Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 26


__ADS_3

Aku menyenderkan kepalaku di bagian sisi sofa di depan tivi, entah sudah berapa kali aku menguap karena kantuk yang menyerang. Aku harus tahan, malam ini aku harus berbicara dengan mas Leon. Ku raih ponselku dan ku coba mainkan agar kantuk ini tidak terus berkelanjutan.


Namun malam semakin larut, aku tidak sanggup menahan nya lebih lama lagi. Perlahan kesadaranku pun mulai menghilang, ku coba untuk tetap sadar walau hanya sebatas mendengarkan suara.


Perlahan ku dengar samar suara langkah kaki datang mendekat kearahku, ku coba untuk membuka mataku, namun ini terlalu berat. Ku rasakan tangan seseorang meraih badanku dan menggendong nya ke dalam kamar. Di rebahkan nya tubuh mungilku di atas kasur, dia membelai lembut kepalaku dan mengecup dahiku dengan lembut.


Aku mencoba untuk sadar dan ku tarik tangan nya yang ingin pergi dari sisi kasurku.


Ku kucek-kucek kedua mataku untuk bisa mengembalikan kesadaranku.


"Mas." ku panggil lelaki yang masih memakai kemeja hitam itu.


"Kamu kok bangun? sudah malam tidur gih." perintahnya.


"Kita harus bicara, Mas." pintaku.


Dia menghela nafas panjang dan tersenyum simpul. Lalu duduk di tepi kasur. Aku bangun dan ku senderkan badanku di sisi belakang kasur, agar mataku ini bisa terbuka kembali.


"Bicara apa? ini udah malam, besok aja ya." wajahnya terlihat santai.


"Besok? aku belum tentu bisa bertemu kamu, Mas."


"Memangnya aku mau kemana? kita masih tinggal serumah kok." jawab mas Leon santai.


"Tapi sudah beberapa hari aku tidak melihat kamu, Mas. Kamu menghindari aku?"


"Kamu mikiri apa sih? aku sedang sibuk."


Aku menundukan kepalaku, perlahan buliran air mata mulai jatuh dan membasahi selimutku.


"Shena, aku mohon jangan menangis." Dia meraih kepalaku dan mendaratkannya ke dada bidang nya itu.


Aku merasa nyaman saat dia memelukku seperti ini, tapi tangisanku semakin pecah karena pelukan nya itu juga. Ada rasa sakit di hatiku karena sikap dingin nya itu. Dia berusaha menenangkan ku dengan mengelus ujung kepalaku. Baru sebentar saja aku menangis, namun kemeja hitamnya itu mulai basah karena air mataku itu.


"Shena, cep ... Cep. Jangan menangis lagi." dia menarik kepalaku menjauhkan dari dadanya.


Mas Leon menatap mata beningku dengan lekat. Aku tertawa kecil mendengar perkataannya.


"Mas, aku bukan anak kecil, kamu ini." Aku mencubit lengan nya.


"Tapi aku berhasilkan buat kamu tertawa."


"Mas, kenapa kamu menghindariku?" Perlahan mimik wajah mas Leon berubah.


Dia membuka baju kemejanya dan hanya menyisakan kaos ketat berwarna hitam lengan pendek. Membuat aku bisa melihat otot lengan tangan nya, kamu terlihat seksi saat pakai kaos hitam mas.


Eh ... Tunggu Shena, bukan waktunya kamu terpesona.


"Aku hanya butuh waktu sendiri untuk berpikir, Shena."


"Mas, aku akan jelaskan Mas. Aku gak sengaja jumpa Randy. Aku juga gak tau kenapa dia bisa peluk aku mas. Aku ... Aku udah gak punya hubungan sama Randy Mas. Aku mohon percaya sama aku, Mas." ucapku panjang, dan sedikit gugup.


"Terus ... Siapa dia di hatimu?" tanya mas Leon penuh selidik.


"Bukan siapa-siapa, Mas." dengan cepat aku menjawabnya


Mas Leon tersenyum getir, dia mengelus ujung kepalaku.


"Aku percaya. Yasudah kita tidur."


