
Setelah galau yang kurasakan, mas Leon melepaskan dahinya dan tersenyum lepas. Dia mengelus pucuk kepalaku dan menjalankan mobilnya.
Ku ambil nafas panjang, Lega... Dia masih punya perasaan untuk tidak menyiksa jantungku disini.
Ajaibnya, apa yang dikatakan mas Leon itu benar, matanya kembali cerah, seperti ada kafein di dalam ciumanku yang membuat dia kembali melek. Dua jam mas Leon melajukan mobilnya tanpa harus berhenti-berhenti seperti tadi.
Kami sampai di rumah tengah hari siang, mas Leon langsung masuk dan ke kamar mandi. Kalau ia pulang dari mana saja pasti langsung ke kamar mandi, seperti tidak suka kalau badanya bau keringat.
Aku merebahkan badanku dan ku cek suhu badanku, masih agak hangat. Ku letakan Ransel besar itu di lantai dan langsung merebahkan badanku.
Mas Leon masuk kamar dengan sibuk memainkan gawainya, dia langsung membuka laptopnya yang berada di atas meja sudut kamar kami.
Mas Leon tidak memiliki ruang kerjanya sendiri, dia meletakan meja di sudut kamar kami dengan letak yang menghadap keluar. Saat mas Leon duduk disana dia mampu melihat taman samping rumah kami. Dari tujuh buah jejeran vertikal jendela kaca yang tingginya sekita 2,5 meter itu. Dua dari jendela itu bisa di geser kesamping seperti pintu. Dua lainnya hanya bisa di geser dari porosnya sedikit, membuat celah sekitar sepuluh centi meter agar udara masuk. Dan tiga sisanya hanya kaca mati.
Rumah mas Leon ini bisa di bilang unik. Sebagian dinding kamar dan dapur dihiasi jejeran kaca vertikal, mungkin karena letak taman kami yang berada di samping rumah, jadi kacanya berhias di kamar dan dapur.
Sedangkan ruang tamu hanya menggunakan kaca jendela biasa.
Saat ku buka pintu kamar utama ini, maka pemandangan pertama yang terlihat adalah meja makan yang berukuran lumayan besar. Lalu Pantry, dan dapur.
Sedangkan ruang tamu dan ruang tivi hanya terpisah oleh lemari hias. Mas Leon membuat perpustakaan kecil di ruangan yang bersebelahan dengan ruang tivi dan ada satu kamar yang dijadikan gudang disana.
Padahal kamar itu letaknya di depan, gak tau kenapa mas Leon malah memilih kamar yang berada di dapur, mungkin karena kamar ini langsung menghadap ke taman.
Aku perhatikan punggung mas Leon yang sedang duduk membelakangiku, dia sedang berkutat dengan laptopnya. Sesekali ia menjatuhkan kepalanya kekiri dan kekanan, di tambah dengan merenggangkan seluruh badannya. Pasti lelah sekali dia, berharap agar bisa liburan malah tambah lelah.
Aku memberanikan diri berjalan mendekatinya dan memijat sedikit bahunya. Dia yang terkejut langsung menarik tanganku.
"Istirahat sana, lelahkan? Lagian kamu kan sedang sakit." ucapnya saat melihatku di belakangnya.
"Mas juga lelah, kenapa gak istirahat?"
"Aku masih ada kerjaan, kamu lapar? aku buatkan bubur mau?" katanya mencoba mengalihkan perhatianku.
"Gak usah, aku gak lapar mas. Nanti kalau lapar delivery aja. Mas kan lelah."
"Aku lelaki, ini sudah biasa.";Ucapnya sok tegar.
"Mas tidur yuk." bujukku.
"Hemm?" Matanya membelalak lebar saat aku mengajaknya untuk tidur.
"Maksudku tidur beneran di kasur mas. Tidur, pejamkan mata." jelasku lagi, karena pikirannya pasti lain saat ini.
Dia tertawa terkekeh seakan aku sedang melucu disini.
Aku menarik tangannya dan membiarkan dia untuk istirahat dari kepenatannya itu.
