
Waktu terus berjalan dengan sangat cepatnya, tidak terasa sudah 3 bulan berlalu semenjak kejadian itu. Dan hubungan kami pun terus membaik. Ada cinta mas Leon yang awalnya hanya sekedar menyapaku, namun perlahan cinta itu mulai datang mengetuk hati, dan meminta izin untuk tetap tinggal dihati.
Dia selalu memberikan kejutan-kejutan yang bisa di bilang absurd. Tapi itu pula yang bisa membuat aku tersenyum bahagia sepanjang hari. Kadang mas Leon meletakan sebuah kotak besar dengan berhias pita yang indah. Terkesan sangat bagus, berharap isinya juga sebagus luarnya. Namun saat di buka, malah membuat mataku terbelalak lebar. Hanya satu buah jepit rambut berhiaskan empat bunga dari mutiara kw.
Kenapa dia harus memilih kotak yang besar, hanya untuk sebuah jepit rambut yang bahkan tidak lebih besar dari jari kelingking. Lucu, unik juga, perasaan mas Leon memang sering kali tidak bisa ku tebak.
Pernah sekali mas Leon pulang dengan menenteng sebuah plastik berisi satu kotak cake dari brand toko kue ternama di kota kami. Dia meletakan nya begitu saja di atas pantry, dan melengos pergi begitu saja.
Karena penasaran aku membuka kotak nya dan isi nya hanya satu bungkus biskuit bayi.
Ingin marah karena kesal, tapi juga aku ingin tertawa karena ulah nya.
"Kamu nyuri biskuit dari bangsal anak-anak di Rumah Sakiy ya, Mas?" ledek ku saat dia keluar dari kamar. Ku buka dan ku lahap biskuit itu.
"Iya." jawab nya tenang.
"Apa?" aku melongo mendengar jawaban nya, biskuit nya baru saja aku masukan ke dalam mulut.
"Enggak deng, Mas beli di supermarket." dia tertawa tergaga-gaga.
"Ehmmm." jawabku kesal.
"Tapi, kotak nya Mas ambil dari tong sampah." timpalnya.
"Hah, apa?" ihh Dokter, kok jorok banget sih. Gerutuku dalam hati.
"Enggak deng, bohong. Itu punya Andra yang lagi buat kejutan ulang tahun pacarnya."
"Ohhh, asisten nya aja modal. Masak Dokternya kere sih?" Ledek ku sambil melengos masuk ke kamar mandi.
Unik memang, tapi mungkin begitulah cara dia menunjukan nya. Mungkin dia ingin cara yang sedikit berbeda, tapi apapun itu, bagaimanapun cara dia mencintaiku, aku akan tetap beryukur. Karena laki-laki itu dia, karena dia lah sebenarnya yang membuat aku bahagia, bukan hadiahnya.
---- --- -----
Aku membuka sisi-sisi jendela kaca dapur. Angin yang masuk begitu tenang menyapaku. Ku tatap keluar jendela, ketenangan ini kenapa membawa firasat buruk bagiku. Seperti ketenangan yang datang sebelum badai besar terjadi.
Aku takut, aku terlalu bahagia saat ini. Entah luka apa yang dulu aku rasakan, sampai bahagia yang datang saat ini mengalir sampai kesetiap sendi-sendiku. Mungkin kebahagiaan ini bukan tertuju padaku, namun pada mas Leon. Karena dia lah yang telah terluka sangat dalam.
Jika benar, mungkinkah kebahagiaan ini akan aku bayar dengan kesedihan yang tiada bertepi? Akankah mataku terus basah karena air mata, untuk membayar setiap senyum tawaku saat ini? Semoga saja ini hanya firasat buruk ku. Semoga tidak ada apapun yang terjadi, semoga semua baik-baik saja.
Tok... Tok...
Aku berlari untuk membuka pintu, dan bediri seorang kurir ojol disana dengan sebuah buket besar berwarna pink, putih.
