Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 15


__ADS_3

"Mas aku... Itu... Ehm... Aku..." ucapku terbata. Jujur saja aku belum siap menjawab pertanyaan mas Leon. Apalagi di tambah tatapan dinginnya itu.


Ku kaitkan kedua jemariku di depan dadaku. Ku tundukkan kepalaku, bingung mau menjawab apa.


Kembali mas Leon menghela nafas beratnya, di tariknya kepalaku untuk di sandarkan di bahunya.


"Jangan ceritakan jika itu sulit. Aku tidak masalah jika kamu tidak ingin menceritakannya. Tapi jangan menangis." ucapnya lirih.


Setelah keadaannya sedikit membaik, mas Leon mengajakku untuk pulang. Tanpa banyak berbicara dia melajukan mobil hitamnya dengan cepat. Memakirkan sempurna mobilnya di garasi dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah.


Aku bingung bagaimana menghadapi sikap mas Leon yang seperti itu. Aku tahu dia terluka, aku hanya sebut namanya belum cerita spesifikasinya. Bagaimana jika ia mengetahui yang sebenarnya?


ya Tuhan, bantu aku menjelaskannya.


Ada rasa bersalah yang tidak bisa dapat ku bendung saat melihat perubahan sikap mas Leon yang drastis begini.


Ku tatap punggung lelaki tinggi yang tidur membelakangiku itu.


Ada gejolak yang menggelora di dalam dada.


Ingin ku lepaskan saja beban ini, namun bagaimana meluruskan permasalahan ini. Aku takut mas Leon akan salah memahami ucapanku.


Kuberanikan mengangkat tanganku dan melingkari perutnya. Ku tempelkan kepalaku di punggung yang memakai kaos hitam itu.


"Mas... kamu udah tidur?" tanyaku dengan bibir yang sedikit bergetar.


Tidak ada respon dari mas Leon sama sekali, aku tahu ia belum tertidur tapi dia hanya berdiam seperti ini.


"Mas... aku jelaskan ya." ucapku lirih.


Namun masih saja mas Leon tidak meresponku sedikitpun.


"Mas... aku gak tau. Randy berusaha untuk menemui aku melalui pesanan cake itu. Aku juga gak tau akun siapa yang di pakai olehnya. Akun itu profile nya cewek mas. Aku mohon percaya padaku." ucapku panjang lebar.


Terdengar helaan nafas berat mas Leon. Dia membalikan badannya lalu memelukku, dan kembali meleraikannya setelah beberapa menit.


"Tak perlu di ceritakan kalau kamu tak ingin."


"Tapi aku takut kamu marah, Mas." ucapku lembut.


"Aku gak marah." ucapnya lembut.


"Bohong... kamu marah sama aku, Mas."


"Baiklah... aku marah." jawabnya mengalah.


Kesal karena jawaban dia yang selalu mengiyakan perkataan aku, aku memukul dada bidangnya itu. Perlahan rona wajahku memerah karena marah.


"Mas jangan begitu, aku tadi beneran gak sengaja jumpa dia mas. Dia pura-pura jadi pelanggan aku. Aku udah berusaha untuk pergi dan membawa kembali cake aku."  ucapku panjang tanpa jeda.


"Lalu...?" tanya nya sambil bangun, terduduk dan memindahkan kepalaku ke atas pangkuannya.


"Dia bilang dia cuma mau beli cake aku mas. Dia bilang dia ingin berbicara sebentar lalu dia tidak akan mengganggu aku lagi."


"Hem, terus." ucapnya sambil mengelus rambutku.


"Dia kasih aku uang buat bayar cake nya, terus aku bilang semoga dia bahagia, Mas."


"Kamu ambil uangnya?"


"Iya. Kan itu bayaran buat kue aku, Mas." ucapku polos.


"Ambil uangnya." perintahnya.


Tanpa banyak bertanya aku bangun dari kasurku dan mengambil tas ku tadi. Ku keluarkan dompetku dan kulihat ada beberapa lembar uang ratusan ribu dan uang pecahan.


Aku keluarkan saja semuanya, gak tau uang mana yang di kasih Randy tadi.


Aku ambil, ku bawa kehadapan mas Leon.


"Aku gak tau uangnya yang mana, Mas." ucapku sambil menyodorkan uang di tanganku.


Mas Leon seperti tersenyum namun sok menjaga image nya. Dia mengambil seluruh uangku lalu meraih dompetnya yang berada di atas nakas sebelah kasurnya.


Ia mengeluarkan tiga lembar uang  seratusan dan enam lembar uang lima puluhan ribu. Lalu menyodorkan nya kepadaku.


"Ambil ini, sebagai ganti uangmu." ucapnya sambil menyerahkan uang itu.


