
POV Shena.
"Maaf... aku gak jual." aku merapikan plastik-plastik cake itu.
Namun dengan cepat Randy menghentikannya, dia menarik pergelangan tanganku.
"Shen... jangan gitu donk." bujuknya.
"Lepas!" ucapku sedikit keras dan menarik pergelangan tanganku.
"Oke... aku lepas! tapi aku mohon jangan pergi." bujuknya padaku.
"Maaf, Randy. Seharusnya kita gak bertemu lagi." ucapku sambil membawa cake pesanan nya pergi.
Dengan cepat Randy menarik kembali tanganku.
"Aku mohon, Shen. Beri aku sedikit waktumu, hanya lima menit saja!" bujuknya padaku.
"Baiklah." ucapku mengalah.
Dia mengajak aku kembali duduk di bangku taman itu. Dia mengeluarkan enam lembar uang seratus ribuan dan menaruhnya di kursi sebelah aku duduk.
"Untuk bayaran cake kamu." ucapnya.
Aku melirik lembaran uang itu, itu terlalu banyak. Memang Randy itu orang yang royal, tapi aku gak butuh itu sekarang.
Aku hanya mengambil empat lembar dari uang itu.
"Ini saja udah cukup." ucapku sambil mendorong kembali sisanya.
"Kenapa kamu begini, Shena? Apa suami kamu tidak memberikan uang kepadamu?" tanya nya dengan nada yang lembut.
Aku yang duduk sambil membuang wajahku darinya, tidak menggubris sedikitpun pertanyaannya. Males, aku juga gak perlu jelasin ke dia kan. Kalau mas Leon bahkan mencukupi kebutuhan keluargaku.
"Ini masih baru, Shena. Kamu bisa tinggalin dia. Aku tidak akan mempermasalahkan statusmu."
Aku yang terkejut mendengar perkataannya langsung menatap wajahnya lekat-lekat.
Bohong kalau aku bilang aku gak kangen dengan wajah itu. Wajah yang selama lima tahun selalu menemani siang malamku. Walaupun wajah itu juga yang banyak membuat luka di hatiku.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku bangkit dari tempat dudukku. Namun dia memeluk bahuku dari belakang. Perlahan air mataku menetes.
Ada rasa rindu pada lelaki putih di belakangku, ada rasa bersalah juga jika aku mengingat kebaikan mas Leon.
Aku meleraikan pelukannya dan membalikkan badanku.
"Cukup Randy, ini sudah cukup. Izinkan aku menyimpan kenangan tentangmu, jangan ganggu aku." ucapku lembut, sambil meleraikan pelukannya.
"Shena, percayalah padaku. Aku sangat mencintaimu, sungguh aku benar-benar cinta kamu." ucap Randy sambil memegang kedua tanganku.
Aku tahu itu Randy, tapi sudah ada benteng di antara kita. Aku hanya belajar untuk menyayangi mas Leon. Namun tanpa ampun kini Randy merubuhkannya dengan cepat.
"Kenapa? kenapa kamu selalu selingkuh jika kamu mencintai aku?"
"Aku benar-benar sayang sama kamu Shena. Kamu wanita yang tulus. Tapi aku juga lelaki biasa, terkadang aku hanya ingin mengikuti hawa nafsu ku. Aku hanya ingin menjaga kamu, karena itu aku gak pernah menyentuhmu." Randy berbicara dengan wajah yang tertunduk lesu.
Aku berjalan ingin mendekatinya, namun langkahku berhenti di langkah kedua. Ingin rasanya memeluknya, namun sudah ada pembatas yang tidak mungkin aku lewati.
"Aku ingin sekali menjadikanmu istriku, Shena. Untuk itu aku selalu menjaga kamu, tidak pernah ku sentuh sedikitpun fisikmu."
"Tapi kamu tidak menjaga hatiku, Randy. Kamu menyakiti aku dengan menyentuh banyak wanita di luar sana. Seharusnya kamu juga bisa menjaga dirimu agar tidak menyentuh orang lain."
"Aku hanya lelaki biasa, Shena. Aku lelaki yang normal. Aku punya nafsu." ucapnya membenarkan kesalahannya.
"Aku juga wanita biasa Randy, aku juga punya perasaan. Aku juga punya hati. Wajar aku kecewa dengan sikapmu kan." ucapku dengan lembut namun menyekit.
