
"Oh ... silahkan masuk Mbak, aku panggil mas Leonnya dulu," sapaku mencoba ramah.
Aku berjalan ke arah dapur, mengetuk pintu kaca dapur, terlihat di sana mas Leon menyadarinya, dan berjalan mendekat ke arahku.
"Ada tamu, Mas," ucapku saat mas Leon berada di depanku.
"Oh ... oke." Dia berjalan masuk dan mengganti bajunya yang penuh dengan peluh keringat.
Sementara aku menyiapkan teh dan beberapa camilan untuk menjamunya.
Kulihat mas Leon dan ia sangat akrab, bahkan dia mencipika mas Leon.
Seperti ada rasa yang bergejolak di dalam dadaku.
Aku merebahkan badan di sofa depan televisi. Sesekali melihat mereka yang berada di ruang tamu. Karena ruang tivi dan ruang tamu hanya terpisah oleh lemari hias saja, aku bisa mendengar dan melihat sekilas ke arah mereka.
Terdengar suara mas Leon dan gadis itu mengobrol ringan, sesekali terdengar mereka tertawa. Kualihkan chanel tivi satu ke chanel yang lain.
"Huuhhh, kenapa acara di pagi hari sangat membosankan."
Kumatikan televisi dan melangkahkan kaki ke dapur, membuka lemari es dan mencari apa yang bisa kubuat untuk makan siang.
Terakhir aku memilih bahan-bahan kering untuk membuat cake. Setidaknya hanya ini yang kukuasai, Keahlian yang didapatkan dari bekerja di toko kue selama betahun-tahun.
Ting ...
Suara mikrowave menyadarkan lamunanku. Kubuka pintu mikrowave dan melihat cake buatanku bantat alias tidak mengembang, Bahkan cake ini pun semakin membuat aku kesal saja.
"Bantat?" Aku menggelengkan kepala.
"Bertahun-tahun aku bekerja di toko kue, tapi aku buat cake saja bantat?" Kuletakan loyang cake itu dengan sedikit membanting di atas pantry.
"Ada apa, Shena? Kenapa kamu membanting kuemu?"
Suara mas Leon menganggetkan aku.
"Tidak ada, loyang kuenya panas." Aku berlalu, melewati mas Leon menuju kamar.
Ada rasa kesal dalam hati saat melihat wajah mas Leon. Entah kesal kenapa? Aku pun tak tahu.
Tidak lama kemudian, Mas Leon masuk ke dalam kamar dengan membawa sebuah laptop di tangannya. Ia mengganti baju dan merapikan beberapa berkas.
"Kamu mau makan apa siang ini, Mas?"
"Aku tidak makan di rumah sepertinya."
"Jadi?" tanyaku.
"Aku mau keluar sama Riany sebentar, kamu makan saja duluan. Jangan menungguku, ya."
Dia bergegas merapikan dokumennya, meraih kepalaku, mendaratkan kecupan di dahi.
"Aku pergi sebentar ya, kamu telepon aku jika ada apa-apa."
Mas Leon berlalu begitu saja, kudengar suara mobilnya pergi dan menghilang dari pendengaran.
Seperti ada perasaan kesal yang tidak bisa kujelaskan, bagaimana bisa mas Leon bersikap seperti ini kepadaku?
Siapa Riany itu, aku benci sekali, bahkan jika hanya mengingatnya.
Sepanjang hari aku hanya melamun dari satu tempat ke tempat lainnya. Entah kenapa waktu berlalu sangat lambat.
Aku bosan sekali seperti ini, bagaimana jika besok aku ditinggal mas Leon bekerja? Apakah aku akan di rumah terus sepanjang hari? Ah aku tidak mau.
Kutatap langit sore ini, hanya tersisakan sedikit warna jingga di ujung sana. Warna yang sangat indah namun hanya sementara. Senja memang selalu menakjubkan untuk dipandang, namun sayang, dia hadir hanya sebagai penghubung antara siang dan malam.
Senja telah menyapaku, namun mas Leon belum juga datang kepadaku.
Kudengar suara panggilan Sang Pencipta telah menyapaku. Memanggil untuk menikmati bercengkerama berdua dengan-Nya di senja hari.
