
"Mas, ihhh. Kamu buat aku kaget aja." saat ku lihat mas Leon di depan pintu.
"Memang Mas ngapain?" tanya mas Leon bingung.
"Ngapain kamu tiba-tiba ada di belakang aku, sih. Buat aku kaget setengah mati."
"Kamu semenjak hamil, judes banget sih." mas Leon mencoel pipi cabiku.
"Bukan, begitu. Aku lihat pintu nya terbuka sendiri tadi. Tapi gak ada orang. Jadi aku pikir ada setan." jelasku.
"Ya ampun, Shena. Aku baru ingat."
"Ingat apa mas?" tanyaku heran.
"kamar ini memang kamar yang paling angker." nada mas Leon terdengar serius.
"Masa sih, Mas?" mataku membelalak lebar.
"Iya, dulu disini ada penemuan mayat yang mati dengan sangat tragis. Hati nya tertusuk ribuan pisau." Terangnya dengan nada yang membuatku tegang.
Aku menelan ludah, jangan-jangan yang tadi itu arwah nya. Ihhhh aku gak mau nginap disini lagi deh.
"Lalu, mas. Apa dia itu korban pembuhunan ya mas." Tanya ku tegang.
"Iya, dia korban pembunuhan. Terbunuh oleh cinta yang bertepuk sebelah tangan." terangnya dengan senyum tersungging di bibirnya.
Aku menyubit bagian pinggangnya, terlihat dia menahan sakit. Dia menyeringai dan menyipitkan matanya.
"Aku dengar serius loh mas, kamu ini." ku pukul-pukul manja dada bidang nya itu.
"Mas bercanda, lagian kamu ini. Parno banget sih." dia tersenyum dan duduk di pinggir ranjang.
Aku mengikuti langkah nya dan duduk di sebelahnya.
"Tadi tuh Mas yang buka pintunya, gak jadi masuk karena di panggil, sama Andra." jelas nya.
"Aku pikir, itu.... Itu makhluk lain Mas."aku sedikit menunduk karena malu.
"Kamu gak kangen sama aku?" bisik nya lembut di telingaku. Kali ini beneran merinding karna makhluk tampan di sebelah ku ini.
"Enggak! lagian tiap hari juga lihat kamu, kenapa harus kangen?" jawabku.
"Yakin, gak kangen tidur bareng aku? aku bisa buat anak kita jadi kembar loh." nada nya menggoda.
"Apaan sih, mas. Gak jelas banget." aku tersipu malu mendengar ucapan mas Leon.
"Kamu ini, kita kan udah lama menikah. Kok masih malu-malu begini sih?" ledeknya.
"Aku mau membawamu pulang malam ini, tapi kamu janji bakalan buat anak kembar nanti ya." bisiknya lagi.
__ADS_1
Aku mencubit perut mas Leon karena malu. Dia ini tidak tahu tempat, selalu menggoda dimana saja.
Mas Leon membuka lemari dan membereskan baju-bajuku.
"Riany bilang kamu harus bed rest, jangan terlalu lasak, ya."
Aku mengangguk dan kemudian kami keluar dari kamar itu, huh sedikit lega mendengar aku akan kembali pada bantal dan guling dirumah yang selalu kurindui itu.
Sepanjang koridor para suster dan Dokter lain nya menyapa mas Leon. Dia memang aktor rumah sakit, bagaimana tidak, pesonanya itu memang selalu menarik perhatian. Disini juga banyak Dokter-Dokter muda, banyak kembang dan kumbang Rumah Sakit.
Rumah Sakit ini memang banyak memakai tenaga Dokter muda, tapi bukan berarti mereka tidak lebih baik dari Dokter-Dokter berpengalaman. Rumah sakit ini terkenal dengan penanganan pasien yang cepat, mungkin karena Dokter nya masih muda, jadi mereka berani bertindak ekstrim untuk menyelamatkan nyawa pasien.
Mas Leon memarkirkan mobilnya sempurna di halaman rumah. Aku langsung merebahkan badan begitu melihat kasurku tersayang. Hah lega sekali rasanya bisa tidur dirumah, memang tempat ternyaman itu adalah rumah, selain hati kamu sih.
Mas Leon langsung mandi begitu pulang, dia keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Sengaja memamerkan roti sobeknya itu, mungkin biar aku tergoda.
Dia memainkan matanya dengan genit.
"Kamu udah janji mau buat anak kembar malam ini." dia duduk di pinggir ranjang mendekat kepadaku.
"Kapan aku janji?" aku memutar bola mataku, pura pura lupa.
"Mau nyerahin diri, atau kita berperang?"
Aku memukul mas Leon dengan guling. Mana bisa kalah dari dia itu. Lagi-lagi pesonanya mampu membawa aku tenggelam dengan indah di dasar lautan kemanisan. Aroma tubuhnya mampu menyegarkan hatiku.
Kepalaku sedikit pusing dan seperti ada yang mengganjal di ulu hatiku.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" suara mas Leon dari balik pintu.
