
"Aku, harus pergi, Shen." seperti ada guntur yang menyapa hatiku.
"Aku minta maaf, aku lupa bilang sama kamu. Kalok pihak Rumah sakit telah memintaku untuk pergi ke daerah bencana selama tiga bulan." nada mas Leon bimbang.
"Aku tidak bisa mengelak, Shen. Aku telah bersumpah di hadapan Tuhan sebelum mengemban pekerjaan ini." Mas Leon masih terus menjelaskan, tapi bibir ku kelu. Ada rasa yang tidak ingin melepaskan dia dari sisiku.
"Shen, kamu izinkan aku pergi kan?" tanya mas Leon ragu. Ku pandangi wajahnya lekat-lekat, jika dia tidak bisa mengelak kenapa harus minta izin padaku segala?
"Shen, jangan diam aja. Bicara sesuatu."
"Aku harus bilang apa mas? kalau aku bilang jangan pergi, toh kamu tetap akan pergi kan?" ku tahan buliran bening ini agar tidak terjatuh. Mas Leon hanya tertunduk lesu.
"Kalok aku mau egois, aku mau kamu tetap disini, aku juga butuh kamu Mas, aku lagi hamil dan sebentar lagi aku melahirkan, apa kamu bisa tetap tinggal? Enggak kan?" ku lihat wajah mas Leon tanpa ekspresi.
"Kalau gitu, gak perlu minta izin aku kan?" aku beranjak dan berjalan memasuki kamar. Ku rebahkan badanku miring, dan perlahan tangisanku pecah.
Kenapa harus sekarang? aku juga butuhin kamu disini Mas, dan bagaimana kamu bisa lupa memberitahu hal sepenting ini padaku. Aku tidak tau bagaimana harus bersikap jika ini terjadi mendadak Mas.
Ku rasakan tangan mas Leon melingkari perutku, dia membenamkan wajahnya di punggungku.
"Jangan menangis, Shen." ucap mas Leon parau.
Dia bilang jangan menangis, tapi suara dia saja seperti sedang menangis. Aku berbalik dan memeluk badan mas Leon, kali ini dia yang membenamkan wajahnya di dadaku.
Bagaimana aku harus mengizinkan kamu pergi Mas, jika sikapmu saja begitu manja seperti ini.
"Aku juga tidak ingin pergi, tapi mau bagaimana? aku mohon mengertilah." kini suara nya terdengar sesengguk kan.
Aku hanya memeluk nya erat, ku biarkan malam ini berlalu dengan suasana yang seperti ini.
Lantunan merdu suara adzan membangunkan lelapku. Aku beranjak dan segera melaksanakan kewajibanku. Ku lihat mas Leon masih tertidur lelap. Ku pandangi wajahnya dan kuraih setiap jengkal wajahnya dengan jemariku.
Tuhan menciptakan mas Leon dengan keindahan di setiap inchi pahatan wajahnya. Dia terlihat begitu manis dengan mata sayunya itu. Ku kecup bibirnya dengan lembut dan berlalu ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Ku lirik jam di dinding ruang makan telah menunjukan setengah delapan pagi, aku berjalan memasuki kamar dan berniat membangunkan nya. Tapi kasur nya udah rapi, mas Leon sudah tidak ada lagi di kamar.
"Mas..." ucapku lembut
"Mas..." kembali aku berteriak memangilnya, ku putari kamar dan ruang tamu, aku tidak melihat dia keluar kamar dari tadi.
"Kemana dia?" lirihku sendiri.
"Dar...."
Ku pengang dadaku saat melas Leon tiba-tiba muncul di hadapanku, tingkah mas Leon ini kadang melebihi seorang bocah.
"Kamu ini, mau buat anak kita lahir lebih cepat ya, Mas?" ucapku sedikit kesal.
Mas Leon hanya tertawa seperti anak kecil yang di marahi ibunya.
"Ayo sarapan."
Mas Leon menggendong badanku dan membawaku masuk ke kamar.
"Mas mau sarapan kamu saja." dia memainkan matanya genit.
