
POV Shena.
Jantungku berdetak semakin cepat saat mas Leon datang mendekati, aku menggenggam ujung selimut.
'Duh, bagaimana ini?' Rasanya aku sudah tidak tahu seberapa cepat jantungku berdetak, sampai rasanya bernapaspun susah.
Wajahnya memang terlihat tersenyum, tapi aku melihat senyumnya itu berbeda.
Mas Leon berjalan mendekat kearahku, dengan senyuman yang seperti ingin menerkam saja. Apa mas Leon akan berubah buas saat malam seperti ini? Oh ya ampun aku harus bagaimana ini?
"Bisa tolong bantu aku keringkan rambut?" Sambil menyodorkan handuk kecil di tangan nya.
"Haah?" Aku melongo melihat mas Leon yang berdiri dihadapanku.
"Tolong keringkan rambutku?" pintanya lagi.
"Oh ... iya." Aku mengambil handuk dari tangan mas Leon dengan cepat.
Hampir saja aku mati karena jantungku yang berdetak lebih cepat dari biasa nya.
Apa jadinya aku ini? Jika setiap hari jantungku berdetak secepat ini. Apa aku akan mati muda? Mas Leon hanya memintaku mengeringkan rambutnya, tapi aku berpikir jauh sekali. Huh.... ya Tuhan hampir saja aku kehabisan napas.
Kuusap lembut rambut mas Leon dengan handuk kecil itu, sebenarnya berapa sih tingginya dia? Bahkan saat duduk di lantai saja dia masih kelihatan sangat tinggi.
"Mas."
"Hmm."
"Bolehkah aku dengar sedikit tentang kisahmu?"
"Memang kamu mau dengar kisah apa?"
"Ceritakan tentang masa kecilmu?"
Mas Leon terdiam sesaat, lalu menghela napasnya yang terdengar berat.
"Tidak berbeda dengan anak kecil lainnya, aku pergi sekolah, bermain dan ya ... begitulah." Dia menjawabnya asal mengena saja.
Sepertinya mas Leon tidak mau menceritakan masa lalunya padaku. Aku sungguh penasaran bagaimana mas Leon bisa tumbuh menjadi lelaki seperti yang sekarang ini?
Pasti dia dibesarkan oleh keluarga yang hangat, karena sekarang sikapnya pun juga begitu hangat. Dia begitu lembut, pasti keluarganya mencurahkan seluruh kasih sayang padanya.
Tapi bukannya dia kehilangan kedua orang tuanya saat masih remaja, ya? Bagaimana dia bisa tumbuh dengan begitu baik?
Apa dia tidak merasa kesulitan menjalani kehidupan sendiri tanpa orang tua?
Aku sangat penasaran, seperti apa sebenarnya laki-laki yang aku nikahi ini. Mungkinkah dia ini baik?
Atau masih pura-pura baik?
"Mas," panggilku sedikit takut.
"Ya."
"Mas, bagaimana kamu menjalani hidup setelah kedua orang tua kamu meninggal?" Pertanyaan itu kuutarakan karena rasa penasaran yang semakin menggebu.
Mas Leon menarik napas lalu membuangnya kasar, dia berbalik badan dan menatapku, meraih sebelah pipi, lalu tersenyum sendu.
"Sudah malam, ayo tidur."
Dia tidak memberikan jawaban dari pertanyaanku, dia bahkan berusaha untuk menyimpannya sendiri.
Ada apa sebenarnya ini?
Apa ada yang salah dari pertanyaanku?
Mas leon mengambil handuk kecil yang kupegang dan menyimpannya. Seperti masa lalunya itu ingin dia lupakan, apakah aku telah menyinggung perasaan dia?
Mas Leon berjalan ke sisi kasur yang satunya lagi, dia mengangkat selimut dan merebahkan badan.
Saat Lengan tangan mas Leon menyentuh lengan tanganku, sontak aku melompat keluar dari ranjang karena terkejut.
"Ada apa?" tanyanya cemas.
"Apa ada serangga?" Mas Leon mengibadkan selimutnya.