Setelah menikah, aku tidak pernah ibadah sendiri. Aku selalu mengikuti lantunan sendu suara mas Leon menyuarakan ayat demi ayat, namun sekarang hanya ada aku dan Dia. Dia Sang Maha Segalanya.
Kurasakan sejuk menyelimuti hati, tenang, nyaman dan sangat damai. Perasaan yang kerap hadir menemaniku setiap kali selesai menundukan kepala di atas sajadah.
Terdengar suara mobil terparkir di halaman rumah, aku membuka mukenah dan segera keluar. Entah mengapa ada perasaan lega setelah melihat wajah mas Leon berdiri di hadapanku.
"Kamu sudah makan?"
Aku menggelengkan kepala. Seharian entah apa saja yang kulakukan, aku tidak teringat makan ataupun masak untuk diriku sendiri. Bahkan kue bantat itu pun masih ada di atas pantry.
"Aku sedikit lelah, aku pesan makanan saja ya."
Aku pikir mas Leon akan mengajak keluar untuk makan, sebagai pengganti dia meninggalkanku seharian ini. Atau tidak, bawa pulang sesuatu kek untuk membayar kekesalanku padanya. Ah ... yasudahlah dia tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku hari ini.
"Aku tidak mau, kamu makan saja sendiri." Aku meninggalkan mas Leon dan memasuki kamar, sesak, itu yang kurasakan. Mas Leon seperti tidak peduli padaku.
Kemana sosok pengertiannya itu, hilang kemana sosok yang mampu membaca isi hatiku itu. Atau memang beginikah sikap aslinya?
Acuh kepadaku?
Aku tertidur tanpa memakan apapun, mas Leon juga tidak berusaha membujukku.
Suara alarm membangunkanku, kuraih ponsel dan melihat jam yang tertera pada layar. Masih pukul 4 pagi. Aku sengaja menyetel alarm supaya aku bisa bangung pagi, hari ini.
Ini hari pertama mas Leon masuk kerja setelah menikah, aku tidak mau terus-terusan dilayani oleh dia. Setidaknya aku bisa menyiapkan sarapan sebelum dia pergi bekerja.
Aku bergegas ke dapur dan melihat bahan makanan di dalam kulkas. Tak ku sangka kue bantat yang aku buat kemarin, hanya bersisa beberapa potong kecil saja.
__ADS_1
Apa mas Leon kelaparan semalam? Sampai harus makan kue bantat ini? Ah tapi kan dia bisa pesan, tidak harus makan kue ini juga kan?
Melihat sisa kue itu aku jadi teringat sikapku padanya semalam. Ada rasa bersalah dalam hati, bagaimana juga sikapnya selalu lembut padaku. Aku ini memang seperti anak kecil, suka uring-uringan gak jelas.
"Tumben kamu pagi-pagi sudah sibuk di dapur, Shen?" tanyanya, mengagetkan.
"Kelaperan?" sambungnya meledek.
Padahal tadi aku sudah mau tersenyum, tapi mendadak cemberut lagi mendengar ledekannya.
Sebelumnya aku memiliki rasa bersalah padanya, tapi begitu mendengar kalimatnya itu membuatku kesal pagi-pagi begini.
Kulihat mas Leon masih memakai kaus tidurnya dan mengotak-atik laptop di atas meja makan.
"Kamu mau aku buatkan minum, Mas?"
"Boleh."
"Kamu mau minum apa? Teh, atau kopi?" tawarku padanya.
"Ambilkan aku air putih saja ya."
Aku mengangguk kecil dan menyiapkan segelas air putih. Berjalan mendekati tempat mas Leon terduduk.
"Ini, Mas." mas Leon hanya tersenyum, Seperti ada sesuatu yang dilihatnya serius dalam layar datarnya itu.
"Mas, cake itu kamu yang makan?"
"Iya," jawabnya singkat
"Kok, kamu makan sih, Mas?"
"Itu kan makanan, jadi kalau gak dimakan, apa mau dipajang?" tanyanya masih terfokus pada layar laptop.
"Tapi itu kan cake bantat, Mas."
"Terus kenapa kalau bantat?"
"Nanti kalau kamu sakit gimana?"
"Kamu buat cake, atau buat racun?" tanyanya serius.
"Ya cake lah mas, kamu, ihh," balasku kesal.
Dia mengehela napas dan menatapku sembari tersenyum kecil.
