
Kemana Leona pergi, kenapa dia bisa menghilang, dia belum bisa merangkak. Enggak ... Enggak, ini gak benar.
Aku segera mengambil ponselku dan menelpon Shine. Setelah beberapa kali aku mencoba menghubungi, dia baru mengangkatnya.
"Shine ... Kyra ... Kyra dimana?" tanyaku saat telepon baru tersambung.
"Maksudnya mbak? Bukan nya Kyra di box nya?"
"Gak ada ... Kyra hilang." jawabku panik dan mulai menangis.
"Apa mbak? mbak tenang, aku akan pulang."
Shine menutup teleponnya, aku terduduk di bibir ranjang, tidak sanggup mencerna ini lagi. Perih apa lagi ini?
Enggak ... Aku harus mencarinya, pikiranku terus berkecamuk tidak tau harus berbuat apa.
Aku keluar dari kamar dan kulihat pintu kaca dapur yang sedikit terbuka, aku berusah berjalan mendekat dan kulihat seorang memakai jaket hitam, dia berjalan sedikit pincang dan membiarkan topi jaketnya menutupi rambutnya.
Segera aku berlari mendekat, Leona pasti sama dia, pikirku. Saat aku mendekat perlahan, kulihat kaki Leona dalam pandanganku. Segera ku rebut Leona dari genggamannya dan memeluk erat Leona.
"Apa yang kamu la ... ku ... kan?" mataku membelalak lebar saat ku dongakan kepalaku dan ku lihat wajah laki-laki itu.
Perlahan lenganku mulai terasa lemas, hampir saja aku menjatuhkan Leona karena sangking terkejutnya, namun dengan sigap dia menangkapnya.
"Aku hanya ingin meng adzankan anak kita, walau ini terlambat." jawabnya datar.
"Anakku sudah di adzankan kakeknya." jawabku ketus.
Ku ambil kembali Leona dari pelukannya dan berlalu meninggalkan dia. Ia mengikuti langkahku masuk ke dalam rumah dan meraih kedua bahuku begitu sampai di depan pintu kamar.
"Shena, maafkan aku."
"Kamu telat Mas, seharusnya kamu kembali tiga bulan yang lalu." jawabku berusaha tegar.
"Aku bisa jelasin kenapa aku baru kembali sekarang."
"Kalau gitu jelasin, kenapa kamu tidak memberikanku kabar selama enam bulan ini?"
"Aku..."
"Mbak..." panggilan Shine memutuskan kalimatnya.
Kulihat Shine yang tengah mengatur nafasnya, mungkin dia berlari karena terburu-buru.
"Mas ... Syukurlah kamu kembali." Shine memeluk mas Leon dan kemudian dengan cepat menguraikannya.
__ADS_1
"Bilang sama dia, aku gak butuh dia kembali sekarang." ucapku sambil berlalu kedalam kamar tanpa melihat mereka.
Aku melihat Leona yang mulai rewel, ku tarik kursi dan ku duduk tepat di depan pintu. Ku berikan ASI sambil mendengarkan percakapan mereka.
Entah apa yang mengurungku disini, entah dinding ini, atau dinding yang memang ku bangun sendiri.
Padahal aku sangat merindukannya, tapi kenapa, kenapa saat melihat dia tiba-tiba hadir di hadapanku ada amarah yang begitu membuncah. Aku seperti ingin menelannya hidup-hidup. Tega, dia masih bernafas tapi dia mencoba menghentikan nafasku disini. Aku setiap malam menangisi dia, tapi dia masih bernyawa namun mencoba mencabut nyawaku perlahan.
Ku dengar suara pergerakan di dapur, suara gesekan keramik dan kursi. Kamar kami pintunya memang di depan dapur, jadi jelas sekali aku bisa mendengarkan pergerakan mereka.
"Alhamdulillah mas, kamu kembali. Tapi kenapa selama ini mas menghilang tanpa kabar?" tanya Shine dengan nada antusiasnya.
"Panjang ceritanya Shine..." ku dengar suara helaan nafas panjang dan letakan sebuah gelas di atas meja.
"Mas pergi dulu ya." sambungnya.
"Loh ini kan rumah mas, Mas mau kemana?"
"Sudah tidak ada tempat buat mas disini."
"Loh... Mas." panggil Shine sedikit berteriak.
Kudengar suara langkah kaki mulai menjauh. Bukannya senang tapi aku malah menangis mendengar langkah kaki itu pergi menjauh.
Aku menyelesaikan memberi ASI, ku geser kursiku dan membuka pintunya.
"Mas Leon pergi mbak... kejar dia." Shine mengambil Leona dari tanganku.