Mas Leon bangkit dari duduk nya dan pergi ke sisi kasur yang satu lagi. Tidak, aku tidak percaya mas Leon percaya kataku begitu saja, sikap nya masih dingin kepadaku. Ini sudah terlanjur aku bener-bener harus bisa mengajak nya bicara. Atau tidak aku akan melihat kekosongan rumah ini lagi besok.


"Mas." panggilku saat ia duduk di sisi kasur sebelahku.


"Hem." jawabnya cuek.


"Mas, sikapmu masih begitu dingin. Aku tidak yakin kamu percaya kata-kataku."


"Jadi aku harus bagaimana, Shena?" Dia mengacak-acak rambut nya dan mengusap-usap wajahnya dengan kedua tangan nya.


Bahkan saat rambut nya berantakan begitu saja dia masih sangat keren.


Oh ... Ayolah Shena, apa yang kamu pikirkan? kamu masih saja terpesona oleh dia.


"Aku sangat lelah." raut wajah nya terlihat depresi.


Aku tau kamu bukan orang yang pintar berbohong Mas, tapi aku tau kamu orang yang sangat pandai menyimpan perasaan. Kamu aja bisa menyimpan luka masa lalu kamu yang begitu mengerihkan dengan senyuman kamu yang sangat manis. Kamu bisa saja menyimpan semua kesalahanku dengan senyum getirmu itu.


Aku mencoba untuk merapikan kembali rambutnya itu dan kuraih kedua pipinya. Ku tatap mata nya lekat-lekat mencoba untuk memahami pandangan matanya.


"Mas, cobalah untuk menceritakan nya padaku, apapun itu. Aku tau kamu kesulitan, tapi jangan di pendam sendiri terus." aku mencoba untuk menenangkan nya.


"Aku ... Tidak tau, Shena. Aku lelah." dia menurunkan tanganku dari wajah nya.

__ADS_1


Aku menudukan kepalaku, dan mencoba untuk menahan buliran air mataku agar tidak menetes lagi.


"Ya baiklah, tapi ku mohon jangan menangis lagi." sambung nya.


"Aku ... Cuma merasa besalah padamu, Shena. Aku sudah melanggar janjiku padamu!"


"Janji ... Janji yang mana mas?" aku memutar bola mataku berusaha untuk mengingat.


Mas Leon menggaruk-garuk kepalanya dan sesekali mengecep bibirnya. Tampak sekali dia tidak bisa menjelaskan nya.


"Aku minta maaf, Shena. Aku tidak menepati janjiku. Aku malu berjumpa denganmu."


Aku mengangkat bahuku dan menggeleng, aku masih tidak paham apa maksud pembicaraan mas Leon. Janji, janji yang mana yang di bicarakan mas Leon. Aku sama sekali tidak mengingatnya.


Huft ... Mas Leon menghela nafas nya dan menggaruk-garuk kembali rambutnya.


"Bagaimana aku menjelaskan nya, Shena?"


"Ya jelaskan saja, apa susahnya?" aku tau mas Leon kesulitan mengungkapkan isi hatinya. Tapi dia harus berusaha, aku tidak mau dia seperti ini lagi,  saat ada masalah di antara kami berdua kedepan nya.


"Aku sudah merenggutnya, aku sudah berjanji untuk tidak merenggutnya dari mu, secara paksa." wajahnya sangat depresi, aku ingin tertawa melihatnya.


"Merenggut apa sih, mas?" Aku tau maksudnya, tapi aku ingin melihatnya lebih terbuka lagi.


"Itu ... Aku sudah itu ... Arrgghh aku tidak tau, aku ingin tidur." aku tertawa melihat ekspresinya yang begitu depresi hanya untuk menjelaskan hal-hal kecil.


Aku baru melihat sisi mas Leon yang begitu lucu. Dia kesulitan mengungkapkan isi hatinya, tapi itu hal yang lucu buatku. Syukurlah keadaan tegang di antara kami sedikit mencair.


"Kenapa kamu ketawa?" wajah nya memerah.