"Mbak, Shena Assegaf?" tanya nya ramah.
"Iya,"
"Ini ada titipan, Mbak." Dia menyerahkan buketnya, tapi dalam keadaan terbalik.
"Iya, terima kasih ya."
Aku mengambil buketnya dan kurir itupun beranjak pergi. Saat ku balik buketnya, benar saja feelingku, ini pasti kerjaan Dokter gila itu. Bukan nya berisi bunga mawar atau bunga di tepi jalan kek, setidaknya, yang penting bunga. Malah isinya batangan sayur kangkung.
__ADS_1
Aku menepuk dahiku dan menggelengkan kepalaku. Ingin marah, tapi ini lucu sih.
Ada memo yang di selipkan nya. 'Untuk lauk makan siang!'. Dia mau aku kasih makan siang untuk orang sekomplek, dengan kangkung sebanyak ini? Dasaar.
Aku meraih ponselku dan ku cari nama mas Leon di deretan nama di ponselku. Setelah beberapa detik panggilan mulai tersambung dan ku dengar suara yang begitu ceria di seberang sana.
[iya, ada apa Sayang? Kamu rindu? Mas belum bisa pulang sekarang, masih ada operasi sebentar lagi.] sederet perkataan tanpa jeda.
"Makasih, sayur nya Mas." aku meledek.
[Ohhhh, itu baik untuk asam uratmu, Sayang.]
"Apa?" tanyaku heran.
[Mas takut, jika Mas kasih bunga, jantungmu bekerja dengan tidak normal nanti. Percayalah Mas gak akan tega membelah dadamu.] jawab nya enteng dari seberang sana.
Entah dari mana dia belajar jadi penggoda, merayu ku setiap saat sampai kadang aku lupa dengan segalanya.
"Apaan sih, Mas. Gaje banget tau gak." aku menahan tawa.
[Shena, nanti malam kita dinner di luar, yuk.]
"Baiklah."
[Mas akan menjemputmu jam 7, oke. Mas matikan ya, Mas ada Operasi sekarang.]
"Iya, mas."
[Shena,] panggilnya sebelum aku menutup telepon.
[I Love You.]
Aku tesenyum merona menutup telepon nya. Perkataan nya simpel tapi bisa membuatku merona sepanjang hari. Bak anak remaja yang sedang jatuh cinta. Aku pun merasakan seakan dunia ini tersenyum manis padaku. Cinta ini terasa lebih indah karena aku jatuh cinta pada pasangan halalku.
Aku membereskan rumah ini dengan semangat yang menggebu-gebu, awalnya. namun setelah lewat tengah hari letih nya mulai terasa sampai ketulang. Aku merebahkan badanku di sofa untuk istirahat sejenak.
Pekerjaan ini setiap hari ku lakukan, tapi kenapa tidak pernah berkurang. Aku malah sering pitam akhir-akhir ini. Letih sekali badanku, saat matahari sudah berada di atas kepala, ingin sekali aku berendam di kamar mandi, tenggorokan ku seperti terganjal sesuatu dan selalu kering.
Aku membuka lemari, dan ku keluarkan bebarapa buah Long dress. Dan pilihanku jatuh pada long dress bewarna ocean blue, dengan hiasan brukat di bagian atas, panjang semata kaki, dan tangan setengah tiang.
Ku lapisi tipis wajahku dengan bedak, dan ku gunakan lip bewarna primrose dan beberapa riasan dimata.
Dan segera ku semprotkan minyak wangi di sekujur tubuhku.
Suara mobil mas Leon telah tedengar di telingaku, aku segera lari keluar dan ku buka pintu mobil mas Leon.
"Cantik," sesaat sesudah aku naik kedalam mobil.
"Apa, Mas?" Tanyaku, pura-pura budek.
"Itu, apa kamu punya riwayat anemia? Mas sering lihat wajahmu pucat." jawab nya cepat.