"Bukan, i-i-tu, a-aku, aku." Aku tergagap menjawabnya karena detakan jantungku yang terus berdegub dengan kuat.
"Ada apa, Shena?" Fia meraba kasurku, mencoba untuk mensterilkannya.
"Aku, itu mas. Itu." Aku bingung bagaimana mengungkapnya.
"Ada apa, Shena?" Terlihat wajah mas Leon semakin kebingungan.
"I-i-itu Mas, aku, ehm, ehm, aku."
"Kenapa, Shena?" mas Leon menaiki sebelah alis matanya.
__ADS_1
"Aku itu mas, aku, hmm, aku, aku belum siap," ucapku lirih, nyaris tak terdengar.
mas Leon tertawa kecil, seperti sedang meledek keadaanku.
"Sini, deh," pintanya sambil menepuk kasur.
"Sini, jangan takut." Mas Leon menarik tanganku untuk duduk di kasur.
"Sebenarnya apa sih yang sedang kamu pikirkan, hem?" mas Leon menaikan kedua alisnya, seperti sedang mengejekku.
Sementara aku hanya tertunduk malu, malu sekali. Seperti aku yang sedang mengharapkan hal itu terjadi.
"Shena," Mas Leon mengangkat daguku.
Aku menatap wajahnya yang mulai tampak serius. Bahkan saat mau tidur saja dia masih enak di lihat. Oops, aku ini mikir apa sih?
"Aku memang telah merenggut cintanya darimu, aku berjanji tidak akan merenggut apapun lagi darimu, aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya, jika kamu tidak mau."
Aku tertegun mendengar perkataannya, mas Leon seperti mampu membaca isi hatiku. Dia begitu paham bagaimana sikapku dan mencoba membuat aku tenang.
"Tapi, sekarangkan aku istrimu, Mas."
"Aku tahu. Tapi jika kamu tidak mau, aku juga tidak akan memaksa. Lakukan saja apa yang kamu sukai, jangan lakukan jika tidak kamu sukai."
"Tapi, Mas." Aku meremas ujung bajuku, gugup sekali.
"Tapi apa?"
"Tapi aku akan berdosa, Mas," jawabku lembut.
"Aku ikhlas. Aku akan melakukannya saat kamu benar-benar sudah bisa menerimaku, dan jatuh cinta padaku. Aku akan sabar sampai saat itu tiba."
Aku tersenyum malu mendengar perkataan mas Leon. Dia lelaki yang baik dan juga tulus, tapi luka ini juga terlalu dalam di hati. Aku tidak bisa melupakan apa yang telah terjadi selama lima tahun begitu saja.
Aku akan menerimamu Mas, tapi aku butuh waktu untuk membiasakan diri.
Membiasakan melihatmu dan berbicara kepadamu, aku akan belajar menerimamu, Mas. Tidak instans memang, aku akan belajar menerimamu perlahan.
Untuk itu beri aku sedikit waktu, Mas. Untuk lebih mengenalmu, mengetahui siapa dirimu. Aku akan berusaha untuk membalas perasaanmu.
"Tapi, kalau kamu ingin melakukan nya sekarang, aku siap kok," ucap mas Leon, menggoda.
"Ehmmm, Mas ... " Aku menarik tinggi selimutku.
"Yasudah, ayo tidur, sudah malam."
Entah apa yang ada dipikiranku saat itu.
Andai yang disampingku saat ini adalah Randy, pasti malam pengantin ini suasananya akan berbeda.
Kenapa harus dia lagi sih yang masuk dalam pikiranku saat ini? Ayolah Shena, jangan sakiti laki-laki yang ada di hadapan kamu ini.
Dia sudah banyak berkorban untukmu. Dia menggantikan peran bapak dan mengambil tanggung jawab atas dirimu. Dia berusaha untuk mengerti perasaan kamu, padahal dia tidak begitu mengenalmu.
Dia orang asing yang memberikan uluran tangannya saat aku tenggelam, dia memberikan tangannya saat aku terjatuh. Dia yang menghapus air mataku saat aku terluka.
