Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 9


__ADS_3

Aku masih terjaga di atas kasurku, kulihat wajah mas Leon yang sedang tertidur pulas di sebelahku. Apa yang sebenarnya terjadi?


Bagaimana masa lalumu?


Siapa kamu sebenarnya mas? Pertanyaan demi pertanyaan terus menganggu perasaanku. Ntah apa yang telah terjadi dan aku sama sekali tidak mengetahui apapun.


Ku lihat jam di sebelah kasurku sudah menunjukan pukul 4 pagi. Tapi aku masih terjaga, sepanjang malam ku dengar beberapa kali mas Leon memanggil nama Sera.


Siapa Sera?


Siapa Riany?


Aku tak punya keberanian untuk menanyakan langsung ke mas Leon.


Perasaanku bercampur aduk tak menentu, ada rasa kesal, ada marah, dan ada rasa penasaran yang membuncah.


Oh ya Tuhan bagaimana aku bisa menahan segala rasa ini?


dadaku serasa sesak, seperti ada sesuatu yang bersarang di dadaku dan menyumbat pernapasanku.


Ku dengar suara lantunan adzan telah memanggilku, ku jejaki lantai kamarku dan segera melakukan kewajibanku sebagai seorang muslim.


Setelah sholat aku langsung beranjak dan menjejaki lantai putih keramik kamarku menuju dapur. Aku berusaha membuat diriku sibuk di dapur. Sekedar untuk melupakan kejadian semalam.


Pyaaaaar... tidak sengaja aku menyenggol teko kaca berisi air di sebelahku. Oh ya ampun Shena, bisa gak sekali saja jangan buat kegaduhan di dapur? Aku memarahi diriku sendiri berharap rasa sesak di dadaku ini sedikit berkurang.


"Apa kamu terluka?" suara mas Leon dari belakang terdengar cemas.


"Maaf mas, aku ... aku." aku berlalu meninggalkan dia. Tidak tahu seperti apa ku gambarkan perasaanku saat ini.


Ku rebahkan badanku di bangku taman sebelah rumah. Terasa buliran air embun menetes sejuk menyentuh kulitku. Belum ada terlihat sinar matahari yang akan segera menyongsong pagi. Hanya langit hitam nan luas, dengan sedikit sinar rembulan yang masih tersisa samar. Ku tutup kedua mataku yang lelah karena terjaga semalaman suntuk.


Ku hirup udara sejuk pagi hari mendinginkan jiwa yang terbakar. Ntah terbakar karena apa? mungkin cemburu atau... Apa aku cemburu? Yang benar saja, dia saja tidak menceritakan apapun tentang dua wanita itu. Berarti dia belum menganggap aku ini istrinya bukan.


Ku buka kedua mataku, ku lihat bentangan langit yang agak mendung. Udara pagi mampu menenangkan pikiran gundahku. Pagi memang selalu bisa membuat suasana hatiku lebih baik.


"Nih... Hari ini sarapan diluar, ide yang bagus." mas Leon menyodorkan sepiring omelet dengan senyuman. Sepertinya dia lupa semalam sudah berbuat apa.


Aku menolak piring itu, tidak ada seleraku untuk makan. Bagaimana bisa aku makan dengan rasa sesak yang bersarang di dada. Tidak adakah niat buat mas Leon menceritakan kejadian semalam kepadaku?


"Ada apa, Shen? Kamu tidak suka ya?" Mata nya menatapku sendu.


"Aku tidak lapar Mas." jawabku singkat.


"Yasudah, makan ya nanti."


Mas Leon berbalik dan kembali membawa masuk kedua piring di tangannya.


"Mas..." panggilku sebelum mas Leon beranjak jauh.


"Ya." jawabnya sambil menoleh kearahku.


"Mas... Aku kerja ya." mas Leon menghela napas dan kembali ke sampingku, Ia meletakan piring di atas bangku. Mengisi jarak duduk antara aku dengan dia.


"Kenapa? kok bahas masalah ini lagi?" Dia meraih ujung kepalaku, dan mengelusnya.


Seperti ada es yang memasuki hatiku, dingin, sejuk, dan melegakan, setiap kali mas Leon membelai kepalaku dengan lembut.


Seperti ada sesuatu di setiap sentuhannya, dia bahkan mampu membuang rasa gelisahku hanya dengan satu sentuhannya.


"Uang di ATM itu gak cukup ya?"


Bukan mas, aku hanya kesal saat kamu memanggil nama wanita lain di dalam tidurmu. Aku kesal saat melihat kamu tertawa dengan wanita lain di hadapanku. Andai, aku bisa mengucapkan semua kata itu dengan lantang di depan mas Leon, mungkin rasa sesak ini akan berkurang.


