Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 19


__ADS_3

Setelah mengucapkan itu mas Leon keluar dari kamar, ia membanting daun pintu sedikit lebih keras. Tak kusangka, ada sisi seperti itu di dalam diri mas Leon.


Sudah hampir setahun, namun aku masih seperti tak mengenal siapa suamiku. Ada sifat lain di balik sikap tenang dan lembut yang ia miliki.


Begitu banyak teka teki dalam dirinya, sungguh aku tak mampu membaca apapun tentang dirinya.


Setelah puas menangis, aku bangkit dari tempat dudukku, ada Orang tua ku di luar, tapi mereka seperti tidak ingin menganggu aku.


Aku menyeka air mataku, aku membuka pintu kamarku dan kulihat hanya ada Ibu dan Shine. Aku berjalan mendekati Ibu dan Shine yang sedang duduk di meja makan.


Mataku mencari sekeliling, melihat dimana Shima dan Bapak.


Mungkin Bapak membawa Shima pulang dan berbicara secara pribadi padanya, Bapak, dia memang lelaki yang hebat.


Sementara, mas Leon, dia duduk sendiri di bangku taman sebelah rumah kami. Aku bisa melihat mas Leon dari meja makan, karena separuh dinding dapur juga berhias kaca.


Ku dekati Ibu dan Shine, kutarik sebuah kursi dan ku penggang tangan Ibu yang berada di atas pangkuannya.


"Bu, aku minta maaf ya." aku mengambil tangan Ibu yang dingin.


"Ibu yang minta maaf, Nduk. Ibu gak ngerti Shima kok bisa seperti itu. Padahal kamu dan Shine itu lembut sekali." Ibu memijit-mijit dahinya.


"Sudah lah, Bu. Jangan dipikiri lagi ya. Ini untuk biaya kuliah Shine dan Shima, Bu." aku menyodorkan amplop berisi sejumlah uang.


"Tidak usah, Nduk. Ibu sudah ada simpanan untuk biaya kuliah mereka. Ibu gak mau merepotkan kamu dan nak Leon terus."


"Iya, mbak. Aku juga udah kerja di studio foto mbak. Aku akan ambil beasiswa juga mbak. Biar gak bebani Ibu sama Bapak lagi."


"Jangan, Shine. Kamu harus fokus sama kuliahmu. Jangan kerja sambil kuliah, mbak gak mau konsentrasi kamu terganggu."


"Aku bisa, mbak. Aku ini kan laki-laki toh, mbak. Aku juga mau berhasil dengan usahaku sendiri. Aku juga pingin mandiri mbak."


"Tolong fokus saja pada kuliahmu, Shine. Kamu harus punya kehidupan yang baik. Kamu harus bisa buat Ibu dan Bapak bangga sama kamu. Jangan pikiri uang dulu."


"Aku janji mbak, aku pasti bisa fokus sama pelajaran aku. Lagian jadi fotografer juga gak terlalu repot kok, Mbak."


"Apa kamu mau putus kuliah kayak Mbak, Shine? Apa kamu mau waktu kamu terbagi, kamu akan kewalahan Shine."


"Mbak." Shine mengambil tanganku.


"Apa kamu sekarang juga mau bilang kalau mbak gak mampu? Kamu bisa lebih baik dari mbak, iya?"


"Enggak gitu mbak, Ya Allah... Aku cuma mau bilang, aku ini lelaki mbak. Aku ingin bisa membiayai diriku sendiri, Mbak. Malu aku mbak, umurku sudah dewasa, Mbak." ucap Shine yang melemah nadanya.


"Turuti saja kata mbak mu, dia sudah berusaha keras untuk kalian berdua." bujuk Ibu pada Shine.


Shine menghela nafas dan mengangguk pasrah.


Shine memang memiliki sifat yang sangat baik, dia penurut dan juga lembut. Shima juga penurut tapi terkadang dia memiliki sifat keras kepala yang batu.


Setelah tengah hari siang Ibu dan Shine berpamitan untuk pulang, ku cium pipi Ibu sebelum mereka pulang.


Aku membereskan sisa makan siang dan mencuci beberapa baju. Ku lihat mas Leon yang duduk terpaku di bangku taman.


Ku hela nafas panjang dan kembali aku menjemur pakaianku.