Ku lihat Randy yang hanya tertunduk, dia sesekali tersenyum menertawai kesalahannya itu.
__ADS_1
"Kenapa? kenapa kamu meminta pria lain untuk menikahimu? Aku bisa menikahimu saat itu, jika kamu memintanya." ucap Randy yang berusaha mencari cela kesalahanku.
"Terus, bagaimana dengan Mama kamu? kamu lupa Mama kamu tidak menyukaiku. Kamu lupa aku hanya gadis biasa yang tidak setara denganmu?"
Kembali, Randy menertawakan nasibnya itu. Memang keadaan ini sulit sekali di jelaskan. Banyak pertanyaan yang timbul dari peristiwa ini. Namun semakin di cari jawabannya akan semakin sakit nantinya.
"Randy, pernikahan bukan hanya tentang dua hati. Namun juga tentang dua keluarga. Aku gak bisa melihat kedua orang tuaku yang bisa saja dihina oleh Mama kamu. Kamu lupa, Bapakku hanya seorang satpam komplek perumahan." jelasku sekali lagi mengingatkan antara kasta ku dan ia yang jauh berbeda.
"Tapi Shena. Aku bisa bujuk Mama aku." ucapnya membela.
"Terus hasilnya, kamu akan di coret dari daftar keluarga. Kamu sanggup hidup susah Ran? Sekarang aja kamu masih di biayai Mama. Bagaimana jika kamu menikahi aku dan hidupmu menjadi susah?"
Sejenak Randy terdiam dan tertunduk lesu, dia melemparkan bokongnya kembali duduk di atas bangku taman. Aku tau, hatinya pasti sangat sakit saat ini. Tapi dia banyak wanita di sisinya, kenapa gak coba untuk melupakan aku saja.
Kuraih bahu Randy yang saat itu sedang tertunduk lesu, dia hanya menundukan kepalanya kebawah.
"Ku mohon hiduplah bahagia, Randy. Jangan ingat aku, jangan cari aku lagi." ucapku sambil mengelus bahu Randy.
Aku membalikkan badanku dan perlahan berjalan menjauh. Tetesan bulir bening mulai menjelajahi pipiku. Aku juga gak paham, kenapa aku menerima lelaki asing untuk menikahiku. Ini adalah permainan takdir Randy, aku tidak berdaya melawan semua ini.
Aku tahu kamu masih sangat mencintaiku, akupun sebenarnya begitu. Namun aku juga tahu kamu gak akan sanggup kehilangan kehidupan kamu yang nyaman. Jika kamu menikahiku, maka kamu akan kehilangan segalanya.
Kehilangan aku tidak akan membuat kehidupanmu kiamat Randy. Sebab kamu bisa dengan mudah mencari penggantiku. Tapi jika kamu kehilangan kehidupanmu, aku tidak bisa bayangkan bagaimana kamu akan menjalaninya nanti.
Kamu terbiasa menghamburkan uang, kamu gak akan bisa meninggalkan kebiasaanmu itu. Aku tahu itu.
Aku berjalan dengan gamblang menuju ke rumah Ibu. Sesekali aku menyeka buliran air mataku, aku merasa bersalah saat ini dengan mas Leon. Bagaimana aku akan menceritakannya nanti. Aku bingung, aku takut. Beginikah cara aku membalas semua kebaikan mas Leon?
Ya Tuhan Shena, kamu ini kenapa sih?
Aku masuk dan mengucapkan salam kepada Ibu. Kulihat Ibu yang masih berkutat di dapur, langsung aku peluk badan Ibu yang masih bau keringat itu. Ku tumpahkan segalanya disana.
Aku juga bukan wanita hebat yang mampu tegar sendiri, aku juga lemah seperti wanita lainnya.
Urusan hati, aku juga gak mengetahui mengapa aku bisa begini lemah. Aku juga ingin menyampakkan sosok Randy dari dalam hatiku, seperti aku menyampakkan dia dari kehidupanku.
"Ada apa, nduk? apa suamimu menyakitimu?" tanya Ibu yang sedang mengelus pucuk kepalaku.
Aku harus bagaimana, Ibu pasti akan marah jika tahu yang sebenarnya. Aku semakin dalam menangis dipelukan Ibu. Tanpa aku sadar Bapak juga ada disana, aku sudah tidak menghafal lagi jadwal Bapak bekerja.