"Aku hanya ingin berdiri di atas kaki ku sendiri, Mas. Aku gak ingin merepotkanmu saja."


"Aku suamimu, Shen. Tidak ada yang merepotkan, kamu makmum aku. Aku tidak bisa membiarkanmu mandiri."


Dia sadar dia suamiku, tapi kenapa dia tidak berkata apapun tentang dua wanita itu?


"Jadi mau sampai kapan, Mas. aku harus menggantungkan hidupku padamu?"


"Seumur hidupmu. Aku bisa jadi penopang hidup kamu, aku bisa kamu andalkan, Shen. Percayalah." Dia meraih tanganku dan menggenggamnya.


Cessss seperti ada percikan air yang di siramkan ke bara api panas yang ada di dalam hatiku. Ya Tuhan mengapa begini sekali hatiku, sebebarnya apa yang sebenarnya terjadi pada hatiku?


"Aku bisa menghabiskan uangmu dalam satu hari loh, Mas." dengan nada menggoda


"Tidak masalah. Kalau begitu, aku akan tambah semangat mencari uang yang lebih banyak lagi." dia berbicara dengan bibir yang menyungging.


Dia mulai mengambil piring sarapannya, dan menyuap ke dalam mulutnya.


"Mas." panggilku.


"Hmmm."


"Aku buka Olshop Mas, ya." bujukku.


"Mau jual apa?" dia kembali menyendok piring nya dan kali ini dia menyuapiku.


"Jual cake."


"Cake bantat?" dengan nada meledek.


Bibirku mengerucut, kenapa suka sekali sih menggoda aku. Suasana hatiku baru saja membaik, dia kembali menyuapi aku. Aku menolak suapan nya itu. Lalu dia tersenyum simpul.


"Yasudah, yang penting kamu tidak keluar rumah ya."


Aku mengagguk tersenyum puas mendengar kalimat terakhirnya itu. Ku ambil piring sarapanku dan melahap sarapanku dengan cepat.

__ADS_1


Selesai sarapan aku langsung berangkat kedapur menyiapkan bahan-bahan dan segera melakuan kegaduhan di dapur lagi. Setelah setengah hari, tersajilah beberapa macam kue. Ku foto satu persatu dan ku masukan ke beberapa akun sosmed ku.


Hanya tinggal menunggu pesanan masuk dan aku bisa memasarkan cake aku sendiri. Siapa tahu aku bisa buka toko kue ku sendiri. Baru juga mulai tapi angan-angan sudah melayang terbang kejauhan.


Kalau bermimpi memang enak sih, tapi pada kenyataannya.


Sudah beberapa hari semenjak ku promosikan cake ku namun pesanan yang datang hanya beberapa saja. Ku hela napas panjang, ternyata memulai bisnis itu sangat sulit.


Aku mengaduk-aduk sendok tepungku dengan lesu. Mas Leon datang dan membuka laptopnya di atas meja makan. Di perhatikannya wajah lesu ku dengan senyum yang sedikit meledek. Tak ku hiraukan dia, malas kalau harus berdebat. Aku sudah tak ada tenaga lagi, bukan capek sih, tapi udah gak ada semangat.


"Bagaimana bisnis mu?"


Aku hanya menggeleng lesu mendengar pertanyaan mas Leon.


"Jangan putus asa, ini hanya awal, harus tetap semangat ya."


Aku hanya mengangguk sambil memainkan sendok tepung di tanganku.


"Kok, gak semangat gitu sih?"


Aku hanya mengangkat bahuku, dan menghela nafasku.


"Baru juga berapa hari, kok udah lembek gitu sih, Shen? capek?"


"Capek kenapa mas? aku gak semangat karena gak ada yang pesen."


Mas Leon tertawa geli, ini kenapa aku gak mau cerita sama dia. Pasti dia akan menertawakan aku. Aku mengerucutkan bibirku, dia selalu saja meledekku begini. Seharusnya dia menyemangati aku, dasar kamu mas.


"Kok cemberut sih? sini biar aku bantuin promo."


Aku berjalan mendekat dan menarik kursi ke sebelah mas Leon. Mas Leon membantu promosi ke akun sosial media dia.


Sekitar lima belas menit kemudian sudah masuk beberapa respon dari beberapa akun. Dan rata-rata respon yang masuk semuanya cewek.


"Ada yang minta free ongkir nih. Gimana?" tanya mas Leon.


"Yaudah naikin aja harganya Mas." jawabku lesu.


"Yah, tapi aku kan udah bilang harga nya segitu. Gimana mau di naikin?"


"Yaudah mas yang bayarin aja ongkir nya."


"Lah kok jadi aku yang bayar sih?" tanya mas Leon balik.


"Jadi siapa donk?"