"Aku tidak tau, Mas. Aku tidak pernah periksa."
__ADS_1
"Baiklah, kita jalan."
Aku mengangguk dan mas Leon melajukan mobil hitam nya di tengah ramai nya kota di malam hari. Tidak jauh dari kota, mas Leon memarkirkan pada sebuah restoran jepang.
Aku melihat beberapa lampion khas jepang disini, tempatnya nyaman dan ada sebuah pohon kecil sakura tiruan di tengah taman.
Kami duduk di sebuah bilik, bilik seperti yang ada di film-film dinasty Jepang gitu. Aku tidak tau apa namanya. Dan sebuah pesanan tersaji, ada nasi yang di gulung dan ada ikan mentah di dalamnya. Ada juga sajian ikan segar yang di potong rapi nan cantik.
Tapi aku malah mual melihatnya, aku langsung lari ke toilet sesaat setelah makanan itu sampai. Aku mengeluarkan seisi perutku, lemas sekali.
Aku merapikan riasanku dan kembali, tapi belum juga sampai, aku sudah ingin muntah mencium hidangan yang di bawa oleh salah seorang pelayan.
Akhirnya aku kembali ke parkiran dan ku kirim chat ke mas Leon. Aku benar-benar gak sanggup untuk masuk lagi kedalam. Tak lama berselang mas Leon keluar dengan bungkusan di tangan nya.
"Mas, maaf ya aku merusak dinner kita." kataku bersalah.
Mas Leon menghela nafas dan memasukan kantongan itu kedalam mobil.
"Yaudah gak apa-apa. Yuk kita cari tempat makan lain."
Kami pun berjalan lagi menyusuri kota di malam hari. Sampai aku melihat sebuah warung makan, dengan gubuk-gubuk bambu yang menjadi daya tarik nya. mas Leon memberhentikan mobilnya dan kami segera masuk kedalam.
saat pertama kali masuk kami sudah di sambut dengan aroma wangi dari kuah sup yang membuat perutku keroncongan. Aku memilih tempat duduk diluar dengan bentangan langit malam yang bertabur bintang.
"Kamu gak salah? ini warung bakso loh." bisik mas Leon saat melihat pelayan mengantarkan sebuah pesanan ke meja sebelah.
"Tapi aku pingin, Mas." pintaku manja.
"Yaudah, Mas bisa bilang apa."
Tak lama berselang pesanan kami pun datang, semangkuk mie yang dihiasi beberapa buah bakso dengan aroma yang menggugah selera, membuat aku mengences saja.
Dengan cepat ku taruh saus, dan cabe untuk pelengkap kenikmatan rasa bakso ini.
"Pelan-pelan." saat mas Leon melihat aku melahap dengan cepat.
"Mas, itu apa?" aku menunjuk kearah mobil dengan daguku.
"Apa?"
"Yang kamu bawa tadi."
"Ohhh, itu makanan yang tadi, Mas bungkus. Sayang baru dilihat aja." Sambil menyuap bakso nya.
"Siapa yang mau makan?"
"Mas kasih ke Riany aja. Itu makanan favorit dia."
Aku tersedak sesaat mas Leon sebut nama Riany. Apa pulak mas Leon bawa aku ke tempat makan favoritnya Riany. Apa dia mau bernostalgia ama tu perempuan?
"Kan udah Mas bilang, pelan-pelan." mas Leon menyodorkan gelas berisi air jeruk.
"Hari ini ulang tahun, Riany. Kita mampir kerumahnya dulu ya."
__ADS_1
Aku hampir saja menyemburkan isi mulutku saat mas Leon berkata begitu. Kenapa dia perhatian sekali dengan Riany. Sampai ingat kapan ulang tahun nya. Sedekat apa sih sebenernya mereka berdua?
Aku penasaran, apa dulu saat mas Leon pulang larut malam itu juga karena ini perempuan?