Dengan sabar Bapak mengambil tubuh mungilku dan memindahkannya di dadanya yang gempal itu. Semakin pecah saja tangisanku saat mengingat wajah mas Leon yang begitu sendu. Dia mencoba untuk memenuhi kebutuhanku, dia mencoba mengerti aku, tapi kenapa aku seperti ini. Tega menemui lelaki lain di belakangnya.
Ia memang orang asing, tapi saat ini orang asing itu lagi berusaha sekuat tenaga mencari nafkah untuk aku. Aku si wanita asing yang tidak dapat membalas kebaikannya namun mencoba merusak segalanya.
Aku ini bodoh, bodoh sekali. Dari sisi mana pun mas Leon jauh lebih baik dari pada Randy. Tapi mengapa, mengapa aku tidak bisa belajar mencintainya.
"Kenapa toh, Sayang? Bapak menyakitimu nak?" Bapak meleraikan pelukanku dan menghapus air mataku yang masih deras mengalir.
Aku hanya menggelengkan kepalaku, kembali ku peluk tubuh gempal Bapak. Dengan sabar Bapak mengelus pucuk kepalaku. Di biarkannya aku menumpahkan segala air mataku, di ajaknya aku untuk duduk di kursi ruang tamu lalu kembali melerai pelukannku. Mencoba untuk mengelus pipi cabiku agar aku berhenti menangis.
"Bapak minta maaf kalok udah nyakiti kamu, nak. Bapak mohon jangan sakiti Bapak dengan air matamu."
"Apa sih Bapak. Kok tiba-tiba gitu ngomongnya." aku bilang dengan menyubit lengan gemuk Bapak.
"Ya apa sih kamu, nak. Datang-datang kok nangis." ucap Bapak menghibur.
"Aku menyakiti mas Leon, Pak. Aku berdosa sama dia Pak. Tapi aku gak sengaja Pak. Bapak percaya Shena, kan."
"Iya. Bapak percaya sayang. Bapak selalu percaya padamu." ucap Bapak menenangkan aku.
Memang begini lah cara Bapak mengorek informasi dariku. Bapak mempunyai keahlian mengorek informasi, mungkin inilah keahlian Bapak sebagai satpam. Ia selalu saja menyalahkan dirinya sendiri, lalu mengatakan percaya semua ucapanku. Padahal aku tahu, itu trik dia agar bisa mengorek informasi dariku.
Ia berusaha untuk tidak menyudutkan posisiku. Membuat aku bisa leluasa mengeluarkan seluruh isi hatiku. Ku ceritakan semua yang terjadi hari ini. Tidak ada sedikitpun hal yang terlewatkan. Bapak dengan seksama mendengarkan ceritaku dan sesekali mengambil nafas.
"Begini, nak. Shena memang gak salah, gak sengaja ketemu juga kan. Tapi yang membuat Shena salah, kenapa Shena gak nolak saat dia memeluk kamu, nak! Ada batasan antara kamu dan dia sekarang. Jangan hancurkan batasan itu."
"Shena tau, pak. Sekarang apa yang harus Shena lakukan, Pak." tanyaku bingung.
__ADS_1
"Ceritakan pada suamimu, nak. Dia harus tau."
"Gak mungkin pak. Shena pak sanggup hancurin hati mas Leon pak." jawabku kaget mendengar saran Bapak.
"Kamu harus sanggup, nak. Kamu harus bisa menceritakannya, sanggup gak sanggup kamu harus berani nak."
"Bapak." ucapku manja.
"Shena." nada Bapak sedikit menekan.
Bagaimana bisa aku melukai mas Leon, membayangkan wajah lembutnya yang akan kaget mendengar ceritaku. Aduh... membayangkan wajah nya itu semakin membuat rasa bersalahku menumpuk.
Kejam sekali aku ini, wajahnya yang tidak berdosa itu selalu terbayang di pelupuk mataku.
Perlahan air mata mengalir deras lagi.
"Shena, nak. Kamu harus bisa belajar dari pengalaman kamu. Jangan jadi pengecut, harus bisa mengatakan walaupun itu racun sekali pun. Tidak baik menyimpan racun di tubuhmu Shena. Lebih baik racun itu kamu muntahkan dari mulutmu, walaupun pahitnya akan berbekas lama."