"Kamu ini, jualan kok gak mau promosi sih." mas Leon tersenyum kecil dan menggeleng.


Aku kok seperti gak senang ya, saat mas Leon promosi kok cepet banget yang respon. Malah cewek semua lagi, kayak ada rasa kesel aja gitu. Aku kembali cemberut melihat respon-respon itu.


"Kok masih cemberut sih?" tanya mas Leon padaku.


Aku hanya menggelengkan kepalaku. Di tatapnya wajahku lekat-lekat. Lalu dia menarik kepalaku dan mendaratkan ciuman di pipiku.


Mas Leon masih memperhatikan rona wajahku, semakin aku malu di pandangnya semakin rona merah wajahku kelihatan. Kini di tambah debaran jantung yang bertabuh kencang.


"Maaf." suara mas Leon terdengar lirih.


Loh kok minta maaf sih?


memang apa salahnya?


Aku menatap wajah mas Leon yang mulai menampakkan ekspresi datar.


"Begini saja, saat weekend biar aku saja yang mengantar, kamu bisa buat free ongkir untuk weekend dan hari libur. Bagaimana?" suara mas Leon memecahkan suasana canggung di antara kami.


Aku memikirkan kata-kata mas Leon ada benar nya juga, kenapa tidak kucoba saja.


"Tapi, kamu gak kerepotan mas?"


"Gak, lagian kamu kan bisa ikut ngantar bareng aku juga."


"Makasih ya mas."


Mas Leon mengangguk tapi ekspresi wajahnya masih tetap datar. Kenapa sih mas Leon ini, kadang suasana hatinya suka berubah-ubah dalam waktu singkat. Kadang aku merasa dia begitu dekat denganku, kadang dia juga terasa sangat asing bagiku. Kamu selalu penuh dengan teka teki mas.


Pada minggu pertama pesanan sudah lumayan banyak sih. Dan selanjutnya menurun, memang setiap usaha itu pasti ada pasang surut nya. Tapi di luar dugaanku setiap kali weekend atau hati libur pesanan selalu banjir.


Sampai kadang aku meminta bantuan Shima. Aku pikir selama ini, karena promo free ongkir setiap weekend atau memang cake aku sudah mulai bisa di terima di pasaran. Eh ternyata ada hal lain di balik itu semua.


Sama seperti weekend sebelumnya, mas Leon hari ini juga pulang dengan menenteng beberapa kantongan plastik. Dia pulang dengan wajah yang sedikit lelah. Memang hari ini dia pulang sedikit lebih malam dari biasanya.


Biasa sebelum maghrib dia sudah pulang, hari ini dia malah pulang habis isya.


Mas Leon meletakan kantongan itu di atas pantry dan tanpa mengatakan apapun dia langsung masuk kekamar.


"Apa ini mbak?" Shima membongkar kantong plastik itu.


"Lihat aja." sahutku sambil membereskan makan malam.


"Mbak, ini banyak banget loh." sambung Shima sambil menggeledah seluruh isinya.


Aku datang mendekat dan kulihat sendiri isinya. Memang ada beberapa macam camilan, ada juga cake, bunga dan parfume.


"Mas Leon beli ini buat mbak? kan mbak buat cake, kok beli lagi sih?"


Aku hanya mengangkat bahuku dan berlalu menyiapkan makan malam. Sering memang mas Leon pulang dengan membawa itu semua. Tapi mas Leon tidak bilang dari mana, dia selalu menaruh itu semua di atas meja makan ataupun pantry tanpa mengatakan sepatah katapun.


Ku lihat mas Leon keluar dari kamar dengan kaos hitamnya dan wajah yang sedikit lelah. Dia menarik kursi meja makan dan duduk sambil memainkan gawainya.

__ADS_1


"Telat banget pulangnya mas?"


"Iya, tadi aku ada seminar. Jadi begitu siap antar pesanan aku langsung pergi." jawabnya dengan mata yang masih menatap gawainya.


Aku segera bergegas menghidangkan makan malam, ku intip sedikit gawai mas Leon. Penasaran apa sih yang di lihatnya. Tanpa aku tahu ternyata mas Leon sadar dengan yang ku perbuat.


Dia menumpuhkan siku kirinya di atas pahanya dan menaruh dagunya di telapak tangan kirinya. Dia menaiki sebelah alis nya sambil memandangku. Aku yang sadar dengan pandangannya itu langsung berlalu pergi, tapi mas Leon dengan cepat menarik lengan tanganku.


"Lihat apa sih?" dia memainkan kedua alisnya dan tersenyum lebar.


"Lihat apa? Aku lagi menata makanan kok." jawabku berusaha menghindar.


Mas Leon mengambil tanganku dan memberikan ponselnya ke tanganku.