"Aku yang anak perawan, kenapa kamu yang malu sesaat sesudah malam pertama, Mas. Ha ha ha." tawaku meledak sesaat ku lihat wajah mas Leon mulai kesal.


"Apa sekarang gender kita tertukar, Mas? kenapa kamu yang jadi pemalu? Ha ha ha."


Aku meledek mas Leon yang wajah nya mulai merona.


"Kenapa, kamu ketawa? apa kamu tidak marah?" nada nya terdengar serius.


"Kenapa aku harus marah, Mas?"


"Syukurlah..." mas Leon menarik tubuhku dan memeluknya. Nada nya terdengar lega.


"Aku pikir kamu marah, Shen. Aku pikir kamu akan meninggalkan aku."


"Tidak ... Bukan seperti itu, aku hanya tidak bisa berpikir kemarin. Maafkan aku ya." kini wajah mas Leon menampilkan ekspresi penyesalan.


"Kamu harus bisa membicarakan nya denganku, Mas. Lebih terbuka lah tentang dirimu, Mas. Tidak semua yang terjadi di masa lalu mu itu, akan terjadi di masa depan."


"Iya. Aku akan mencoba untuk lebih terbuka padamu. Terima kasih, Shena" mas Leon kembali memeluk tubuhku.


Syukurlah jika masalah nya hanya seperti ini, aku berharap memang tidak ada yang kamu sembunyikan lagi dariku, Mas. Semoga tidak ada rumah lain tempat kamu pulang, Mas.


"Mas..."


"Hemmm"


"Jangan jawab seperti itu, aku tidak suka."


"Baiklah, ada apa, Sayang? begitu, apa kau suka?"


Aku mengangguk dan ku sandarkan kepalaku di dada mas Leon. Mas Leon mengambil ponselnya dan memainkan di tangan kanan nya.


Aku sangat merindukan dada ini, sudah hampir sepekan dada ini menjauh dariki. Syukurlah aku tidak benar-benar kehilangan dada ini. Sebelumnya aku sangat khawatir akan tawaran mas Leon padaku.


Sesekali aku melirik apa yang di mainkan mas Leon di dalam ponsel. Ternyata dia membaca satu persatu Chat dariku.


"Mas..."


"Iya." jawab nya tanpa memalingkan pandangannya dari ponsel.


"Apa ... Apa kita akan mencoba nya lagi?" tanyaku takut.


Mas Leon menjatuhkan ponselnya dan menarik badanku yang menempel mesra di dadanya. Dia menatap wajahku lekat-lekat dengan wajah yang bingung namun seperti menahan tawa.


Entah kenapa tatapan nya itu membuat aku salah tingkah setengah mati. aku segera menarik selimut dan masuk kedalam nya. Ku tenggelamkan wajahku dalam bantal.


Aduh kenapa aku ini? apa aku yang sedang memintanya kepada mas Leon. Semenjak perkataannya itu aku jadi sangat takut kehilangan dia, aku hanya ingin menahannya agar tetap disisiku saja.


Sementara mas Leon masih duduk dan terpaku, mungkin dia masih mencerna perkataanku yang sangat memalukan itu.


"Shena, kau ingin mencoba apa?" suara barito mas Leon mengejutkan jantungku.


"Kau ingin mencoba buat anak?" suara nya terdengar sedang meledekku.

__ADS_1


"Tidak ... Aku mencoba untuk tidur." aku menjawab dari dalam selimut.


"Buat anak jangan coba-coba, Shena. Nanti jadinya juga coba-coba. Ha ha ha" tawa mas Leon meledak.


Ya ampun ini sudah tengah malam, tapi tawa mas Leon meledak, suaranya memenuhi seisi kamar. Aku ini kenapa? ya ampun Shena, apa kamu sedang ingin mempermalukan dirimu sendiri?


"Shena." mas Leon membuka selimutku dan menepuk-nepuk bokongku. Aku masih menenggelamkan wajahku di bantal.


"Shena kamu tidak bisa tidur seperti ini." sambungnya kembali.


"Shena, ayo. Kamu tidak bisa mencoba nya sendiri." mas Leon menarik bantalku. Aku pun duduk dan menutupi wajahku dengan kedua tanganku.