Tidak butuh waktu lama ia sudah tertidur pulas. Sok tegar kamu mas, emang lelaki gak butuh istirahat apa?
Aku menarik selimutnya ke dada dan membaringkan badanku juga. Ku peluk gulingku dan tidur membelakangi dia. Aku tersentak bangun saat kurasakan badanku yang mulai lengket karena keringat. Kurasakan sesuatu yang berat menimpahi perutku.
Ku coba untuk membalikan badan, namun wajahku malah terbenam di dada mas Leon. Bukannya malah senggang, aku malah merasakan susah bernafas karena mas Leon yang memelukku erat.
Aduh... dia ini tidur apa lagi sedang menggodaku sih?
Aku mencoba melerai pelukannya namun pelukannya makin mengerat.
"Mas." ku cubit dadanya yang bidang itu.
"Aduh." dia tersentak dan tertawa.
"Jahat kamu mas, udah bangun malah godain aku." aku beranjak duduk untuk mengambil nafas.
Ia menarik tanganku sampai aku terjatuh di atas dadanya yang sedang tergolek. Ada rona merah diwajahku, begitupun wajahnya. Dengan cepat aku bangun dan mas Leon juga. Kami berdua terduduk dengan pandangan yang di buang kesana dan kesini.
"Shena." mas Leon menarik pinggangku dan mendudukan aku di pangkuannya.
Aku yang canggung dengan keadaan ini hanya bisa memejamkan mataku. Bagaikan udang goreng mungkin begitulah warna muka ku saat ini. Kurasakan tangan mas Leon menyentuh dahiku, lalu...
"Puft... ha... ha...ha..."
Tawa mas Leon meledak.
__ADS_1
Ku buka kembali mataku dan kulihat wajah mas Leon yang sedang terkekeh.
Ku cubit dadanya dengan kedua tanganku, kesal.
"Aku hanya mencoba memeriksa suhu badanmu, Shena. Kenapa wajahmu merah sekali, apa panasmu naik lagi?" ucapnya sambil menahan tawa.
Aku yang sangat malu langsung merebahkan badanku dan menutup wajahku dengan bantal. Pantas saja banyak wanita yang jatuh hati padanya, begitu rupanya ia memeriksa suhu badan wanita.
"Shena, apa kamu berharap aku akan menciummu?" tanyanya sambil menggoyangkan badanku.
Aku tau dia hanya menggodaku, aku yang berlebihan memikirkan segala sesuatunya. Jahat kamu mas, aku mencoba untuk membenamkan wajahku di dalam bantal.
"Lapar gak? mau makan apa?" tanya nya yang mulai berhenti tertawa.
Aku hanya diam dan enggan bergerak, namun tanpa ku sadari perutku berbunyi dan mengeluarkan suara untuk minta di isi.
Memang dari pulang tadi kami belum ada makan seseuatu, sedangkan ini sudah malam.
Aku beranikan untuk membuka wajahku dan melihat mas Leon di samping.
"Mas... Aku lapar." ucapku melas.
"Aku tau, perutmu sudah mengatakannya." dia tersenyum-senyum sambil memainkan gawainya.
"Kamu mau makan apa, Shena?"
"Aku mau makanan yang pedas deh, Mas."
Ia hanya memgangguk kan kepalanya dan kembali memainkan gawainya. Selang beberapa menit pesanan kami datang. Dua bungkus nasi Padang, senyumku merekah melihat bungkusan itu.
Dengan cepat aku melahapnya ku pandangi wajah mas Leon yang sedang makan dengan bibirnya yang mulai memerah karena rasa pedas.
Teringat kejadian pagi tadi, aku jadi malu sendiri. Seperti ada sesuatu yang membuat aku tertarik saat melihat bibir mas Leon yang memerah itu. Aku tersenyum simpul, menggelengkan kepalaku dan menepok jidatku.
Mas Leon yang melihat tingkahku mengerutkan dahinya.
"Ada apa?" tanya nya.
Aku hanya menggelengkan kepalaku dan kembali melanjutkan makan.
