Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 23


__ADS_3

"Apa kamu pikir pernikahan itu sebuah permainan? Jika kamu tidak suka kamu bisa meninggalkan nya begitu saja?"


Aku berjalan mendekatinya, Ku dongakan wajahku dan ku tatap wajahnya lekat-lekat. Walaupun Randy tinggi, namun dia tidak setinggi mas Leon. Jadi aku tidak perlu jinjit untuk menyamainya.


Ntah kenapa aku seperti muak melihat wajah nya. Padahal dulu wajah ini lah yang selalu aku rindukan. Wajah ini yang selalu aku hadirkan dalam mimpi masa depanku.


"Pernikahan itu hubungan yang sakral, Randy. Aku ataupun kamu tidak bisa memutuskan nya begitu saja." Ku lihat wajah Randy yang menunjukan ekspresi datar.


"Hemm... bahkan kamu tidak tahu bagaimana menjaga perasaan orang lain." aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum sinis. Aku membalikan badanku, namun Randy mengambil pergelangan tanganku.


"Apa kamu pikir aku tidak tau? Kamu menikahinya karena hanya dia mapan kan? Shena... Dia tidak ada apa-apa nya di bandingkan keluargaku. Aku bahkan bisa membeli Rumah Sakit tempat dia bekerja." nada Randy terdengar sombong.


Sedikit banyak apa yang dikatakan Randy ada benarnya, aku menikahi mas Leon dulu karena tidak ingin melihat keluargaku yang kesusahan. Aku berpikir jika aku menikahinya maka keluarga aku akan sedikit terbantu.


Kenapa Randy bisa tau, bahkan mas Leon dan keluargaku saja tidak tahu hal ini. Dia pernah menjadi orang yang paling dekat denganku dulu. Dia memang pernah menembus hatiku dulu, tapi aku tidak sangka bahkan sampai sekarang pun dia masih bisa menebak isi hatiku.


"Aku tau kamu hanya mencintai aku, bahkan kamu menangis tersedu saat hari pernikahanmu, karena aku." aku memalingkan wajahku, kulihat wajah nya yang penuh dengan kesombongan itu tersenyum.


"Tinggalkan saja dia, aku bisa memberikan uang yang lebih banyak dari dia. Bahkan aku bisa memberikan cinta yang tidak pernah dia berikan kepadamu."


Aku berjalan mendekati wajahnya, mataku mulai berkaca-kaca. Ada rasa marah yang menebal di hatiku saat melihat wajahnya. Aku tidak terima ia berbicara seperti itu untuk mas Leon.


Seakan-akan ia paham kehidupan kami, seakan ia tahu perasaan mas Leon terhadapku. Mas Leon bukan lelaki yang buruk, ia bukan suami yang buruk. Akulah istri yang tidak bisa belajar memahaminya selama ini.


"Bahkan seujung kuku pun, kamu tidak akan bisa. memberikan cinta seperti yang dia berikan padaku." Ucapku kesal, tepat di hadapannya.


"Cinta? Hah... aku rasa kamu tidak tau itu apa." Sambungku.


"Kamu..." dia mengepalkan tangan nya. Terlihat kemarahan mulai menghiasi wajahnya.


"Dulu aku pernah berpikir, seandainya yang kunikahi itu kamu bukan dia. Mungkin aku akan lebih bahagia. Tapi sekarang aku tau, seaindainya yang kunikahi itu kamu, hidup aku tidak akan sebahagia saat ini." aku tersenyum sinis.


"Shena, aku menjagamu selama bertahun-tahun. Aku bahkan tidak pernah sedikitpun menyentuhmu, tapi kamu malah mengkhianati aku." nadanya teedengar kesal.


"O ... O bukan aku yang mengkhianatimu, tapi kamu yang berulang kali mengkhianatiku. Kamu memang menjaga aku, tapi kamu tidak pernah menjaga hatiku." aku menggoyangkan satu jariku di depan wajahnya.


"Dia bisa memberikan rasa aman, nyaman dan kasih sayang yang tidak pernah aku rasakan saat bersamamu dulu. Jadi jangan bandingkan dirimu dengan dirinya. Karena semakin kamu bandingkan, maka semakin terlihat buruknya kamu." Aku berbalik dan dengan cepat pergi meninggalkan nya.


"Shena..." Aku menghentikan langkahku dan menolehkan sedikit wajahku.


