Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 41


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Aku dibawa kerumah sakit karena ini mungkin sudah waktunya melahirkan. Dengan cepat para suster membawa aku keruangan bersalin. Riany masuk dengan perut yang tak kalah besar dari aku.


"Shena, atur pernafasan ya."  ucapnya saat melihat aku yang mulai menahan sakit.


"Mas Leon dimana, Ri?" tanyaku, tak mau, kalau kali ini aku melahirkan tanpa di dampingin dia lagi.


Riany mencoba untuk bertanya sama salah satu suster disitu.


"Dokter Leon lagi ada operasi bedah jantung, Bu." jawab seorang suster disitu.


"Apa masih lama?" tanyaku rewel.


"Gak bisa di pastiin Shena, karena bedah jantung itu memakan waktu yang lumayan lama."


"Yaudah kalok gitu aku melahirkannya tunggu dia saja."


Enak saja dia, lagi dan lagi. Melarikan diri saat genting begini.


"Tahan kamu? Leon bisa sampai berjam-jam loh."


Sebenarnya gak tahan sih, namun aku harus gimana, aku pingin balas dendam sama mas Leon yang sudah ninggalin aku di saat genting dulu.


Mau gak mau tahan dulu deh, kalok gak bisa di tahan ya di keluarin aja.


Ku elus-elus perutku yang semakin sakit menjerit ini. Riany mencoba untuk memeriksa bukaan ku.


"Shen, ini sudah dua jam loh, tapi kayaknya bayimu juga nunggu Ayahnya."


Peluh keringat sudah mulai membanjiri dahiku, memang lama. Dulu aku juga lama saat melahirkan Leona.


Awas aja kalok kamu terlambat mas, gak akan ada anak lagi setelah ini.


Setengah jam kemudian. Mas Leon masuk dengan berlari, dia masih menggunakan Snelli nya. Aku jarang sekali melihat dia memakai snelli begitu, dia selalu berangkat dari rumah hanya memakai kemeja dan pulang pun begitu.


Bahkan saat aku datang keruangannya juga dia selalu memakai kemeja. Mungkin ini yang pertama kalinya aku lihat dia pakai snelli.


Kenapa sih mas, kamu selalu keren dengan tampilan kamu yang baru.


"Mas ... kok kamu keren banget sih?" ku ucapkan kalimat itu saat mas Leon mendekat kearahku.


"Hah ... kamu ngelindur, sayang?" tanyanya yang sedikit bingung.


Terdengar cekikikan kecil dari para suster itu.


"Mas kamu kok lama banget sih?" ucapku dengan nada kesal, setelah terlepas dari pesona mematikannya itu.


"Aku ada operasi Sayang." dengan lembut mas Leon mengusap-usap dahiku.


"Sakit Mas." ucapku manja.


"Sabar ya Sayang." mas Leon mengelus-elus perutku dengan lembut.


Sementara Riany hanya tersenyum geli melihat tingkah kami berdua. Seakan ini momen kelahiran anak pertama saja. Sok romantis di depan orang.


"Leon, keluar deh. Kamu buat aku eneg." goda Riany saat melihat mas Leon mengelus lembut perutku.

__ADS_1


"Eh... gak boleh." aku menarik lengan tangan mas Leon.


"Gak boleh kemana-mana Mas, kamu disini saja. Gak mau tau, kamu gak boleh keluar." omelku padanya. Sambil ku cubit-cubit lengan tangannya, mas Leon hanya menyipitkan kedua matanya.


"Sayang, jangan rusak image aku sebagai Dokter keren dong. Masak kamu omelin aku di depan suster sih." bisik mas Leon di telingaku.


Dengan cepat aku menjambak rambutnya, hanya itu yang dapat diraih oleh tanganku. Saat begini pun masih mikirin imagenya, dasar sok ganteng kamu mas. Tapi memang ganteng sih.


Cekikikan para suster itu terdengar mulai mengeluarkan suara.


"Kok malah berantem sih kalian berdua? Leon kamu bantu dong, gak sayang apa lihat bini kamu kesakitan begini?"