Kita tidak saling dekat Mas, tapi kenapa kamu yang ada dalam pikiranku saat aku merasakan kesulitan. Kenapa aku melihatmu di belakangku saat aku berbalik dan memohon pertolongan.
Padahal kamu tidak taju sifatku, tapi kamu dengan mudahnya melamarku. Hanya kamu yang tahu alasan di balik semua sikap baikmu padaku mas.
Apa yang membuat kamu memilihku, Mas? Aku masih belum tahu jawaban nya.
Jika kamu bilang kamu menyukai aku dari awal perjumpaan kita, tapi selama lima tahun kamu hilang dari pandangan. Bagaimana mungkin perasaan kamu tidak berubah?
Padahal aku tidak pernah menganggapmu ada. Kamu hanya bagaikan angin yang menyapa lalu dengan cepat berlalu pergi.
Kehadiranmu hanya sesaat di hidupku.
Tapi sekarang, kamu menjadi bagian dari hidupku, kamu mengambil bagian dari masa depanku, Mas.
Kutatap wajah mas Leon yang sedang tertidur, walau sedang tertidur pun dia masih sangat manis, dia diciptakan begitu indah. Kulihat wajahnya dari jarak yang lebih dekat, mau bagaimanapun tetap saja indah.
Sepertinya Tuhan memahat setiap lekuk wajahnya dengan khusus. Dia memiliki segalanya yang terbaik. Ku tatap lekat-lekat wajahnya yang sedang tertidur itu, menikmati setiap keindahan dari setiap senti wajahnya.
Ingin kusentuh wajahnya dengan jemariku, tapi aku takut. Takut dia terbangun dan membuka matanya.
Tiba-tiba mas Leon membuka matanya, sesaat mata kami saling bertemu, menatap dalam dari jarak yang sangat dekat.
Sontak aku langsung memasukan tubuh kebawah selimut. Ya Tuhan ... betapa malunya aku. Sebenarnya aku ini kenapa sih?
Terdengar suara mas Leon tertawa geli.
"Shena. jangan tidur seperti itu, itu bisa mengganggu pernapasanmu," ledeknya padaku, jelas dia tahu aku belum tertidur.
Aku hanya menggoyang tubuhku seperti ulat. Tidak ada lagi keberanianku untuk menatap wajah mas Leon. Malu, apa sebenarnya yang baru saja aku lakukan?
Mengapa aku bisa berbuat memalukan seperti ini?
__ADS_1
"Shena, ayo buka selimutnya. Kamu bisa kehabisan napas jika seperti itu. Ha ha ha." Tawa mas Leon semakin meledak, dia mengejekku.
"Shena. Jika kamu ingin malam pengantin kita, katakan saja. Tidak perlu menatapku seperti itu. Ha ha ha."
Sejak kapan dia jadi penggoda seperti itu? Aku tidak pernah melihat sisi dia yang ini.
"Hey ... Shena." Dia menggoyangkan badanku.
Aku masih tidak bergeming dari persembunyian, aku tidak tahu bagaimana wajahku saat ini. Apakahan seperti tomat atau kepiting rebus?
"Shena ... Ayo ... Ayo." Dia menarik selimutku.
Baiklah aku akan keluar, ini tidak akan berakhir sebelum aku keluar. Aku harus berani tanggung jawab atas apa yang aku lakukan.
"Ada apa, Mas?" Aku membuka selimut dan menatapnya. Tapi dia malah tertawa terbahak-bahak.
Aku kesal melihatnya yang seperti itu. seperti dia yang tadi siang, dan dia yang malam ini adalah orang yang berbeda.
Sangat jauh berbeda, dia tidak pernah menggodaku sebelumnya, bahkan dia juga tidak banyak bicara kemarin.
"Ada apa, hem ... katakan. Mengapa kamu melihatku seperti itu, ha ha ha."
Dia tertawa terbahak-bahak. Berusaha untuk menahan tawanya namun akhirnya tawanya malah meledak lebih keras lagi.
"Ihhh ..." Aku mencubit pinggangnya, tapi bukannya berhenti, dia malah semakin tertawa.