"Lihat aja kalau kamu penasaran."


"Ih, enggak Mas. Aku gak ngintip kok." aku mengembalikan ponselnya dengan cepat.


"Kan aku gak ada bilang kamu ngintip. Kalok kamu nyadar berarti kamu memang ngintip kan." mas Leon tertawa meledak.


"Ih... udah aku bilang aku gak ngintip." aku mencubit lengan tangan mas Leon dan mencubit pinggangnnya bergantian.


Dia hanya menyipitkan kedua matanya dan mencoba menghindari cubitanku. Aku mencoba untuk menutupi rasa maluku dengan mencubit-cubitnya.


"Echm...?" Suara deheman Shima menghentikan serangan cubitan dariku.


"Jangan lupa ada aku disini." kata Shima meledek.


"Jangan perlihatkan adegan dewasa dong, mbak."  sambungnya.


"Gak papa biar kamu belajar." jawab mas Leon santai.


"Ih... apaan sih mas." Aku mencubit kembali pinggang mas Leon.


"Itu jari apa capit kepiting sih?"


Aku menarik kembali tanganku yang mencubit pinggang mas Leon. Aku baru sadar, sudah berapa banyak aku mencubit mas Leon untuk menutupi kesalahan ku.


"Mas, ini dari mana?" tanya Shima sambil menunjuk bungkusan di atas pantry.


"Oh... itu dari fans nya Shena. Bawa pulang aja semua."


"Ih... kok fans aku? ya fans Mas lah itu." sambungku membela diri.


"Itu kan pelanggan kamu, ya jadi fans kamu lah." timpal mas Leon.


"Cie... mas Leon kayak Oppa aja banyak fans nya. Udah ngalahin Idol aja nih." ledek Shima.


"Udah tua dong aku. Anak juga belum punya, Udah jadi Opa aja."


"Bukan Oppa yang itu Mas ee. Oppa idol Korea tau." jawab Shima sedikit kesal.


"Oh... Gak tau." jawab mas Leon enteng.


Aku hanya tersenyum melihat mereka berdua berdebat. Segera aku menyiapkan hidangan yang belum siap dan kembali menata nya di atas meja.


"Assalamuailakum mbak." suara Shine datang dari depan.


"Wa'alaikum salam. Eh sekalian makan malam yuk." ajak ku saat melihat dia datang.


Tanpa banyak bicara kami pun melahap makan malam itu. Sesekali aku dengar Shima dan mas Leon saling ledek.


Shima ini memang gampang sekali akrab dengan orang. Berbeda denganku yang agak susah berinteraksi dengan orang asing.


Setelah makan malam Shima membantu aku membereskan piring kotor dan kemudian mereka pamit pulang.


Seperti biasa, Shima pasti akan menciumku sebelum pulang. Sama halnya dengan Shine yang masih suka mencium dahiku sama seperti saat aku masih gadis dulu.


Setelah motor mereka menghilang dari pandangan, aku pun ingin beranjak kembali masuk.


"Shena." panggil mas Leon lembut sebelum kami masuk kerumah.


"Iya."


"Aku mau tanya, tapi kamu jangan tersinggung ya."


"Mau tanya apa?"


"Shine itu memang kembaran Shima?"


"Iya lah mas, jadi?"


"Mana tau, Shine itu bukan adik kandung kamu."


"Kenapa kamu tanya gitu mas? ya gak mungkinlah, orang Ibu memang yang melahirkan Shine kok." jawabku membela.


"Abis kamu kok mesra banget sih, kayak dia bukan adik kamu aja." jawab mas Leon dengan sedikit malu.


"Apa?" aku tertawa geli mendengar pernyataan mas Leon.


"Mas, apa kamu cemburu?" tanyaku dengan penuh selidik.


"Kenapa aku harus cemburu?" dia menjawab namun memalingkan wajahnya. Seperti sedang menghindari pandanganku.


"Cie... mas Leon cemburu." ledekku sambil menggelitik pinggangnya.


Dia berlari masuk dan berusaha menghindari kitikan aku. Aku mengejarnya dan berusaha menggelitikinya lagi. Lucu sekali melihat wajahnya yang merona, gantian aku yang menggoda nya saat ini.


Tidak ada yang percaya jika di bilang kami menikah tanpa cinta. Siapa pun yang melihat pandangan seperti ini pasti berpikir bahwa kami memang pasangan yang saling mencintai.

__ADS_1


Aku berusaha menerima kamu mas, tapi tidak mudah untuk bisa mencintaimu.


Ada luka yang masih sangat dalam di hatiku. Aku memerlukan waktu untuk menyembuhkannya dan membuka kembali hatiku. Aku harap kamu bisa sabar menunggu aku mas.


__ADS_2