Sebuah pesan masuk memberitahukan paket kuotaku yang habis. Ku lemparkan ponselku di tempat tidur. Berjam-jam aku duduk di kasur, sambil mengerucutkan bibirku.
Bosan sekali, ku lirik jam di samping kasurku masih menunjukan pukul sembilan malam. Mau tidur juga rasanya mataku sudah puas terpejam tadi.
Ku lirik mas Leon yang masih berkutat serius di depan laptopnya.
"Mas." panggilku saat melihat ponselnya yang terletak diam di atas meja.
"Hem." jawabnya masih fokus memandang laptopnya itu.
"Aku bosan."
"Aku gak bisa keluar sekarang, Shena." ucapnya to the point.
"Aku gak ajakin kamu keluar kok."
"Jadi?"
"Aku mau itu, boleh gak?" ucapku sambil melirik ponselnya.
Tiba-tiba mas Leon menghentikan jemarinya yang dari tadi bermain di atas Keyboard laptopnya. Matanya menatapku serius.
"Mau apa?" dia memainkan kedua alisnya.
"Itu... Aku mau."
"Mau apa?" godanya sambil menendang bahuku mesra.
Ya ampun, mas Leon salah menduga omonganku. Dia menatapku dengan penuh makna, bibirnya tersenyum manis. Kembali saat ku lihat bibirnya itu, terbayang kejadian tadi pagi. Mas Leon mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku, oh my ... jantungku mulai bertabuh kencang.
"Aku ingin pinjam ponselmu, Mas." ucapku cepat sebelum dia memulai lagi.
Dia seperti terhenti dan menepuk jidatnya, kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia meraih ponselnya dan memberikan kepadaku.
__ADS_1
"Kuota ku habis, boleh aku lihat drakor mas?" tanyaku malu.
Ku lihat wajah mas Leon yang tersipu malu kembali memandang laptopnya itu.
"Iya, lihat saja." ucapnya lembut.
Ku buka layar ponsel mas Leon yang sama sekali tidak memakai sandi. Dia itu apa memang secuek inikah? bahkan ponselnya saja tidak memiliki privaci.
Begitu layar ponsel mas Leon terbuka, langsung pada beranda chat wa nya. Ku lihat ada beberapa Chat dengan orang Rumah sakit dan juga Riany.
Pesan terakhir yang di kirim mas Leon adalah emot tersenyum manis.
Aku ingin lihat, tapi mas Leon ada di sebelahku saat ini. Ia juga seperti tidak peduli jika aku membuka apapun di ponselnya. Dengan cepat aku menutupnya dan berganti membuka aplikasi film di ponselnya.
Rasanya kali ini aku menonton film tidak seperti tadi, tetap ada rasa bosan yang menjalar di hatiku, entah bosan atau rasa yang lain hinggap di hatiku.
Aku memutuskan untuk tidur saat jam menunjukan pukul sebelas malam. Sementara mas Leon masih sibuk dengan laporannya itu.
Aku tersentak saat mendengar suara mas Leon yang parau. Ku lihat jam di ponselku masih pukul tiga pagi. Aku pikir mas Leon masih bekerja, tapi saat aku membalikan badan mas Leon sudah tertidur di sampingku, dengan banyak peluhan keringat di dahinya.
Ku raih dahinya yang berkeringat itu untuk memastikan suhunya. Memang badan mas Leon agak hangat, mungkin karena kelelahan dua hari ini.
Aku beranjak ke dapur, mengambil air hangat dalam wadah beserta dua handuk kecil. Ku seka dahi mas Leon dengan handuk kering lalu ku kompres dahinya dengan handuk basah.
Huft... Habis merawat aku malah dia yang harus di rawat. Ucapku dalam hati. Perlahan ku seka lengan tangannya yang juga basah karena peluh keringat. Ku biarkan dia tidur dengan tenang. Sesekali dia seperti menahan nafas, lalu seperti kehilangan nafas.