"Katakan itu dari bibirmu, jangan sampai Leon tau dari bibir orang lain. Jangan suka menyimpan bom waktumu sendiri."
"Tapi bagaimana kalau mas Leon marah, Pak. Bagaimana kalau mas Leon menceraikan aku." tanyaku cemas.
"Kamu masak gak kenal suamimu sih. Leon itu lelaki yang matang. Ia punya pemikirannya sendiri. Tidak mungkin dia ceroboh dalam memutuskan hal yang penting." ucap Bapak santai.
Aku memikirkan terus hal ini, bagaimana caraku untuk menjelaskannya. Aku takut mas Leon salah paham. Tapi kalau gak aku katakan, itu juga akan berakhir lebih buruk lagi.
Sore. Aku menunggu mas Leon pulang dengan hati cemas yang tak karuan. Debaran jantung ini terasa tak beraturan. Kalimat apa yang harus aku berikan untuk menjelaskan nanti.
Ya ampun. Aku bingung, bingung sekali menghadapi situasi ini. Sudah berapa banyak air mata yang mengalir dari siang tadi.
"Assalamualaikum." suara mas Leon masuk dari pintu.
Aku menjawabnya dengan lirih, ku cium punggung tangan mas Leon takzim. Masih tercium aroma anyir bekas darah di punggung tangannya itu. Ya Allah, Semakin berdosa saja aku rasanya, tangan ini lelah mencari nafkah untukku. Apa yang aku lakukan untuk membalasnya.
Tangisanku pecah saat ku angkat kepalaku. Aku berlari ke dapur untuk menumpahkan tangisku. Kulihat mas Leon mencoba untuk mendekati ku.
"Ada apa, Shena. Kenapa kamu menangis?" tanyanya bingung.
Aku harus apa, gak tau bagaimana harus menyusun kata-kata yang sanggup menjelaskan keadaan ini, tanpa menimbulkan kesalah pahaman.
"Shena, apa aku menyakiti kamu?" ucapnya sambil meraih pucuk kepalaku dari belakang.
Oh ya ampun. Bagaimana aku harus menyakiti hatinya itu. Bahkan perkataannya sangat lembut.
Aku membalikan badanku dan kulihat wajah mas Leon yang terlihat kebingungan. Ku raih kedua pipi mas Leon mengunakan kedua tanganku. Namun enggan ku sentuh dengan tanganku yang sudah menyentuh lelaki lain. Ku genggamkan telapak tanganku sebelum menyentuh pipi bersihnya itu.
"Mas... maafkan aku, maafkan aku." aku menundukan kepalaku karena malu.
Mas Leon menarik kepalaku dan mendaratkannya di dada bidangnya itu. Di genggamnya tanganku dan di letakan di atas jantungnya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang bertabuh secara tidak beraturan itu.
Dia membiarkan aku menangis sejadi-jadinya. Dia memberikan aku ruang agar bisa menenangkan diriku. Tapi suasana yang semakin tenang, semakin membuat aku takut. Takut akan adanya badai yang menghantam keras pertahananku.
Dia melerai pelukanku dan meraih wajahku. Di hapus air mataku yang masih sangat basah. Di cium dahiku lembut, lalu turun ke ujung hidungku. Dia menempelkan dahinya ke dahiku.
"Ada apa sayang? ceritakan kegelisahanmu. Aku akan mendengarkannya." ucapnya lembut.
Menerima sikapnya yang begitu hangat, kembali lagi dan lagi air mataku menghujani pipiku dengan sangat deras. Aku gak tega melihatnya terluka, aku gak mungkin bisa melepaskan lelaki yang begitu sempurna ini.
"Mas... jika aku melakukan kesalahan fatal, apa bisa kamu memaafkan aku?"
"Sebesar apapun kesalahanmu aku pasti maafkan. Asal jangan pernah hiasi mata indahmu dengan air mata lagi." ucapnya menenangkan aku.
"Mas... aku... aku... aku minta maaf mas. tolong maafkan aku, tolong percaya padaku." sungguh tak sanggup aku mengatakannya.
"Katakan saja, jangan takut. Aku akan percaya apapun itu yang keluar dari bibirmu!" ucapnya santai.
"Mas... aku..."
__ADS_1