"Kembalilah padaku, aku benar-benar sangat mencintaimu."


"Tolong ... jangan buat aku jijik, walau hanya sekedar mengingat kenangan tentangmu." aku berbicara sambil membelakanginya.


Dengan cepat aku menyusuri jalan setapak ditaman itu. Ku tinggalkan dia yang masih terpaku melihat kepergianku. Memang dulu aku pernah tenggelam di dasar laut karena cinta kamu Randy. Tapi yang menarik tanganku dan membawaku ke permukaan itu mas Leon.


Aku selalu mengingatmu sebagai cinta pertamaku, tapi saat ini kau membuatku benci walaupun sekedar mengingatnya.


Aku tidak akan lupa bagaimana kamu berusaha melindungiku dulu, tapi itu tidak cukup Randy. Aku butuh cintamu yang utuh, bukan berarti jika kamu tidak menyentuhku kamu bisa menyentuh perempuan lain di luar sana.


Biarkan aku menyimpan sedikit kenangan tentang kita di relung paling dalam hatiku. Aku tidak akan mengingatmu sebagai lelaki yang buruk seandainya kamu berhenti disana. Ditempat kita berjabat tangan untuk terakhir kalinya  di acara pernikahanku.


Seharusnya kamu tidak pernah melewati batasan yang sudah di buat mas Leon untuk aku dan kamu, Randy. Seharusnya tidak, agar aku bisa menyimpan kenangan indah tentangmu tanpa rasa benci.

__ADS_1


Aku membuka pintu rumahku dan mengucapkan salam, ku lihat mas Leon sudah duduk santai di sofa depan televisi.


"Mas, kamu udah pulang?" Tanyaku senang.


"Hmmm." jawabnya singkat.


"Kamu mau makan apa?"


"Terserah." jawabnya dingin.


Ada apa dengan dia, bukan nya pagi tadi dia sangat senang menggodaku? kenapa sikapnya dingin seperti ini? Ah mungkin dia lelah.


Aku mengganti bajuku dan segera menyiapkan makan malam, ku panggil mas Leon yang sedang duduk santai di depan televisi. Bahkan saat makan pun mas Leon hanya diam seribu bahasa. Wajahnya terlihat depresi, ada apa ini?


mas Leon tidak seperti biasanya?


Aku tidak terlalu peduli dengan sikapnya, mungkin karena mas Leon kesal. Karena masih harus sibuk mengurusi pekerjaan saat hari libur.


Bahkan saat umur pernikahan kami sudah hampir satu tahun pun hari liburnya masih sering di pakai untuk bekerja.


Tak banyak waktu yang bisa kami habiskan bersama, terkadang aku juga sedikit kesal jika mengingat hal itu. Pekerjaan mas Leon sebagai dokter sering membuat ia harus pergi di saat-saat yang genting.


Ia juga sering keluar tengah malam karena keadaan pasien yang memburuk. Resiko aku menikahi dokter, yang seluruh waktunya hampir tersita hanya untuk pekerjaannya.


Aku duduk diatas kasurku dan kumainkan ponselku, aku tersenyum sendiri saat melihat foto-foto jaman sekolahku dulu. Foto-foto saat aku masih belia, lucu sekali melihat ekspresiku jaman dulu. Wajahku yang masih begitu kucel, dan juga cupu.


Aku tertawa terpingkal saat menemukan fotoku bersama satu temanku di acara pensi sekolah.


Saat itu aku tidak sengaja berdandan ala anak remaja, namun sekarang jika di lihat kembali. Dandanan wajahku terlihat aneh, tak tahu alasan apa yang membuat Randy begitu mencintaiku.


Eh... Tidak biasa dia tidur seperti ini, biasanya dia akan menggodaku saat ingin tidur.


Ada apa ini?


Apa ada yang salah dengan nya? Yasudah biar aku saja yang menggodanya.


Ku letakan ponselku di atas nakas samping kasurku. Aku mendekat ke tubuh mas Leon. Ku elus lembut keningnya dan ku kecup di dahinya. Tapi diluar dugaan dia bahkan tidak membuka matanya ataupun mengatakan sesuatu.


Ada apa ini, apa mas Leon salah minum obat?


Ah yaudahlah, aku tarik selimutku dan ikut tidur saja. Walau dengan seribu pertanyaan dalam hatiku tapi aku berusaha untuk tetap memejamkan mataku.