"Pagi-pagi, kamu ini sudah nakal ya, Mas." ku cubit kedua pipinya.
__ADS_1
"Yang nakal Mas, apa kamu?"
"Kamu dong."
"Yang suka curi ciuman, saat Mas tidur itu siapa ya?" mas Leon memutar bola matanya, mencoba mengingat-ingat.
"Ih ... Kamu sudah terjaga tapi masih saja pura-pura ya, Mas." aku mencubit kembali pipinya.
Mas Leon selalu seperti ini, jika malam itu larut dengan masalah dia akan bagun di pagi hari tanpa beban sedikitpun.
Mas Leon memang selalu hangat begini, kasih aku satu alasan mas. Kenapa aku harus melepaskan kamu pergi. Aku ingin menahanmu saja disini, hanya untuk aku miliki saja.
***
Siang. Aku membereskan sisa piring kotor makan siang tadi. Sedangkan mas Leon masih berkutat di depan laptopnya. Memang begitu dia jika hari libur. Sibuk dengan pekerjaan nya.
Aku meletakan kedua tanganku di atas bahu mas Leon, ku letakan daguku di atas bahu kiri mas Leon.
"Mas, bawa aku pergi bersamamu." pintaku lembut.
Mas Leon manarik nafas dan menarik tanganku, dia mendudukan aku di atas pangkuan nya. Tangan nya membelai lembut rambutku.
"Mas kesana kerja, Sayang. Bukan liburan."
"Aku, ikut ya Mas." pintaku manja.
"Disana daerah bencana, Shena. Bukan tempat pariwisata. Bagaimana Mas bisa membawamu, dan membahayakan keadaan kamu dan anak kita?" ucapnya sedih.
Aku meletakan kepalaku di dada bidang mas Leon. Ku rasakan mas Leon mencium pucuk kepalaku dan menaruh dagunya di sana. Kedua tangan nya memeluku erat.
"Mas juga berat meninggalkan kamu sendiri disini, kamu tinggal tempat Ibu sementara ya?" ucap nya lembut.
"Bebanku sudah berat disana, Shena. Jangan tambahi beban ku dengan memikirkan kamu yang sendirian disini."
Aku memeluk badan mas Leon erat, ku sembunyikan wajahku, perlahan buliran air mataku terus jatuh melintasi pipi.
"Jangan pergi, Mas." pintaku dengan suara parau.
Ku dengar suara helaan nafas mas Leon yang terdengar berat, aku tau dia juga berat meninggalkanku, tapi aku juga butuh dia untuk mendampingi kehamilanku yang mulai membesar.
"Mas janji akan pulang sebelum kamu melahirkan."
"Aku mau kamu temani aku, aku kan lagi hamil besar loh, Mas." aku memukul-mukul lembut dada mas Leon.
Mas Leon menyeka kedua pipiku yang dari tadi basah karena air mata yang tak pernah berhenti. Beberapa kali mas Leon menciumku untuk menenangkan perasaanku, tapi perasaanku tetap tidak akan tenang selama mas Leon masih tetap harus pergi.
Sampai aku terlalu larut dalam tangisanku dan terlelap di dada bidang mas Leon. Dengan posisi yang masih duduk di pangkuan nya.
Aku terbangun dari lelapku dan sudah berada di kamar, ku lihat mas Leon tidak ada di sebelahku. aku berlari keluar kamar dan memanggil mas Leon.
"Mas..." aku berteriak saat membuka kamarku.
"Ada apa, Shena?" sahut mas Leon di ujung ruang tamu.
Aku berlari dan langsug memeluk tubuhnya, tapi mas Leon langsung meleraikan pelukanku dan menjauhkan badanku darinya.
Matanya menunjuk ke arah ruang tamu. Oops ... Ada beberapa tamu dari tempat mas Leon bekerja, mereka tersenyum getir melihat kejadian itu.
__ADS_1
Aku langsung berlari memasuki kamar, ya ampun malu sekali rasanya. Kenapa mas Leon tidak bilang, aku ini kenapa sih? kok maunya nempel terus dengan mas Leon?