"Biarkan saja, aku tidak membutuhkan dia lagi." jawabku angkuh.
"Benarkah tidak membutuhkannya lagi? atau sebenarnya mbak masih sangat membutuhkannya? mbak, mas Leon pasti punya alasannya sendiri, kenapa dia tidak mengirimu kabar."
"Kamu gak ngerti, Shine. Aku benci dia." jawabku sedikit kesal.
"Benci? Benci karena mbak gak bisa melupakan dia? Benci karena mbak masih sangat mencintai dia, walaupun dia sudah ninggalin mbak sendiri?"
"Kamu tau apa?"
"Mbak, aku bukan anak kecil lagi, aku tau mbak bukan marah sama dia, tapi sama hati mbak sendiri. Mbak bukan gak bisa maafin dia, tapi mbak gak bisa maafin hati mbak sendiri."
"Kok kamu mendadak jadi sok bijak ya?" tanyaku kesal.
Kesal kenapa dia tau jawaban atas segala pertanyaan hatiku, tapi aku tidak mampu menjawabnya sendiri.
"Mbak, aku laki-laki. Mas Leon juga, aku gak tau alasan dia kenapa tinggalin mbak, tapi aku tau alasan kenapa dia kembali kesini. Jawaban nya cuma satu... karena dia masih mencintai mbak."
__ADS_1
Aku tertegun mendengar perkataan Shine, dari mana dia belajar ini semua. Pria ini sudah tumbuh jauh lebih dewasa saat ini. Omongannya tidak seperti adikku.
"Mbak, susul suamimu sebelum dia pergi dan gak kembali lagi." sambungnya.
Aku masih berdiri terpaku menatap Shine dan Leona, aku bisa tanpa dia, tapi Leona? Leona juga butuh Ayahnya. Tapi ... tapi mas Leon.
Aku berlari keluar rumah, ku lihat ke kiri dan ke kanan. Mas Leon telah berjalan jauh hampir keluar area komplek.
Kuseka kedua air mataku dan ku berlari mengejarnya.
"Mas..." ku panggil mas Leon yang jauh berada di depanku.
"Mas..." kali ini aku panggil lagi sedikit lebih kencang. Sesekali ku seka air mataku yang terus mengalir deras.
Ku lihat di ujung sana mas Leon melambaikan tangannya menyetop sebuah angkutan.
"Mas..." ku panggil lagi dengan seluruh suaraku. Namun tidak sedikitpun dia menoleh.
Ku percepat langkahku berlari saat kulihat mas Leon sudah menyetop sebuah taksi dan membuka pintunya.
Ku tarik tangan mas Leon dan ku tutup pintu taksinya, ku layangkan tamparan keras di pipi kirinya.
Sejenak suasana menjadi hening.
Tidak ada ekspresi apapun dari wajah mas Leon, bahkan tidak ada sedikitpun kemarahan yang terpancar dari pandangan matanya saat menerima tamparanku.
"Apa enam bulan gak cukup untuk kamu meninggalkan aku, mas?" tanyaku dengan mata yang berkaca-kaca. Mas Leon hanya menatapku tanpa sedikitpun membuka suaranya.
"Apa itu gak cukup sampai kamu harus pergi lagi meninggalkan aku disini." mas Leon mengangkat kedua tangannya dan mencoba meraih wajahku, namun aku menolak tangannya itu.
"Belum puas kamu membuat aku menangis selama enam bulan, apa kamu mau membuat aku menangis sepanjang hidupku?" tanyaku lagi, tapi mulutnya hanya bungkam. Dia kembali mencoba memelukku namun aku masih menolaknya.
"Bagaimana kamu bisa menebus setiap tetes air mataku yang jatuh karena kamu mas, bagaimana?" aku menggoncang-goncang badannya.
"Kamu jahat mas, kamu jahat." aku menarik badannya dan ku peluk erat.
Menumpahkan segala amarah, gelisah, dan kesedihanku selama ini. Kupukul-pukul dada bidangnya itu namun dia hanya memelukku erat.
"Maafkan aku, maafkan aku. Shena." ucapnya terdengar lirih.
Tangisanku semakin kuat, aku berpikir bagaimana mas Leon akan membayar setiap tetes air mata yang sudah aku jatuhkan selama ini. Namun hanya dengan satu pelukannya saja, dia mampu membayar semuanya.
Hanya satu pelukannya saja dia mengangkat seluruh kesedihanku. Hanya dengan satu pelukannya saja, dia mampu menghapus segala perih lukaku.
Bagaimana kamu bisa securang ini mas?
__ADS_1