Aku ingin mendekatinya, tapi aku juga merasa kesal dengan nya. Dia tak perlus merespon seperti itu juga, aku tetap akan menceritakan tentang Randy walaupun itu sulit.


Mengapa dia tidak berusaha melakukan itu, kenapa selama ini dia menyimpan rapat-rapat masalah itu?


Entah lah mas, semua terserah padamu saja.


Senja telah berganti malam, tapi mas Leon masih betah duduk diluar. Dia hanya masuk untuk Sholat dan ke kamar mandi. Dia tidak makan apapun dari tadi. Bahkan aku hanya makan siang bersama Ibu dan Shine tadi, ia ku tawari untuk makan hanya bilang belum lapar.


Apa yang sudah ku katakan sampai dia harus seperti itu?


Salahkah aku jika ingin meminta sebuah alasan dari suamiku?


Ku lihat ia dari balik kaca dapur, ku sentuh wajahnya melalui kaca ini.


Kenapa kamu begitu jauh mas, seperti ada dinding di antara kita yang tak mampu aku pecahkan.


Kamu bisa aku lihat, kamu bahkan sangat dekat.


Terkadang aku merasa sudah sangat mengenalmu, Mas.


Tapi selalu ada sisi di dirimu, yang membuat kamu asing bagiku, Mas.


Ku putuskan untuk membereskan meja makan saat ku lihat malam yang mulai larut. Mungkin kali ini pun mas Leon tak mau makan.


Sudah dari pagi dia seperti itu, ia seperti berperang pada pikirannya sendiri.


Wajahnya terlihat lesu dan kucel, sesekali ia mengacak rambutnya dan matanya terus menatap kosong.


Setelah membereskan meja makan, aku memutuskan untuk kembali masuk ke kamar.


Aku duduk di atas kasurku dan ku mainkan ponsel ditanganku. Tidak lama berselang mas Leon masuk dengan mata yang sangat merah. Dia menyandarkan badan nya ke sisi dinding kasur. Aku bahkan tidak berani menatapnya.


Seketika suasana menjadi hening, beberapa menit kami habiskan untuk berdiam diri.

__ADS_1


Aku masih sibuk memainka gawaiku, sementara mas Leon masih menatap kosong ke depan.


Aku menghela nafas dan ku letakan ponselku di atas nakas.


Ku coba untuk mengubah posisi dudukku dan menghadap ke mas Leon.


"Mas." ku panggil ia lembut.


Ia hanya memalingkan wajahnya kearah ku.


"Kamu gak lapar Mas?" tanyaku sambil memegang sebelah pipinya.


Ia hanya menggelengkan pelan kepalanya, ia mengambil tanganku yang menyentuh pipinya, dan mencium telapak tanganku.


"Apa aku menyakiti kamu mas? apa aku menyinggung perasaan kamu? Aku minta maaf, Mas" ucapku tanpa jeda.


Mas Leon hanya menggelengkan kepalanya. Ia menarik badanku dan memelukku erat. Di benamkan wajahnya di pundaknya.


Aku hanya bisa mengelus pundaknya lembut, ku biarkan ia begini untuk beberapa saat.


Lalu aku menarik badan nya dan ku pegang wajahnya dengan kedua tanganku. Ku lihat pandangannya menunduk dengan wajah lesunya.


"Mas... Ada apa?"


"Aku tidak tahu, Shena. Apa aku harus menceritakan ini padamu?" ucapnya lesu.


"Pelan-pelan, mas. Ceritakan padaku perlahan."


Mas Leon menatapku dengan sendu. Seperti ada luka yang ingin ia sampaikan dari tatapan matanya itu.


"Ini terlalu sulit buatku, Shena. Masa lalu aku terlalu pahit untuk di ingat." ucapnya parau.


Kembali aku tegakkan kepalanya, agar bisa aku menatap matanya.


"Mas, apa itu sulit sekali? Jika itu berat, berbagilah denganku."


Mas Leon kembali memeluk badanku erat. Aku menghela nafas, haruskah aku memaksanya?


Ia tak pernah memaksa aku untuk bercerita hal yang sulit untuk aku ungkapkan. Tapi aku begitu penasaran tentang masa lalu kamu.


Aku kembali menguraikan pelukanya, ku pegang kedua bahunya agar ia bisa tegak.