Ya ampun sampai segitunya kamu cemburu mas. Tanpa banyak berkata aku mengambil uang itu dan ku simpan kembali dalam dompetku.


Aku hanya menceritakan sedikit saja responnya sudah begitu, bagaimana jika aku bilang kalau aku di peluk olehnya.


Mungkin malam ini ia akan memberikan gelar untukku. Gelar almarhumah, ya ampun mas.


Aku kembali ke kasurku dan merebahkan badanku. Mas Leon membentangkan lengan kirinya dan menarik kepalaku untuk tidur di atas lengan kekarnya itu.


"Bisa jangan temui dia lagi?" pintanya padaku.

__ADS_1


"Bisa, Mas." ucapku pasrah.


Hak mas Leon memang melarangku, tapi kenapa seperti ada rasa yang masih membuatku begitu bersalah saat melihat matanya.


Silau mentari mengusik mata terpejamku. Ini hari sabtu, Sengaja aku tidur lagi setelah Sholat subuh tadi. Karena hari sabtu mas Leon gak kerja, jadi aku malas cepat-cepat menyiapkan sarapan.


Kulihat jam di samping kasurku sudah menunjukan pukul 08 pagi. Biasa kalau weekend begini mas Leon akan olahraga dan kembali agak siangan. Ku putuskan untuk kembali menutup mataku dan memeluk gulingku. Ku balikan badan miring ke sisi kananku. Aku terkejut melihat wajah mas Leon yang masih tertidur menghadap kearahku. Karena terkejut aku langsung mundur sampai jatuh kelantai.


Ya ampun. Aku mengelus sudut kepalaku yang terbentur lantai. Tumben sekali mas Leon masih tertidur di jam segini. Biasa dia selalu olahraga pagi, menjaga kesehatan jantungnya itu.


"Shena, ngapain?" mas Leon yang tiba-tiba muncul di ujung ranjang.


"Mas kok masih tidur sih? kok gak olahraga?" tanyaku yang sedikit bingung.


Dia merentangkan badannya dan menguap. Melata di atas kasur, lalu kembali memeluk gulingnya.


"Males." ucapnya sambil memejamkan kembali matanya.


Aku bangun dan mengelus bokongku yang sakit karena terjatuh tadi. Hilang sudah rasa kantukku di buat mas Leon. Jadi ku putuskan untuk mandi dan menyiapkan sarapan.


Sudah jam 10 tapi mas Leon masih males-malesan di atas kasurnya itu. Badannya lengket seperti ter lem kuat, ini pertama kali aku lihat dia yang begitu santai. Biasa dia akan sibuk walaupun hari libur.


"Shena, jalan-jalan yuk." ucapnya sambil menguletkan badannya.


"Jalan kemana mas?" tanyaku.


"Liburan sehari, kemana gitu. Pantai, air terjun atau kemana gitu."


Aku memutar bola mataku, memikirkan akan liburan kemana. Dia ngajakin liburan tapi masih males aja gitu. Ini juga udah hampir tengah hari, mau pergi kemana juga.


"Kebun kopi yuk, Mas.". Ajak ku setelah menimbang-nimbang lama.


"Ngapain? jumpa ulet keket?" tanya nya yang masih melungkar-lungkar seperti lueng di atas kasur.


"Yaudah ke kasur aja deh, Mas." ucapku yang kesel melihat tingkah dia itu.


"Yaudah siap-siap gih. Aku juga mau siap-siap." ucapnya yang masih menempel mesra di kasur.


Mendengar perintahnya aku langsung semangat, menyiapkan beberapa pasang baju dan dua buah jaket. Karena kebun kopi itu dingin, aku menyiapkan beberapa kaos kaki dan sarung tangan. Kususun rapi di tas ransel mas Leon yang lumayan besar.


"Mau ke kebun kopi atau ke puncak gunung Everest, sayang?" ucapnya sambil meletakan kedua tangannya di belakang kepalanya.


"Mas kok masih santai aja sih?" ucapku kesal.


"Iya ini mau mandi." ucapnya sambil kembali merebahkan badannya dan kembali memeluk guling.


"Iya... jadi, mandi sana gih." perintahnya lagi.


Dengan cepat aku melengos ke dalam kamar mandi yang ada di kamar. Padahal tadi aku udah mandi, kok mandi lagi sih?


Gak papa lah, udah keringatan gara-gara masak tadi juga.


Saat aku keluar dari kamar mandi, sudah gak ada lagi mas Leon di kasur tercintanya itu. Kasurnya masih berantakan, ku rapikan kasur kami dan kemudian membuka lemariku. Ku pilih baju kaos lengan panjang berwarna merah muda dan jeans panjang berwarna dongker.