Aku kesal bercampur malu, mas Leon masih saja terus menggodaku, melihatnya tertawa begitu lepas, membuat hatiku merasa sedikit tenang. Syukurlah jika dia bahagia menikahiku.
Seperti inilah malam pengantin kami berlalu.
Dengan canda dan tawa. Setidaknya canda ini menghapus lelah dan penat kami selama proses panjang pernikahan ini.
***
Sinar matahari pagi menyilaukan mata, aku terbangun dari tidur. Melihat jam di sebelah kasur sudah menunjukan pukul 7:20 pagi.
Lagi-lagi aku bangun kesiangan. Seminggu berlalu sudah, semenjak pernikahan kami. Tapi sikapku masih saja seperti seorang gadis, memang masih gadis.
Seprti biasa, sudah ada sarapan tersedia saat aku keluar dari kamar. Istri macam apa aku ini?
Sarapan saja dibuatkan suami. Benar, mas Leon menepati kata-katanya, dia tidak pernah meminta aku melakukan pekerjaan rumah. Tapi aku sadar, aku juga memiliki tanggung jawab sebagai istri.
Terkadang aku ikut membantunya, ya walaupun terkadang mas Leon menolak dan memilih mengerjakannya sendiri. Bapak benar, dia memang laki-laki yang bertanggung jawab.
Aku tahu Bapak pasti lebih paham sifat laki-laki di bandingkan aku. Mas Leon juga dewasa, dia berusaha untuk mengimbangi sifatku yang terkadang seperti bocah.
Mas Leon itu seperti tipe orang yang gak bisa duduk diam. Dia menghabiskan masa cuti pernikahannya dengan mengurus rumah dan taman.
Tak heran juga rumahnya selalu bersih dan tertata rapi, walaupun selama ini dia tinggal sendiri.
Mas Leon juga sering duduk berjam-jam di bangku kecil depan rak bukunya. Aku melihat banyak buku tentang cardiology di sana.
Semua tersusun rapi dan bersih. Sepertinya dia suka kerapian dan kebersihan. Dia juga orang yang mandiri, karena dia bisa menguasai dapur dengan baik.
Kadang aku malu, dia lihai sekali dalam mengurus semuanya. Sedangkan aku tidak bisa apa-apa. Selama ini aku jarang sekali di rumah, seluruh waktuku hanya kubuat untuk mencari uang.
Aku menyentuh beberapa buku di perpustakaan kecil milik mas Leon. Ku baca satu persatu judul buku itu dan fix, hampir semua buku itu berisi tentang ilmu kedokteran dan jantung. Tidak ada novel fiksi ataupun komik.
Aku berpikir, apa dia tidak bosan membaca buku-buku ini? Aku saja yang hanya membaca covernya, bosan. Memang otak dia dan otakku memiliki level yang jauh berbeda.
Sebenarnya aku tidak terlalu bodoh juga sih. Aku sering mendapati juara kelas dulu. Tapi kalau ilmu anatomi tubuh, aku nyerah deh, aku takut dengan darah.
Suara ketukan pintu menyadarkan lamunanku. Aku segera membuka dan melihat ada seorang gadis cantik, tinggi, dan langsing berada di depan pintu.
Dengan warna kulit kuning langsat, dan rambut sebahu berwarna cola. wajahnya sangat lembut dan anggun.
Dia cantik sekali, perkataan yang muncul dalam benakku saat pertama kali melihatnya.
"Maaf cari siapa ya?" tanyaku setelah beberapa detik terpana oleh paras ayunya itu.
"Dokter Leonnya, ada?" tanyanya dengan mata yang melihat sekeliling.
"Ada," jawabku risih, saat melihat matanya yang jelalatan itu.
"Bisa aku ketemu dia?" Dia tersenyum lembut.
"Bisa, tapi maaf Mbak, siapa ya?"
"Saya, Riany."
Riany?
Apa gadis ini mantan kekasih mas Leon?
Dia cantik dan anggun, mungkin saja sih. Kalau dia ini mantan mas Leon kenapa harus datang kesini?
Mas Leon juga gak pernah cerita apa-apa padaku.
__ADS_1
Siapa dia?