"Itu masakan pertama buatan istriku, aku tetap akan memakannya bagaimanapun hasilnya."
Aku tersenyum mendengar kata-kata mas Leon. Entah pergi kemana semua rasa kesalku saat mendengar kalimat terakhirnya itu.
Aku berdehem pelan, berusaha menyembunyikan senyum yang ingin melebar. Gengsi dong, aku masih kesal sama dia.
Setelah beberapa waktu, tersajilah nasi goreng dan telur ceplok diatasnya.
Oh ya Tuhan ... aku menghabiskan berapa lama hanya untuk buat ini, tenyata memasak itu gak mudah. Dulu aku sibuk bekerja. karena kerja aku bukan di kantor, jadi aku berangkat pagi dan pulang malam. Selain buat kue aku tidak bisa memasak apapun.
"Mas, aku udah siap. Kita sarapan dulu ya."
Ia hanya mengangguk, kusodorkan sepiring nasi goreng di hadapannya. Dia seperti ingin tersenyum namun berusaha untuk menyembunyikannya.
Aku tahu, pasti dia berpikir aku membuang-buang waktu hanya untuk sepiring nasi goreng. Tidak seperti dia yang bisa menyiapkan beberapa hidangan western dengan waktu yang lebih singkat dariku.
Kulihat dia melahap nasi goreng itu dengan cepat, bibirku sedikit tersenyum melihat dia bersemangat saat sarapan.
Akupun melahap hidangan yang ada di hadapanku.
O ... o kenapa rasanya hambar begini?
Kulihat ekspresi mas Leon saat makan, namun dia seperti biasa saja. Apa rasa yang ada di piringku dan di piringnya berbeda? Ah mana mungkin, aku memasaknya jadi satu tadi.
Aku sudah mencicipinya juga, sepertinya rasanya tadi tidak seperti ini, kok begini sih rasanya? Kulihat piringnya mas Leon sudah hampir habis, masak sih beda rasa?
"Mas," panggilku lembut.
"Hem," jawabnya dengan mulut yang penuh.
"Nasi gorengnya ... enak?" tanyaku sembari menggigit bibir bawah.
"Enak kok, aku suka. Kenapa?"
"Tapi, ini sedikit hambar loh."
"Masa sih? Ini enak kok."
Aku semakin bingung dengan jawaban mas Leon. Kuaduk nasi yang ada dalam piring. Gak mungkin ini enak, mas Leon pasti bohong.
"Mas, kamu bohong kan? Ini hambar, mana mungkin enak?" tanyaku menuduh.
"Ngapain juga aku bohong, kalau gak enak sudah aku muntahin dari tadi," jawabnya polos.
Iya juga ya, ah kok aku jadi bingung sendiri sih. Kusendoki lagi nasi itu dan memasukan ke dalam mulut, untuk memastikan sekali lagi. Benar saja, ini memang hambar.
"Kamu kok gak makan? Gak suka?" tanyanya saat melihat aku hanya memainkan sendok.
Kugelengkan kepala dan mengerucutkan bibir ke depan.
"Yasudah sini buat aku saja."
__ADS_1
Mas Leon menarik piringku dan melahapnya kembali. Masa sih enak? Ini hambar kok, apa lidah aku bermasalah, ya?
Aku memperhatikan mas Leon, ia masih memakannya dengan gaya biasa, wajahnya juga tidak menunjukan reaksi apa-apa. Mungkin memang lidah aku yang bermasalah.
"Mas."
"Hm."
"Saat kamu kerja nanti, aku sendirian dong di rumah."
"Kenapa, kamu takut?"
"Bukan."
"Jadi?"
"Hem, Mas. Boleh gak kalau aku kerja lagi?"
Mas Leon mengambil gelas air lalu menenggak isinya sampai habis.
"Gak boleh." mas Leon menjawab dengan tegas.
"kalau kamu bosan di rumah, kamu daftar kuliah saja lagi," sambungnya.
Aku tertunduk, mendengar jawaban mas Leon. Aku hanya ingin membantu keuangan keluarga aku, ingin membiayai kuliah adik kembarku, setidaknya satu dari mereka.
Mas Leon memperhatikan raut wajahku yang mulai cemberut.
"Memangnya kenapa kamu ingin bekerja?"