Ku lapisi bedak tipis dan memakai lip senada dengan warna bajuku. Setelah mengikat rambutku, aku keluar dari kamar. Ku lihat mas Leon sudah bermetamorfosa menjadi lelaki tampan dengan jaket berwarna hitam dan kaos berwarna putih di dalamnya.


"Udah sarapan mas?" tanyaku saat dia memakai sepatu sport nya di depan tivi.


"Udah." jawabnya sambil mengikat tali sepatu.


"Udah siap?" tanyanya balik.


"Udah." jawabkku santai.


Lelaki memang simpel banget hidupnya, gak payah banyak dandan, apalagi mas Leon bagun tidur pun masih tetap ganteng.


Ku ikuti langkah mas Leon yang berjalan cepat keluar. Setelah mengunci seluruh pintu dan jendela kami memulai perjalanan panjang.


Setelah empat jam perjalanan, kami memilih penginapan sederhana yang berada di atas perbukitan.


Ini kampung bukan hotel, jadi kami harus keluar lagi untuk mencari makan siang. Makan siang, tapi ini sudah lewat jam makan siang. Kami melewati perkebunan kopi dan menyapa beberapa orang setempat yang sedang merapikan pohon-pohon kopi. Ini bukan musim panen, jadi gak terlalu banyak pekerja di sini.


Setelah berjalan kaki yang jauh sampai kakiku pegel semua, kami menemukan rumah makan lesehan. Masih sore namun udara disini sudah mulai dingin dan sedikit berembun.


Karena lelah, aku memesan beberapa air es. Sudah di bilang sama suamiku yang ganteng itu, jangan minum es di udara yang begini bisa sakit, karena baru penyesuaian. Aku mah bandel aja karena haus, dan terjadilah setelah senja suhu badanku mulai menggigil. Suaraku yang mulai bindeng, dan hidungku yang mulai mengeluarkan air.


Rusaklah acara liburan kami, mas Leon yang awalnya ingin melihat suasana malam perkebunan dari atas bukit malah jadi harus merawat aku. Semalaman suntuk dia terus mengompres dahiku untuk menurunkan suhu badanku yang semakin meninggi karena udara yang semakin dingin.


Mendekati subuh mas Leon baru bisa tertidur dengan posisi duduk di samping ranjang dan meletakan kepalanya di bibir kasur. Karena keadaanku yang membuat acara jalan-jalan kami kacau, aku mengusulkan untuk kembali ke kota kami hari ini.


Selesai sarapan, dengan mata yang lelah mas Leon kembali melajukan mobilnya, menempuh perjalanan panjang selama empat jam kembali ke kota. Sesekali mas Leon menepikan mobilnya dan menguap lebar. Ia meletakan kepalanya di setir dan istirahat beberapa menit.


Tak tega ku lihat ia yang begitu, andai aku bisa menggantikannya, aku pasti akan menggantikan ia menyetir. Capek menyetir kemarin belum hilang, malah harus menjaga aku semalaman, dan sekarang harus kembali menyetir lagi.


Setelah sepuluh menitan mas Leon kembali mengangkat kepalanya, dia meraih dahiku dan memeriksa suhu tubuhku.


"Kamu sanggup kan, Shena?" tanyanya cemas

__ADS_1


"Kamu yang sanggup atau tidak mas?" tanyaku kembali melihat matanya yang memerah karena di paksakan terbuka.


"Aku sudah biasa begini, kita ngopi bentar ya" ajaknya kepadaku.


Ehm... Em. Mas Leon bukan orang yang suka ngopi, apalagi saat pagi. Ia biasa hanya minum teh atau air putih. Bukan hilangin ngantuk yang ada malah buat perut kembung.


"Kamu kan bukan pecinta kopi, Mas." ucapku sambil melihat matanya.


"Jadi, kalau bukan pecinta kopi, gak boleh ngopi gitu?" tanyanya dengan menguap kembali.


"Bukan gitu mas, kamu kan gak tidur semalaman. Aku takutnya kamu malah kembung, Mas."


"Enggak apa-apa, aku biasa ngopi kalau lagi ngejar buat laporan seminar."


"Oh... kalau kamu ngantuk tidur aja dulu mas. Jangan di paksain nyetir, kan bahaya." ucapku padanya.


Nada dering ponselnya menjerit keras. Saat melihat layar ponselnya mas Leon seperti kesal, dia mendecap sekali lalu mengangkatnya.


"Ehm... Aku lagi di luar kota. Gak sanggup pulang, Shena sakit." ucapnya to the point.


Entah siapa yang berbicara dengannya di ujung sana, tapi raut wajahnya seperti lesu saat mendengarkan suara di dalam ponselnya itu.


Mas Leon meletakan kepalanya di setirnya dan memandang lesu kepadaku.