Diusap-usap lembut dahiku, terasa mulai dorongan kuat dari dalam perutku dan kemudian aku mengejan kuat. Namun bayi itu tidak keluar dalam sekali mengejan saja.


Mas Leon membuka snellinya dan menggulung ujung tangan kemejanya.


"Sayang, atur nafas ya. terus... dorong." aba-abanya ditelingaku.


Mas Leon mengelap keringat dahiku, dan menggenggam tanganku. Aku yang menahan sakit ini sudah berjam-jam lamanya, sudah tak sanggup lagi rasanya.


"Mas, aku gak sanggup lagi." ucapku lemas.


"Sanggup, pasti sanggup kok. Tahan dikit lagi ya sayang. Genggam erat tanganku." mas Leon mengecup lembut dahiku dan mengelus kepalaku.


Seperti memberikan kode ke Riany namun Riany menggeleng pasrah. Aku benar-benar tak sanggup rasanya, aku kehilangan seluruh tenagaku saat ini.


Dorongan bayi itu mulai muncul kembali dan kali ini ku kerahkan sisa tenagaku untuk mengejan lebih kuat lagi. Sampai genggaman tanganku membekas merah di tangan mas Leon. Badanku menaik saat ku ejan kuat-kuat.


Kembali aku tertidur lemas dengan nafas yang terengah-engah. Belum siap aku mengambil nafas kembali bayi kami mengajak aku untuk mengejan. Ku genggam erat tangan mas Leon, kali ini pasti lebih kuat aku genggamnya. Karena terlihat punggung tangan mas Leon mulai lebam.


Setelah beberapa kali mengejan kuat akhirnya nongol juga hasil akibat perbuatan mas Leon itu. Aku hampir hilang kesadaranku, mas Leon menepuk-nepuk lembut pipiku untuk mengembalikan kesadaranku.


Aku mencoba mengembalikan kesadaranku sepenuhnya, kulihat bayi itu ukurannya jauh berbeda dari Leona dulu. Ia yang terlihat lebih montok ukurannya di bandingkan Leona yang hanya sebesar lengan orang dewasa.


"Wah ... Leon selamat ya, anak kamu perempuan lagi." ucap Riany, sambil memberikan bayiku untuk di bersihkan oleh suster.


Mas Leon terduduk lemas dan menepuk jidatnya.


"Aduh Ri, dua wanita dirumah saja sudah buat aku pusing, sekarang kamu tambah lagi satu. Bisa hancur benteng pertahanan aku di buat mereka." ucap mas Leon memecah ketegangan.


"Lagian kamu, gak sabaran banget sih. Anak masih kecil juga, gak bisa nahan apa?" jawab Riany gak kalah ngawur.


"Aku kan mau ada prajurit yang membela aku, kalau begini bisa hilang pertahanan kejantanan aku."


"Yasudah, tinggal buat lagi." ucap Riany nyeleneh.


"Iya juga ya, yok sayang habis ini kita buat lagi."  ucap mas Leon yang sama nyelenehnya.


Aku yang masih lemas tergeletak meraih rambut mas Leon dan menjambaknya dengan sisa tenagaku. Ini juga baru dilahirin, udah mikirin buat anak aja lagi.


Ampun deh ... aku menggelengkan kepalaku.


Selang beberapa menit gadis kecil kami dibawa kembali. Mas Leon beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil Whudlu dan meng adzan kan putri kecil kami.


Pemandangan yang baru kali ini aku lihat. Aku tidak melihat pemandangan ini saat Leona lahir. Ada buliran bening menghiasi sudut mataku. Bukan sedih, namun haru bisa melihat mas Leon yang meng adzan kan bayiku.


Mas Leon meletakan bayi kami di atas dadaku untuk memberikan ASI pertama setelah selesai meng adzaninya. Kali ini ASI ku bisa keluar sempurna karena Leona yang baru saja berhenti menyusui. Sengaja aku menghentikannya saat mau melahirkan. Bisa repot kalau harus memberikan dua ASI sekaligus.