Biasa mas Leon akan terbangun di pagi hari kembali seperti semula. Ia akan melupakan segala yangbterjadi malam ini dan kembali menjadi seseorang yang baru.


Aku telah menyiapkan beberapa makanan pagi ini, ntah lah hari ini suasana hatiku sangat baik. Aku bahkan bisa menyiapkan beberapa hidangan dalam waktu singkat.


Aku baru menyusun makanan di meja namun sudah ku dengar suara mobil mas Leon pergi. Aku berusaha untuk mengejarnya namun mobil nya sudah jauh. Tidak, ini ada yang salah. Mas Leon tidak pernah pergi tanpa pamit dan mengecup keningku. Ada yang salah ini, pasti salah.


Aku segera mengambil handphoneku dan mengirim pesan padanya. Tapi dia hanya melihatnya tanpa membalasnya.


Oh ya ampun mas, ada apa ini?


Beberapa kali aku mengirim pesan ketempatnya tapi lagi lagi hanya di lihat saja. Kenapa kamu ini mas?

__ADS_1


Apa kamu dan Riany sebenarnya memang ada hubungan?


Apa aku ini adalah tameng mu saja. Ah mana mungkin, mas Leon mana mungkin serendah itu.


Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar-putar di kepalaku. Aku bingung dengan sikap dingin nya mas Leon yang mendadak itu.


Apa dia udah capek ya sama aku?


Apa dia mulai mencari perempuan pengganti aku?


Masak sih?


Ah tidak mungkin mas Leon aja bisa memendam perasaan selama 5 tahun. Masak iya sekarang aku udah jadi istri nya dia mau lepaskan begitu saja.


Aku putuskan untuk membungkus seluruh masakanku. Aku bersiap untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Mungkin mas Leon terlalu buru-buru tadi pagi, sampai ia lupa sarapan.


Aku memanggil gojek untuk mengantarkan aku kerumah sakit. Tapi sebelum masuk kedalam rumah sakit perasaanku sudah merinding duluan.


Saat melihat ambulance terparkir di parkiran rumah sakit sekujur tubuhku mengeluarkan keringat. Aku phobia saat melihat ambulance dan rumah sakit, ku urungkan niatku untuk masuk dan ku suruh kurir untuk menitipkannya di bagian administrasi.


Aku menikahi dokter, tapi hanya sekedar berkunjung ke rumah sakit saja aku tidak berani. Aku putuskan untuk pulang dan berbicara dengan mas Leon dirumah saja. Karena aku tak bisa memaksakan diri untuk masuk kedalam sana.


Ku lihat jam di dinding kamarku, sudah menunjukan pukul 10 malam. Mas Leon tidak pernah pulang selarut ini sebelum nya. Seharian ku putar otak ku mencari tahu apa yang sebenar nya terjadi. Tapi aku tidak menemukan jawaban apapun.


Mas Leon tidak pernah sedingin ini sebelum nya. Dia bahkan sangat lembut saat dia marah.


Ada apa dengan nya?


Kenapa saat dia memperlakukan aku begini, hatiku terasa sangat sakit.


Dia seperti memberikan ribuan bunga dihatiku pagi tadi, namun sekarang dia bagaikan menyayat dengan lembut hatiku. Kamu tidak bisa memperlakukan aku begini mas.


Ku dengar suara mobil mas Leon terparkir di halaman rumah. Dia masuk kamar masih dengan ekspresi yang sama dengan kemarin. 


Apa yang harus akau lakukan? Bagaimana aku harus menanyakan nya.


Mas Leon menyingkap sedikit kain jendela kamar kami. Mata nya menatap kosong ke luar jendela.


Apa yang sebenarnya teradi?


Aku tidak berani menanyakan nya.


"Shena." suara lembut nya memecahkan keheningan.


"Iya, Mas." entah kenapa rasa nya jantungku deg-deg an.


"Jika kamu mau, aku sudah siap." mata nya masih menatap dingin keluara jendela.


"Siap? siap untuk apa Mas?" tanyaku heran.


Dia menghela napas nya dan memandang kearahku. Dia berjalan kearahku dan duduk tepat di depanku.


"Aku siap untuk menceraikan mu."

__ADS_1


"APA?"


__ADS_2