Hitam Biru

Hitam Biru
Episode 44 (END)


__ADS_3

"Pagi Sayang." ucap mas Leon sambil memeluk badanku dari belakang.


"Pagi, Mas." jawabku masih sibuk dengan kegiatanku di dapur.


"Sini, Sera sama Mas. Kamu fokus sama masakan kamu saja." Mas Leon menarik Sera dalam gendonganku.


"Eh, Mas Sera gak pakai pampers, nanti baju Mas kotor gimana?"


"Kan bisa ganti baju." mas Leon menarik kepalaku dan mengecup dahiku lembut.


Aku hanya tersenyum simpul, memperhatikan punggung besar milik mas Leon berlalu meningalkan dapur.


Ku siapkan sepiring nasi dan kuah sup, sarapan setiap pagi untuk Kyra. Ku letakan di atas lantai tepat di hadapan Kyra yang saat ini sedang bermain.


Karena kebiasaan semenjak punya Sera, Kyra selalu makan sendiri.


Setelah selesai memasak, ku tata beberapa piring diatas meja.


"Mas, sarapan dulu." perintahku saat selsesai menyajikan beberapa hidangan di hadapan mas Leon.


"Kamu gak makan Shena?"


"Nanti saja, aku belum lapar Mas." ku tarik Sera dalam pangkuan mas Leon dan memberikan ASI untuknya.


"Kyra, sini naik. Makan sama Ayah."


"Mas, gak usah ngurusin sarapan Kyra, dia biasa sendiri."


"Kan, kamu gitu lagi."


"Bukan, ini sudah jam berapa? nanti kamu telat gimana?"


"Iya Mama Sayang. Nanti kalau Mas telat gaji berkurang kan, Mama gak mau gaji Mas berkurangkan." jawab mas Leon sedikit kesal.


Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepalaku pasrah. Mas Leon mulai menyuapi nasi dalam piringnya.


"Shena." panggil mas Leon lembut.


Ku dongakan kepalaku, sebuah suapan mengarah kearahku.


"Kamu harus makan, Mas gak mau sampai terjadi hal seperti kemarin." ucap mas Leon sambil memasukan suapan kedalam mulutku.


"Kyra sini Ayah suapin." panggil mas Leon lembut.


"Mas, sarapan yang bener. Nanti kamu telat loh." ucapku bawel.


"Saat ini Mas harus lebih memperhatikan kalian. Karena percuma Mas kerja keras kalau kalian terlantar. Jadi jangan bawel dan ikuti perintah Mas." kembali mas Leon menyuapi makanan kedalam mulutku.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum dan kembali menggeleng. Mas Leon bukan seseorang yang sulit di ajak kerja sama. Mas Leon juga lelaki yang lumayan peka.


Sebenarnya saat ini bebanku terasa jauh berkurang, mungkin karena perhatian mas Leon yang lebih terasa. Bukan hal yang sulit mengajak mas Leon bekerja sama mengurus rumah, tapi entah kenapa aku sempat diam dan tak ingin mengajaknya bicara.


Ku tatap wajah mas Leon lekat, bibirnya tersenyum lebar saat makan bersama Kyra. Mungkinkah mas Leon tidak lelah jika aku bebankan lagi dengan pekerjaan rumah?


Tak lama Mas Leon melirik jam di tangan kirinya. Dengan cepat tangannya menyambut gelas air dan menenggaknya sampai habis.


"Ayah pergi kerja ya, Sayang." pamitnya pada gadis kecilku. Sebuah ciuman mendarat di pipi mas Leon.


"Mas berangkat ya, Shen." kini mas Leon berganti berpamitan kepadaku. Mengulurkan tangannya untuk ku cium.


"Hati-hati, Mas."


"Kamu jangan terlalu memaksakan diri lagi ya, kalau gak bisa kerjain biarkan saja, selesai aku kerja kita kerjain sama-sama."


"Iya, Mas." jawabku pasrah.


"Saat Kyra dan Sera tidur kamu juga ikut tidur ya. Jaga kesehatan kamu, karena kalau kamu sakit, rumah ini akan kehilangan detak jantungnya."


"Apa sih Mas, lebay banget." ku cubit lengan tangan mas Leon, geram.


"Shena." mas Leon menarik wajahku dan mendaratkan bibirnya diatas bibirku.


"Mas jangan gitu, ada Kyra disitu."


"Tapi gak harus gitu juga kan, Mas."