__ADS_1


Mas Leon memindahkan aku ke kamar VIP. Padahal aku gak butuh dirawat inap. Kehamilanku kali ini cukup stabil, hampir gak ada masalah, tidak seperti saat hamil Leona dulu. Dari awal kehamilan sudah bermasalah, untunglah sekarang dia tumbuh menjadi anak yang cerdas.


Setelah bayi kedua kami tertidur mas Leon meletakannya di dalam box bayi. Mas Leon terus mengelus dahiku dan berulang kali menciumnya.


"Makasih ya sayang, untuk dua cahaya baru yang kamu hadirkan dalam hidupku." mas Leon kembali mengecup dahiku lembut.


"Makasih juga mas, sudah memilih aku menjadi istrimu. Jika lelaki itu bukan kamu, mungkin sekarang aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya." aku menggenggam tangan mas Leon.


Kulihat bekas lebam akibat genggaman ku yang terlalu kuat tadi. Ku letakan punggung tangan itu di pipiku. Tangan yang memberikan kehidupan layak untuk aku dan buah hatiku. Tangan yang ia gunakan untuk mencari nafkah itu. Tangan yang sudah menyelamatkan banyak nyawa. Kini aku melukainya.


"Ini tidak seberapa, di bandingkan perjuanganmu, Shena. Kamu menaruhkan dua kali nyawamu untuk kebahagiaanku."


"Maaf, ya mas. Aku gak sadar sekuat itu tenagaku menggenggam tanganmu."


"Bukan hanya tangan, apapun akan aku berikan untuk meringankan sakitmu, Shena."


"Sudah deh gak usah gombal. Aku gak mau buat anak lagi setelah ini."


"Tapi kan aku butuh prajurit, Sayang."


"Mas..." ancamku lewat pandangan mata.


"Boleh gak kalok aku kasih nama dia Sera ... Louissera."


Kulihat bayi perempuan kami yang memiliki lesung di kedua pipinya. Mengingatkan aku pada foto gadis berambut pirang itu.


Sedikit ku perhatikan bola matanya, kali ini fix, wajah mas Leon seratus persen. Bahkan bola matanya sudah mulai terlihat kebiruan dari sejak bayi.


"Tentu saja boleh mas, Louissera Mc.Kanzee kan?"


Aku ingin membuat keluarga Mc.Kanzee utuh dengan hadirnya Sera kedua buat mas Leon.


"Ayah..." suara celat Leona yang masuk dari pintu dan langsung memeluk betis mas Leon.


Leona yang masih berumur lima belas bulan itu sudah bisa berlari, walaupun tingginya yang hanya sedengkul Ayahnya itu. Entah Leona yang kependekan atau mas Leon yang ketinggian. Entahlah, yang jelas aku bahagia dengan keluarga kecil kami.


"Kyra ... sama siapa kesini?" mas Leon yang mengangkat badan mungil Leona dan sedikit melambungnya.


"Mas jangan suka gitu ... ah" ucapku yang ngerih lihat mas Leon begitu.


Kemudian Ibu, Bapak dan kedua adik kembarku menyusul keruang rawat inapku. Mereka asyik dengan bayi kedua kami dan melupakan Leona begitu saja.


"Hey ... how are you?" tanya mas Leon kepada Leona yang berada dalam pelukannya.


"See ... this is your sister." sambungnya lagi.


"Mas ... Kyra ngomong aja masih celat, sudah kamu ajakin bahasa Inggris."


"Biar dia belajar, aku akan membawa kalian pulang ke Prancis setelah masa nifas." jawab mas Leon enteng.


"Ngapain mas?" tanyaku bingung.


"Apalagi? honey moon lah."


"Mas ih, baru juga nongol satu. Gak kuat Mas bolak balik melahirkan."


Mas Leon memecahkan tawa gelinya.

__ADS_1


"Mas juga gak tega lihat kamu terus berjuang susah payah."


"Kita kesana buat bertemu keluargaku." sambungnya sambil trsenyum sendu.


__ADS_2