"Ini sudah tengah malam, tunggu apa lagi?" mas Leon membisikan nya di telingaku. Membuat aku merinding saja.


"Karena ini udah tengah malam, Mas. Aku mencoba untuk tidur." aku dengan cepat ingin merebahkan badan. Tapi mas Leon memegang lengan tanganku.


"Kamu sudah membangunkan ku, jangan pikir kamu bisa semudah itu untuk tidur."


Mas Leon bebicara di telingaku, membuat aku semakin merinding saja karena nafasnya itu.


"Membangunkan apa Mas? aku tidak melakukan apapun."


"Benarkah tidak melakukan apapun?" mas Leon memainkan kedua alis matanya.


"Karena kau yang membangunkanya, maka kau yang harus memulainya." mas Leon melepaskan kaos hitam ketatnya itu. Pertama kali nya aku melihat nya bertelanjang dada. Karena biasa mas Leon keluar dari kamar mandi sudah memakai kaos.


Ya ampun ternyata badan mas Leon begitu bagus. Ada roti sobek di perutnya membuat mataku semakin terbuka lebar saja. Bagaimana dia bisa punya badan yang begitu bagus dan aku selalu melewatkan pemandangan indah ini setiap hari.


Ya Tuhan, mubazir sekali selama setahun aku tidak melihatnya.


Tangan mas Leon melambai di depan mataku, membuat aku tersadar aku sedang terpesona oleh tubuh atletisnya.


"Apa kau sedang memandangi tubuhku?" mas Leon mengucapkannya dengan bangga.


"Mas, apa kamu ikut gym?" tanyaku penasaran.


Mas Leon menghela nafas, dia merentangi tangan nya dan melipatnya kebelakang kepalanya.


"Suamimu ini Dokter jantung, jadi aku juga harus menjaga jantungku, Tapi kalau hatiku, itu kamu yang harus menjaganya." Dia menyentuh ujung hidungku.


"Ih ... Apaan sih." sejak kapan dia jadi sombong dan pintar merayu begitu.


"Tapi saat ini kita sedang tidak membahas itu, Shena." ucap mas Leon sambil mengerlingkan matanya nakal.


"Kamu sudah membangunkan aku, jadi kamu harus tanggung jawab." sambungnya


"Kenapa? memang aku buat apa?"


"Jangan pura-pura bodoh, Sayang. Kamu baru saja menatap badanku, dan sekarang kamu harus memulainya." mas Leon menaiki sebelah alis nya dan menggoyangkan kaki nya.


"Mulai apa? aku mau tidur." mas Leon dengan cepat menarik tanganku.


"Olahraga di malam hari." mas Leon tersenyum menggoda.


"Dihhh ogah ah."


"Eittsss ... Tidak semudah itu, Rosalinda. Kamu harus bertanggung jawab. Ini sudah bangun, kamu harus bisa menenangkan nya." mas Leon memainkan matanya, menunjukan kebawah.


"Apaan sih, Mas?" aku mulai tersenyun malu. Pipiku mulai merona melihat tingkah mas Leon. Pintar sekali dia menggoda sekarang.


"Ayo, tunggu apa lagi?"


"Aku tidak tau bagaimana memulainya, Mas." jawabku malu.


"Baiklah, aku akan mengajarimu."


Mas Leon menarik kedua pipiku dan mendekatkan kewajahnya, perlahan wajah mas Leon semakin mendekat. Aku bisa merasakan nafasnya dalam jarak yang sedekat ini. Jantungku pun mulai bertabuh kencang.


"Eittssss, tunggu dulu, Mas." aku mengambil bantal dan ku lemparkan kewajah mas Leon.


Mas Leon menurunkan bantalnya dan wajahnya terlihat kesal.


"Apa lagi?"


"Aku malu."


"Malu sama siapa?"


"Para readers, masih ngelihatin kita."


"Biarkan saja. Kita kan bisa jadi bintang porno."


"Diiihhh, apaan sih, Mas?"

__ADS_1


__ADS_2