"Huh ... Kamu buat Mas males pergi kerja."


"Mas." ucapku sedikit menekan.


"Oke, oke. Mas tahu, Sayang. Yasudah mas berangkat ya. Love you Shena." ucap mas Leon sambil berlalu keluar dari ruang makan.


****


Ku buka jendela kamarku, ku renggankan otot badanku yang terasa sedikit pegal.


Prannk


Suara kegaduhan mulai terdengar dari arah dapur. Aku segera berlari sebelum dapur menjadi lebih berantakan.


Ku lihat Mas Leon yang sedang menyajikan sarapan, tengah repot memasak sambil memomong Sera.


"Pagi-pagi sudah perang saja." ucapku berjalan mendekat dan mengambil Sera dari dalam gendongannya.


"Kok kamu sudah bangun sayang?" tanya mas Leon matanya masih sibuk membalik makanan yang sedang ia masak saat ini.

__ADS_1


"Mas pikir saja, suara mas masak berisik." ucapku sambil berjalan menjauh.


Mas Leon meminta tugasku menyiapkan sarapan saat hari libur. Awalnya aku tidak setuju, namun mas Leon juga tak bisa di tentang. Jadi yasudah rasakan saja.


Tak lama ku dengar suara Kyra merengek, bangun dari lelapnya yang rewel semalaman suntuk.


Ku dekati gadis sulungku itu dan membawanya ke kamar mandi. Setelah siap memandikan Kyra, aku menarik salah satu kursi di meja makan.


Sudah tertata rapi makanan western yang sudah lama tak menyentuh lidahku.


"Sudah lama gak makan masakan kamu, Mas." ucapku semangat.


"Mas nyerah deh Shen. Pantes saja emosi kamu sering gak stabil, ternyata masak sambil gendong anak itu susah."


Aku hanya tersenyum saat mendengar ucapan mas Leon.


"Jadi kalau weekend tetap aku ini yang buat sarapan?"


"Enggak dong, tetap Mas. Tapi kamu yang jaga anak-anak ya, biar mas gak perang lagi kayak tadi."


Aku kembali tersenyum dan menyuapi makanan di piringku. Sementara mas Leon masih menjaga kedua buah hati kami.


Sebenarnya semua ini terasa indah jika kita saling menerima dan menikmati peran masing-masing. Bekerja sama dan berusaha untuk saling berbagi masalah.


Jika hanya diam dan ingin di mengerti saja, maka semua akan menjadi suatu masalah. Komunikasi yang baik itu perlu. Karena aku maupun dia tak akan tahu, apa yang di inginkan jika tidak di bicarakan.


Karena menikah bukan hanya tentang kebahagiaan berdua saja. Tapi juga bagaiamana untuk saling mengalah dan memahami.


Aku berpikir sanggup melakukan semua tanpa bantuan mas Leon. Ternyata aku salah, aku tanpa bantuan mas Leon juga bukan apa-apa. Sering kali aku marah-marah karena mas Leon yang tak memahami keadaanku.


Padahal aku yang tak mau mengerti, aku yang egois dan selalu ingin di mengerti. Mas Leon dan lelaki lain sama, harus di bicarakan biar bisa paham.


Karena walaupun sudah menikah, pikiran kita tetap berbeda. Masalah yang kita hadapi setiap harinya juga beragam. Hanya perlu untuk saling terbuka, keinginan hati ataupun tentang apa yang kita pikirkan.


"Sayang," panggil mas Leon lembut.


"Iya,"


"Bantuin Mas makan dong, ak." Mas Leon membuka mulutnya lebar-lebar.


Ku gulum senyumku, dan mulai menyuapi makanan ke mulut mas Leon.


Benar katamu Mas, kebahagiaan kita adalah saat seperti ini. Saling bekerja sama untuk menjaga kehangat rumah tangga kita.


Setelah apa yang kita lewati, pahit, manis yang ku telan sendiri selama kamu pergi. Tak ku sangka aku mampu melewati nya dan menerima kembali.


Mungkin jika saat itu aku egois, aku tak akan pernah bisa senyaman dan sebahagia saat ini, saat bersamamu. Karena tanpamu aku tak lengkap, tanpamu aku tak bisa tertawa dan juga menangis.

__ADS_1


Aku akan berusaha dan terus berusaha, untuk keutuhan keluarga kita. Aku akan terus berjalan berdampingan denganmu, untuk meraih jannah bersamamu.


__ADS_2