"Jadi aku ngapain juga sendiri di sini, Mas?"
"Kamu kan bisa sambung kuliahmu."
Aku semakin mengerucutkan bibir mendengar jawabannya. Kalau aku kuliah aku hanya akan menghabiskan uangmu saja, Mas. Lagian mana ada lagi minat aku belajar setelah menikah. Cita-citaku menjadi lawyer sudah kukubur dalam-dalam.
"Kenapa, gak mau juga sambung kuliah?"
"Enggak."
"Yasudah, kalau kamu bosan, kamu main saja kerumah bapak, atau kumpul dengan temanmu."
Aku tidak ingin main, aku berpikir selama belum hamil aku masih sanggup mengurus suami dan pekerjaan. Lumayan, aku masih bisa bantu bapak tanpa harus membebani bapak lagi.
Terdengar helaan napas panjang dari bibir mas Leon.
"Jadi kamu maunya kerja, iya?"
Aku hanya mengangguk dengan pasti.
"Kenapa mau kerja? Kasih alasannya, aku akan pertimbangkan."
"Aku masih ingin bantu bapak, Mas. Aku pingin bantu ringanin beban bapak. Apalagi si kembar mau masuk universitas sebentar lagi. Pasti bapak bingung sekali sekarang."
Mas Leon tersenyum, ia mengelus pucuk kepalaku dan kemudian masuk ke kamar.
"Ambil ini." mas Leon menyodorkan sebuah ATM kehadapanku.
"Ini, buat apa, Mas?" tanyaku bingung.
"Di situ ada uangnya, memang tidak terlalu banyak. Ambil itu untuk membantu kebutuhan keluargamu."
Aku terdiam sambil memandangi kartu kecil itu. Bagaimana mungkin dia percaya padaku begitu saja. Bagaimana jika aku menghabiskan seluruh uangnya untuk keluargaku?
"Keluargamu, saat ini kelargaku juga, Shena. Aku yang akan mengambil alih kewajibanmu, aku akan mengirim uang untuk keluargamu setiap bulan," sambungnya.
Seakan dia menjawab pertanyaan dari dalam pikiranku, eh tunggu tadi dia bilang apa?
Mau kirim ke keluargaku lagi setiap bulan? Lalu yang di dalam sini buat apa?
"Mas, kalau kamu sudah kasih ATM ini buat aku, kenapa mas kirim lagi tiap bulan?" tanyaku bingung.
"Ini untuk kebutuhanmu, Shena. Jika uang yang kukirim masih tidak cukup, kamu bisa mengambilnya lagi dari sini."
Aku hanya mengangguk, tidak mengerti jalan pikiran mas Leon. Kenapa dia terlalu baik padaku?
"Nanti ku-WA sandinya, aku siap-siap dulu, ya."
"Eh ... Mas," panggilku saat mas Leon ingin pergi.
"Iya."
"Terima kasih, ya." Aku tersenyum padanya.
Dia membalas senyumku dan meraih pucuk kepalaku, mengelusnya lembut.
"Tidak perlu berterima kasih. Ini sudah tanggung jawabku."
Sikap mas Leon selalu membuat aku terpukau. Sikapnya lembut namun tegas, dia bertanggung jawab dan juga dewasa. Dia memang baik dan semoga saja sikapnya terus baik sampai akhir.
Mas Leon pergi kembali kekamar, tak lama dia keluar dalam pakaian rapi. Dia mencium keningku sebelum pergi.
Walaupun belum terlalu nyaman dengan sikapnya, aku tidak enak jika harus menolaknya lagi. Ia terlalu baik untuk terus ditolak begini.
Aku bergegas merapikan kegaduhan yang kubuat di dapur pagi tadi. Aku hanya masak dua piring nasi goreng, tapi kenapa seberantakan ini?
Dasar, selain keluar bekerja aku ini tidak melakukan apa-apa di rumah. Mungkin ibu yang terlalu memanjakan aku, sehingga aku tidak bisa apa-apa saat ini.
__ADS_1
Setelah merapikan rumah, aku bersiap untuk kerumah bapak. Aku rindu sekali sama ibu dan si kembar, sudah seminggu aku meninggalkan mereka.
Apa kabarnya mereka ya? Aku rindu sekali dengan mereka. Aku juga rindu sekali dengan rumah dan kamarku.