"Iya mas, aku baik-baik saja." sahutku sedikit berteriak.
aku mencuci mukaku dan segera keluar. Tapi tak kudapati lagi mas Leon dikamar. Ku lirik jam di dinding masih pukul 2 pagi. Entah kenapa eneg sekali mencium aroma kamar ini.
Aku mengelus perutku yang sedari tadi terus bergejolak, sepertinya sang bayi sedang bermain aktif di dalam. Padahal perutku masih rata, tapi kenapa gejolaknya kuat sekali, buat aku ingin muntah lagi.
Saat aku kembali, mas Leon telah duduk di bibir ranjang dengan membawa segelas susu. Namun dia masih bertelanjang dada saja.
"Nih, minum dulu." dia menyodorkan gelas susu itu.
"Bau nya buat aku enag, Mas." aku menutup hidungku, kalau gak bakal uek lagi.
"Paksa sedikit, kasian kan bayinya kalou perut kamu kosong." bujuk nya.
"Enggak ah mas, gak tahan banget bau nya. Mas aja gih yang minum."
"Lah, kan kamu yang hamil. Mas sih mau nya minum susu kamu aja." goda nya padaku.
"Ih, apaan sih mas. Masih saja." aku mencubit lengan nya dan mendarat di dadanya. Ku benamkan wajahku di dalam dadanya.
__ADS_1
"Eh, kenapa ini? pingin lagi?" tanya nya padaku.
"Enggak, aku cuma pingin peluk kamu aja." jawabku malu.
"Kok tumben banget?"
"Aroma dari tubuhmu, Mas. Membuat mualku sedikit berkurang."
Memang aroma ini yang berkali-kali mengikatku padanya. Aroma yang begitu lembut namun juga membawa kehangatan di dalam hatiku. Memang parfum itu sering kali mengungkap karakter seseorang, bahkan dari aroma badan nya saja aku merasa sangat nyaman.
Wangi mas Leon selalu membuat aku masuk semakin dalam pada jeratnya. Aku seperti kecanduan akan wangi tubuhnya ini.
Mas Leon mengelus perutku dan menempelkan telinga kirinya di perutku. Entah, pandangan ini membuat aku sangat bahagia.
"Nak, jangan buat mama kamu susah ya, kasian dia, ayah gak bisa lihat dia menderita." dia mencoba berbicara pada anaknya.
Entah kenapa seperti ada respon dari gumpalan darah yang belum berbentuk itu.
Dia seperti merasakan sang ayah sedang memberikan perhatian padanya.
"Jangan buat mama mual lagi ya, soal nya ayah mau kasih saudara kembar buat kamu." Aku mencubit punggung mas Leon yang tanpa alas itu. Dia itu sifat merayu nya semakin bertambah saja.
"Yang kuat di dalam ya, biar ayah aja yang gak kuat disini, lihat mama kamu judes banget sama ayah. Padahal kamu belum lagi nongol, tapi mama udah gak sayang aja sama Ayah." Aku reflek memukul punggungnya lagi.
"Tuh, kan Ayah aja dari tadi di cubit, di pukul terus. Tapi gak apa-apa Ayah kuat kok." timpalnya membuat aku sedikit merasa bersalah.
Mas Leon merebahkan badan nya dan menaruh kepala nya di pangkuanku. Matanya terlihat sayup, pasti dia jauh lebih letih dari pada aku. Dia tidak pernah melepaskan tanggung jawab nya sedikitpun.
Dia memang lelaki yang menakjubkan, karakternya terbentuk nyaris sempurna. Ntah dari mana dia belajar semua ini. Tapi dia benar-benar hebat.
"Kamu, bahagia, Shena?" tanya mas Leon.
"Aku sangat bahagia, mas. Alhamdulillah."
Dia tersenyum lega dan tertidur, aku bisa melihat kelelahan diwajahnya itu.
Syukurlah yang kunikahi dia, bukan Randy. Sifatnya dewasa dan selalu membuat aku tenang. Mungkin karena umur kami yang bisa di bilang terpaut agak jauh, jadi mas Leon berusaha mengimbangiku.
Tapi yang pasti, aku telah melangkah di jalan yqng membuat aku bahagia. Seandainya dulu aku menolak, akankah hidupku sebahagia saat ini?
Kamu telah banyak memberikan aku cinta mas, biarkan sekarang aku yang menghujani kamu dengan cinta. Aku yang akan menyayangimu lebih dari siapa pun.
Berbagilah lukamu padaku, maka aku yang akan membasuh lukamu dengan lembut.
Tidak instan, namun perlahan. Aku akan membuatmu lupa bagaimana kelam masa remaja mu.
Aku akan mengubah bau darah yang telah banyak kau cium, menjadi aroma bunga. Aku yang akan menutup kenangan pahitmu, dengan kenangan baru yg selalu terukir senyum diwajahmu.
Seperti kau yang telah mengukir indah wajahmu dalam benakku, maka seperti itulah aku mengukir setiap tawa di harimu.
__ADS_1