat malam sudah menyambut hari.


"Ya ampun, aku ketiduran." aku terlompat dari kasurku dan membuka daun pintu kamarku.


Tak ku lihat mas Leon berada dimanapun. Aku bergegas menyiapkan makan malam, ku keluarkan beberapa lauk makan siang dan ku hangatkan kembali.


"Assalamualaikum." ku dengar suara langkah kaki mendekat.


Aku berlari dan menyambut tangan mas Leon, mencium punggung tangannya takzim.


"Kok pulang telat, Mas?"


"Mas bawa apa?" tanyaku melirik kantungan yang di bawanya.


"Makan malam buat kita."


"Tapi kan aku sudah masak, Mas."


"Mas gak tahu, Mas cuma gak tega lihat kamu kelelahan, Shena."


"Ya kan Mas bisa tanya sama aku dulu, ini siapa yang mau makan? mubazir kan!"


"Maaf, Mas gak maksud gitu."


"Sudahlah Mas, ayo makan." ucapku mengalah.


Mas Leon hanya mengangguk dan mengikuti langkah kakiku. Saat baru ingin menarik kursi. Ku dengar suara Sera menangis, aku berlari ke kamar dan mencoba untuk menenangkannya.


Selesai memberikan ASI, Sera kembali tenang. Tidur diatas pangkuanku. Ku senderkan kepalaku di sisi belakang tempat tidur. Ku pejamkan mataku sejenak.


Ternyata punya dua balita sangat melelahkan.


****


Ku berikan sepiring nasi di hadapan Kyra. Dengan cepat aku berlari ke dapur. Membalik masakanku sebelum gosong.


Lambat laun aku mulai terbiasa memasak sambil menggendong Sera. Di tambah lagi mengasuh Kyra yang aktif luar biasa.


Aku berlari membawa segelas air untuk Kyra. Suhu tubuhku menaik seketika saat ku lihat Kyra makan di piring yang bercampur dengan kakiknya.

__ADS_1


"Astagfirullah, Kyra." bentakku melihat tingkah Kyra yang luar biasa menguras emosi pagi hariku.


Ku angkat badan Kyra menjauh dari piring makannya.


Ku lihat jam di dinding, sudah hampir jam tujuh, kenapa mas Leon belum keluar juga.


"Mas...!" teriakku memanggil mas Leon dari dapur.


"Iya, Mas baru siap mandi." jawaban lantang dari kamar kami.


Ku letakan sepiring nasi goreng dan juga telur mata sapi yang sedikit gosong karena Kyra.


"Shena kemeja Mas yang warna marun kamu lihat?" tanya mas Leon di ambang pintu kamar.


"Hem, sepertinya belum ku cuci, Mas."


"Oh." jawab mas Leon kembali masuk ke kamar.


Ku bereskan piring nasi Kyra yang berserakan. Ada saja anak mas Leon yang satu ini. Gak pernah sarapan dengan benar.


"Ayo ke kamar mandi, cuci tangan." perintahku ke Kyra.


Dengan langkah kecilnya ia berlari memasuki kamar mandi. Ku basuh kedua kaki dan tangannya. Ku dudukan di kursi, dan kembali menyiapkan sarapan paginya.


"Shena, snelli Mas dimana?"


"Coba kamu lihat di jemuran balkon Mas."


Ku suapi makanan ke dalam mulut Kyra. Dengan riang gembira, Kyra makan sambil menggoyang-goyangkan kakinya.


"Shena, kamu lihat belt hitam punya Mas?" kepala mas Leon menyembul dari balik pintu kamar.


Praannkk


Piring dari tanganku jatuh karena tendangan kaki Kyra. Ku lihat wajah Kyra dan juga mas Leon secara bergantian.


Luar biasa, Ayah dan anak ini membuat emosi terbakar sepagi ini.


"Mas coba cari sendiri kenapa?" ucapku sedikit membentak.


"Aku lelah, Mas!" sambungku dengan sedikit keras.


"Aku juga lelah." jawab mas Leon datar. Seketika raut wajahnya berubah.


"Kamu terlalu egois." sambungnya sambil berjalan keluar.


Ku pandangi wajah Mas Leon yang terlihat datar namun seperti sedang menahan amarah.


"Mas, maksud aku."


"Kamu berpikir bisa melakukan semuanya sendiri, apa salahnya minta bantuan aku?" ucap mas Leon mendekat, ia mencium Kyra dan juga Sera yang ada dalam gendonganku.


"Aku berangkat, assalamualaikum." sambungnya melengos pergi tanpa menyodorkan tangannya untuk ku cium.


"Mas." pannggilku lembut. Aku tak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin menjadi ibu dan istri yang baik.


Kenapa mas Leon malah marah?

__ADS_1


__ADS_2