Aku menepuk-nepuk dahiku dan mendengarkan sedikit pembicaraan mas Leon dan beberapa rekan kerjanya di ruang tamu.
"Sepertinya kami datang di waktu yang salah ya, Dokter Leon."
"Maafkan saya, Dokter Sandi. Mungkin bawaan bayi."
Ya ampun, mas Leon pasti malu gara-gara aku. Aku menguling-gulingkan badanku di kasur sangking malunya.
Aku ini kenapa jadi lebay seperti ini? Bodoh kamu, Shena. Bisa-bisanya kamu merusak image suami kamu.
Aku duduk di bibir kasur sambil memeni-pedi kuku-kuku. Ku lirik jam di atas nakas sudah hampir maghrib. Ku dengar suara kaki mas Leon mendekat, dan kemudian membuka pintu kamar.
"Apa sekarang sedetikpun aku tidak bisa hilang dari pandanganmu?" tanya mas Leon lembut namun tegas.
"Maafkan aku Mas. Aku tidak tahu kamu lagi ada tamu, Mas." aku menunduk malu.
Mas Leon menghela nafas pelan dan duduk di pinggir bibir kasur.
"Aku suka sifat manjamu, tapi jangan tampakan itu di depan orang lain. Cukup di depan aku saja." ucap nya lembut.
"Iya, Mas." jawabku lirih.
"Harus terlihat kuat di depan orang lain. Jangan tampakan sisi lemahmu pada semua orang. Mengerti?" tanya sangat lembut, namun tegas.
aku mengganggukan kepalaku tanpa menatap wajahnya karena malu dan rasa bersalah.
"Baiklah, sini peluk aku." mas Leon membentangan tangannya.
Aku mendekat dan meletakan kepalaku di dadanya. Ini sisi yang tidak pernah ku temui dari dalam diri lelaki manapun. Dia selalu lembut dan tenang bahkan saat dia sangat marah sekalipun. Dia pintar sekali mengendalikan emosinya itu.
Aku meminta alasan agar aku sanggup melepaskanmu pergi mas, bukan alasan untuk tetap menahan kamu disini bersamaku.
Apa yang harus aku lakukan saat jauh darimu, mas? aku yang selalu bergantung padamu. Kamu selalu menjadi orang yang paling aku andalkan mas. Bagaimana aku harus melewati tiga bulan kedepan tanpa ada kamu?
Beri aku kekuatan agar aku bisa bertahan sendiri disini. Beri aku sesuatu untuk bisa menopang kelemahanku disini.
suara adzan maghrib berkumandang, kami bersiap untuk melakukan kewajiban kami dan mas Leon yang selalu mengimamiku.
Ku dengar suara lembut mas Leon mengaji setelah, sholat. Lagi-lagi air mataku mengalir deras, mas Leon menghentikan bacaan nya dan menutup Al-quran nya. Dia menyeka kedua mataku.
"Air matamu banyak juga ya." ledeknya dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Aku pergi hanya sebentar, dan aku akan kembali lagi kesini." ucapnya sendu.
Iya sebentar memang, tapi entah kenapa hatiku terasa sangat berat untuk melepaskan nya pergi. Aku takut jika dia tidak akan kembali.
"Mas, kamu janji bakal pulang kan?"
"Kemana pun Mas pergi, kamu adalah satu-satunya tempat Mas kembali." jawabnya menenangkan.
Aku memeluk kembali badan nya sementara mas Leon mengelus-elus lembut perutku.
"Kuat di dalam ya, nak. Jaga mama kamu. Kamu harus tunggu Ayah pulang ya." ucapnya sendu.
Entahlah mas, aku tak yakin kamu akan pulang sebelum anak kita lahir. Hatiku mengatakan kamu akan pergi lama. Entah akan kembali atau tidak, semoga Allah membawamu untuk kembali padaku mas.
__ADS_1
Semoga semua firasat burukku hanya sebuah kesalahan, aku tidak ingin kamu pergi dari hidupku mas.