"Mas... Mas. Lihat aku." ku pegang kembali wajahnya.


"Apa aku masih terlihat asing bagimu?" ia menatap mataku sedih.


Ku usap wajahnya lembut dan ku cium dahinya.


Aku membaringkan badanku dan menarik selimutku.


Mas Leon masih terpaku di atas kasurnya, wajahnya sendu sekali, pandangannya dingin. Entahlah, aku penasaran sekali tapi tak mungkin aku memaksanya.


"Shena, apa kamu marah sama aku?"


"Tidak, mas. Ayo tidur."


"Shena, apa ini penting bagimu?" ucapnya hati-hati.


Aku kembali duduk di atas kasurku dan menghela nafasku.


"Apa pentingnya aku mas? Kalau kamu tidak ingin cerita aku tidak masalah."


"Maksud kamu apa, Shena?"


"Aku tidak ingin memaksamu, mas. Jadi aku harus bagaimana, Mas? Aku bingung menentukan sikapmu." ucapku yang mulai bingung menghadapi situasi ini.


"Jika ini penting buatmu, katakan saja. Aku akan berusaha menceritakan padamu. Walaupun ini sulit bagiku."


"Baiklah, ceritakan perlahan mas. Jika kamu merasa berat, maka hentikan saja ceritanya."


Mas Leon kembali menyandarkan badannya ke dinding. Matanya kembali menatap kosong kedepan.


Sesaat dia terdiam, seperti melamunkan sesuatu.


Ia mengambil nafas panjang dan menghembusnya, kembali ia mengulangi itu beberapa kali.


Sungguh, mungkin ini terlalu sulit baginya.


"Aku tidak tau harus dari mana memulainya, luka ini terlalu dalam untuk ku ingat kembali."


"Mas." ku pegang erat tangannya, tak tega melihat wajahnya yang seperti ini.


"Shena, aku akan jelaskan." ucapnya parau.


"Tapi kalau itu berat, tak perlu Mas."


"Aku tahu, kamu pasti selama ini selalu penasaran kan, Shena."


"Iya, Mas. Tapi..." Mas Leon menatapku dingin. Aku tak ingin melanjutkan lagi kalimatku, saat mas Leon menatapku seperti itu.

__ADS_1


"Sera... itu ... Louissera Mc.Kanzee."


"Mc.Kanzee?" ucapku kaget.


Sejenak aku berpikir, Mc.Kanzee itu...


"Mc.Kanzee, itu nama keluarga kamu kan, Mas." aku sedikit heran, aku hanya tau mas Leon saja, aku tidak pernah tau ada keluarga yang lain.


Mas Leon mengangguk lemas, ia meletakan kepalanya ke dinding yang ia senderkan tadi.


Matanya menerawang jauh, jauh ke masa yang mungkin sulit untuk ia ungkapkan.


"Sera kakakku, Shena." suara mas Leon terdengar berat.


Aku tertegun mendengar ucapannya itu. Berarti mas Leon bukan anak tunggal seperti yang selama ini aku dengar kan.


Ya Tuhan, apa yang selama ini aku pikirkan?


Kenapa aku tidak kepikiran kalau mas Leon itu punya saudara.


"Mas... Kalau begitu, dimana dia sekarang? Mas gak mau kenalin aku sama dia?"


Mas Leon menatapku nanar, matanya mulai mengembun, namun ia menahannya. Jika ia berkedip mungkin air mata itu akan segera jatuh.


"Kamu mau bertemu dia? Saat ini dia ada di Perancis. Bersama kedua orang tuaku."


Aku mengernyitkan dahiku mendengar kalimatnya itu. Rampung sekali ucapannya itu, dia berkata seolah kakaknya sudah tiada.


Atau jangan-jangan memang sudah tiada?


Aku memegang dahiku karena kebodohanku. Ya ampun, apa yang di rasakan mas Leon saat ini.


Ia hanya menatap kosong keatas, mungkin sengaja juga agar air matanya tak jatuh.


"Mas." ku tarik kepalanya dan ku benamkan dalam pundakku.


Ku peluk erat badan besar mas Leon. Semakin ia begini semakin ingin aku mengetahui tentang masa lalunya, aku ingin mas Leon tidak lagi menyimpan apapun dariku.