Peluh keringat selalu hadir saat dia bersikap seperti itu. Ku tarik sebuah kursi dan duduk di depan bibir ranjang mas Leon. Dia selalu tulus merawatku, mungkin ini saatnya aku membalas budi baik dia.
Aku mengambil handuk yang ku kompreskan di dahi mas Leon. Ku celupkan ke air dan ku peras. Saat ingin meletakannya aku mendengar mas Leon seperti memanggil nama seseorang.
Ku dekatkan telingaku ke bibir mas Leon. Selang beberapa lama dia menyebutkan kembali nama itu.
"Sera." suaranya serak.
Perlahan tanganku melemas saat mendengar nama wanita lain di sebut dalam tidurnya mas Leon.
Kenapa Sera, kenapa bukan Shena yang di sebutnya.
Aku mendecap kesal, teringat akan pesan yang aku lihat di wa tadi. Aku mengambil ponsel mas Leon dan ku buka chat wa nya.
Ku lihat pesan yang terkirim pada Riany, memang tidak terlalu banyak, tanggalnya pun juga berjauhan. Tidak ada satupun pesan yang dikirim mas Leon yang menunjukan mereka ada hubungan, mas Leon seperti sedang membahas seseorang dengan wanita itu.
Mas Leon juga tidak ada mengirim pesan yang seperti merayu ataupun mencoba untuk menggombalinya. Memang ada beberapa pesan yang meledek dan menggoda wanita itu.
Tapi ada pesan yang membuat hatiku panas membara.
(Jika aku menjadi wanitamu, maka akan aku siksa kau dengan senyumku.) pesan wanita itu.
(Ha...ha...ha benarkah? aku penasaran bagaimana kau akan menyiksaku?) balas mas Leon di tambah emot ketawa terbahak.
Oh ya ampun, apa ini? Ku tutup beranda Wa nya dan ku buka galerinya, tidak terlalu banyak foto. Hampir seluruh foto di handphone nya gambar kegiatan seminar mas Leon. Tidak ada juga foto selfie mas Leon. Semua fotonya di ambil orang lain, tapi ku lihat ada foto ia, Riany dan seorang lelaki lagi. Berangkulan bertiga, mas Leon terlihat masih sangat muda di dalam foto itu.
Mungkin itu foto lama, wajah mas Leon masih sangat belia, seperti wajah ia saat pertama bertemu denganku dulu. Ku letakan ponselnya kembali, ku rapikan handuk-handuk itu dan kembali ke dapur.
Berarti mas Leon dan Riany itu kenal Riany sejak lama donk. Lalu siapa Sera?
Apa dia bagian dari masa lalu mas Leon?
Dua kali aku mendengar nama Sera di sebut mas Leon. Namun saat mas Leon menyebut nama Sera pasti suaranya selalu terdengar parau.
Mungkin dia bagian dari masa lalu mas Leon. Sama sepertiku, mungkin dia juga belum bisa melepaskan masa lalunya.
Aku harus menarik diriku, sebelum aku terlalu jauh tenggelam kedalam pesona mas Leon.
Sebelum aku terlalu jauh, sebelum aku terlalu sakit nantinya. Aku harus bisa membatasi diriku dari mas Leon.
Aku harus bisa membentengi hatiku, aku tidak ingin kembali terjerumus ke dalam luka lagi.
Aku hanya belajar untuk menerima kamu mas, namun sekarang aku takut, aku takut untuk melangkah ke dalam hatimu. Aku takut kamu pun sama sepertiku, masih mencintai seseorang dalam kisah masa lalumu.
Terlalu banyak teka teki di dalam hidupmu, tapi tidak ada satupun penjelasan yang berusaha kamu berikan untuk menyakinkanku.
Hatiku masih terlalu rapuh jika harus terluka lagi.
__ADS_1
Cukup hanya seperti ini mas, aku akan menerima kamu sebagai suamiku. Aku akan menarik diriku dari dalam hatimu, bukan aku tidak ingin mencintaimu, tapi lebih baik aku seperti ini. Menahan diriku agar tidak terlalu jauh tenggelam dalam hidupmu.