"Handle lin aja gak bisa? aku gak sanggup nyetir ngantuk banget." ucapnya sambil menggaruk-garuk kepalanya itu.


"Kirim laporannya aja, nanti biar aku yang buat." ucapnya sambil memeluk setirnya. Matanya sangat merah, pasti kantuknya sangat menjajah.


"Iya... Aku yang akan serahin ke Dokter Kepala. Kamu gantiin aku aja. Kamu bilang sama Dokter disitu, kamu gantikan aku." ucapnya sedikit menekan.


Ku lihat dia yang mengacak-acak rambutnya dan kembali menegakkan badan tingginya.


"Ha...ha...ha. Iya... gajimu separuhnya untuk aku kan?" kali ini dia berbicara dengan tawa yang lepas.


"Gimana sama cucu menantu Oma?" tanya nya dengan memainkan kedua alisnya.


"Aku kasih separuh gajiku jika kamu menikah dengan cucu Oma." ucap mas Leon dengan tawa yang meledak setelah mengucapkan kata itu.


Siapa sih yang sedang ia telefon itu, kenapa suasana hatinya mudah berubah hanya dengan waktu singkat. Aku yang lelah duduk diam dari tadi sedikit menggeser posisi dudukku agar sedikit nyaman.


Menyadari aku yang sudah mulai gak nyaman mas Leon memandangku dengan sudut matanya.


"Oke... nanti aku telepon lagi ya! Kamu bisa Handle kan?" tanya nya kembali serius.


Lalu dia mengangguk dan memutuskan pembicaraan mereka.


"Andra... Dia bilang sore ini ada seminar di yayasan penderita kebocoran jantung." ucapnya yang seakan tau maksudku.


"Mas... Apa setiap minggu kamu selalu ada kegiatan seminar ya?" tanyaku yang sering melihat dia keluar saat hari minggu.


"Tidak juga, kadang-kadang saja."


"Tapi kamu selalu keluar saat hari minggu, Mas." ucapku, mengingatkan dia yang sering meninggalkan aku saat weekend.


"Kadang kalau lagi banyak kegiatan ya hampir tiap minggu. Kadang kalok lagi kosong ya sampek berbulan-bulan gak ada. Mungkin karena Rumah sakit sekarang lagi kerja sama dengan yayasan amal, jadi sering melakukan kegiatan seminar." ucapnya panjang lebar.


"Kesehatan jantung itu penting Shena. Jadi kami harus lebih sering berinteraksi dengan masyarakat, ya supaya kerjaan kami gak semakin banyak juga. Apalagi sekarang kasus orang meninggal karena serangan jantung meningkat semakin pesat, jadi kami sebagai Dokter muda harus bisa membuka pandangan dan cara berpikir masyarakat untuk lebih peduli pada kesehatan jantung."


"Oh... Kamu mau tidur dulu mas?" ucapku yang lebih peduli pada mata merahnya dari pada tentang pekerjaannya itu.


Aku mana mungkin bisa nyambung membahas masalah ilmu kedokteran, aku yang kuliah di jurusan hukum mana mungkin bisa nyambung dengan ilmu cardiology mas Leon.


"Kita lanjut aja ya, aku harus nyiapin laporan." ucapnya santai.


"Gak jadi ngopi dulu, Mas?" tanyaku mengingatkan niat awal dia tadi.


"Gak usah deh, lama entar."


"Tapi mata kamu itu, seperti ingin terpejam saja loh, Mas."


"Aku tau caranya agar mataku bisa terbuka lebar tanpa ngopi." ucapnya semangat.


"Apa?"


Dia meletakan satu jarinya di dahinya, menepuk-nepuk dahinya dengan satu jarinya itu. Itu kode kah, agar aku mau mencium dahinya?


Aku tersenyum malu, tapi baru aku tersenyum begitu, mas Leon sudah menstarter mobilnya bersiap untuk jalan.


Aku raih wajahnya dengan cepat dan ku cium lembut dahinya. Lalu dia kembali meletakan jarinya di ujung hidung dan ku ikuti menciumnya di ujung hidung. Jarinya berpindah ke pipinya, aku pun memindahkan bibirku ke pipinya. Sampai jarinya berpindah ke atas bibir dan mataku membelalak lebar.


Oh ya ampun, jantungku bertabuh kencang. Mas Leon menyuruhku untuk sadar akan kesehatan jantung, tapi dia yang membuat jantungku berdetak tak beraturan.


Dia menaiki sebelah alisnya dan menempelkan dahinya ke dahiku. Jarinya masih menepuk lembut bibirnya. Aku bingung harus bagaimana, haruskah aku menciumnya?


Di tempat seperti ini?


Di pinggir jalan?

__ADS_1


__ADS_2