Kuberikan ruang untuk ia menumpahkan segala bebannya, namun mas Leon lebih kuat dari perkiraan ku. Ia sama sekali tak menangis, ia hanya membenamkan wajahnya tanpa suara.


Tak lama ia menguraikan pelukanku dan menyeka ujung matanya yang mungkin berair karena embun air mata tadi.


"Ini sudah terlanjur, aku akan ceritakan. Tapi kamu sabar ya nunggu aku cerita." ucapnya sendu.


Aku hanya mengangguk dan ku letakan kepalaku di dadanya. Sembari menunggu ia membuka suara.


Ia lebih banyak diam dan menghela nafasnya, berat sekali helaan nafasnya itu.


"Ia bukan hanya sekedar kakak buatku, Shena. Ia segalanya, ia duniaku." ucapnya dengan suara yang mulai serak.


Kembali mas Leon terdiam, ia seperti sedang menyusun kata demi kata. Ia seperti sedang memilah cerita masa lalunya.


"Mas, ceritakan semua. Ceritakan masa lalumu, baik itu senang ataupun sedih. Aku selalu disini mas, di samping kamu." ucapku mencoba meyakinkan ia.


"Jika itu terlalu berat, ceritakan yang senang nya dulu, Mas." sambungku saat kulihat ia menatapku kosong.


"Sera itu, temanku, sahabatku, musuhku dan juga Ibuku, Shena. Kami tumbuh bersama, kadang kami bertengkar dan terkadang kami tertawa bersama. Hubungan kami lebih indah dari saudara manapun."


Mas Leon menghela nafasnya panjang, ada senyum pahit yang menghiasi wajahnya.


"Sera dan aku sering bertengkar. Aku selalu membuatnya kesal. Aku selalu keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah, dulu rambut aku lumayan panjang, jadi air dari rambutku akan membasahi seluruh lantai. Aku berlari-lari di sepanjang koridor rumahku, dan saat Sera berjalan ia akan terpeleset. Bibirnya akan mengerucut dan mengejarku."


Mas Leon tersenyum simpul, dan matanya masih menerawang jauh ke masa lalu.


"Kamu tahu, Shena. Sera itu gadis yang sangat pintar, ia juga sangat kuat. Dia selalu menyembunyikan bebannya di hadapanku. Ia selalu sabar menghadapi segala tingkah aku, padahal sedang ada beban yang ia pikul di pundaknya."


"Sera suka sekali menyentuh rambutku, ia selalu mengeringkan rambutku dan terkadang menjambak rambut gondrong milikku. Aku akan sangat marah jika dia memegang rambutku, aku akan sangat marah saat orang lain menyentuhku rambutku, Shena."


Mas Leon kembali terdiam, kali ini cukup lama ia berdiam termenung. Aku hanya bisa bersabar menunggu ia kembali membuka suaranya.


"Sera memiliki pandangan mata yang meneduhkan, senyumnya begitu hangat di hati. Sera itu lembut sekali, bicaranya sangat lembut, harum badannya lembut, dan perlakuannya juga lembut. Sera itu seperti cahaya, ia mampu membuat duniaku lebih cerah dari pada matahari."


Mas Leon menatapku dan mengelus kepalaku, kurasakan tangannya yang mulai bergetar.


"Sama seperti mu, Shena. Sera mirip sekali denganmu. Pandangan matamu meneduhkan, senyummu begitu hangat. Semua yang ada di diri Sera aku temukan dalam dirimu. Saat pertama kali aku melihat kamu, aku seperti kembali menemukan Sera dalam hidupku. Kamu bagaikan cahaya pengganti yang dikirim Sera buat aku."


Sejenak aku terdiam mendengar ucapan mas Leon. Jadi itu sebabnya kenapa mas Leon bisa jatuh hati padaku. Karena aku merupakan potongan dari masa lalu yang ia rindui.


Jika aku tidak memiliki kesamaan pada Sera, mungkinkah ia akan memandangku?


Apa sekarangpun mas Leon masih menatapku sebagai Sera?


Apa itu sebabnya ia tidak pernah meminta haknya padaku?


Karena ia hanya menganggap aku sebagai kakaknya?


Aku hanyalah sebuah pengganti?


Tak bisakah mas Leon melihat aku sebagai diriku sendiri?

__ADS_1


__ADS_2